Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Konsumen Dalam Negeri Harus Mengalah?

Aris Ananta

SEPUTAR INDONESIA, 19 Oktober 2010

“Jadilah pahlawan perekonomian, demi makin pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumen dalam negeri harus mengalah, mau mengorbankan kepentingan mereka demi pertumbuhan ekonomi!
Yang baik-baik untuk konsumen asing saja, karena mereka berani membayar mahal. Ekspor akan naik, pertumbuhan ekonomi akan meningkat.Yang kualitasnya jelek buat konsumen dalam negeri karena dapat dijual dengan lebih murah. Produsen juga tidak melanggar hukum, karena apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan hukum di Indonesia dan hukum di negara penerima produksi mereka.

Ini namanya segmentasi pasar! Produsen asing juga melakukan segmentasi pasar semacam ini. Ada yang dijual di negara mereka sendiri, ada pula yang dijual ke Indonesia. Tetapi, ini semua demi kepentingan Indonesia yang tidak punya modal! Mereka menanam modal di Indonesia, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sangat membutuhkan pemodal asing ini.

Maka, Indonesia perlu berbaik hati dan memberi fasilitas yang bagus agar mereka tetap mau menanam modal di Indonesia dan menjual barang mereka di sini. Rokok dapat menjadi contoh. Pasar rokok di negara maju makin menciut, kerena konsumen makin sadar terhadap bahaya merokok. Masyarakat negara maju sudah sadar bahwa bahaya merokok jauh lebih besar dari keuntungan ekonomi jangka pendek.

Maka, mereka mengalihkan modal dan pasarnya ke negara yang masih rendah dalam kesadaran mengenai bahaya merokok dan peraturan pemerintah masih lemah dalam menciptakan ruang bebas dari asap rokok. Produsen ini juga tidak melanggar hukum di negaranya dan juga di Indonesia,” demikian ujar Mimi dengan penuh semangat. Mendengar itu, Adi ingat pengalaman dia waktu tinggal di Singapura.

Adi berhobi makan, sangat ahli membedakan rasa makanan, termasuk rasa mi instan. Ketika dia di Singapura, dia senang karena mendapatkan mi instan produksi Indonesia. Namun, dia mengeluh, ternyata mi instan kegemaran dia itu tidak seenak yang pernah dia konsumsi di Indonesia. Mereknya sama, tetapi rasanya lain.Yang di Indonesia lebih enak! “Rupanya, itu segmentasi pasar ya?

Tetapi, mengapa yang di Singapura kurang enak?” tanya Adi pada Mimi. Mimi menduga, jangan-jangan yang di Indonesia mengandung bahan yang membuat rasa lebih enak, tetapi dilarang di Singapura karena dapat membahayakan kesehatan. Adi yang semula percaya pada penjelasan Mimi, mulai ragu-ragu. Mimi tidak pernah belajar mengenai kesehatan, bagaimana dia tahu soal komposisi bahan pembuat mi tersebut?

Adi pun tidak meneruskan diskusi yang terjadi lebih dari lima tahun lalu. Namun, diskusi santai dengan Mimi tiba-tiba muncul kembali ke ingatan Adi, ketika belum lama ini pemerintah Taiwan menarik mi instan produksi Indofood, Indonesia, dari pasar Taiwan. Pemerintah Taiwan menemukan bahwa mi instan tersebut mengandung bahan pengawet yang disebut Methyl P-Hydroxybenzoate.

Padahal pemerintah Taiwan telah menetapkan bahwa bahan tersebut berbahaya untuk kesehatan dan tidak boleh digunakan dalam produksi makanan di Taiwan. Produsen Indofood mengatakan bahwa semua mi yang diekspor ke Taiwan tidak mengandung bahan pengawet tersebut. Kalau begitu, dari mana datangnya mi Indofood di pasar Taiwan yang ternyata mengandung bahan pengawet tersebut? Ada pasar gelap?

Ada yang tanpa sepengetahuan Indofood mengekpor mi yang sesungguhnya hanya konsumsi dalam negeri? Apa pun jawabnya, ternyata telah terjadi segmentasi pasar, berdasar perbedaan kesadaran masyarakat dan pemerintah. Di Indonesia, penggunaan bahan pengawet itu diizinkan pemerintah, maka Indofood tidak salah bila menjual mi instan dengan bahan pengawet tersebut di Indonesia.

Kesadaran masyarakat Indonesia juga belum tinggi. Yang penting murah dan enak! Adi terus melamun. “Dan, hebat ya, kesehatan orang Indonesia ternyata lebih hebat daripada orang Taiwan.Kita biasa biasa saja mengkonsumsi bahan pengawet tersebut, sedang orang Taiwan ketakutan sekali.” Adi kemudian ingat pengalaman dia waktu ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Dia menyaksikan sendiri betapa listrik masih merupakan masalah di dua provinsi penghasil batu bara ini. Dua provinsi ini mengekspor batu bara dalam jumlah besar, namun masyarakat mereka masih sering mengalami pemadaman listrik. Yang baik-baik di jual ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Penduduk lokal harus jadi pahlawan, mengalah demi pertumbuhan ekonomi Indonesia! “Benar juga ya”, renung Adi “Makanya, kita sering melihat label “export quality”.

Yang diekspor memang yang lebih baik. Jadi masyarakat miskin memang susah, harus mengalah, harus mau mengonsumsi barang yang kualitasnya jelek, bahkan juga harus mau mengonsumsi makanan yang berbahaya untuk kesehatan.” “Kesimpulanmu terlalu jauh” sergah Vidya yang pernah belajar ilmu gizi. “Jangan jangan ahli gizi di Taiwan tidak sepandai ahli gizi kita. Bahan makanan yang sesungguhnya sehat mereka nyatakan tidak sehat.

Atau, seperti yang kamu katakan, masyarakat Taiwan sangat ringkih, gampang sakit, sehingga bahan seperti itu saja sudah dikatakan berbahaya.” “Vidya, ini tugasmu. Telitilah dan beri penjelasan yang lengkap pada masyarakat Indonesia mengenai bahan untuk membuat mi instan yang beredar di Indonesia. Bahan itu berbahaya atau tidak? Kalau dikatakan tidak berbahaya, mengapa Taiwan mengatakan berbahaya?

Undang juga ahli gizi dari Taiwan dan negara lain!” kata Adi pada Vidya “Eh..hati hati dengan dampak pada ekspor kita.Kalau Vidya melakukan penelitian, konsumen bisa ragu ragu pada produksi kita.Kalau ragu-ragu, konsumsi dalam negeri menurun. Ini membahayakan pertumbuhan ekonomi!”sergah Mimi.

“Mimi, cukup!” sela Pandoya yang sejak tadi diam. “Aku sudah letih mendengar ekonom yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi memang diperlukan, tetapi bukan tujuan utama kita.Kesehatan penduduk Indonesia jauh lebih penting dari pertumbuhan ekonomi.

Mohon dengan sangat, janganlah konsumen dalam negeri dijadikan pahlawan, dengan mengonsumsi barang yang kualitasnya rendah, bahkan membahayakan kesehatan. Kita harus mencintai konsumen Indonesia! Adi terbangun dari lamunannya. Dia lalu berteriak “Hidup Konsumen Indonesia. Aku Cinta Konsumen Indonesia!”

Artikel terkait

*Aku Cinta Konsumen Indonesia

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , ,

3 Responses

  1. Wahyuni, Ekawati Sri says:

    Kata teman-teman dari Teknologi Pangan, MSG sebetulnya lebih berbahaya dari Nipagin (itu nama pasar zat kimia yang bikin heboh di Taiwan), kemudian ada yang menghitung kandungan nipagin yang diijinkan di Indonesia itu memungkinkan orang Indonesia makan 9 bungkus mie instant sehari. Kata menkes kalau hanya makan sehari sebungkus plus sayuran yang banyak, aman saja koq mie instant itu.

    Masalahnya, mengapa harus pakai zat pengawet itu sedemikian banyak untuk pasar Indonesia?

    Konon, kata teman saya di Taiwan, mie yang terkena sampel itu memang mie untuk pasar Indonesia yang dibawa langsung ke Taiwan sebagai barang cangkingan.

    Memang sebaiknya kita makan makanan segar saja, buah dan sayur asli Indonesia yang belum diekspor, jadi ga ada kualitas ekspor. Tapi siapa yang menjamin bahwa sayuran segar yang konon sehat itu, sebelum dipanen kemarin sore disemprot pakai pestisida dulu?

    • mletiko says:

      Terimakasih banyak. Teman teman di IPB dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam mengapa Taiwan, dan mungkin banyak negara lain, tidak mau mengkonsumsi mi yang dijual di pasar Indonesia. Apakah orang Indonesia memang lebih sehat daripada orang Taiwan?

      Sayur dan buah buah yang disemprot? Ini juga mengerikan. Mungkin teman teman lain ada ide agar kita dapat mengkonsumsi makanan yang sehat, walau perekonomian tidak tumbuh dengan amat cepat.

  2. syawila ii says:

    Mie instant hanya satu dari puluhan atau mungkin ratusan makanan yang mengandung bahan yang ‘tak jelas’.Produk yang dipasarkan setelah lewat uji tes badan resmi pemerintah saja, masih mesti dipertanyakan. Belum lagi jika kita bicara tentang produk makanan buatan rumah tangga/usaha kecil,yang bahkan seringkali si pembuatnya sendiri tidak tahu dengan bahaya yang terkandung pada bahan pembuat makanannya. Yang penting kemasannya menarik,warna mencolok,(dirasa) enak dan sesuai dengan isi kantong.

    Konsumen yang justru paling menjadi korban adalah anak-anak. Perhatikan pola orangtua kita yang sering membujuk anak dengan setumpuk jajanan warung. Atau perhatikan dagangan yang ditawarkan penjual disekitar sekolah mereka. Warnanya yang mencolok saja sudah bisa membuat kita bertanya-tanya,bahan pewarna apa yang mereka gunakan? Beberapa kali media memberitakan tentang jajanan di sekitar sekolah yang mengandung pewarna untuk tekstil.

    Begitu pulang ke rumah, makanan yang disediakan oleh ibunya lagi-lagi ‘mengkhawatirkan’. Siapa yang bisa menjamin,beras,mie,tahu,tempe yang ibu mereka beli di pasar itu aman di konsumsi? Para ibu mungkin ada yang cukup tahu berita,tapi mereka kan juga tidak tahu mana yang aman atau tidak. Belum lagi iming-iming khas penjual bahwa yang mereka jual tidak mengandung formalin,boraks atau apapun itu.

    Masyarakat kita memang pahlawan,juga pejuang yang setiap hari mesti bertempur dengan berbagai macam produk yang menyerang pertahanan kantong-karena harga yang makin mahal- dan pertahanan tubuh yang moga-moga dalam jangka panjang tidak terkena penyakit mematikan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: