Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

BANJIR DI SINGAPURA

Aris  Ananta

26  Juni  2010

Kemarin pagi, tanggal 25 Juni 2010, hujat lebat lagi di Singapura. Suasana agak mirip dengan pagi hari tanggal 16 Juni yang lalu. Walau tidak segelap tanggal 16 Juni, saya tetap was was juga, kalau kalau terjadi banjir lagi.

Di hari Rabu pagi, 16 Juni 2010, saya melihat udara yang gelap, pertanda akan hujan. Saya kemudian ajak istri untuk sarapan berat saja sehingga tak perlu keluar makan siang.  Kami bertiga (bersama anak terkecil kami) kemudian sarapan di salah satu warung dekat rumah. Di situ cuaca kemudian menjadi benar benar gelap. Seperti malam hari. Padahal saat itu sekitar jam 9 pagi. Hujan deras sekali. Namun, kami tenang tenang saja menikmati suasana alam karena kami di dalam warung.

Ketika hujan sedikit mereda, saya putuskan untuk berangkat ke kantor. Istri saya ingin bekerja dari rumah saja. Saya katakan, tak usah kuatir. “Ini Singapura, bukan Jakarta.”  Saya pun dengan mantap membawa payung menerobos hujan menuju halte bis untuk ke kantor, sementara istri dan anak saya pulang ke rumah. Mereka tidak kena hujan karena struktur perumahan di sini memang sangat baik. Dari pintu apartemen kami sampai warung kami tidak perlu payung karena ada penghubung yang  memakai atap yang melindungi kami dari hujan.

Namun, apa yang terjadi? Perjalanan menuju halte bis ternyata merupakan perjuangan yang agak berat. Banjir sampai mata kaki. Sepatu saya basah kuyup.  Celana juga basah. Untung cepat ada bis. Naik bis. Kemudian berhenti di halte bis. dekat kantor. Dari situ biasanya saya membutuhkan kira kira 5 menit jalan kaki ke kantor. Namun, pagi itu, 5 menit itu adalah 5 menit yang luar biasa. Saya jadi bernostalgia di Jakarta. Banjir di jalanan itu. Mungkin lebih tinggi dari mata kaki saya. Angin juga sangat kencang. Baju pun ikut basah, walau tidak kuyup.

Akhirnya saya sampai di kantor. Untung tidak ada acara resmi. Kalau ada, malu sekali, karena baju basah. Apalagi celana, sepatu, dan kaos kaki!

Siangnya saya baru tahu, Orchard  Road banjir besar. Itu pun  berita dari istri yang membaca detik.com!

Berikut ini tulisan dari Berita Harian, koran Singapura yang berbahasa Melayu pada  tanggal 20 Juni 2010.  Tiap hari koran ini mempunyai semacam “pojok” yang disebut “Wak Cantuk”.  Kata “wak” dalam tulisan di bawah ini mengacu pada penulis “pojok” tersebut.

Selamat menikmati.

Alamak malunya!

Wak betul-betul malu dengan beberapa orang tamu Wak dari Indonesia tentang peristiwa banjir yang melanda Orchard Road Rabu lalu.

Apakan tidak, pada hari tersebut, semasa melihat hujan lebat di rumah Wak, saudara suadara Wak itu berkata kalau di Indonesia, hujan lebat seperti itu pasti menyebabkan banjir di mana-mana.

Wak pula kata, Singapura sekarang jarang banjir. Kalau ada banjir berlaku, pihak berkuasa kita akan cepat cepat cari usaha besarkan longkang dan sebagainya untuk elakkannya daripada berulang.

Saudara Wak itu pun puji-puji Singapura yang katanya cekap sekali mengatasi masalah banjir, tidak seperti di Indonesia.

Namun, setengah jam kemudian, waktu Wak bawa tamu Wak itu ke Orchard Road utuk shopping, kebetulan kawasan di sana banjir.

Saudara saudara Wak itu pulak terima penggilan tidak putus putus dari keluarga mereka di Indonesia yang bimbang keselamatan mereka.

Wak yang mulanya bangga dengan Singapura, jadi malu pulak. Bukan apa, nanti tamu Wak tu cakap Wak ni cakap besar. Kan dah kena “daulat”.

Mungkin inilah kata orang, kita tidak boleh cakap besar. Walau negara kita dah maju, tak bererti kita boleh selamat dari bencana.

Filed under: Bahasa Indonesia, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: