Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PANGAN DAN AIR: KOMODITAS STRATEGIS MASA DEPAN

Aris  Ananta

Untuk SEPUTAR  INDONESIA, 1 Februari 2011

Roki terheran heran mengapa belum lama ini Wakil Presiden Indonesia Boediono, menyatakan pentingnya kita memikirkan persediaan air bersih. Roki tak pernah risau dengan air. Dia biasa menikmati mandi dengan air berlimpah.


Ia sering mencuci piring dan gelas tanpa merisaukan berapa banyak air yang ia gunakan. Dia menikmati air sambil menyiram kebun. Minum pun sering tidak dihabiskan. Kalau harus membeli minum dalam botol, harganya pun tidak mahal. Untuk wudu, air bersih tersedia pula dengan mudah. Memang, buat Roki, air bersih bukan persoalan, harganya amat murah dan mudah didapatkan.

Roki paham bahwa pemerintah kini bingung dengan harga pangan yang meningkat dengan pesat. Dia mengalami hal itu. Kalau dia membeli makan di warung, harganya sama, tetapi dia merasa porsi nasinya berkurang. “Tetapi,air? Kenapa Wakil Presiden risau?” ia bertanya ketika pelajaran ekonomi tiba. Tetapi, Bu Asri, gurunya, justru menanyai Roki, “Kenapa harga pangan sekarang meningkat?”

“Kemungkinan pertama, pendapatan masyarakat di negara yang penduduknya banyak seperti China dan India telah meningkat dengan cepat.   Akibatnya, mereka mampu membeli pangan lebih banyak. Karena merekalah maka permintaan pangan di dunia meningkat. Kemungkinan kedua, produksi pangan menurun karena bencana alam, karena perubahan iklim,”jawab Roki dengan tangkas.

“Ada juga peran spekulasi. Ketika terjadi masalah dalam persediaan pangan, para spekulan melihat celah mendapatkan keuntungan berlipat. Mereka segera membeli pangan, menyimpan pangan, sehingga harga makin meningkat. Mereka baru menjual ketika harga sudah benar-benar mahal. Mereka memperoleh keuntungan yang tinggi,” ujar Dian, teman sekelas Roki menambahkan.

“Hal semacam itulah yang akan terjadi dengan air” kata Bu Asri. “Walau sekarang sebagian dari kita tidak mengalami masalah dengan air, tampaknya Wakil Presiden telah melihat kemungkinan kelangkaan air. Saya duga, Wakil Presiden ingin kita bersiap sejak sekarang.  Seperti masalah pangan, kita juga perlu melihat masalah air dari sisi permintaan, produksi, dan spekulasi. Tetapi, masalah air akan lebih gawat dari masalah pangan. Tanpa pangan kita masih dapat hidup beberapa hari,bahkan seminggu.Tetapi, tanpa air?”

“Kalau begitu, Wakil Presiden benar juga ya Bu? Kalau kita tidak bersiap sejak sekarang, air dapat menjadi komoditas strategis yang bernilai politis. Keseimbangan kekuatan dunia juga dapat dipengaruhi oleh persediaan air, seperti halnya dengan persediaan minyak saat ini,” kata Roki.

“Bu, kalau begitu,jika konsumsi air dari China dan India juga meningkat dengan luar biasa, apakah dua negara ini juga akan disalahkan lagi, seperti halnya dengan pangan? Jangan-jangan, Indonesia juga akan disalahkan karena jumlah penduduknya juga besar dan pendapatan Indonesia pun meningkat,” sahut Dian.

“Benar, apakah China, India, dan Indonesia tidak berhak untuk mengonsumsi pangan dan air lebih banyak?  Bagaimana dengan negara- negara yang sudah kaya yang sudah lama mengonsumsi pangan dan air dalam jumlah banyak? Nggakadil sekali kalau negara kaya menyalahkan China, India, dan Indonesia dalam kenaikan harga pangan yang cepat akhir-akhir ini. Lucu kalau negara yang sudah maju diizinkan mengonsumsi pangan yang banyak, sedang negara berkembang tidak boleh mengonsumsi banyak,dan negara berkembang yang disalahkan dalam soal kenaikan harga pangan. Dan, kelak, hal yang sama terjadi dengan air,” kata Roki dengan gemas.

“Kalian benar. Tetapi, pendapat bahwa inflasi pangan disebabkan permintaan yang meningkat dari China, India, dan mungkin Indonesia juga benar. Tetapi, jangan menyalahkan mereka. Mereka berhak meningkatkan konsumsi mereka. Mereka punya uang. Negara maju sudah lama mengonsumsi pangan yang banyak.  Sangat konyol bila kemudian negara kaya menyarankan ketiga negara ini mengurangi konsumsi pangan mereka, sementara negara kaya tetap mengonsumsi pangan dengan jumlah yang besar,”kata Bu Asri.

“Bu, bukankah banyak konsumsi pangan dan air yang tidak efisien? Contoh mudah. Kita sendiri sering melihat apa yang kita lakukan di sekolah kita. Para siswa dan juga guru guru, mohon maaf Bu, sering tidak menghabiskan makanan dan minuman mereka.         Makanan dan minuman dibuang begitu saja. Bukankah itu pemborosan? Kalau saja kita hanya membeli makanan dan minuman yang akan kita konsumsi sampai habis, maka kita bisa banyak menghemat penggunaan pangan dan air,”Roki menyela. “Makanya,semua negara,baik yang sudah maju maupun yang berkembang, harus mengefisienkan konsumsi pangan dan air mereka. Tadi sekadar satu contoh efisiensi penggunaan pangan dan air saja,” kata  Dian.

“Baik, itu dari sisi permintaan.  Bagaimana dari sisi produksi?” tanya Bu Asri.

“Jadi petani itu tidak menarik. Uangnya sedikit. Lebih untung, tanah dijual. Untuk pengusaha, produksi pangan dan air kalah menarik dibanding dengan menggunakan tanah untuk hotel, pertokoan, perumahan, dan bangunan lain. Produksi pangan dan air sangat kalah menarik dengan, misalnya, tambang batu bara,yang sebagian besar produksinya untuk ekspor,” jawab Roki.

“Roki, kamu benar,”sela Dian. “Kamu ingat nggak kita pernah belajar coincidence economic index, suatu indeks untuk mengukur kemajuan perekonomian kita? Ada lima variabel yang digunakan dalam indeks ini. Dua di antaranya adalah penjualan mobil dan konsumsi semen. Jadi, kalau penjualan mobil dan semen meningkat, artinya perekonomian kita membaik. Pantas saja, jalanan makin macet. Pembangunan gedung terus bertambah. Banjir makin sering terjadi. Indeks itu tidak memasukkan produksi pangan dan air.”

“Artinya, ekonom memang tidak melihat bahwa produksi pangan dan air merupakan pengukur kemakmuran. Lucu ya, kenapa produksi pangan dan air tidak menjadi prioritas pembangunan ekonomi kita. Padahal, tanpa pangan dan apalagi air, kita tidak dapat hidup. Sebagian besar ekonom kita memang tidak memperhatikan masalah pangan. Indeks pengukur kemajuan ekonomi tidak memasukkan unsur pangan dan air. Yang masuk malah semen dan mobil.  Apakah kita dapat hidup dengan mengonsumsi semen dan mobil?” tambah Bu Asri yang ternyata juga jengkel dengan para ekonom.

“Ada lagi yang aneh,” tambah Roki. “Para ekonom kita juga menggunakan leading economic index, untuk melihat prospek ekonomi enam bulan ke depan. Tahukah kita, bahwa salah satu variabelnya adalah jumlah izin mendirikan bangunan? Menurut indeks ini, semakin banyak izin mendirikan bangunan dikeluarkan, semakin cerah prospek ekonomi kita. Mengapa bukan izin produksi pangan dan air?”

“Itulah sebabnya Wakil Presiden risau,”cetus Bu Asri.(*)

Tulisan terkait:

* Ketahanan Pangan: Renungan Bulan Puasa

* Kebijakan dan Pengukuran Pembangunan Ekonomi

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: