Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PENDUDUK INDONESIA MELEDAK LAGI?

Aris  Ananta 

Evi Nurvidya  Arifin

SEPUTAR   INDONESIA, 24 Agustus, 2010

DALAM pidato Presiden pada 16 Agustus lalu, kita dikagetkan dengan hasil sensus penduduk 2010. Presiden menyebutkan bahwa penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta tahun ini. 

Benarkah jumlah penduduk Indonesia meledak lagi? Apa yang disebut dengan peledakan penduduk? Istilah peledakan penduduk muncul ketika orang membicarakan transisi demografi.Kerangka berpikirnya adalah pada awal pembangunan suatu masyarakat memiliki angka pertumbuhan penduduk yang rendah karena angka kelahiran dan kematian yang tinggi. Banyak bayi yang lahir, tetapi juga banyak orang yang meninggal karena berbagai sebab.Ketika teknologi kedokteran dan fasilitas kesehatan meningkat, angka kematian pun turun dengan cepat. Kalau turunnya angka kematian ini tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, terjadilah ”peledakan penduduk”.

Jumlah yang lahir jauh lebih banyak dari yang meninggal.Akibatnya,angka pertumbuhan penduduk meningkat dengan cepat. Peledakan penduduk ini dapat mengacaukan pembangunan ekonomi dan mengganggu kesejahteraan keluarga.Pendapatan masih rendah, sementara banyak anak yang harus diurus. Kualitas anak tidak terjamin sehingga sulit keluar dari perangkap kemiskinan. Di Indonesia, angka pertumbuhan penduduk tahunan tertinggi mencapai 2,34% pada periode 1971-1980.Program Keluarga Berencana (KB) berhasil menekan angka pertumbuhan penduduk tahunan menjadi 1,97% pada periode 1980-1990.

Secara absolut, tambahan jumlah penduduk mulai turun dari 31,7 juta pada 1980-1990 menjadi 26,5 juta pada periode 1990-2000. Kalaupun penduduk Timor Timur diperhitungkan pada sensus 2000, kenaikan pada periode 1990-2000 pun hanya sekitar 27,5 juta, masih lebih rendah daripada kenaikan 1980-1990. Jadi kapan penduduk Indonesia meledak? Kalau menggunakan angka pertumbuhan penduduk, peledakan terjadi pada 1971-1980. Kalau menggunakan kenaikan jumlah penduduk secara absolut, peledakan terjadi pada periode 1980-1990. Lalu mengapa ada kekhawatiran terjadi peledakan penduduk?

Ada tiga tanda yang dinilai telah terjadi peledakan penduduk. Pertama,angka pertumbuhan penduduk tahunan meningkat dari 1,44% pada periode 1990-2000 menjadi 1,48% periode 2000-2010. Kedua, tambahan jumlah penduduk periode 2000-2010 mencapai 32,5 juta, lebih besar daripada periode 1990-2000 yang hanya 27,5 juta (kalau Timor Timur diperhitungkan). Ketiga, hasil sensus ini ternyata lebih tinggi daripada dugaan para demografer. Misalnya Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2007 memproyeksikan bahwa penduduk Indonesia akan berjumlah 234,2 juta pada 2010, yang ternyata lebih rendah dari hasil sensus 2010. Sebelum mencari tahu sebab kenaikan angka pertumbuhan dan tambahan jumlah penduduk, kita terlebih dulu melihat apakah benar hasil sensus ini mengagetkan.

Sesungguhnya demografer bukan tukang ramal yang dapat memberikan suatu angka pasti. Mereka biasanya memberikan suatu interval atau beberapa skenario kecenderungan. Namun, BPS hanya menyajikan satu angka saja, dan hal ini yang telah menimbulkan kesalahpahaman. Kalaulah proyeksi BPS dan hasil sensus diberi interval plus minus 1%, proyeksi BPS tadi menghasilkan jumlah penduduk antara 231,9 juta dan 236,5 juta pada 2010. Dengan interval yang sama,sensus penduduk memberikan hasil antara 235,2 juta dan 240,0 juta.Terlihat ada tumpang tindih antara proyeksi BPS dan hasil sensus, walau hasil proyeksi cenderung berada di bawah hasil sensus.

Maka, kami cenderung tidak terlalu kaget dengan hasil sensus. Hasil sensus memang lebih tinggi daripada proyeksi BPS, tetapi perbedaannya kecil sekali. Lalu, mengapa angka pertumbuhan periode 2000-2010 meningkat? Ada empat hal yang mungkin menjadi penyebab. Pertama, kami menduga transisi demografi telah selesai di Indonesia. Angka kelahiran telah mencapai atau bahkan di bawah replacement level yakni angka yang sudah relatif rendah yang biasa ditemui di negara maju. Pada saat angka kelahiran sudah serendah ini, angka kelahiran memang sering naik dan turun tergantung kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

Kami menduga angka kelahiran tetap terus menurun, namun mungkin saja penurunannya tidak secepat yang diproyeksikan BPS. Dari sini, kami tidak melihat adanya tanda-tanda ”peledakan penduduk” seperti yang terjadi 30 atau 40 tahun yang lalu. Kedua, angka kematian telah menurun lebih cepat daripada yang diduga.Penduduk Indonesia ternyata hidup lebih lama. Berita penemuan petugas sensus tentang penduduk yang berusia lebih dari 100 tahun dapat menjadi sedikit petunjuk bahwa penduduk Indonesia kini mampu hidup lebih lama daripada yang kita duga.Kenaikan jumlah penduduk karena kita hidup lebih lama mungkin justru berita yang baik, bukan suatu ”peledakan”.

Ketiga, ada migrasi masuk ke Indonesia yang lebih besar daripada migrasi keluar.Namun, proyeksi BPS mengasumsikan bahwa jumlah migrasi keluar sama dengan migrasi masuk. Walaupun kini makin banyak penduduk Indonesia bermigrasi ke luar negeri, krisis global 2008-2009 mungkin berdampak pada pulangnya para pekerja Indonesia. Di luar krisis global,arus balik para pekerja juga mungkin terus meningkat. Selain itu, makin banyak orang asing yang bekerja dan tinggal di Indonesia.

Sebab itu, seperti yang diasumsikan BPS, kami menduga bahwa arus migrasi masih belum banyak berpengaruh pada pertumbuhan penduduk Indonesia untuk periode 2000-2010. Dari sisi migrasi, amat kecil pula kemungkinan terjadi ”peledakan” pada periode 2000-2010. Keempat, soal akurasi data sensus 2010,relatif terhadap data sensus 2000. Sensus 2010 dilaksanakan dengan dana dan tenaga yang lebih besar serta latihan yang lebih baik. Sensus ini juga dilaksanakan pada saat kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang baik. Ada daerah yang biasanya tak tercacah kini tercacah. Suasana pada 2000 sangat tidak menguntungkan untuk sensus.

Kerusuhan membuat orang sulit dan takut disensus. Demam demokrasi juga dapat menyebabkan orang menolak untuk disensus. Maka, kenaikan angka pertumbuhan dan penambahan jumlah penduduk di periode 2000- 2010 yang disebut di atas mungkin terlalu tinggi.Artinya,kemungkinan terjadi ”peledakan”juga makin kecil. Akhirnya, kami simpulkan bahwa peledakan penduduk seperti yang terjadi 30 atau 40 tahun yang lalu mungkin tidak akan terjadi di Indonesia. Permasalahan demografi saat ini sangat berbeda dengan permasalahan 50 sampai 30 tahun yang lalu.

Baca juga

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, migration, statistics, , , , , , ,

8 Responses

  1. Wahyuni, Ekawati Sri says:

    Lebih setuju kalau persoalannya telah terjadi underenumeration pada SP 2000 dengan segala alasan yang terjadi saat itu. Saya ikut disensus di tahun 2000 dan 2010, nampak perbedaan kinerja enumeratornya. Di tahun 2000, enumerator hanya meminta Kartu Keluarga dan sama sekali tidak mencoba bertanya dengan serius. Pada tahun 2010, agak berbeda, enumerator datang dengan atribut BPS yang baik, wawancara dilakukan dengan baik, pada hal-hal yang memang hanya diketahui pribadi penduduk. Ketika saya tanyakan kenapa tidak ditanyakan semua pertanyaan itu, jawabnya: Bu kalau hal-hal yang sudah dapat dicatat dengan dilihat saja kan tidak perlu ditanyakan, misalnya pakai listrik atau tidak. Mereka dilatih dengan baik. Jadi kualitas SP2010 jauh lebih baik dari SP2000 dan lebih dapat dipercaya. Kalau SP2000 sebaik 2010 apakah trend pertumbuhan penduduk akan menurun dengan tetap. Tidak sedrastis penurunan 1990-2000, tetapi naik lagi antara 2000-2010. Kalau melihat satu desa penuh anak kecil usia 7 tahun ke bawah dan ibu-ibu remaja dengan anak-anak di gendongannya ada kemungkinan upaya peningkatan usia kawin pertama pada perempuan Indonesia kurang sukses, meskipun kesadaran ber-KB cukup baik.

    • mletiko says:

      Terimakasih atas komentar ini. Para demografer memang harus lebih aktif memberi komentar hasil Sensus Penduduk ini. Bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk propinsi dan kabupaten. Bagaimana di Jawa Barat dan Bogor, Mbak?

  2. Sukamdi says:

    Saya kira persoalan “ledakan penduduk” merupakan salah satu manifestasi kekhawatiran terhadap pertumbuhan penduduk yang “mungkin” akan meningkat terus. Kita lihat saja nanti perkiraan TFR hasil SP 2010 apakah konsisten dengan SDKI 2007 yang setalh diadjust menjadi 2,3. SDKI 2007 memperlihatkan bahwa 10 propinsi mengalami stagnasi TFR dan bahkan peningkatan walaupun tidak terlalu besar. Kenaikan TFR justru terjadi pada propinsi yang angkanya masih cukup tinggi yaitu 3. Barangkali tidak salahnya untuk siap-siap jika nanti SP 2010 menghasilkan angka TFR yang meningkat di banyak propinsi. Apakah kita perlu khawatir ? tergntunga dari mana kita melihat dan daeri kepentingan apa dan siapa !

    • mletiko says:

      Terimakasih atas komentar ini. Mungkin perlu ditambahkan bahwa jumlah penduduk yang besar karena jumlah kelahiran yang banyak per seorang ibu mungkin justru membuat keluarga dan masyarakat tersebut kurang sejahtera. China dan India kini ditakuti/ disegani antara lain karena jumlah penduduknya yang besar. Tetapi, jumlah penduduk yang besar itu terjadi bersamaan dengan jumlah anak per ibu yang kecil. Ini berbeda dengan China dan India 40 tahun yang lalu. Empat puluh tahun yang lalu, jumlah penduduk mereka juga sudah termasuk amat besar. Tetapi, mereka tidak ditakuti karena jumlah anak per ibu masih amat besar, yang mengakibatkan mereka juga masih miskin.

      Bagaimana perkembangan kependudukan di Yogya, Pak?

      • Sukamdi says:

        Pak Aris, saya kira kondisi India dan Cina saat ini bersamaan dengan kemajuan ekonomi mereka. Saya setuju kalau kita mampu menggenjot perekonomian kita, mungkin kondisi demografi saat ini tidak perlu dikhawatirkan. Di yogya saya lihat yang memiliki anak banyak justru dari kalangan tidak mampu (ini cocok secara teoritis) sehingga burden ekonomi bagi keluarga menjadi sangat berat. Secara makro, kependudukan di Yogyakarta tidak banyak berubah dari tahun 2000an kecuali pemusatan penduduk yang semakin mengarah ke perkotaan sebagai akibat ketimpangan pembangunan ekonomi antara desa dan kota.

  3. Marapo Konene says:

    Bertambahnya jumlah penduduk hsil Semsus 2010, tidak lepas dari tanggung Jawab BKKBN yang mengemban tugas menurunkan TFR.
    Ternyata TFR masih stagnan selama ini, sementara BKKBN hanya penuh dengan konsep strategi yang tidak dapat dioperasionalkan secara opetimal dilapangan
    Lihat Saja Konsep Grand Strategi BKKBN yang diluncurkan sejak awal tahun 2007 dan Balance Score Card hanya merupakan tataran konsep semata
    Dilapangan tidak jelas operasionalnya seperti apa, dampaknya TFR tetap tidak bisa turun

    • mletiko says:

      Pak Maropo,

      Tugas BKKBN sekarang bukanlah menurunkan angka kelahiran. Angka kelahiran kita sudah relatif rendah. Yang penting adalah peningkatkan mutu pelayanan pada pemakai kontrasepsi. Para pemakai perlu benar benar mengerti kelebihan dan kekurangan tiap alat. Kontrasepsi juga perlu tersedia dengan mudah dan murah. Tiap keluarga di Indonesia juga perlu tahu bahwa mereka berhak dan dapat mengatur jumlah kelahiran mereka. Mohon membaca tulisan kami mengenai Reorientasi Program Keluarga Berencana. https://mletiko.com/2010/09/01/reorientasi-program-keluarga-berencana/

      Salam,

      Aris

  4. Perwira says:

    Saya kira yang patut diwaspadai adalah berkurangnya keterikatan/”kepatuhan” daerah terhadap pusat. Sejak otonomi dilaksanakan jika dicermati maka makin sedikit daerah yang peduli dengan isu penurunan jumlah kelahiran diwilayahnya, terutama kabupaten/kota diluar Jawa/Bali. Kabupaten/Kota diluar Jawa secara faktual tampaknya memang tidak merasa jumlah penduduk sebagai masalah bagi mereka. Ini terlihat dari penghargaan terhadap ex institusi BKKBN di daerah mereka. Hanya sedikit Kabupaten/kota yang merubahnya menjadi Dinas, yang berarti juga semakin sedikit sumberdaya manusia — yang sudah terlatih– dan tentu saja anggaran untuk mengimplementasikan program yang bertujuan menekan kelahiran. Jadi akan sangat sulit bicara peningkatan mutu pelayanan kepada para akseptor atau calon akseptor. Mohon maaf jika amatan saya salah.

    Salam
    S. Perwira

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: