Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

REORIENTASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA

Aris Ananta

Evi Nurvidya Arifin

SEPUTAR  INDONESIA, 1 September  2010

Kekhawatiran akan terulangnya ledakan penduduk, Indonesia telah memunculkan wacana agar program keluarga berencana (KB) kembali diaktifkan. Sejak era desentralisasi digulirkan, program KB tampak kurang diperhatikan pemerintah pusat. 

Dalam tulisan kami “Penduduk Indonesia Meledak Lagi?” di Seputar Indonesia, 24 Agustus 2010, kami menyimpulkan bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan terjadinya ledakan penduduk, seperti yang terjadi pada 30 atau 40 tahun lalu. Hasil sementara sensus penduduk 2010 bukanlah tanda akan terulangnya ledakan penduduk di Indonesia. 

Mengetahui pemikiran kami ini, seorang teman berujar, “Kalau begitu, program KB tidak perlu diaktifkan lagi.” Jumlah penduduk yang besar justru bagus dan dikagumi negara lain. “Lihat China dan India, sekarang dunia menengok mereka,” kata teman ini.

Teman kami itu mungkin benar. Tidakkah Indonesia sedang memasuki era baru? Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan terbentuk pada tahun 2015 juga makin dilihat oleh dunia. Sebabnya antara lain karena terdapat pasar dan sumber daya manusia yang luar biasa besarnya. Siapa penyumbang utama pasar dan sumber daya manusia di ASEAN? Kita sudah tahu jawabannya: Indonesia!

Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memang makin dilirik para pebisnis dunia karena merupakan pasar yang menarik. Mereka berlomba-lomba menjual barang dan jasa ke penduduk Indonesia yang pendapatannya meningkat pesat. Pebisnis asing juga berlomba berinvestasi di Indonesia antara lain karena tersedianya sumber daya manusia yang banyak dan murah. 

Bukan hanya itu, jumlah penduduknya yang besar juga menjadi salah satu faktor perekonomian Indonesia tidak terpuruk, saat dunia mengalami krisis pada 2008–2009 lalu. Lebih lanjut, jumlah penduduk yang besar dan pendapatan yang meningkat juga telah membuat Indonesia masuk sebagai anggota G-20, suatu kelompok negara yang mempunyai pengaruh besar pada kebijakan ekonomi dunia. Dengan demikian, secara ekonomi-politik Indonesia makin disegani dunia internasional. 

Jadi, kata teman kami itu, apa gunanya ber-KB? Kita justru perlu mendorong orang untuk punya anak yang banyak. Lihat negara-negara maju, seperti Jepang yang kini pusing karena jumlah penduduknya telah menurun. Negara tetangga, Singapura juga menghadapi angka kelahiran yang demikian rendah. Angka kelahiran di Taiwan telah menurun terus menjadi yang terendah di dunia pada tahun ini dengan angka 0,94, jauh di bawah angka 2,1 yang merupakan replacement level. Walau jumlah penduduk Singapura dan Taiwan belum menurun, mereka telah dipusingkan dengan masalah kekurangan tenaga kerja muda dan peledakan jumlah lansia. 

Dulu kita kasihan dengan Filipina karena angka kelahirannya tetap tinggi. Kini Filipina diuntungkan karena mempunyai waktu yang lebih lama untuk menghadapi era ledakan penduduk lansia. Di pihak lain, Singapura amat cepat menyelesaikan transisi demografinya, akibatnya sangat “terkejut” ketika tiba-tiba menghadapi masalah peledakan jumlah penduduk lansia. Kini Singapura justru mendorong agar angka kelahirannya meningkat. 

Kami katakan kepada teman kami tadi, bahwa kondisi Singapura sekarang berbeda dengan kondisi pada 1960-an, ketika angka kelahirannya masih sangat tinggi. Singapura belum semakmur sekarang. Keberhasilan dalam menyelesaikan transisi demografi dalam satu dasawarsa justru telah menjadi salah satu sebab melesatnya pembangunan di Singapura. Bayangkan, seandainya penduduk Singapura masih mempunyai anak minimal enam orang per ibu! Betapa sulitnya meningkatkan kesejahteraan mereka. 

Demikian juga di China pada tahun 1960-an penduduknya demikian besar sehingga menjadi beban pembangunan. Penduduk China sulit keluar dari perangkap kemiskinan, antara lain karena jumlah kelahiran yang demikian besar. Kemudian, dengan program satu anak, mereka berhasil menurunkan angka kelahiran. Hal ini sangat penting dalam mempercepat perekonomian mereka, seperti yang kita lihat sekarang. Namun, salah satu dampak sampingnya adalah China kini juga menghadapi masalah ledakan lansia yang amat serius. 

Indonesia juga demikian. Pada tahun 1960-an, banyak keluarga mempunyai lebih dari enam anak sehingga Indonesia sulit keluar dari perangkap kemiskinan. Walau jumlah penduduk besar, Indonesia tidak dilirik oleh pebisnis. “Apa yang dapat dijual ke penduduk miskin, meski jumlahnya amat banyak?”

Teman kami tambah bersemangat merasa mendapatkan alasan untuk membubarkan program KB. Dia setuju bahwa program KB telah sangat membantu dalam mendorong pembangunan ekonomi. Namun katanya, sekarang perekonomian sudah berkembang dan angka kelahiran sudah rendah, apakah kita perlu melanjutkan program KB? Kalau kebablasan, angka kelahiran kita menjadi jauh di bawah replacement level. Kita akan kelabakan dengan peledakan jumlah penduduk lansia. Bahkan di Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali sudah lama berada di bawah replacement level

Rupanya kawan kami ini tidak tahu bahwa Indonesia sekarang berbeda dengan Indonesia dulu, bahkan 13 tahun lalu. Indonesia saat ini adalah Indonesia dalam era demokratisasi. Penduduk Indonesia makin menyadari akan hak-hak mereka, termasuk hak untuk mengatur kelahiran, hak untuk mempunyai anak atau tidak, hak untuk menikah atau tidak. Penduduk Indonesia makin sadar bahwa mereka berhak mengetahui untung rugi penggunaan alat kontrasepsi. 

Penduduk telah menyadari pentingnya pembatasan jumlah anak demi peningkatan kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, Indonesia masih memerlukan program KB, tetapi dengan orientasi berbeda. Targetnya bukan lagi menurunkan angka kelahiran, melainkan meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat dalam pengaturan kelahiran. Termasuk menyediakan beragam alat kontrasepsi serta membuat masyarakat paham akan alat kontrasepsi yang mereka pilih. Selain itu, program KB juga tetap berusaha agar alat dan pelayanan kontrasepsi mudah didapatkan masyarakat dengan harga yang terjangkau, termasuk mereka dalam kelompok miskin. 

Program KB perlu mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Bila tidak, penduduk akan kecewa. Kompetisi nasional, bahkan global telah memaksa mereka untuk mempunyai anak dalam jumlah yang kecil. Dan kalau perlu tidak punya anak sama sekali. Jika alat dan pelayanan kontrasepsi tidak tersedia dengan baik, terjangkau, dan berkualitas tinggi, rakyat di era demokrasi ini dapat marah. Kemarahan rakyat ini dapat berdampak besar, seperti kalau mereka tidak dapat membeli beras dengan harga murah!

 

Tulisan terkait
Penduduk Indonesia Meledak Lagi

Is Jakarta’s Population Growing too Fast?

Megatren Demografi Indonesia

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, migration, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: