Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Kemajuan Bisnis atau Lingkungan Hidup?

Aris  Ananta

Seputar Indonesia, 13 Juli 2010

Badu memang benar-benar nakal. Remaja usia 12 tahun ini membuat pusing kedua orangtuanya. Hobinya merokok. Orang tuanya khawatir akan kesehatannya dan juga cemas kalau terjadi kebakaran di kamarnya yang penuh buku.

Namun, Badu tidak ambil pusing. Soalnya, dia tetap sehat dan tak pernah terjadi kebakaran. Suatu hari Badu terbatuk-batuk, bukan sakit serius memang. Tetapi, sudah dua pekan batuk tidak kunjung hilang. Orangtuanya pun membawa ke dokter.

Kesimpulannya, Badu sebaiknya berhenti merokok. Badu menurut anjuran dokter, dia berhenti merokok dan sembuh. Namun, sepekan kemudian Badu mulai merokok lagi.

Orangtuanya cemas lagi. Akhirnya, orangtuanya mempunyai ide bagus untuk memberikan moratorium kepada Badu. Badu dijanjikan uang Rp1 juta kalau dalam waktu satu pekan dia berhenti merokok. Memang aneh, Badu harus dibayar untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya menguntungkan dia sendiri.

Kalau kegiatan itu tidak dilakukan, Badu jugalah yang menderita. Tetapi, Badu memang baru mau berhenti merokok bila dia mendapatkan uang Rp1 juta.

Ada cerita lain. Ini menyangkut Pak Sindung dan keluarganya, khususnya anaknya yang berumur tujuh tahun. Mereka hidup di sebuah rumah yang kecil, dengan ventilasi yang terbatas. Pak Sindung baru saja menemukan bisnis yang menggembirakan.

Hobi dia membuat ubi bakar ternyata menghasilkan uang. Dari iseng-iseng jualan ubi bakar di rumahnya, kini dia secara serius membuka warung ubi bakar di rumahnya. Pembeli sering harus antre untuk dapat menikmati kelezatan ubi bakarnya.

Celakanya, asap dari pembakaran ubi juga memenuhi rumah Pak Sindung. Anak Pak Sindung sangat menderita. Dia sering terbatuk-batuk. Bisnis ubi bakar melonjak namun anak Pak Sindung juga sering sakit. Uang keluar untuk membeli obat dan membayar dokter meningkat. Pak Sindung benar-benar bingung.

Bisnis meningkat atau anak yang sehat? Akhirnya dia memilih kesehatan anaknya, dengan pendapatan yang jauh berkurang karena harus mengurangi penjualan ubi bakarnya.

Dia hanya menjual ubi bakar pada siang hari ketika anaknya pergi ke sekolah. Tetapi, permintaan dari pelanggan tidak kunjung berhenti bahkan melonjak. Pak Sindung benar-benar tergoda untuk meningkatkan bisnis ubi bakarnya.

Syukurlah Pak Sindung mendapatkan penyelesaian yang baik. Rumah tetangga disewa untuk membuka warung ubi bakar. Tempatnya lebih luas karena tak ada ruangan yang dipakai untuk tidur, makan, belajar, maupun bersantai oleh keluarga Pak Sindung. Pembakaran ubi bakar juga di rumah itu, sehingga asapnya tidak mengganggu anak Pak Sindung.

Bisnisnya sukses besar. Asap memenuhi rumah sewaan itu tetapi tidak mengganggu rumah dan keluarga Pak Sindung. Namun, berita bahagia ini tidak berlangsung lama. Entah kenapa, terjadi perubahan musim.

Angin sering bertiup kencang. Lebih sial lagi angin meniup asap dari bakaran ubi ke rumah Pak Sindung. Anak Pak Sindung batuk-batuk lagi. Pak Sindung kembali pusing. Bisnis bagus, tapi menimbulkan kerusakan lingkungan, berupa udara yang tercemar. Kini, anaknya harus menanggung dampak kerusakan lingkungan itu lagi.

Apa yang harus dilakukan? Pak Sindung berpikir akan memakai oven untuk memanggang ubi agar tidak menimbulkan pencemaran udara. Tetapi, pelanggan dapat merasakan perbedaan kenikmatan ubi yang dibakar dengan cara tradisional di alam terbuka dan yang dipanggang di oven.

Khawatir ditinggal oleh para langganan, Pak Sindung memang harus meneruskan pembakaran ubi di halaman rumah. Pak Sindung tak habis akal. Dia akhirnya menyewa rumah yang lebih besar, yang amat jauh dari rumahnya. Di situlah dia membuka rumah makan ubi bakar yang besar. Hanya berjualan ubi bakar saja. Maka, seharian membakar ubi. Asapnya banyak.

Tetapi, tak akan pernah sampai ke rumahnya, walau angin bertiup dengan amat kencang. Bisnis Pak Sindung melaju cepat. Kerusakan lingkungan terjadi. Tetapi, keluarganya tidak terganggu, walau keluarga orang lain yang dekat dengan rumah makannya, amat menderita.

Itulah yang sering terjadi di kala kita berdebat mengenai bisnis dan kerusakan lingkungan. Ketika pelaku bisnis tidak merasakan dampak kerusakan lingkungan, dia akan terus melakukan bisnis yang merugikan lingkungan. Mereka baru mau berhenti kalau dirinya, keluarga, atau kelompok mereka dirugikan. Namun, pebisnis juga perlu disadarkan bahwa keuntungan mereka hanyalah keuntungan jangka pendek.

Kalau mereka terus berbisnis yang merugikan lingkungan (walau bukan di negara mereka sendiri), akhirnya negara mereka (dan anak cucu mereka) pun akan menderita. Polusi udara akan menjelajah ke mana saja, ke negara mana saja, tanpa batas, tanpa perlu paspor dan visa.

Kegiatan bisnis mereka yang terus mencemari udara (walau di Indonesia) akhirnya berakumulasi dan sampai juga ke negara lain,termasuk negara mereka. Di sinilah peran Pemerintah Indonesia yang tegas menjadi mutlak.

Negara lain yang pebisnisnya merusak lingkungan di Indonesia juga perlu menyadari bahwa akhirnya kerusakan lingkungan di Indonesia akan mempunyai dampak ke negaranya. Dengan kata lain, sesungguhnya tak ada pertentangan antara peningkatan bisnis dan perbaikan lingkungan hidup.

Dalam jangka pendek, mungkin terjadi pertentangan. Dalam jangka panjang, bisnis tidak akan bertahan kalau lingkungan hidup rusak. Masalah lingkungan bukan masalah satu negara secara terpisah dari negara lain.

Masalah lingkungan adalah masalah global. Dalam istilah ekonomi, masalah lingkungan (terutama pencemaran udara) sudah amat terintegrasi dengan banyak negara di dunia. Pencemaran udara di satu negara, kalau terjadi terus menerus akan menjalar ke negara lain. Yang lebih penting lagi, pembangunan ekonomi memang harus bertujuan membuat pembangunan yang ramah lingkungan.

Ekonomi yang tumbuh empat persen setahun tetapi dengan mutu lingkungan hidup yang meningkat menjadi lebih baik daripada pertumbuhan ekonomi 10 persen per tahun yang disertai dengan kehancuran lingkungan hidup.

Semoga dalam pidato menyambut hari kemerdekaan nanti, Presiden tidak mengawali pidato mengenai pembangunan ekonomi dengan menceriterakan pertumbuhan ekonomi atau pendapatan per kapita. Tetapi, Presiden akan mengawali dengan laporan mengenai perubahan lingkungan hidup di Indonesia.

Disusul dengan masalah kemiskinan, kesehatan, kepandaian, mobilitas penduduk, rasa aman penduduk, dan penerapan tata pemerintahan yang baik.

Setelah semua disampaikan barulah Presiden menyampaikan apa yang terjadi dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita, disusul dengan variabel ekonomi makro lainnya seperti investasi, konsumsi,pengeluaran pemerintah, ekspor, impor, inflasi, suku bunga, dan seterusnya.(*)

Advertisements

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 93 other followers

%d bloggers like this: