Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

BERAKHIRNYA ERA “Made in China” YANG MURAH?

 

Aris  Ananta

SEPUTAR    INDONESIA22  Juni  2010

Aksi mogok menuntut upah, kondisi tempat tinggal dan tempat kerja yang lebih baik terus meluas di China. Sensor keras dari pemerintah China pada surat kabar dan internet tidak mampu menghalau menyebarnya berita pergolakan pekerja dari satu daerah ke daerah lain.

         Dengan memanfaatkan telepon genggam, mereka mengirim berita ke daerah lain. Mereka membuat video apa yang terjadi dan menyebarluaskan ke banyak daerah lain di China. Gerakan pekerja terus meluas. Jika tuntutan mereka terus meningkat dan menimbulkan terjadi kerusuhan sosial, mungkin saja pemerintah China akan membatasi penggunaan telepon genggam.

       Namun, diduga China tidak akan melakukan tindakan otoriter. Di era digital sekarang ini, tindakan yang semakin otoriter dapat membuat China terisolasi dalam pergaulan dunia. Perekonomian mereka dapat terganggu ,masyarakat pun makin tidak puas pada pemerintah. Apa sebetulnya yang terjadi di China?

      Angka kelahiran yang rendah dan peningkatan jumlah penduduk tua  makin mendorong terjadinya kelangkaan pekerja muda. Mereka berasal dari keluarga kecil dan mempunyai aspirasi global. Mereka melihat betapa China telah ”maju” menjadi negara kaya. Mereka menuntut bagian mereka. Bersamaan dengan itu, kebutuhan terhadap tenaga kerja murah makin meningkat. Banyak perusahaan, seperti KFC dan Toyota telah setuju meningkatkan upah pekerja.

       Upah minimum per bulan di KFC naik dari lebih dari 25%, dari 700 yuan (kira-kira Rp930.000) menjadi 900 yuan (Rp1,2 juta). Upah yang murah dan sering dengan fasilitas yang amat minim untuk para pekerja telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di China. Kondisi pekerja yang seperti ini telah menarik banyak pemodal asing masuk ke China.

        Mereka bahkan telah meninggalkan Indonesia, karena merasa upah di Indonesia terlalu tinggi dan pekerja di Indonesia meminta terlalu banyak. Kini mereka mengalami hal yang sama di China. China memang telah menggunakan model unlimited supply of labour—adanya persediaan pekerja (murah) dalam jumlah yang tak terbatas. Pertama kali di kemukakan oleh Arthur Lewis dalam artikel berjudul ”Economic Development with Unlimited Supplies of Labour” pada tahun 1954-an.

      Pada tahun 1952 silam, Lewis berjalan-jalan di kota Bangkok dan dia menyadari adanya persediaan pekerja (murah) yang tak terbatas.  Artinya, kalaupun jumlah pekerja dikurangi, produksi tidak akan berkurang. Sebagai ilustrasi, di suatu warung terdapat lima orang yang bekerja. Suami, istri, dua orang anaknya, dan satu keponakan.
Sesungguhnya mengurus warung itu cukup ditangani dua orang saja.  Artinya, tiga dari lima orang itu dapat meninggalkan warung itu dan mengerjakan pekerjaan lain tanpa mengurangi kegiatan warung itu. Namun, pekerjaan lain tak ada. Akhirnya ,mereka berlima bekerja di warung itu. Menurut jargon ekonomi, tiga dari lima orang itu sebenarnya mempunyai ”produktivitas marginal” yang besarnya nol (zero).

       Bahkan kehadiran mereka justru dapat mengganggu kegiatan warung itu. Dalam hal ini, dikatakan bahwa produktivitas marginal mereka negatif. Lewis melihat perekonomian terdiri dari dua kelompok. Kelompok pertama, dia sebut sebagai kelompok ”bukan kapitalis” yang mencakup semua kegiatan dengan produktivitas marginal sebesar nol. Di sektor ini pengurangan jumlah pekerja tidak mengurangi jumlah produksi.

       Itu sebabnya, Lewis mengatakan perlu munculnya sektor kedua, yaitu sektor kapitalis yang dapat memanfaatkan ketersediaan pekerja murah yang tidak terbatas ini. Perginya pekerja dari sektor ”bukan kapitalis” ke sektor kapitalis tidak akan mengurangi produksi di sektor bukan kapitalis karena di sektor ”bukan kapitalis” tersedia terlalu banyak pekerja. Sektor kapitalis dapat terus mendapatkan keuntungan dari tersedianya upah yang murah.

        Namun, suatu saat akan terjadi titik balik, ketika pindahnya pekerja dari sektor ”bukan kapitalis”mengurangi produksi di sektor ”bukan kapitalis”. Di saat itu, pekerja akan meminta upah yang lebih tinggi untuk mau meninggalkan sektor ”bukan kapitalis”. Jepang pernah mengalami hal ini dan mengalami titik balik pada tahun 1960-an. Upah pekerja meningkat dengan cepat sehingga Jepang tidak lagi mengandalkan pada upah pekerja yang rendah.

        Pada saat yang sama, Singapura, Korea Selatan,Taiwan, dan Hong Kong memulai pertumbuhan ekonomi mereka yang cepat dengan mengandalkan pekerja murah. Naiknya upah pekerja di Jepang menjadi keuntungan bagi empat negara ini, karena Jepang kemudian berinvestasi, memanfaatkan upah murah, di empat negara ini.

       Ketika upah di empat negara ini kemudian juga mulai mahal, mereka tetap meneruskan kebijakan penggunaan tenaga kerja murah dengan mengimpor tenaga kerja murah dari negara lain. Mereka, termasuk Jepang, juga kemudian meluaskan investasi ke negara lain, yang masih mempunyai tenaga kerja murah, tanah yang luas, dan sumber daya alam yang melimpah.

       Apakah gejolak yang terjadi di pasar kerja China akhir-akhir ini merupakan pertanda bahwa China telah mencapai titik balik seperti yang disebutkan dalam model Lewis? Apakah China akan terus menekankan pada tenaga kerja murah, dengan mengimpor tenaga kerja dari negara lain, atau mereka menanam modal mereka ke negara lain, yang masih mempunyai tenaga kerja yang murah, atau keduanya sekaligus?

      Salah satu kemungkinan adalah China akan memproduksi di negara lain, seperti di Afrika yang tenaga kerjanya masih murah dan tanahnya luas.Kemudian barang tersebut diekspor ke seluruh dunia, tetapi dengan label ”made in China” dengan harga yang murah. Kalau skenario ini terjadi, barang ”made in China” yang murah tetap akan membanjiri Indonesia. Bersamaan dengan itu, investasi mereka di Indonesia pun akan makin meningkat, memanfaatkan murahnya pekerja di Indonesia.

       Apakah Indonesia akan terus menjaga agar ”iklim usaha” di Indonesia tetap baik, yaitu tetap terpeliharanya upah yang murah dan pekerja yang tak pernah menuntut apa-apa, agar investasi asing tetap masuk ke Indonesia? Perlu diingat bahwa para pemodal dapat pergi ke mana pun di dunia ini untuk meningkatkan pendapatan mereka.

       Namun, pekerja yang tidak terampil tidak diperbolehkan dengan leluasa pergi ke negara lain untuk meningkatkan pendapatan mereka. Maka usaha terakhir yang dapat mereka lakukan adalah melakukan tuntutan kenaikan upah dan perbaikan kondisi lingkungan hidup mereka. Kapan Indonesia mencapai ”titik balik” dan tidak lagi mempromosikan Indonesia sebagai negara dengan pekerja yang murah dan ”penurut”?

Baca juga

Beberapa Tantangan Ekonomi China

Gaji TKI Terlalu Rendah

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, economy, poverty, , , , , , ,

2 Responses

  1. Senang bisa membaca artikel ini, terimakasih pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: