Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

NESTAPA SEPASANG LANSIA DI SINGAPURA

Evi   Nurvidya  Arifin

Untuk  MLETIKO, 10  Februari  2011

 

Selasa pagi, di Singapura,  aku bertemu dengan salah satu petugas kebersihan (cleaner) yang bertugas di suatu lembaga. Dia selalu bekerja dengan rajin. Bahasa Inggrisnya bagus. (Di Singapura, kemampuan berbahasa Inggris sering merupakan indikator tingkat pendidikan.) Saking sering bertemu, akhirnya kami bertegur sapa.

        “Good morning, Auntie!”

         “Fine. You know I am working only until the middle of this month.”

       Ada apa gerangan dengan Auntie ini, kok tiba-tiba mau berhenti bekerja sebagai petugas kebersihan. Kupikir dia mendapatkan pekerjaan baru di tempat lain. Ternyata dugaanku salah. Yang terjadi:

        “My husband will have an operation this month. No choice lah. I have to stop working but I like working here, like meeting people. No one can take care of my husband after his surgery.”

       Auntie ini mencoba menjelaskan padaku dengan nada sedikit memelas karena dia akan kehilangan pekerjaan dan dia membutuhkan uang juga. Dengan dia berhenti bekerja, berarti tak ada pendapatan masuk sebab suaminya sudah lebih dulu berhenti bekerja karena penyakit yang dideritanya.

         Kusampaikan padanya, betapa aku ikut sedih mendengar cerita ini. Kutanya, suaminya sakit apa?  Ternyata, Auntie ini hanya tahu suaminya sakit perut, dan harus operasi. Setelah operasi, suaminya perlu orang yang dapat menjagainya terus menerus. Auntie ini hanya tahu bahwa operasi itu mahal, dan mereka miskin. Untuk menjagai suaminya, dia harus juga berhenti bekerja. Dari mana uang untuk hidup mereka berdua,  operasi suami dan  biaya perawatan setelah operasi?

        Aku lalu tergerak untuk bertanya lebih lanjut tentang keluarganya.

        “Do you have children?”

         “Yes, I  have children, two daughters. But, they are married and working too. So… they are busy lah. They cannot help me taking care of their father. As I said, no choice lah. I have to stop.. stop working. My boss only gives me 2 days off. Not enough lah. I cannot have one month leave. I have to stop lah.”

        Aku kaget mendengar ceritanya.  Anak anaknya sudah sibuk bekerja, tak bisa  membantu mengurusi ayahnya.  Bos-nya tak mau tahu dengan kondisi Auntie dan suaminya. Yang disebut Bos itu sesungguhnya adalah agen penempatan petugas kebersihan. Lembaga membayar ke agen, dan agen lah yang membayar dan mengatur petugas kebersihan.

       Dia mendapatkan gaji S$700 per bulan. Dia bertugas membersihkan kantor dan toilet di dua lantai, membersihkan 2 tempat parkir, dan sebuah taman berukuran kira kira 6 X 10 meter tiap hari. Auntie ini, juga suaminya, berusia 67 tahun. Mereka warga negara Singapura. Sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan, Auntie ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga Jepang selama 26 tahun.

       Selama sebulan, ia hanya mendapat jatah dua hari libur, di luar Sabtu dan Minggu. Kalau mau libur lebih lama, dia harus berhenti bekerja. Auntie ini juga bercerita bahwa Bos-nya telah membawa calon pengganti dia.

       Lebih lanjut kutanya, siapa yang akan membiayai operasi suaminya ini.

       “My husband will use his CPF (Central Provident Fund) money. He is retired already.”  Selama bekerja, warga negara dan penduduk tetap Singapura diharuskan menyisihkan sebagian uangnya untuk biaya kesehatan mereka sendiri. Majikan juga diharuskan menambah sejumlah uang untuk biaya kesehatan ini. Suaminya, yang dulu juga bekerja sebagai petugas kebersihan,  akan menggunakan uang yang telah dia tabung (wajib) itu untuk membiayai operasi.

       Apakah mereka mendapatkan uang pensiun? Mereka memang mendapatkan uang ‘pensiun’, tetapi uang sesungguhnya uang itu adalah uang mereka sendiri, yang harus mereka sisihkan untuk hari tua, dengan sedikit tambahan dari majikan.  Kuduga, setiap bulan mereka paling paling mendapatkan S$300.

        Aku membayangkan, bagaimana sepasang lansia yang tidak bekerja, dengan suami yang sakit, harus dapat tetap hidup  di Singapura dengan biaya S$300 sebulan. (Di Singapura, ngeteh di warung  amat  sederhana harus membayar 80 sen, kira kira 5,600 rupiah.) Semoga, anak anaknya dapat membantu mereka, baik secara keuangan atau bantuan lain.

       Ini cerita di Singapura. Bagaimana di Indonesia? (*)

Tulisan terkait:

* Angka Kelahiran di Singapura Makin Rendah

* Employment of Older Persons

Filed under: ageing, Demography, English, , , , , ,

4 Responses

  1. Wahyuni, Ekawati Sri says:

    Cerita di Indonesia? Di sini semua lansia sehat, apalagi yang terlantar, tidak ada yang sakit. Apalagi harus operasi segala. Mereka juga tidak perlu pusing menghitung berapa sisa pendapatannya, itu tidak penting, pokoknya selalau ada yang dimakan. Tetapi kalau kemudian ditemukan jenazah lansia di pinggir jalan, itu pasti belum ada di Singapura.

  2. syawila ii says:

    Di tempat saya yang sudah pasti Indonesia,tiap pagi sudah ada setidaknya 2 lansia yang tetap bekerja. Yang satu jualan kerupuk, yang satu lagi jualan koran keliling dengan sepeda motor. Belum lagi ‘selingan-selingan’ seperti lansia penjual roti dengan pikulan di bahu,penjual sapu lidi,peminta-minta.

    Mereka bekerja bukan karena untuk pengisi waktu luang, bukan untuk pengganti olahraga di pagi hari, bukan karena senang melakukannya, tetapi semata karena uang.

    Sayang saya belum tahu tentang kondisi keluarga mereka,anak-anak mereka,pasangan mereka. Yang pasti, mereka harus bekerja agar bisa tetap makan. Kalau sakit? jangan di tanya bagaimana uangnya. Uang pensiun? nihil.Bantuan dari negara? moga-moga.

    Tetapi setidaknya saya masih optimis jika kelak mereka sakit,maka anak,kemenakan,adik,dan keluarga besar akan membantu mereka, dalam bentuk apapun itu.

    • mletiko says:

      Teman teman,

      Ada yang berkata bahwa orang harus terus bekerja, selama masih mampu bekerja. Ini perlu, menurut pendapat ini, agar kita, dan lansia pada khususnya, tidak menjadi beban masyarakat. Ada pula yang menanyakan, apakah kita (dan ketika kita jadi lansia) mempunyai hak untuk “pensiun”, dalam arti bahwa kita tidak harus bekerja semata demi agar kita dapat hidup? Apakah kita (dan para lansia) mempunyak hak, pada suatu saat, untuk dapat bekerja demi bekerja itu sendiri, demi masyarakat, tanpa harus menghasilkan uang?

      Ketika kita menjadi lansia, bagaimana kita menghidupi diri kita? Kalau kita sakit, dari mana sumber uang itu, apalagi kalau biaya pengobatan makin mahal. Semoga pasangan hidup, saudara, anak, cucu, keponakan dapat membantu kita. Kalau tidak? Perlukah pemerintah campur tangan?

      Ada masukan?

      Salam,

      Aris

  3. syawila ii says:

    Campur tangan pemerintah?

    dari banyak lansia yang sudah saya temui dan di ajak berbincang, pemerintah seperti ‘dunia lain’ buat mereka. Jika berharap bantuan, mereka selalu menempatkan keluarga sebagai jawabannya.
    Mereka seperti tidak memiliki gambaran bahwa lansia juga berhak untuk mendapat bantuan dari pemerintah.

    Bahkan ketika tertimpa bencana seperti korban gempa padang 2009 lalu, mereka tetap memposisikan diri sebagai ‘kami tidak mengira orang yang sudah tua juga dibantu. Kami senang sekali, tapi kami tidak meminta’.
    Apakah ini nilai-nilai umum yang dianut lansia kita atau tidak,saya belum tahu pasti.

    Tapi artinya, ketika ada jutaan lansia terlantar dan rentan ditambah jika mereka juga tidak bisa lagi berharap banyak pada bantuan keluarga, maka pemerintah wajib untuk campur tangan. Jangan tunggu mereka meminta apalagi pakai demo segala, karena sepertinya itu akan jarang atau bahkan sulit terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: