Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

BEBAN EKONOMI PENGEROPOSAN PENDUDUK

Aris   Ananta

Untuk SEPUTAR  INDONESIA, 11 Januari 2011

Tahun yang baru tampaknya tidak selalu disertai kegembiraan. Ketika saya mengucapkan ”Selamat Tahun Baru”, seorang kawan menjawab dengan kurang bersemangat. Kawan ini berusia sekitar 50 tahun.

Dia masih tampak sehat. Pekerjaannya pun baik. Namun, dia mengeluh. Dia sekarang cepat letih, pendengaran kurang jelas, dan sering sakit ”ringan”. Kata dokter, itu karena usianya. Kawan ini kemudian meneruskan ”Tahun Baru, usia bertambah, kesehatan menurun. Saya tampak sehat, tetapi sedang mempersiapkan diri dalam proses pengeroposan, kesehatan saya akan makin menurun dan menurun makin cepat.” Kata saya dalam hati, ”Semua makhluk hidup pasti menjadi tua dan mati. Namun, sebelum ajal, apa yang terjadi pada kita? Apakah kita akan mengalami pengeroposan dan benar-benar keropos sebelum akhirnya benar-benar selesai tugas kita di dunia ini? Siapa yang akan mengurus dan membiayai kita yang makin keropos?”

Saya ingat teman yang lebih muda, berusia kira-kira 30 tahun. Dia tidak mengeluh mengenai kesehatannya. Dia belum melihat soal kemungkinan pengeroposan kesehatannya. Dia tetap acuh tak acuh soal yang dia makan dan masih jarang berolah raga. Namun, dia sudah mulai merasakan pengeroposan keterampilan. Dia bekerja di bidang IT. Hal yang dia pelajari 10 tahun lalu sudah berbeda dengan yang ada sekarang. Generasi yang lebih muda dari dia tak perlu mempelajari yang dia kuasai 10 tahun lalu.Walau demikian, teman ini tetap optimistis bahwa dia dapat bersaing dengan yang lebih muda. Teman ini percaya bahwa pengalamannya akan membuat dia mampu menyerap hal baru  dengan lebih cepat.

Teman ini juga ingat pada ayahnya yang di zaman mudanya terkenal sebagai tukang ketik handal. Saat itu belum ada komputer, bahkan belum ada mesin ketik elektronik. Ini hal yang mungkin sulit dibayangkan oleh penduduk berumur 30 tahunan sekarang. Ia pernah bertanya ke ayahnya, mengapa ayahnya tak mau belajar hal baru, belajar komputer, dan berbagai hal yang berkaitan dengan IT. Dia sungguh kaget ketika ayahnya berkata bahwa ayahnya sebetulnya ingin sekali belajar hal baru. Kata ayahnya ”Kalau aku mencurahkan waktu untuk belajar komputer dan mengikuti hal terbaru, kegiatanku di kantor terbengkalai. Aku bisa dipecat. Kalau aku dipecat, dari mana kita dapat hidup?  Bagaimana aku dapat membiayai hidup dan pendidikanmu?”

Tampaknya, sang ayah merasakan bahwa belajar itu mahal. Ketika orang masih muda, belum bekerja, biaya belajar hanyalah uang yang dikeluarkan untuk belajar itu saja. Namun, ketika orang sudah bekerja, biaya belajar menjadi lebih besar. Biaya belajar bukan saja uang yang harus dibelanjakan untuk membeli buku atau biaya kursus, tetapi juga biaya alternatif (opportunity cost) dari proses belajar itu sendiri. Kalau belajar menyebabkan tidak bekerja, penghasilan yang hilang itu merupakan biaya alternatif dari belajar. Selain itu, usia bertambah juga berarti makin besar tanggung jawab keluarga. Orang makin enggan belajar hal baru karena orang akan memikirkan bagaimana membiayai keluarganya.

Akibatnya, setelah selang waktu, orang yang makin tua kehilangan keterampilan yang relevan dengan zamannya. Keterampilannya mengeropos. Kalau sudah tidak berketerampilan lagi, bagaimana dia dapat bekerja dan membiayai diri sendiri, bahkan untuk keluarganya? Dengan perubahan teknologi yang makin cepat, keterampilan pun makin cepat berubah. Pengeroposan keterampilan pun dapat terjadi dengan makin cepat, bahkan di usia yang relatif muda, seperti usia 40 tahunan. Siapa yang akan membiayai orang yang mengalami pengeroposan kesehatan dan pendidikan, sebelum mereka meninggal dunia? Apalagi, angka harapan hidup makin tinggi. Artinya, orang hidup makin lama.

Dengan angka harapan hidup saat usia 60 tahun kirakira 17 tahun lagi, bisa dibayangkan yang terjadi kalau kesehatan dan pendidikan seseorang sudah keropos di usia tersebut. Kira-kira 17 tahun lamanya dia akan tergantung pada orang lain untuk membiayai hidupnya. Kalau proses pengeroposan dimulai di usia 40 tahun, selama 20 tahun mereka akan mengalami penurunan pendapatan. Padahal, di usia itu biasanya anak-anak mereka mulai memasuki universitas dan belum dapat membantu keuangan orang tua mereka. Yang lebih merisaukan adalah ketika kita mendengar berita kematian teman-teman yang relatif masih produktif dan muda, sekitar 50 tahun. Memang kita tidak perlu membiayai mereka yang telah meninggal.

Namun, kepergian mereka berarti kehilangan dalam potensi ekonomi yang besar, untuk keluarga mereka, dan perekonomian pada umumnya. Gejala pengeroposan penduduk ini dapat memperparah masalah penuaan penduduk, suatu proses ketika terjadi peningkatan yang makin cepat dalam jumlah dan persentase penduduk tua. Peningkatan jumlah penduduk tua akan memperbesar beban ekonomi dari pengeroposan penduduk. Gejala ini gejala dunia, walau tiap negara berada dalam tahap yang berbeda. Indonesia pun diduga mengalami gejala pengeroposan penduduk ini. Selain itu, jumlah penduduk tua yang hidup makin lama pun terus meningkat dengan makin cepat.

Penduduk Indonesia juga mengikuti gaya dunia yang penuh stres, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, dan kurang berolah raga. Penduduk Indonesia juga mengikuti pasar kerja global yang serba ber-IT dengan perubahan yang amat cepat. Sementara itu ,belajar hal baru dan mengikuti gaya hidup sehat juga makin mahal. Kalau tiap pagi harus meninggalkan rumah jam 6 pagi dan baru tiba di rumah jam 10 malam, kapan dapat istirahat dan olah raga secara teratur? Kalau sulit mencari makan yang sehat di luar rumah, bagaimana caranya mendapatkan konsumsi yang sehat? Kalau tuntutan hidup dan pasar makin ketat, bagaimana dapat hidup dengan sedikit stres?

Kalau begitu, apakah kita hanya dapat menyerah, bahwa pengeroposan dan keropos adalah proses wajar yang harus kita terima dalam waktu yang makin lama, dengan biaya yang makin besar? Atau, dapatkah kita  menunda bermulanya proses pengeroposan dan memperlambat proses tersebut? Karena itu, perlu pemikiran inovatif di bidang kesehatan masyarakat (termasuk psikologi), pendidikan (termasuk teknologi), dan pasar kerja. Tujuannya agar masyarakat dapat menunda bermulanya pengeroposan kesehatan dan pendidikan serta memperlambat proses pengeroposan ini.

Hal ini akan sangat mengurangi beban perekonomian dan keluarga orang itu sendiri. Selain itu, dan lebih utama lagi, penduduk akan lebih bahagia bila permulaan proses pengeroposan dapat ditunda dan kecepatan proses pengeroposan dapat diperlambat.(*)

Baca juga

* Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: