Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PENDAPATAN TINGGI, BIAYA HIDUP PUN MENINGKAT

Aris  Ananta

Untuk  SEPUTAR  INDONESIA, 17  Februari 2011

  

PEMERINTAH mengatakan bahwa ekonomi membaik, tapi dia tidak merasakan perbaikan dalam kesejahteraannya. Gajinya nyaris habis untuk belanja makan, listrik, dan air yang terus meningkat.

Sementara itu, suaminya tidak lagi dapat bekerja setelah terkena stroke. Dia tambah pusing karena anak anaknya sudah memasuki usia perkawinan. Dari mana dia mendapatkan uang untuk biaya yang semakin mahal itu? Apakah ekonomi yang membaik itu berarti biaya hidup yang makin mahal? Begitu kira-kira keluhan Moi Eng, warga negara Singapura, seperti dimuat di The Straits Times pada 8 Februari 2010.

            Memang, pada kuartal IV/2010, ekonomi Singapura mencatat pertumbuhan tahunan 12,5%. Pertumbuhan yang tinggi disertai angka inflasi yang juga tinggi, yaitu 4,6% pada Desember 2010. Hal serupa juga terjadi di Indonesia. Pada 2010, ekonomi Indonesia tumbuh 6,1%. Suatu pertumbuhan ekonomi yang “menggembirakan” walau jauh di bawah Singapura. Bahkan, pendapatan per kapita kita pada 2010 telah mencapai Rp27 juta. Ini merupakan “prestasi” yang menggembirakan.

           Di 2009 pendapatan per kapita kita baru mencapai Rp23,9 juta. Artinya, dari 2009 ke 2010, terjadi kenaikan pendapatan per kapita 13%. Luar Biasa! Beberapa orang Indonesia pun terheran-heran dengan statistik pendapatan per kapita kita yang mencapai Rp27 juta pada 2010. Mereka tidak merasa kesejahteraannya bertambah. Mereka justru merasa biaya hidup semakin tinggi. Biaya hidup tak pernah turun.

            Kenapa pendapatan per kapita begitu tinggi, mencapai Rp27 juta, dan meningkat luar biasa dari 2009? Di jejaring sosial Facebook, sebuah diskusi menghangat mengenai angka Rp27 juta tersebut. Beberapa marah-marah, mengecam Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerintah. Bahkan, ada yang mengatakan pemerintah telah melakukan pembohongan. Angka statistik yang dikeluarkan pemerintah tidak sama dengan kenyataan yang mereka rasakan.

           Sebagian mengatakan, angka itu angka rata-rata, tidak memperlihatkan ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Mereka mengatakan, siapa yang mempunyai pendapatan yang tinggi? Kata mereka, jangan-jangan sekelompok kecil masyarakat memang bertambah makmur; jangan- jangan sekelompok kecil itu tidak merasakan dampak kenaikan harga karena penghasilan mereka pun meningkat lebih cepat daripada kenaikan biaya hidup.

         Di sisi lain, justru ada kelompok besar yang tidak mengalami peningkatan pendapatan, tetapi menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Seorang kawan mencoba meredam kemarahan teman-temannya. Dia memperlihatkan data pendapatan nasional dan jumlah penduduk pada 2010. Dia kemudian membagi pendapatan nasional dengan jumlah penduduk itu. Klop! Dia mendapatkan angka Rp27 juta itu. Dengan cerita ini, beberapa orang yang dulunya marah-marah lalu diam.

         Yang lain menimpali, ”Makanya, jangan buruburu mengecam statistik pemerintah”. Namun, seorang facebooker yang lain lagi justru memposting tulisan saya “Memahami Statistik Ekonomi: Pendapatan per Kapita 2010”, yang dimuat di SINDO pada 26 Oktober 2010. Di situ saya tunjukkan bahwa penghitungan pendapatan per kapita yang fantastis itu tidak mengeluarkan faktor inflasi atau kenaikan harga.

         Artinya, dengan metode penghitungan itu, pendapatan per kapita kita akan meningkat dengan lebih cepat kalau harga-harga meningkat dengan semakin cepat! Karena itu, keluhan beberapa facebooker tadi dapat dimengerti. Memang, data pendapatan per kapita yang Rp27 juta itu sesungguhnya penghitungan pendapatan dengan tingkat harga yang meningkat. Angka pertumbuhan pendapatan per kapita yang 13% itu lebih dari separuhnya adalah karena inflasi.

           Pada 2010, angka inflasi kita mencapai 7%. Dengan kata lain, kita semakin terlihat kaya walaupun sebenarnya kita juga menghadapi biaya hidup yang semakin mahal. Uang yang kita terima dapat bertambah, tetapi kalau harga naik lebih cepat lagi, daya beli kita justru menurun. Seandainya pada 2011 biaya hidup meningkat dengan makin cepat, jangan kaget bila pendapatan per kapita kita pada 2011 juga akan melaju dengan makin cepat! Sesungguhnya BPS tidak salah.

         Waktu mengumumkan angka pendapatan nasional dan pendapatan per kapita, BPS telah mengatakan bahwa data itu mengacu pada “harga berlaku”. Dalam bahasa awam, BPS memang telah mengatakan bahwa data yang mereka umumkan itu tidak mengeluarkan faktor kenaikan harga (inflasi). Namun, tidak semua pembaca memahami “harga berlaku”. Akibatnya, beberapa orang merasa dikecoh oleh statistik BPS.

      Mereka ini tidak paham arti pertumbuhan 13% yang fantastis itu. Mungkin BPS perlu memberi penjelasan yang lebih baik mengenai statistik yang diumumkan. Sebagian besar pembaca bukanlah ekonom yang paham statistik BPS. Walau demikian, sesungguhnya tugas para ekonomlah (termasuk saya) untuk lebih aktif membantu bangsa Indonesia dalam memahami statistik ekonomi.

      Tugas para ekonomlah untuk menyampaikan ke pemerintah agar tidak perlu menceritakan pertumbuhan pendapatan per kapita yang sangat mungkin disalahartikan oleh banyak orang. Pemerintah cukup melaporkan angka pertumbuhan ekonomi (real growth) yang sudah mengeluarkan sumbangan kenaikan biaya hidup. Selain itu, mungkin para ekonom perlu mengkaji ulang pentingnya mengukur pembangunan kita dengan pendapatan per kapita atas dasar “harga berlaku” ini.

        Memang hampir semua negara di dunia juga menggunakan indikator ini. Namun, karena kita (para ekonom) tahu bahwa indikator ini tidak mencerminkan daya beli masyarakat, kita harus arif dalam menggunakan statistik ini. Apalagi ketika kita berbicara dengan yang bukan ekonom.

       Itu bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap para ekonom. Kalau hal itu terjadi, kesalahan bukan pada mereka, tetapi kita, para ekonom. Sebelum kehilangan kepercayaan dari yang bukan ekonom, kita (para ekonom) harus segera mengkaji ulang penggunaan statistik pendapatan per kapita ini. (*)

Tulisan terkait:

* Apa Arti Kemajuan Perekonomian Indonesia?

* Inflasi Tinggi, Statistik Harus Diubah?

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , , , , , , , ,

2 Responses

  1. Wahyuni, Ekawati Sri says:

    Iyaah Pak, begitulah kenyataannya makna angka 27 juta itu tidak sebesar itu. Kemarin saya minta tolong ibu yang membantu saya di rumah membeli beras (terus terang sangat jarang saya lakukan) dan lain-lain. Saya merasa membeli uang berlebih dan berpesan harga berasnya sekitar 50ribu. Ternyata dia kembali dengan hanya membawa kembalian seribu, lah harga berasnya 78ribu. Lho harga beras sudah ganti ya? Apa kata pembantu saya itu? “Bu harga beras di warung sudah 9ribu sekilo”, “…yang dulu 5ribu 5ratus?”, tanya saya. “Iya.. kan harga beras naik terus. Tapi yang penting mah berasnya aya dijual, kita beli semampunya…”, katanya lagi. O..lala..saya belum pernah menaikkan upahnya selama ini. Jadi yang 27 juta itu kalau dibelanjakan dapatnya ya segitu saja… Untung kebanyakan rakyat Indonesia berpikiran seperti pembantu saya itu, sabar dan nrimo saja. Rela saja anaknya yang sulung putus sekolah dan suaminya kerja serabutan untuk mampu membeli beras yang harganya naik terus… Tapi para ekonom juga cuman mampu menjelaskan angka-angka itu bukan? Tidak sanggup meningkatkan taraf hidup keluarga pembantu di rumah saya.

    • mletiko says:

      “Tapi para ekonom juga cuman mampu menjelaskan angka angka itu bukan? Tidak sanggup meningkatkan taraf hidup keluarga pembantu di rumah saya”

      Ini benar benar tantangan untuk para ekonom. Para ekonom memang harus sering bertukar-pikiran dengan yang bukan ekonom dan juga berurusan dengan pasar. Pasar “beneran” bukan hanya supply and demand. Mungkin perlu disurvai, berapa banyak ekonom yang suka pergi ke pasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: