Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

NONTON KOPOR dan PETUGAS TIDUR DI BANDARA NEW DELHI

Evi Nurvidya Arifin

Untuk MLETIKO, 3 Desember  2010

New Delhi, sebagai ibukota negara yang kini dianggap sebagai salah satu mesin ekonomi dunia, terus berbenah. Pertumbuhan ekonomi India melaju dengan kecepatan 8,9% untuk kuartal Juli-September 2010. Bandara New Delhi (Indira Gandi International Airport – IGI)  kini dilengkapi dengan Terminal 3, terminal penerbangan internasional yang  diresmikan menjelang Commonwealth Games bulan Oktober 2010 yang lalu. Bandara ini  terdiri dari Terminal 1, 2, dan 3 dan direncanakan  menjadi terminal terbesar di Asia Selatan setelah Terminal 4 dan 5 terwujud. Terminal 3  dirancang untuk  menampung 34 juta penumpang per tahun untuk saat ini dan direncanakan bisa menampung lebih banyak penumpang internasional di tahun 2030. Tapi, apa yang kami alami?


Kami mendarat di IGI jam 5 pagi, tanggal 15 November 2010.  Begitu mendarat dan  berjalan menuju bagian imigrasi, kami melihat pemandangan luas dan bersihnya bandara  (maklum bandara baru) layaknya berjalan di Changi airport, Singapura. Bedanya, tidak ada yang bisa dilihat selain gedung luas dengan ruang-ruang yang disekat. Apalagi masih pagi. Sepi sekali.

Bagian imigrasi dilengkapi dengan banyak counters. Namun bersiaplah menghadapi antrian yang panjang dan ruwet.  Counter yang banyak tidak menjamin semuanya dilengkapi dengan petugas.

Negitu sampai ke bagian imigrasi,  anda akan terpesona dengan dekorasi diatas meja-meja counter yang cukup memukau. Serangkaian patung-patung telapak tangan perempuan yang berukuran cukup besar membentuk simbol-simbol tertentu (tidak sempat bertanya apa artinya). Mungkin menyiratkan pesan selamat datang. Namun, jangan terpukau terlalu lama. Ketika dalam antrian, amatilah, apakah semua petugas counter sudah bekerja? Bila ada counter yang belum berpetugas, bersiap-siaplah untuk segera pindah jalur. Bila beruntung, yang tadinya anda di ekor antrian,  bisa jadi anda segera  berada di  kepala antrian. Kami termasuk yang beruntung. Kami dapat segera pindah jalur, karena tiba tiba ada counter yang buka. Walhasil urusan imigrasi kami  bisa segera selesai. Kalau tidak? Bersiaplah antri lebih dari satu jam.

Setelah imigrasi beres, pengalaman berikutnya menanti atau mencari bagasi. Berhubung kami mendapat antrian imigrasi yang cepat, maka kami  sampai di tempat bagasi juga cepat sekali. Alangkah kagetnya karena ban berjalan sudah bergerak. Kopor sudah ada di ban berjalan itu. Sistemnya canggih sekali. Untuk menghindarkan tumpukan kopor di ban berjalan, kopor hanya ”nongkrong’ di atas, dan tidak masuk ke ban berjalan, bila tidak ada ”ruang’ di ban berjalan. Kalau sudah ada kopor yang diambil pemiliknya, terjadilah ruang kosong. Dan ketika ruang kosong itu melewat tempat jatuhnya kopor, barulah kopor berikutnya masuk ke ban berjalan.   Sistem yang menarik sekali.

Sayang, antrian di imigrasi amat lama. Maka, penumpang juga lambat sampai ke tempat bagasi. Akibatnya, banyak kopor tidak segera diambil. Maka, jarang jarang terjadi ”ruang” kosong. Oleh sebab itu, kopor sering ”nongkrong” di atas saja, menunggu kalau sudah ada ruang kosong. Untung, kami berhasil menikmati teknologi ini. Kira kira satu jam kami nonton kopor yang ”nongkrong”, yang kemudian baru jatuh ketika ada ruang kosong. Setelah kira kira satu jam, para penumpang sudah banyak selesai dari imigrasi. Kami pun mendapatkan kopor kami dengan selamat. Ya, ”masih untung” nonton kopor berdatangan selama satu jam. Bayangkan, kalau harus antri satu jam di imigrasi!

Teman-teman yang datang malam hari mendapat pengalaman lebih seru lagi. Bukan hanya antrian imigrasi yang panjang, dan terpaksa nonton kopor berjatuhan menunggu ruang kosong, tetapi juga harus mencari kopor yang sudah tidak nongkrong dan sudah tidak ada di ban berjalan. Rupanya, kalau penumpang tidak segera datang, kopor dipaksa keluar dari ban berjalan, dan ditumpuk bersama kopor kopor lain di ruang lain. Walhasil babak belurlah mencari koper-koper diantara lautan koper-koper. Lihat foto ini.

 

Bahkan ada teman tidak mendapatkan kopornya. Untungnya, hari berikutnya kopor dapat ia diterima di hotel.  Pelajaran dari sini, bawlah  baju di dalam tas tenteng (hand carry bag) .

Lain pula pengalaman kami  meninggalkan New Delhi di pagi hari. Pesawat kami berangkat jam 8.10 pagi, tanggal 27 November. Jam 6 kami sudah sampai di bandara dan mendapatkan antrian check-in yang tidak panjang. Ketika check-in petugas penerbangan memberi name tag untuk tas tangan. Name tag ini perlu sekali untuk diisi dan digantungkan pada tas tangan kita. Name tag ini  distempel ketika  selesai pemeriksaan X-ray. Tanpa name tag ini, proses berikutnya bisa sulit. Pemeriksaan keamanan luar biasa ketat.  ”Pemeriksaan badan” dilakukan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Cukup memakan waktu.  Seorang teman, yang meninggalkan New Delhi di malam hari, nyaris tertinggal pesawat, karena proses check in, imigrasi, dan pemeriksaan keamanan yang lama. Mungkin, kita perlu datang lebih awal di bandara.

Pagi itu imigrasi juga tidak panjang. Walau antri tidak panjang, ternyata kami salah antri. Kami mendapatkan pengalaman menarik. Petugas imigrasi di antrian kami tiba tiba tertidur ketika bertugas. Dia tertidur ketika melayani seorang penumpang. Tidur dengan posisi tengadah. Karuan saja semua orang melihat atraksi ini. Orang dibelakang saya nyeletuk ”This can happen only in India ”. Rupanya seorang petugas lain  menyadari kawan disebelahnya tertidur.  Lalu ditepuklah bahunya. Petugas itu bangun dengan kalemnya, lalu berdiri dan berjalan meninggalkan tempatnya bertugas, mencari kawan lainnya  yang nganggur. Ia kemudian meminta kami semua  pindah ke jalur lain, untuk dilayani kawan dia yang belum bekerja itu.

Agak jauh dari jalur kami yang tadi. Sementara itu, kami melihat penumpang yang tadi sudah di counter imigrasi, ternyata masih berdiri di sana. Dia masih menunggu petugas yang tertidur tadi…. Jarak dengan kami jauh, kami tidak bisa apa-apa, hanya berdoa, agar dia sadar bahwa petugas yang tertidur itu sudah pergi, mungkin tidur di kasur.

Memang,  teknologi bisa diciptakan dan dibuat dengan  canggih, namun kepintaran dan kesigapan manusianya dapat  lebih lambat dari kemajuan teknologi. Sebagai traveller ke New Delhi, bersiaplah untuk seringkas mungkin membawa barang barang. Masukkan semua barang bawaan ke dalam tas. Untuk laki-laki, kalau bisa pakailah sabuk yang tidak bermetal.

Filed under: Bahasa Indonesia, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: