Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

MDGs dan AEC: Berjalan Seiring?

 

Aris   Ananta

SEPUTAR    INDONESIA, 28 September 2010

Pada 2015 dua kesepakatan yang diikuti Indonesia mesti tercapai. Pertama adalah tujuan pembangunan milenium (Millennium Development Goals/ MGDs) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kedua, adalah terwujudnya masyarakat ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/ AEC).

Apakah target ini saling melengkapi? Atau ada yang saling bertolak belakang? Kalau ada yang tidak sejalan, kesepakatan mana yang harus diutamakan Indonesia? MDGs bermula dari deklarasi milenium PBB pada 2000, untuk meningkatkan pembangunan dalam arti luas. MDGs memperlihatkan paradigma pembangunan yang pro-orang miskin, pro-lingkungan, dan melihat pembangunan secara luas–bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Karena itu, kesepakatan pencapaian MDGs merupakan suatu dukungan politik yang sangat penting dari para pemimpin dunia terhadap paradigma pembangunan yang tidak berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, yakni suatu paradigma pembangunan yang berlawanan dengan arus utama pemikiran ekonomi di dunia saat ini.

Kemudian, pada 2001 para pemimpin dunia menyepakati delapan target MDGs yang harus dicapai pada 2015. Pengurangan kemiskinan dan kelaparan; pencapaian pendidikan dasar untuk semua penduduk; penyetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; penurunan angka kematian bayi dan balita; penurunan angka kematian maternal; pengurangan prevalensi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; perbaikan lingkungan hidup, termasuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan perbaikan sanitasi; serta peningkatan kemitraan global untuk pembangunan. Pada saat yang sama para pemimpin negara ASEAN sepakat membentuk AEC pada 2015. AEC mengikuti paradigma pasar bebas yang pro-bisnis dengan tujuan mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kawasan ASEAN.

Sesungguhnya AEC adalah bagian dari Visi ASEAN 2020, yakni suatu kesepakatan para pemimpin negara ASEAN untuk menjadikan ASEAN pada 2020 sebagai suatu kawasan yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dalam suatu pembangunan ekonomi yang memperhatikan masalah distribusi pendapatan, kemiskinan, dan ketimpangan sosial. Untuk mencapai hal itu,Visi ASEAN 2020 menginginkan tercapainya tiga macam masyarakat pada 2020, yakni AEC, lalu ASEAN Security Community (ASC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC). Walau ketiga masyarakat ini dianggap penting dalam Visi ASEAN 2020, tetapi AEC terkesan mendapatkan prioritas dalam Visi ASEAN 2020.

Hal ini terbukti dengan dipercepatnya target pencapaian AEC, dari 2020 ke 2015. Berbagai kegiatan berkaitan dengan AEC tampak sangat jauh lebih intensif daripada yang berkaitan dengan ASC dan ASCC. Menariknya, ASCC antara lain bertujuan agar masyarakat ASEAN dapat mengurangi dampak ekonomi sosial yang negatif dari terjadinya integrasi ekonomi, termasuk terbentuknya AEC.  ASCC merupakan program yang people centered dan menekankan pada tanggung jawab sosial. ASCC menekankan pada pengurangan kemiskinan dan peningkatan pembangunan manusia. Visi ini mirip sekali dengan visi MDGs.

Oleh sebab itu, dalam Visi ASEAN 2020, pencapaian MDGs (yang sejalan dengan pencapaian ASCC) akan berada pada prioritas yang lebih rendah daripada tercapainya AEC. Dapat diduga, kalau terjadi konflik antara AEC dan MDGs, kesepakatan AEC harus diutamakan. Dengan kata lain, dalam Visi ASEAN 2020, pencapaian AEC lebih penting daripada pencapaian MDGs. Bagaimana dengan Indonesia? Dalam laporannya “Peta Perjalanan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia”, Pemerintah Indonesia, melalui Bappenas, mengatakan bahwa MDGs telah dijadikan arus utama dalam perencanaan pembangunan di Indonesia.

Dikatakan bahwa MDGs telah menjadi dasar utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005–2025, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005–2009 dan 2010- 2014, serta Rancangan Kerja Tahunan. Pengarusutamaan MDGs dalam perencanaan pembangunan Indonesia merupakan perubahan paradigma dalam pembangunan. Namun,apa yang terjadi dalam pelaksanaannya? Berbagai laporan perekonomian masih selalu diawali dengan laporan pertumbuhan ekonomi. Banyak pembuat keputusan dan pengamat ekonomi dan politik dunia juga mengevaluasi perekonomian dari pertumbuhan ekonomi.

Orang selalu bertanya, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai berapa persen? Bisa lebih tinggi atau tidak? Hal ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan dan evaluasi pembangunan Indonesia masih mengikuti paradigma arus utama yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan variabel ekonomi makro lainnya. Oleh sebab itu, untuk membuat MDGs benar-benar terlaksana sebagai arus utama pembangunan ekonomi Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) dapat diminta mengeluarkan statistik MDGs tiap tiga bulan sekali. Misalnya, angka kemiskinan, angka kematian bayi,angka kecukupan gizi, emisi gas rumah kaca, sanitasi, HIV/AIDS dapat dikeluarkan tiap tiga bulan sekali.

BPS pasti mampu melakukan pengumpulan data ini asalkan mendapatkan dukungan kuat dari pemerintah dan DPR. Kemudian, semua evaluasi pembangunan ekonomi harus dimulai dengan evaluasi pencapaian MDGs. Setelah evaluasi mengenai pencapaian MDGs selesai, baru disusul dengan laporan mengenai variabel ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga,investasi, dan ekspor/impor. Di tingkat internasional, pemerintah Indonesia juga perlu lebih gigih memperjuangkan MDGs. Di tingkat regional (ASEAN), Pemerintah Indonesia perlu lebih kuat mengusahakan tercapainya ASC dan ASCC bersamaan dengan tercapainya AEC.

Idealnya, agar kita dapat memperoleh keuntungan dari AEC, kita perlu membentuk ASCC lebih dahulu. Kalau negara lain di ASEAN tidak setuju, Indonesia tetap dapat menyiapkan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia untuk mendapat keuntungan yang besar dari terjadinya AEC. Akhirnya, apakah MDGs dan AEC berjalan seiring? Jawabnya tergantung kesepakatan politik di ASEAN. Namun, demi kepentingan masyarakat Indonesia, pemerintah Indonesia perlu memberi prioritas pada pencapaian MDGs, yang telah mendapatkan dukungan politik dari PBB.

Semua pembuat kebijakan perlu menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi sekadar alat untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk, dan bukan tujuan utama pembangunan ekonomi. Empat tahun ini (hingga 2014) merupakan kesempatan emas bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kabinetnya, serta DPR untuk mencetak sejarah dengan mengubah paradigma pembangunan. Minimal, reformasi dilakukan dalam pengubahan statistik pengukuran keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia.

Tulisan terkait

*Kebijakan dan Pengukuran Pembangunan Ekonomi

 

* Strategi Tampak Siring: Ekonomi Berkeadilan

 

Ubah Paradigma Pembangunan Dunia

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , , , ,

2 Responses

  1. Sukamdi says:

    Saya sangat setuju pak aris, bahkan kalau kita cermati di laporan pembangunan manusia, jelas-jelas dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya sebagai “mean” dalam mencapai tujuan pembangunan yang lebih esensial, yaitu pembangunan manusia (kesejahteraan ?).
    Terlepas dari itu, saya masih agak kagok dengan hasil pengukuran persentase penduduk indonesia yang berpendapatan di bawah US$1. di laporan MDGs 2010 tercatat 5 persen jauh dibawah target MDGs, betulkah ? Saya mecnoba membahas hal ini Harian KR 22 September 2010 kolom analisis. nuwun !

    • mletiko says:

      Pak Kamdi, apa pun ukuran yang kita pakai, kemiskinan di Indonesia terus menurun asal kita menggunakan ukuran yang sama. Kita sering bingung karena berbagai angka dihasilkan dengan kriteria yang berbeda-beda. Sesungguhnya, permasalahan di Indonesia bukan lagi kemiskinan yang diukur dengan rupiah atau dollar, tetapi kemiskinan relatif, khususnya absolute gap dalam pendapatan dan kekayaan. Absolute gap menjadi makin parah dengan adanya globalisasi, yang menyebabkan penduduk Indonesia menjadi konsumen barang barang “global”, dengan harga global. Namun, pendapatan penduduk Indonesia masih bertaraf lokal. Kemudian, penghasilan/ gaji penduduk Indonesia yang rendah ini sering digunakan sebagai “penarik” investor asing. Saya akan mencari dan membaca artikel Pak Kamdi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: