Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Penduduk Tua dan Pasar Pagi di Singapura

Aris  Ananta

Singapura, Sabtu, 28 Agustus 2010

Coba lihat gambar berikut ini? Terbayangkan kah apa yang kerumunan itu lakukan? Apa yang mereka tonton?

Foto saya ambil kira kira jam 9 pagi.  Di tiap akhir minggu memang selalu ada hal semacam itu, kerumunan orang.  Foto diambil di pasar dekat rumah.  Ini pasar tradisional, tanpa pengatur udara (AC). Sering disebut wet-market, walau tidak benar benar basah. Pasar ini buka sejak jam 5 pagi sampai siang. Di dekatnya ada banyak tempat makan, yang disebut hawker centre. Banyak warung makan yang murah meriah, khas Singapura. Harga makanan di sini dapat separoh dari harga makanan di Orchard road. Buat sementara orang Singapura yang sudah “established”, makan di hawker centre merupakan suatu “adventure”.  Di sekitar ini  banyak toko, termasuk toko obat. Ada pula pijat refleksi, salon, tukang cukur, kantor pos, ATM, dokter, dan kantor polisi. Pokoknya semua kebutuhan tiap hari dapat ditemukan di sekitar ini. Dekat dengan tempat ini juga ada pasar modern, toko makanan dan kebutuhan sehari hari yang modern, yang dimiliki pemodal besar.

Semuanya usaha  permanen. Namun, yang terlihat dalam foto di atas hanya muncul kalau akhir pekan. Berganti ganti yang muncul. Dan hanya ada di pagi hari.  Mungkin dapat kita sebut “pasar pagi”.

Foto di atas diambil dari belakang. Nah, lihat foto ini, yang saya ambil dari depan.

Lihat Nenek itu? Ia penjual koran. Rajin sekali, pagi pagi sudah ada  di situ. Sampai siang. Sore sudah ada lagi, sampai malam. Jam 10 malam pun kami masih melihat dia di situ. Dia tidak punya “bangunan” khusus, hanya punya meja dan kursi itu.  Dia jualan koran tiap hari.

Tapi, di belakang dia itu pasar kagetan—“pasar pagi”. Laki laki yang duduk dikerumuni orang itu jualan obat. Saya melihat dia jualan tablet yang berwarna hijau. Disebelahnya papaya muda. Dia kemudian berbicara dengan bahasa Mandarin. Dia menerangkan dengan tangannya bergerak ke sana kemari. Maka, saya lalu tahu, dia menjual obat untuk berbagai macam penyakit. (Saya faham apa yang dijual bukan karena dia berbicara dalam bahasa Mandarin, tetapi karena bahasa tarzan dan peragaan barang jualannya). Dia memakai pengeras suara, yang tidak ada gunanya buat saya…………

Siapa “penonton” dia? Lihatlah gambar di bawah ini untuk lebih jelasnya.

Mereka yang sudah relatif tua. Mungkin menjelang atau sesudah 60 tahun.  Di pagi hari para penduduk tua (termasuk saya!)  biasanya keluar, menikmati udara segara. Yang muda biasanya tidak menghiraukan udara pagi yang segar, mereka menghabiskan waktunya dengan tidur di kamar.

Hem.. …pandai juga pedagang itu memanfaat pasar! Dia tahu, pagi hari terutama didatangi orang tua.  Maka, dia jualan obat…………………

Mau beli tablet pepaya?

Cerita lain tentang Singapura

Bulan Hungry Gost di Singapura

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Ethnicity, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: