Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

INFLASI TINGGI, STATISTIK HARUS DIUBAH?

Aris  Ananta

Untuk  KOMPAS, 18  Januari 2011

Eni gembira betul mendengar bahwa pemerintah akan menurunkan harga cabai. Tersalurlah hobinya yang sempat terhambat. Bagi Eni, tanpa cabai banyak, tak ada makanan yang pantas disebut enak.

Namun, kegembiraan Eni mungkin tak berumur panjang. Seorang statistikawan pemerintah telah mengimbau warga mengurangi konsumsi cabai. Eni diminta berkorban demi mengurangi laju kenaikan harga cabai.

Kalau Eni—dan banyak Eni lain—melupakan atau mengurangi makan cabai, mereka dapat menurunkan harga cabai. Artinya, mereka dapat membantu menurunkan inflasi.

Eni tampaknya akan diminta jadi pahlawan ekonomi: menyelamatkan Indonesia dari inflasi tinggi yang mencapai hampir 7,0 persen pada tahun 2010. Ini di atas target Bank Indonesia, antara 4 persen dan 6 persen. Kenaikan harga cabai memang telah memicu kenaikan inflasi.

Seorang statistikawan lain, Bambang, lebih bersimpati kepada Eni dan kawan-kawan. Menurut Bambang, Eni tak perlu mengorbankan hobinya makan cabai. Hilangkan saja komponen harga cabai dalam perhitungan angka inflasi! Maka, angka inflasi tak terkena dampak harga cabai yang meningkat luar biasa. Selanjutnya inflasi akan turun meski harga cabai tetap naik.

Tanpa komponen cabai

Namun, Bambang mendapat teguran dari Pandoya, seorang teman dekatnya yang bukan statistikawan: ”Anda akan berhasil mengendalikan inflasi dengan mengubah pengukuran statistik inflasi dengan menghilangkan komponen cabai dalam perhitungan inflasi. Walau begitu, harga cabai tetap naik. Eni, sobat kita, tetap menderita. Anda tak berbuat apa-apa untuk Eni!”

Bambang menjelaskan bahwa harga cabai tak harus dikeluarkan dari perhitungan inflasi. Harga cabai masih diperhitungkan, tetapi sumbangan (bobot) untuk menghitung inflasi dikurangi.

Karena bukan statistikawan, Pandoya tak berani bertanya lebih lanjut. Namun, dalam hati dia berkata, ”Tetap aneh. Dari segi statistik kelihatan bagus, inflasi tak naik banyak. Namun, kami yang berhobi makan cabai tetap menderita karena harga cabai tetap tinggi. Temanku ini hanya utak-atik angka saja. Tak menyelesaikan substansi soal.”

Vidya yang sejak tadi menyimak kegelisahan Pandoya langsung memanggil Pandoya. Mereka cari tempat berbincang yang jauh dari dua statistikawan tadi. ”Pandoya, saya tak setuju dengan saran dua statistikawan itu. Kita tak boleh seenaknya mengganti statistik semata untuk memperlihatkan gambaran yang baik. Statistik kita hitung untuk melihat kondisi kita, baik atau buruk. Kalau statistik selalu diganti semata agar selalu memberi gambaran yang baik, kita tak perlu lagi menggunakan statistik.”

”Apa kita tak boleh mengganti suatu pengukuran?” kata Pandoya.

”Boleh. Namun, tujuannya bukan demi memperlihatkan gambaran baik atau buruk. Tujuan mengubah haruslah karena kita ingin memberi pengukuran yang tepat. Dalam kasus cabai, perubahan pengukuran dilakukan karena kita hendak menurunkan angka inflasi. Ini tak benar.”

”Apakah hal semacam ini memang biasa dilakukan para statistikawan pemerintah?” kata Pandoya yang masih kesal dengan dua statistikawan tadi.

”Tidak,” kata Vidya. ”Biasanya juga tak begitu. Mestinya juga tak begitu. Kalau punya konsep substansi yang benar-benar harus diubah, kita memang boleh dan seharusnya mengubah statistik. Misalnya, Asri, seorang ekonom, menginginkan perubahan besar- besaran dalam pengukuran pembangunan ekonomi. Asri menginginkan agar pembangunan tak hanya diukur dengan pendapatan nasional, tetapi diukur dengan seperangkat statistik yang mencakup kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan keamanan. Ia berbuat demikian karena ia memikirkan substansi pembangunan itu sendiri, bukan reaksi sesaat dari perubahan nilai statistik.”

”Namun, mengapa mereka menyarankan mengeluarkan atau mengurangi bobot harga cabai di kala kenaikan harga cabai memicu inflasi yang tinggi?”

”Saya harapkan,” Vidya berdesah, ”perubahan pengukuran itu tak dilakukan. Kepercayaan masyarakat pada statistik pemerintah akan hilang. Masyarakat akan bertanya-tanya jangan-jangan perubahan seperti ini sering dilakukan. Perubahan pengukuran inflasi ini tak memperbaiki penderitaan Eni yang terpaksa harus mengurangi konsumsi cabai atau harus mengurangi konsumsi lain demi mempertahankan kenikmatan makan cabai.”

Diskusi dulu

”Kalaupun akan melakukan perubahan pengukuran inflasi,” Pandoya menginterupsi, ”statistikawan pemerintah harus berdiskusi dengan masyarakat pengguna statistik mengenai apa saja yang harus dimasukkan dalam perhitungan inflasi dan berapa bobot masing-masing. Masyarakat pengguna statistik pun harus aktif memberikan masukan kepada BPS tentang apa yang harus dimasukkan dalam perhitungan inflasi.”

Rupanya obrolan ini didengar dua statistikawan tadi. Tak dinyana mereka justru mengatakan, ”Terima kasih atas semua masukan. Kami tak akan mengubah pengukuran inflasi. Minimal untuk saat ini. Kalaupun akan mengubah pengukuran, kami akan undang para pengguna statistik. Semoga kalian semua masih memercayai statistik yang kami hasilkan!” (*)

Tulisan terkait:

* Harga Turun: Senyum atau Cemberut?

* Memahami Statistik Ekonomi: Inflasi Turun, Daya Beli Meningkat?

* Statistik, Sentimen, dan Pemain Pasar Keuangan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: