Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

KEKERASAN, KERUSUHAN, KECELAKAAN, DAN INVESTASI ASING

Aris   Ananta

SEPUTAR   INDONESIA,  5  Oktober   2010

Amankah Indonesia sekarang? Begitu pertanyaan John kepada Pandoya yang seorang sarjana ekonomi Indonesia. John risau dengan tindak kekerasan yang kerap terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Mulai dari pemukulan anggota HKBP, kerusuhanTarakan, penyerangan terhadap anggota Ahmadiyah, letusan di Bekasi, dan perkelahian di depan gedung Pengadilan Jakarta Selatan. Dia khawatir pemerintah Indonesia tidak mampu menangani tindak kekerasan tersebut.

John adalah seorang pejabat asing yang bertugas memahami Indonesia, terutama di bidang ekonomi.  Dia risau karena peningkatan kerusuhan dan kekerasan membuat pebisnis dari negaranya enggan berinvestasi di Indonesia. Padahal, negaranya membutuhkan Indonesia sebagai lokasi investasi yang menarik.

Pandoya tidak menjawab, tetapi menambahkan bukan hanya kekerasan dan kerusuhan, kecelakaan pun sering terjadi. Seperti tabrakan dua kereta api di Pemalang dan Solo, Jawa Tengah yang menyebabkan korban meninggal dan luka-luka. Kejadian seperti ini bukan hal yang jarang terjadi.

Bukan hanya tabrakan antarkereta api, tetapi juga antarkendaraan bermotor, antara pejalan kaki dan kendaraan bermotor, dan juga kecelakaan karena jalan licin dan berlubang. Bukan hanya itu, penduduk Indonesia juga mengalami kecelakaan dari tanah longsor, banjir, dan juga yang berkaitan dengan “teknologi modern”, seperti meledaknya tabung gas.

Namun Pandoya kecewa, karena John kurang bersemangat mendengar masalah kecelakaan tersebut. Dia merenung, mungkinkah masalah tabrakan kereta api dan berbagai macam kecelakaan lainnya tidak berpengaruh pada investasi asing?

Memecah keheningan, John mengatakan, ada anggota DPR yang bilang bahwa investasi asing di Indonesia tidak akan terpengaruh oleh tindakan kekerasan dan kerusuhan akhir-akhir ini. Ini memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia amat baik.  Polisi harus tetap mempertahankan keamanan, mencegah terjadinya kerusuhan dan kekerasan, agar iklim investasi terus meningkat, dan perekonomian tetap tumbuh dengan makin cepat.

Pandoya makin merasa tak enak. Isunya ternyata disempitkan lagi ke soal kerusuhan, kekerasan, dan investasi asing. Padahal Pandoya ingin memperluas isu dengan mencakup masalah kecelakaan.  Maka, Pandoya kemudian ganti bertanya, ingin tahu komentar John mengenai terorisme di Indonesia.

John ternyata sangat bersemangat bicara soal terorisme dan investasi asing di Indonesia. Ia katakan, para teroris tak berhasil menghalau investasi asing di Indonesia. Lihatlah, investasi asing terus mengalir dalam jumlah yang terus meningkat. Sayangnya, kata John, banyak penduduk Indonesia yang kurang memberi perhatian pada masalah terorisme. Padahal, penanganan terorisme penting sekali agar investasi asing terus mengalir ke Indonesia, dan perekonomian dapat maju dengan cepat.

“Apa yang kamu maksud dengan terorisme?”tanya Pandoya.

“Tentu saja, yang berkaitan dengan peledakan bom, yang banyak membuat kerusakan dan korban jiwa, dan membuat investor ketakutan,” jawab John.

Bukan saya membela orang Indonesia, kata Pandoya. Namun, di Indonesia terorisme bukan saja berwujud peledakan bom. Hampir tiap hari penduduk Indonesia mengalami ancaman terorisme. Di jalanan, mereka dapat tiba-tiba dijambret, tanah ambles, kereta api terjungkal, mendadak terserempet mobil, rumah kemalingan, banjir, dan amat banyak hal-hal “kecil” lain yang meneror penduduk Indonesia. Dan, kemungkinan mengalami berbagai hal itu jauh lebih besar dari kemungkinan terkena bom.

Jadi, kata Pandoya, itulah sebabnya, orang Indonesia lebih menaruh perhatian pada berbagai terorisme yang “kecil-kecil” yang sering terjadi. Tampaknya “kecil”, tetapi besar artinya bagi penduduk Indonesia.

John diam saja. Ana, seorang pemudi yang kadang-kadang ke Indonesia, termasuk Jakarta, tibatiba ikut bicara. Dia mengatakan bahwa tiga tahun yang lalu dia takut bila bepergian di Jakarta. Sekarang, Ana sudah tahu bagaimana naik busway dan sudah mengerti bagaimana menyiasati Jakarta dan berkomunikasi dengan penduduknya. Sekarang dia bahkan ingin lebih sering pergi ke Jakarta, sehingga soal aman itu relatif.

Itulah yang terjadi dengan pebisnis asing di Indonesia, kata John pada Ana. “Seperti kamu, pebisnis asing juga sudah amat tahu Indonesia. Maka, mereka tetap melakukan investasi di Indonesia.”

Oleh sebab itu, kata John, pemerintah Indonesia harus mampu mencegah terjadinya kerusuhan dan kekerasan. Dengan demikian, akan semakin banyak investasi masuk ke Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia makin cepat. Masyarakat Indonesia akan makin makmur.
Kemiskinan akan turun dengan cepat.

Pandoya yang biasanya sabar, kali ini agak keras.“Kok kembali lagi ke investasi asing?” Ada investasi asing atau tidak, ada pertumbuhan ekonomi atau tidak, kerusuhan dan kekerasan harus ditiadakan. Meniadakan kekerasan dan kerusuhan itu bukan untuk menarik investasi asing, tetapi demi kedamaian masyarakat sendiri. Bahwa investasi asing kemudian masuk, itu bonus.

Ana tersenyum, “Pandoya, bagaimana dengan kecelakaan yang “kecil-kecil” yang kamu sebut tadi?’

Tentu saja, jawab Pandoya, meniadakan atau mengurangi berbagai kecelakan dan bencana itu harus menjadi prioritas pemerintah, tidak pandang apakah hal itu menjadi perhatian para investor asing atau tidak. Yang jelas, masyarakat akan bahagia bila berbagai kecelakaan itu dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.

Ana menyambung, “Bagaimana kalau kita sarankan agar pemerintah mengganti statistik investasi asing dengan statistik kerusuhan, kekerasan, dan kecelakaan?” Statistik investasi asing masih diperlukan, namun stastistik kerusuhan, kekerasan, dan kecelakaan perlu mendapat prioritas yang lebih tinggi daripada statistik investasi asing.

“Ana, kamu doktor ekonomi ya?”, tanya Pandoya.

“Bukan,” jawab Ana, “Aku gagal jadi doktor ekonomi karena aku sering berpikir yang berbeda dengan ekonomi arus utama.Yang kukatakan tadi tak ada di buku teks ekonomi.”

John, Pandoya, dan Ana kemudian hening dalam lamunan masing- masing.

Tulisan terkait

* Keselamatan Pengguna Jalan Raya dan Pembangunan Ekonomi

* Kebijakan dan Pengukuran Pembangunan Ekonomi

Investasi Asing, Ekspor, dan Pendapatan  Nasional

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , ,

One Response

  1. MulyanaS says:

    Kadang saya juga merenung, sedih sekali ya, di negara kita ini terjadi kekerasan, kerusuhan, kecelakan dan sejenisnya. Dulu sebelum era reformasi terutama kekerasan dan kerusuhan relatif statistiknya tak sebanyak sekarang. Saya dengar di TV, pj negara tetangga mengatakan di negaranya , jangan2 ada kerusuhan apalagi teroris baru niat saja sdh ditangkap melalui ISA. Apa kebebasan kita kita terlalu dini? Masyarakat blm siap?Sekali merdeka, merdeka sekali??Bagaimana kalau perangkat hukum untuk para perusuh di buat menjadi sangat berat, sehingga statistik kekerasan menjadi turun?
    Salam,
    MS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: