Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

ANGKA KELAHIRAN DI SINGAPURA MAKIN RENDAH

Evi Nurvidya Arifin

Untuk  Mletiko, 19 Januari 2011

Di Indonesia beberapa kawan merisaukan “besarnya”  jumlah bayi lahir  di Indonesia,  sebanyak 4,5 juta tiap tahun. Untuk memperlihatkan betapa besarnya jumlah itu, mereka  mengatakan bahwa  jumlah tersebut  hampir sama dengan jumlah keseluruhan penduduk Singapura. The Strait Times, harian terbesar di Singapura, edisi Selasa, 18Januari 2011, menampilkan berita utama  “Fertility figures hit all-time low”.

Seperti dikatakan di harian ini, Singapura di tahun 2010 menghadapi masalah karena banyaknya  pasangan suami istri yang tidak mau mempunyai anak. Hal ini ditunjukkan dengan angka kelahiran di tahun 2010 yang amat rendah. Angka fertilitas total (TFR- total fertility rate) yang sudah rendah terus menurun, mencapai 1,16 di tahun 2010. Di tahun 2009, angka ini masih sebesar 1,22. Angka ini jauh di bawah replacement level fertility, yaitu dengan TFR sekitar 2,2. Dengan replacement level, bila tidak ada migrasi neto yang positif, jumlah penduduk Singapura akan berhenti bertumbuh setelah berada di era replacement level kira kira 40-50 tahun. Singapura telah mencapai replacement level pada tahun 1975, setelah 10 tahun melakukan pengendalian kelahiran yang ketat. Sejak saat itu, angka kelahiran terus menurun, dan selalu berada di bawah replacement level.

Ketika suatu negara, atau suatu daerah, mengalami angka kelahiran yang terus menurun dan selalu berada dibawah 2,2, jumlah penduduk di daerah tersebut akan dapat berkurang jumlahnya, kalau tidak mendapatkan tambahan penduduk dari luar daerah. Kalau jumlah penduduk berkurang, jumlah tenaga kerja pun berkurang. Bila daerah tersebut membolehkan orang-orang dari daerah lain untuk bekerja dan bertempattinggal di daerah tersebut, maka penurunan jumlah penduduk tersebut dapat dihindari. Dan, itulah yang terjadi dengan Singapura, negara yang membuka diri pada para pendatang dari berbagai negara.

Mengomentari fenomena angka kelahiran yang rendah tersebut, seorang remaja yang bersekolah di Singapura berkata.

”Guruku menikah tapi dia tidak suka anak. Dia suka anjing. Dia sangat sayang sekali dengan anjingnya.”

Di negara ini, banyak diantara perempuan menikah merasa enggan mempunyai anak karena biaya membesarkan seorang anak mahal sekali. Biaya bukan sekedar biaya saat hamil dan  melahirkan. Yang terbesar justru untuk merawat dan membesarkan anak itu. Juga biaya yang berujud kerepotan kedua orangtuanya. Bagi sebagian orang, mahalnya dan sulitnya mendidik dan mengurus anak agar menjadi anak idaman  telah sama sekali menghilangkan keinginan untuk melanjutkan keturunan bagi generasi mendatang.

Beberapa pakar mencoba menjelaskan rendahnya angka kelahiran di tahun 2010 tersebut. Salah satu penjelasan adalah bahwa tahun 2010 adalah tahun Harimau, yang menurut sebagian orang Cina bukan tahun yang baik untuk mempunyai anak. Penjelasan lain adalah  persoalan ekonomi keluarga: tahun 2008/2009 merupakan tahun krisis sekonomi global. Banyak penduduk Singapura yang terkena dampak krisis.

Beberapa pakar optimis bahwa di dua tahunmendatang, jumlah kelahiran akan stabil atau bahkan akan meningkat. Mengapa demikian? Tahun 2012 adalah tahun Kelinci dan berikutnya tahun Naga, tahun-tahun yang disukai untuk mempunyai anak. Apakah hal ini akan terjadi? Kalau tidak, apakah Singapura akan terus mengandalkan pada migrasi internasional untuk mengimbangi kekurangan tenaga kerja?

Bagaimana di Indonesia, terutama di beberapa propinsi dan kabupaten yang telah berada di bawah replacement level, dengan TFR di bawah 2,2? (*)

Tulisan terkait

* Berapa Banyak Orang Indonesia di Singapura?

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, international migration, , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: