Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

AWAS BANJIR BARANG DAN BANJIR UANG!

Aris   Ananta

SEPUTAR   INDONESIA, 2 November 2010

  

Provinsi Riau mengirim banjir kabut asap ke Singapura dan Malaysia. Di Jakarta, hujan deras menyebabkan Ibu Kota lumpuh akibat banjir. Mentawai terkena tsunami banjir dari laut, sementara Kaliurang terkena banjir debu dan udara panas dari Gunung Merapi.
Berbagai macam banjir ini menyebabkan penderitaan terutama mereka yang terkena bencana. Bahkan ketika banjir berdampak ke negara lain, pemerintah Indonesia pun diprotes keras oleh negara lain, walau negara itu ikut mengonsumsi barang yang dihasilkan melalui pembakaran hutan di Sumatera.

Artikel berjudul “Harapan pada Indonesia Perjelas Jerebu (kabut asap)” di Berita Harian (koran berbahasa Melayu di Singapura) pada 30 Oktober 2010 dengan pedas mengkritik pemerintah Indonesia yang tidak tegas, tidak peduli, dan tidak bertanggung jawab terhadap banjir kabut asap tersebut. Setelah mengkritik, penulis artikel itu menambahkan “Kini, Indonesia turut menghadapi bencana alam berganda yang tidak dapat dielakkan —tsunami merobek keamanan Kepulauan Mentawai, Sumatera,sedang Gunung Merapi di Jawa memuntahkan lahar panas yang membunuh puluhan penduduk. Kita bersimpati dan sanggup menolong. Namun, usah ketepikan masalah jerebu yang boleh (dapat) dihindari.” Penulis itu memang berlebihan dan tidak perlu mengaitkan belum berhasilnya pemerintah Indonesia menghentikan banjir kabut asap ke Singapura dan Malaysia dengan terjadinya tsunami di Mentawai dan banjir lahar panas dari Merapi.

Namun, ada hal yang dapat kita pelajari dari kasus di atas. Ketika banjir melewati batas negara, rasa “nasionalisme” mudah terbangkitkan. Ketika banjir tenaga kerja melewati batas negara, rasa nasionalisme pun muncul di banyak negara di dunia. Struktur usia yang menua di banyak negara maju menyebabkan mereka membutuhkan tenaga kerja muda dari negara lain. Tetapi, ketika tenaga kerja asing membanjir, protes pun muncul di negara tersebut.

Di Malaysia, banyak perusahaan sering menggunakan tenaga kerja Indonesia secara ilegal, karena upahnya murah dan lebih mudah dikontrol. Mereka menyebut “tenaga kerja haram”. Ketika ekonomi mereka mendapatkan masalah, tenaga kerja “haram’ ini di-salahkan, dikejar-kejar, namun mereka tidak peduli bahwa mereka telah ikut menikmati/mengonsumsi barang yang dihasilkan dengan menggunakan tenaga kerja “haram” tersebut. Lebih lanjut, rasa nasionalisme ketika menghadapi banjir tenaga asing tidak saja berkaitan dengan masalah ekonomi, tetapi juga dimunculkan sebagai isu politik yang panas di negara penerima tenaga kerja asing.

Kini, Indonesia, dan banyak negara lain mengalami banjir barang yang murah dari China.Pengusaha di bidang pakaian, misalnya mengeluh bahwa pakaian dari China amat murah, membuat pengusaha tersebut tak dapat menyaingi barang dari China.  Akibatnya, beberapa produsen pakaian kemudian berubah menjadi pedagang pakaian dari China. Hal yang serupa terjadi dengan barang lain dari China. Rasa nasionalisme kita pun muncul, protes pada banjir barang dari China. Hal semacam ini juga terlihat di banyak negara lain. Namun, rasa nasionalisme ini kemudian mendapat kritikan keras dari para pendukung perdagangan bebas, yang sebagian besar berasal dari negara kaya.

Di pihak lain, China dituduh telah melanggar prinsip perdagangan bebas, karena dia tidak membiarkan nilai mata uangnya ditentukan secara bebas di pasar uang internasional. China telah melakukan intervensi untuk melemahkan yuan. Yuan yang lemah berarti ekspor dari China menjadi murah. Barang dari China akan makin membanjiri dunia, termasuk Indonesia. Amerika Serikat adalah negara yang paling keras mengutuk kebijakan China yang tidak mau melepaskan nilai yuan ke pasar bebas.

China mengatakan bahwa kalau China melepaskan nilai yuan ke pasar bebas, ekspor dari China akan mahal, dan ekspor akan jatuh. Kalau ekspor jatuh,ekonomi China akan jatuh. Kalau ekonomi China jatuh, ekonomi dunia akan masuk resesi lagi, karena saat ini ekonomi China menjadi salah satu pendorong utama ekonomi dunia.

Bukan hanya banjir barang dari China, dunia pun kini mengalami banjir uang dari negara maju. Ini terjadi karena ketidakmampuan negara maju untuk menyerap uang mereka. Secara khusus, kita sekarang dibanjiri dolar dari Amerika Serikat (AS). AS tidak kunjung pulih dari resesi dunia yang disebabkan oleh mereka sendiri. Paket stimulus telah dilakukan, namun hasilnya belum banyak. Maka, pemerintah Amerika mencetak uang lebih banyak untuk membeli kembali surat utang mereka.

Banjir uang (dolar AS) ini diharapkan oleh pemerintah AS dapat merangsang pertumbuhan ekonominya. Sayangnya, banjir uang ini tak sepenuhnya dapat menghilangkan kotoran di ekonomi AS.  Banjir uang ini justru mengalir ke luar AS, termasuk Indonesia. Rupiah menguat dengan cepat.

Indonesia bersyukur dengan banjir uang ini? Kalau saja uang ini digunakan untuk hal-hal yang produktif, Indonesia pantas bersyukur. Persoalannya, uang yang masuk ini sering disebut “uang panas”, yang tidak digunakan untuk kegiatan produktif. Uang hanya masuk ke sektor keuangan, hanya untuk kegiatan spekulasi. Uang dapat sewaktu waktu ditarik keluar Indonesia. Kalau hal ini terjadi, sektor keuangan di Indonesia dapat mengalami masalah besar. Akibatnya, sektor produksi juga akan menderita.

Itu sebabnya, Bank Indonesia telah terus-menerus memantau banjir uang ini.Peraturan telah dan akan dibuat untuk membuat uang tidak dengan mudah keluar dari Indonesia. Menariknya, walau Indonesia dan juga banyak negara lain terkena banjir uang, yang dapat mengganggu sektor keuangan dan perekonomian mereka, rasa “nasionalisme” tidak muncul seperti ketika terjadi banjir kabut asap, banjir tenaga kerja asing, dan banjir barang dari China. Tidak ada protes ke AS dan negara maju lain yang menjadi sumber banjir uang ke banyak negara di Asia.

Yang terjadi di tiap negara ,termasuk Indonesia, hanyalah tindakan meminimalkan dampak banjir uang ini. Tindakan ini mirip dengan yang dilakukan masyarakat di Jakarta untuk mengurangi dampak banjir, yang sekadar mencoba meninggikan rumah. Benarkah Indonesia dan negara Asia lain tidak dapat memprotes AS dan negara maju lain yang membanjiri Asia dengan uang, yang dapat mengganggu perekonomian di Asia.

Seperti ketika banyak negara marah pada banjir tenaga asing, ketika pengusaha Indonesia memprotes banjir barang dari China, dan ketika Malaysia dan Singapura mengecam kabut asap dari Indonesia? Apakah banjir uang internasional merupakan bagian dari perdagangan bebas?

Tulisan terkait

*Statistik, Sentimen, dan Pemain Pasar Keuangan

* Reformasi Sektor Keuangan untuk Hadapi Krisis Global

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, , , , , ,

One Response

  1. sugihardjo says:

    Rasa nasionalisme memang perlu ditumbuhkan. Tidak sekedar slogan yang muncul dari bibir para pejabat atau siapapun. Yang lebih penting tindakan nyata oleh semua pihak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: