Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PERUBAHAN IKLIM TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Aris  Ananta

Untuk SEPUTAR  INDONESIA, 10 Desember 2010

Siapa yang harus bertanggung jawab atas terjadinya perubahan iklim? Siapa yang bertanggung jawab pada peningkatan emisi karbon? Siapa penghasil emisi terbanyak?
Itulah pertanyaan yang akan dijawab dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang berlangsung di Cancun,Meksiko, sejak 29 November hingga 10 Desember 2010. Ini bukan pertanyaan baru, tapi pertanyaan lama yang tidak kunjung terjawab. Perdebatannya selalu berkisar siapa yang mau mengurangi emisi karbon. Masalahnya, selama ini terdapat asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan utama pembangunan. Kemudian pertumbuhan ekonomi selalu menghasilkan emisi karbon yang merusak iklim di seluruh dunia. Dengan asumsi ini, mengurangi emisi karbon berarti mengurangi pertumbuhan ekonomi.

Mengurangi pertumbuhan ekonomi berarti mengurangi kemakmuran dan kesejahteraan. Negara berkembang mengatakan bahwa negara maju telah menikmati apa yang sekarang mereka miliki dengan cara mengotori dunia melalui emisi karbon. Karena itu,menurut negara berkembang, negara maju harus membayar biaya pengotoran iklim ini. Selanjutnya, negara berkembang merasa mereka masih mempunyai hak untuk mengotori dunia,karena mereka belum pernah tumbuh seperti negara maju dan kotoran yang mereka hasilkan belum banyak. Di pihak lain, negara maju berpendapat, kalau negara berkembang tidak maju maka emisi karbon di dunia masih belum dalam keadaan bahaya. Pertumbuhan ekonomi yang pesat di negara berkembang, terutama China dan India, membuat emisi karbon dunia naik cepat.

Karena itu negara maju ingin menghentikan emisi karbon dari negara berkembang. Bahkan, sebagian negara maju mau memberi uang ke negara berkembang untuk mengurangi emisi karbon dari negara berkembang. Sebagai gantinya,negara maju (yang memberi uang) boleh meneruskan mengotori udara dengan emisi karbon. Ini seperti “penyuapan”ke negara berkembang agar negara maju tidak dikritik karena merusak iklim di dunia. Perdebatan itu sering terasa aneh.

Suatu negara meminta hak untuk dapat mengotori lingkungan mereka sendiri, demi pertumbuhan ekonomi. Namun, bukankah kita juga sering bertemu dengan teman kita yang bekerja mati-matian, bahkan sampai mengorbankan kesehatan mereka, demi pekerjaan mereka,demi karier mereka,demi penghasilan mereka? Bukankah kita juga sering mendengar teman yang masih berusia sekitar 50 tahun, yang amat produktif, tetapi tiba-tiba sakit sangat parah, bahkan meninggal? Mereka ini mau mengorbankan kesehatan mereka demi karier,demi penghasilan.Mereka melakukan gaya hidup yang jelek—konsumsi yang tidak sehat, kurang istirahat, dan kurang berolahraga. Itulah yang terjadi di hampir semua negara di dunia ini.

Mereka rela mengorbankan lingkungan hidup mereka demi pertumbuhan ekonomi mereka.Kalau perlu mereka pun mau “menyuap”pengkritik pada gaya pembangunan mereka. Selalu ada pertentangan antara pertumbuhan ekonomi dan mutu lingkungan hidup. Pilih mana, karier, pendapatan, atau kesehatan? Pertumbuhan ekonomi atau mutu lingkungan hidup? Sering kita lupa bertanya apakah kita memang menginginkan hidup dengan pendapatan yang tinggi tetapi disertai dengan kesehatan yang jelek, bahkan kemudian sakit parah dan meninggal dunia? Kita ingin ekonomi kita tetap tumbuh dengan cepat, tetapi tiba-tiba lingkungan hidup kita hancur,dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu tidak mempunyai arti apa-apa lagi buat kita semua?

Sungguh menggembirakan bahwa pada 24–26 November 2010 yang lalu telah berkumpul banyak ekonom dan berpendapat bahwa pembangunan ekonomi serta perbaikan lingkungan hidup tidak bertentangan. Para ekonom tersebut menghadiri konferensi “The Environments of the Poor. In the Context of Climate Change and the Green Economy. Making Sustainable Development Inclusive” yang diselenggarakan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) di New Delhi, India. Para ekonom di sini menganjurkan perubahan paradigma pembangunan ,dari ekonomi yang konvensional ke ekonomi yang “hijau”, ekonomi yang ramah lingkungan. Semua kegiatan ekonomi, produksi dan konsumsi, harus memperhatikan masalah lingkungan.

Teknologi yang ramah lingkungan perlu terus diciptakan dan dipasarkan. Masyarakat perlu didorong untuk menggunakan teknologi yang ramah lingkungan.Teknologi yang tidak ramah lingkungan mendapatkan pajak. Selain itu, konsumen pun mempunyai hak untuk mengetahui apakah barang/ jasa yang mereka konsumsi telah diproduksi dengan teknologi yang ramah lingkungan atau tidak. Artinya, pemberdayaan konsumen atau meningkatkan kesadaran konsumen mengenai apa yang mereka konsumsi merupakan hal yang penting dalam menciptakan perekonomian yang ramah lingkungan. Memang, akan terjadi benturan kepentingan antara para pebisnis dan pencinta lingkungan.

Salah satu cara menyatukan kepentingan pebisnis dan pencinta lingkungan adalah kampanye yang meluas dan terus-menerus mengenai adanya barang dan jasa yang dihasilkan dengan merusak lingkungan. Konsumen berhak mengetahui bahwa apa yang mereka konsumsi tidak merusak lingkungan.(*)

Tulisan terkait

* The Statistical Revolution is Finally Here

* The Thinker: Where There’s Smoke

* Kemajuan Bisnis atau Lingkungan Hidup?

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, environment, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: