Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

KETAHANAN PANGAN: RENUNGAN BULAN PUASA

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA , 10  Agustus 2010


Sudah dianggap wajar jika menjelang dan saat bulan puasa harga makanan membubung. Para pebisnis juga memanfaatkan bulan puasa untuk mendapatkan keuntungan. Mereka berlomba menciptakan “kebutuhan” selama Ramadan. Promosi untuk buka puasa, sahur, serta beragam pakaian untuk Lebaran.

Demikian pula dengan usaha transportasi yang mendapatkan keuntungan luar biasa. Tidak mengherankan bila Bank Indonesia memprediksi bahwa tingkat inflasi selama puasa akan meningkat.

Ramadan yang diperkirakan dimulai besok, Rabu, 11 Agustus 2010, pikiran saya langsung menerawang ke 2025 dan sesudahnya, ketika Pulau Jawa makin urban dan tanah pertanian makin lenyap dari Pulau Jawa. Saat itu penduduk Pulau Jawa “mengimpor” makanan dari Merauke, Papua yang diharapkan telah berhasil dengan food estate-nya.

Saat itu dengan keberhasilan food estate dalam memasarkan produksinya ke dunia internasional, harga pangan di Pulau Jawa sudah sama mahalnya dengan harga di pasar internasional. Ekonomi Indonesia pun sudah menyatu dengan ekonomi dunia. Makanya, makanan dan bahan makanan dari Merauke tidak akan dijual ke Pulau Jawa kalau harga di Pulau Jawa ini murah karena harga di pasar internasional lebih tinggi.

Inflasi selama bulan puasa pun menjadi gejala dunia. Setelah 2025, umat Islam dunia sudah makin kaya. Permintaan akan pangan, terutama saat Ramadan dan Lebaran, akan meningkat luar biasa. Hal ini seperti yang telah terjadi dengan harga dan konsumsi dunia ketika musim dingin melanda negara-negara Amerika Utara dan Eropa. Pada musim dingin permintaan terhadap minyak sangat tinggi. Harga minyak internasional meningkat sehingga usaha meningkatkan efisiensi penggunaan minyak ditingkatkan untuk mengurangi permintaan.

Pada 2010 harga minyak di Indonesia masih disubsidi pemerintah. Pemerintah membeli minyak di harga dunia dan kemudian menjual ke konsumen dengan harga yang lebih murah. Minyak yang diproduksi Indonesia dijual ke pasar internasional dengan harga dunia. Pemerintah pun berupaya agar suatu ketika tidak lagi memberikan subsidi untuk minyak dalam negeri dengan membuat harga minyak dalam negeri sama dengan harga minyak di pasar internasional.

Dengan sosialisasi yang gencar dari pemerintah, saya membayangkan bahwa pada 2025 sudah tak akan ada lagi subsidi untuk bahan bakar minyak. Namun, saya khawatir jangan-jangan pada 2025 isunya adalah subsidi pangan. Siapa yang harus disubsidi? Haruskah pemerintah membeli pangan dari Merauke dengan harga internasional dan menjual di Indonesia dengan harga yang murah?

Saya terus merenung, akankah pangan (termasuk air minum) menjadi komoditas strategis dan politis di dunia, termasuk di Indonesia? Tanpa minyak, kita masih dapat hidup. Tetapi, dapatkah kita hidup tanpa makan dan minum?

Besok umat Islam mulai berpuasa. Dari menjelang fajar hingga senja tidak makan dan minum. Kalau terlambat bangun, mereka bahkan tidak sahur yang berarti perut mereka tidak diisi dengan makanan dan minuman dalam waktu yang lebih lama. Mereka tetap sehat dan bekerja dengan baik. Yang tidak pernah berpuasa sering sulit membayangkan bagaimana orang dapat tanpa makan dan minum selama lebih dari 12 jam—mereka juga sulit membayangkan bagaimana orang yang berpuasa dapat tetap bekerja dengan baik.

Saya bayangkan kalau saja kita menjalani bulan suci ini dengan mengurangi suasana pesta. Buka dan sahur secukupnya saja, di antara buka dan sahur tidak perlu berpesta. Maka permintaan pangan akan berkurang.

Selain itu, kata teman yang ahli kesehatan, puasa dengan makan dan minum yang tidak berlebihan akan sangat baik untuk kesehatan—kita melakukan detoksifikasi. Namun, kalau kita makan berlebihan saat buka dan sahur, detoksikasi itu menjadi tidak berguna. Terasa lemas dan pusing di hari-hari pertama puasa, kata teman ini, adalah pertanda terjadinya detoksifikasi

Kalau yang dikatakan teman ini benar, puasa juga melatih kita mengefisienkan konsumsi pangan kita. Di luar bulan suci ini, kita dapat mencoba untuk melakukan puasa lagi misalnya ada yang berpuasa tiap Senin dan Kamis. Tubuh dapat dibersihkan dari racun. Manfaat akan besar bila setelah puasa kita tidak makan berlebihan.

Kita telah berusaha mengefisienkan penggunaan minyak. Mengapa kita tidak mencoba mengefisienkan konsumsi pangan kita? Ini untuk persiapan menghadapi kondisi ketika pangan akan menjadi komoditas strategis dan politis 15 atau 20 tahun lagi. Pada saat ini konsumsi yang secukupnya di bulan puasa juga akan mengurangi inflasi. Kesehatan membaik, dan tentu saja spiritualitas juga meningkat.

Lamunan saya kembali ke suatu sore, ketika saya bertemu Gus Pur, demikian dia menyebut dirinya, yang pernah tidak makan dan minum sama sekali selama 35 hari. Saat kami bertemu, dia hanya hidup dengan minum dan makan buah. Dia merencanakan untuk dapat hidup mengandalkan nafas belaka lagi. Katanya, gaya hidup ini sangat menyehatkan.

Saya juga ingat ketika bertemu Nyoman Nurmayanta beberapa hari yang lalu, yang pada waktu itu dia telah tidak makan dan minum sama sekali selama 15 hari walau setiap empat hari dia minum segelas kecil jus buah. Kedua teman ini hidup sehat, aktif seperti biasa. Mereka bahkan merasa kondisi kesehatan mereka lebih baik daripada sebelum melakukan gaya hidup tanpa makan dan minim sama sekali ini.

Kalau banyak orang seperti dua orang ini, permintaan terhadap pangan dan air bersih berkurang banyak. Ketahanan pangan meningkat luar biasa. Mungkin perlu dilakukan penelitian medis yang serius terhadap dua orang ini. Walau begitu, dua kasus ini memperlihatkan bahwa orang dapat hidup dengan konsumsi makanan dan minuman yang amat sedikit.

Pada bulan puasa ini kita juga belajar makan dan minum secukupnya. Semoga kebiasaan ini berlanjut setelah bulan suci ini selesai. Secara ekonomi, kebiasaan ini akan membantu meningkatkan ketahanan pangan kita melalui pengurangan permintaan terhadap pangan. Kita melakukan peningkatan efisiensi dalam konsumsi pangan dan minuman kita seperti sekarang yang berusaha meningkatkan efisiensi penggunaan minyak.

Selamat menunaikan ibadah puasa!

Baca juga

Investasi Asing, Ekspor, dan Pendapatan Nasional

Perubahan Paradigma Pembangunan: Widjojo Nitisastro


Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

8 Responses

  1. Laksmi Haninda says:

    Tak usah jauh-jauh menunggu tahun 2025, pada saat ini terdapat 2,02 milyar orang yang kelaparan di dunia dan tiap 30 detik terdapat satu orang anak meninggal karena kelaparan.
    Ironisnya, 1/3 hasil panen dunia dan lebih daripada 90% kecelai digunakan sebagai pakan ternak, padahal semua hasil panen itu bisa mencukupi kebutuhban pangan 2 milyar orang.

    Diperlukan 10 kg pakan ternak untuk menghasilkan 1 kg daging sapi
    2,1 hingga 3 kg pakan ternak untuk menghasilkan 1 kg telur ayam
    (angka ini dikutip dari FAO, 2006; CAST 1999;B. Parmentier, 2007)

    • mletiko says:

      Terimakasih atas informasi ini. Tanda tanda pangan menjadi komoditi strategis dan politis memang sudah tampak pada saat ini. Kalau kita tidak melakukan sesuatu secara serius sejak saat ini, sesudah tahun 2025 keadaan sosial dan politik dapat menjadi kacau. Dalam tulisan itu, saya sekedar mengajukan salah satu solusi: yaitu meningkatkan efisiensi konsumsi pangan, seperti halnya kita meningkatkan efisiensi penggunaan minyak.

      Mungkin, teman teman mempunyai ide untuk meningkatkan efisiensi kita dalam mengkonsumsi pangan. Bagaimana dapat makan dalam jumlah yang lebih sedikit, tetapi tetap sehat dan enak. Para pebisnis makanan mungkin dapat mencari inovasi untuk menghasilkan komposisi pangan yang lebih sederhana, tetapi menyehatkan dan enak.

  2. Sukamdi says:

    Pak Aris,

    Pangan tidak lagi menjadi komoditas yang “menarik” untuk dibahas oleh politisi. Seolah-olah pangan adalah bukan “kepentingan” mereka. Makanya tidak usah kaget jika banyak politisi “terkaget-kaget” melihat harga naik membubung. Harga cabe yang mencapai 70.000/kg (mungkin ini termahal sepanjang masa)membuat makanan tidak menarik lagi karena tidak “pedas”. Kita juga tidak usah “kaget” jika ternyata para pemakan cabe tenag-tenang saja. Mengapa? sudah biasa !

    • mletiko says:

      Ada yang berpendapat bahwa para politisi belum memperhatikan masalah pangan, karena mereka masih mampu membeli makanan. Proporsi pengeluaran makanan dalam pengeluaran total mereka masih relatif kecil, walau harga pangan naik.

      Namun, tak lama lagi para politisi juga akan menaruh perhatian pada pangan. Bukan karena mereka tak mampu membeli makanan, tetapi pangan akan segera menjadi komoditi politik yang amat strategis. Di Filipina, sudah lama masalah beras amat erat kaitannya dengan masalah politik.

  3. Dika says:

    Seharusnya jika kita benar-benar mengerti esensi dari berpuasa di bulan Ramadhan, yaitu membersihkan hati dengan menjalani hidup sederhana dengan tidak makan dan minum dari terbit matahari s/d terbenam, dengan tidak sengaja kita mendapatkan hands-on experience tentang efisiensi penggunaan pangan. Untuk beberapa kelompok masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, hal ini adalah suatu hal yang tidak langka. Dengan berpuasa, kita mengerti akan penderitaan mereka dan self reflection seharusnya muncul yang kemudian diteruskan dengan kesadaran untuk sharing dan giving; dan bukannya meningkatkan konsumsi pangan bagi kebutuhan pribadi.

    Melihat dari komentar sebelumnya, lucunya walaupun harga bahan pangan di pasar melonjak tinggi pada saat puasa/menjelang Ramadhan, petani-petani di seluruh pelosok Indonesia bukanlah sosok yang memetik keuntungan dari phenomena ini. Semua ini adalah permainan sekelompok orang yang memanipulasi keadaan sehingga mau tidak mau masyarakat luas terkena imbasnya.

  4. Laksmi Haninda says:

    benar mbak Dika,
    mestinya bulan puasa adalah bulan untuk
    merasakan derita masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan,
    tetapi mengapa kebutuhan pangan justru
    sangat-sangat meningkat pada bulan puasa dan apalagi Lebaran?

    Seandainya para petani sudah tidak perlu beli bibit dari perusahaan, seandainya mereka bisa lagi membuat pupuk sendiri, seandainya mereka sudah bisa menghilangkan pupuk kimia..
    atau tegasnya, dengan cara organik…
    mungkin para petani juga akan mulai memetik
    keuntungan dari kenaikan harga…

  5. sugihardjo says:

    Pak Aris,
    Nampaknya kebijakan pangan pemerintah kita sifatnya sesaat dan tanpa melihat jauh kedepan perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat. Selama pola pikir para penentu kebijakan terus begini, permasalahan pangan akan terus meluas dan tidak akan terselesaikan.

    • mletiko says:

      Sejak tahun pertama di fakultas ekonomi hingga mendapatkan gelar doktor di bidang ekonomi, kami harus belajar ekonomi makro. Dalam mata pelajar ekonomi makro, pendapatan (pendapatan nasional, GDP, atau GNP) lah yang menjadi perhatian utama. Selama pertanian/ pangan tidak menyumbangkan nilai tambah yang tinggi dalam pendapatan nasional, selama itu pula pertanian/ pangan akan kurang mendapat perhatian. Daripada tanah digunakan untuk memproduksi pangan, tangan digunakan untuk membuat bangunan, yang nilai tambahnya jauh lebih tinggi.

      Pak Sugi, itu lah yang terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: