Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

STATISTIK, SENTIMEN, DAN PEMAIN PASAR KEUANGAN

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA, 19 Agustus 2010

“Lucu ya, takut kok direncanakan. Kalau kondisi begini dan begitu, harus takut dan perlu menjual saham. Kalau kondisi seperti ini itu, harus gembira dan membeli saham.” Demikian celotehan Pandoya (bukan nama sebenarnya), yang walaupun bukan ahli keuangan, tapi suka mengikuti berita pasar keuangan di koran.

“Cerita ini lebih lucu lagi!” kata Pandoya.

Pada awal 2008 kebijakan paket stimulus yang diberikan Amerika Serikat dan hampir semua negara di dunia dilihat sebagai hal yang positif oleh para investor. Mereka senang dan bergairah membeli saham. Namun, akhir-akhir ini para pemain di sektor keuangan justru “takut” ketika mendengar Amerika Serikat akan meneruskan paket stimulus. Investor merasa dengan kebijakan ini ekonomi Amerika Serikat masih jelek sehingga mereka perlu menjual saham.

Pandoya memang benar-benar pusing ketika mengikuti berita di sektor keuangan. Berita membaiknya pertumbuhan ekonomi Jerman dan keuntungan besar dari usaha perjudian di Genting, Singapura telah membuat para investor di pasar keuangan mendapatkan pertanda bahwa harga saham akan naik. Sebelum harganya naik, mereka pun harus terlebih dulu membeli. Mereka akan untung ketika harga saham benar-benar naik. Memang itulah yang terjadi pada 13 Agustus 2010. Para investor benar-benar dengan cepat berburu saham sehingga harga saham benar-benar naik cepat sekali.

Pandoya sangat bingung. Harga saham naik cepat, padahal keuntungan perusahaan yang mengeluarkan saham itu sama saja, tidak berubah. Keuntungan perusahaan tidak berubah drastis, apalagi dalam hitungan hari atau menit! Tapi, nilai sahamnya dapat berubah sangat cepat.

Pandoya masih ingat dengan berita yang dia baca dua hari sebelumnya, 11 Agustus. Harga saham jatuh karena ada statistik yang memperlihatkan perlambatan pertumbuhan investasi dan hasil produksi di China. Selain itu, Pemerintah Amerika Serikat juga memberi pernyataan bahwa pemulihan ekonomi di Negara Paman Sam akan lebih lambat dari yang diharapkan.

Kedua hal ini seolah memberi tahu para investor bahwa ekonomi dunia akan memburuk karena pengaruh perekonomian di dua raksasa dunia tersebut. Kemudian para investor bagaikan mendapatkan aba-aba untuk menjual saham karena harga saham diperkirakan turun. Itulah yang kemudian benar-benar terjadi. Mereka dengan tangkas menjual saham yang mereka punya. Akibatnya, harga saham tentu saja benar-benar berjatuhan pada 11 Agustus lalu.

Pandoya hanya bisa tersenyum kecut. Sentimen para investor dapat berubah demikian cepat. Apa yang terjadi dua hari sebelumnya—atau bahkan sehari sebelumnya—seolah tidak berpengaruh pada apa yang terjadi hari ini.

Pandoya ingat yang dikatakan dosennya bahwa krisis ekonomi di Asia Tenggara—termasuk Indonesia—pada 1997-1998 dipicu dan dipercepat oleh sentimen para pemain di sektor keuangan. Pada akhir 1997, investor merasakan bahwa kondisi politik di Indonesia makin tidak stabil dan kondisi perekonomian akan hancur. Maka mereka seperti mendapatkan aba-aba untuk meninggalkan Indonesia, menjual saham dan rupiah. Akibatnya, rupiah benar-benar terjun bebas dan perekonomian Indonesia benar-benar berantakan.

Krisis yang lebih besar kemudian terjadi di tingkat dunia pada 2008-2009. Pemicunya juga sentimen para pemain di sektor keuangan. Mereka melihat bahwa penduduk Amerika Serikat telah terlalu berani meminjam uang dan sektor perbankan juga makin berani meminjamkan uang ke orang-orang yang seharusnya tidak pantas meminjam. Namun, para investor diam saja ketika semuanya berjalan lancar. Mereka bahkan ikut membeli saham yang berkaitan dengan sektor perbankan.

Tetapi pada akhir 2007, ketika mulai ada masalah di sektor keuangan, ketika ada sekelompok peminjam yang tidak mampu membayar utang, para investor seolah mendapat aba-aba untuk menjual saham. Mereka merasa sektor keuangan akan jatuh. Sebelum benar-benar jatuh, mereka juga dengan cepat menjual saham yang mereka miliki. Akibatnya, harga saham benar-benar jatuh dan sektor keuangan Amerika Serikat benar-benar runtuh.

Karena pasar keuangan di Amerika Serikat telah demikian menyatu dengan keuangan dunia, sentimen di Amerika Serikat juga dengan cepat menjalar ke seluruh dunia. Pada awal 2008, para pemain di Asia Tenggara masih menyangkal bahwa sentimen buruk di Amerika Serikat akan berdampak ke Asia Tenggara. Pada akhir 2008, dampak adanya sentimen itu ternyata terasa di Asia Tenggara. Perekonomian (bukan hanya sektor keuangan) di dunia dan Asia Tenggara pun terkena dampaknya.

Pandoya benar-benar resah. Sebegitu besarkah pengaruh sentimen para pemain di sektor keuangan? Selain itu, sentimen mereka pun berubah dengan cepat. Lebih menyeramkan adalah bahwa apa yang mereka lakukan seolah mempertajam atau mempercepat sesuatu yang akan terjadi. Ketika melihat suatu perekonomian akan turun, mereka bukan membantu agar ekonomi tidak jadi turun. Mereka malah mempercepat melemahkan perekonomian itu. Mereka menjual saham yang berkaitan dengan perekonomian itu, tidak peduli apakah perusahaan yang menghasilkan saham itu masih sehat atau tidak. Kalau harga sudah benar-benar murah, perbaikan yang hanya sedikit dari perekonomian itu akan digunakan sebagai aba-aba bahwa saham akan meningkat. Mereka pun buru-buru membeli saham dengan tujuan mendapatkan keuntungan besar ketika saham benar-benar tinggi harganya.

Di saat lain, ketika merasakan ada inflasi yang meninggi, para pemain di sektor keuangan justru makin memanaskan suasana dengan membeli saham, properti, dan komoditas lain seperti emas, bahkan pangan (termasuk beras).

Pandoya merenung, apakah mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka perbuat berdampak amat besar? Bukan saja di sektor keuangan, melainkan juga merambat ke semua sektor perekonomian, ke lapangan pekerjaan, dan bahkan ke masalah kemiskinan. Lebih lanjut, dampak sentimen itu juga dapat meluas ke sektor sosial dan politik seperti yang terjadi di Indonesia 12 tahun yang lalu. Atau mungkin justru ada kaitan antara politik dan keuangan?

Pandoya mungkin sedang iseng. Maka renungan di atas amat mungkin tidak ilmiah. Tetapi, keresahan di atas pantas mendapat perhatian para peneliti ekonomi.

Baca juga

Perang Terhadap Kegiatan Ekonomi Spekulasi

Gosip dan Krisis Keuangan

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, statistics, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: