Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Keselamatan Pengguna Jalan dan Pembangunan Ekonomi

Aris   Ananta

SEPUTAR   INDONESIA, 29  Juni 2010

Pengadilan Singapura pada 22 Juni 2010 memutuskan untuk memberikan 1 juta dolar Singapura atau sekitar Rp6,5 miliar kepada Hafizul, seorang warga negara Bangladesh berusia 29 tahun. Uang tersebut merupakan kompensasi atas kecelakaan kerja yang menimpa Hafizul dua tahun sebelumnya. Dia adalah seorang pekerja di sektor bangunan. Akibat kecelakaan tersebut, dia lumpuh separuh badan. Sejak itu Hafizul memerlukan bantuan orang lain untuk membantunya melakukan kegiatan dasar sehari-hari, seperti mandi, makan, dan berpakaian. Uang kompensasi itu dibayarkan oleh perusahaan tempat Hafizul pernah bekerja. Di Singapura, kompensasi tertinggi yang pernah diberikan untuk kasus semacam ini hanya separuh dari jumlah yang diterima Hafizul.

Bayangkan jika Hafizul tidak mengalami kecelakaan dan dia dapat terus bekerja selama 30 tahun lagi hingga kira-kira usia 60 tahun.Maka kompensasi sebesar 1 juta dolar Singapura tadi sesungguhnya setara dengan memberi kepastian gaji bulanan sebesar 2.750 dolar Singapura atau sekitar Rp18,75 juta per bulan selama 30 tahun. Suatu jumlah yang relatif besar untuk Hafizul yang kini tinggal di Bangladesh.Tetapi, adakah orang yang mau lumpuh seperti Hafizul untuk mendapatkan Rp18,75 juta per bulan tanpa harus bekerja? Berapa nilai sebuah keselamatan?

Pada tanggal yang sama dengan keputusan Pengadilan, terjadi kecelakaan di salah satu jalan di Singapura. Sebuah mobil bak terbuka berisi 13 pekerja asing di sektor bangunan tergelincir yang menyebabkan para pekerja terlempar dari kendaraan.Tiga penumpang meninggal dunia.Kejadian ini terjadi di Singapura yang mempunyai peraturan ketat untuk keamanan penumpang kendaraan bermotor. Setiap penumpang (tidak hanya pengemudi) mobil harus mengenakan sabuk pengaman.

Memang Pemerintah Singapura telah memberi tahu para pengusaha agar menjaga keselamatan para pekerjanya dan tidak lagi menggunakan mobil bak terbuka. Namun, mereka merasa bahwa meningkatkan keselamatan pekerja akan berdampak pada kenaikan biaya produksi yang akan mengurangi daya saing. Oleh sebab itu, para pengusaha diberi waktu hingga 2012 untuk menjamin keselamatan para pekerja asing yang pendidikannya rendah ini.

Dengan kejadian tersebut, saran untuk mempercepat pelaksanaan peraturan tersebut bermunculan. Sebab, kalau tidak, sebelum 2012 akan banyak pekerja asing yang meninggal akibat kecelakaan semata untuk mempertahankan daya saing perusahaan.

Bagaimana di Indonesia? Bukan hanya penumpang yang tidak menggunakan sabuk pengaman, banyak yang santai saat berkendaraan atau naik di atas truk bak terbuka.Berdiri di pintu ketika naik kereta bahkan duduk di atas atapnya. Naik sepeda motor dengan risiko jatuh karena jalan berlubang. Jalan kaki dengan risiko ditabrak kendaraan bermotor.Naik pesawat terbang pun mempunyai risiko jatuh bahkan ada teman yang tidak berani naik pesawat terbang yang berbiaya murah.

Ketika orang tidak mempunyai pilihan lain,maka orang akan mengabaikan keselamatannya. Kecelakaan dilihat sekadar sebagai ”nasib buruk”dan bukan sebagai hal yang dapat dihindarkan.

Di sinilah tugas kita semua, termasuk pemerintah untuk menciptakan lebih banyak alternatif transportasi yang aman dan murah. Dari kaca mata yang sempit, peningkatan penjualan mobil dan sepeda motor dapat memberikan kenaikan pendapatan nasional yang lebih besar daripada penciptaan sarana transportasi yang aman dan murah. Namun, keuntungan yang diukur dengan rupiah tersebut belum dibandingkan dengan kerugian yang sulit dihitung dengan rupiah. Keselamatan para penumpang mobil dengan bak terbuka, sepeda motor, penumpang kereta yang duduk di atap kereta misalnya, belum diperhitungkan.

Kalau keberhasilan pembangunan diukur dengan pertumbuhan ekonomi, keselamatan para pengguna jalan memang tidak penting. Para pembuat kebijakan tentu ragu-ragu untuk mengalokasi sumber daya yang besar untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan umum. Mereka khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi akan menurun. Mereka pun cemas, tersedianya prasarana transportasi umum yang aman dan murah akan menurunkan penjualan mobil dan sepeda motor yang kemudian berakibat pada penurunan pertumbuhan ekonomi.

Namun, kalau mereka melihat dalam jangka panjang, minimal 10 tahun, peningkatan kesehatan dan keselamatan pengguna jalan pun akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Penduduk yang dengan mudah dan aman bepergian adalah penduduk yang mempunyai produktivitas yang tinggi. Waktu dan tenaga tidak hilang di jalan. Penggunaan energi dapat dibatasi sehingga mengurangi kesulitan pemerintah menyediakan energi yang murah.

Selain itu, transportasi yang murah dan aman dapat menjadi bisnis yang menggiurkan. Untuk jarak pendek, misalnya, sepeda dapat digalakkan.  Jalan untuk orang bersepeda diciptakan. Bayangkan keuntungan dari bisnis berjualan sepeda dan pelayanan untuk bersepeda. Pada 2010 ini, penduduk usia 10 hingga 60 tahun (asumsi untuk mereka yang masih mau naik sepeda) berjumlah kira kira 180 juta. Dengan sepeda yang murah, jumlah penjualan dan pelayanan untuk bersepeda pun akan besar sekali. Seperti jualan mi di China. Harganya murah tetapi pembelinya luar biasa banyaknya. Untuk membidik pasar yang berbedabeda, pebisnis dapat pula menjual sepeda dengan berbagai macam gaya dan harga. Misalnya, diciptakan sepeda dengan atap untuk menghindar dari panas matahari dan hujan.

Contoh lain adalah menggalakkan orang berjalan kaki. Kita ciptakan tempat pejalan kaki yang murah. Permintaan terhadap alas kaki yang nyaman untuk berjalan kaki akan meningkat. Selain alas kaki, mereka juga butuh pakaian yang enak untuk berjalan kaki di negara tropis. Setelah tiba di kantor, mereka dapat berganti pakaian yang lebih cocok dengan keadaan kantor. Masih banyak aksesori lain untuk melengkapi pejalan kaki yang dapat diciptakan pebisnis.Bayangkan, 215 juta penduduk (usia 5 hingga 70 tahun) menikmati jalan kaki!

Memang teramat sulit untuk mengukur nilai keselamatan dalam ”rupiah”. Unsur subjektif dalam ”merupiahkan” keselamatan sangat kental. Walau begitu, usaha peningkatan keselamatan pengguna jalan dapat menjadi bisnis yang menguntungkan. Selain itu, dan hal ini jauh lebih penting, tujuan utama pembangunan kita bukanlah pertumbuhan ekonomi, tetapi kesejahteraan masyarakat, termasuk keselamatan pengguna jalan.

Baca juga

* Kebijakan dan Pengukuran Pembangunan Ekonomi

* Ubah Paradigma Pembangunan Dunia

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

2 Responses

  1. itok says:

    Pak Aris,

    Sebetulnya para orang-orang tua kita dulu sdh memberi pelajaran yg sangat berharga dg memberi wejangan-wejangan/nasehat dlm bentuk ungkapan2 spt: “alon-alon waton kelakon”, “slaman-slumun-slamet”. Cuma ya itu tadi, ketika kita ngomong spt ini lagi di kerumunan kepadatan org yg sibuk (dg mobilitas yg tinggi), brngkali kita dianggap mahluk kuno sekali. Ujung2nya ya mbalik lagi bhwa time is money, artinya “productivity-growth”. Bukan begitu pak Aris hehehe…
    Coba saja kalo ungkapan2 itu tadi tetap langgeng sampai sekarang, brgkali masyarakat kita masih seneng pake DOKAR, BECAK, atau bahkan SEPEDA ONTHEL (yang nir-polusi dan tidak membebani Pemerintah utk ngitung CO2 yg bakalan merusak bumi ini).
    Brgkali untuk menyadarkan masyarakat kita akan arti keselamatan, perlu ada sentuhan2 budaya, tidak sekedar teknis. Maklum masyarakat kita msh sngat heterogen (ada yg sudah canggih sekali, tapi maaf, masih ada yg sebaliknya).
    Itu pandangan saya pak Aris.
    Maturnuwun utk sekedar sharing komentar.

    Salam

    • mletiko says:

      Pak Itok,

      Terimakasih atas lamunan ke “jadul”. Sejarah memang sering terulang. Di bidang ilmiah pun, saya merasakan bahwa perdebatan di jaman sekarang sering seperti perdebatan jaman dulu dengan baju yang berbeda. Kita memang perlu belajar dari sejarah. Dulu saya tidak menyukai sejarah, karena cara mengajar yang tidak menarik.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: