Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SUDAHKAH ANDA DISENSUS?

Aris Ananta

7 Juni  2010

Anda  sudah disensus? Pada bulan Mei 2010 yang lalu  telah dilakukan sensus penduduk ke-enam, sejak Indonesia merdeka. Karena masih ada penduduk Indonesia yang belum tercacah, pelaksanaan sensus diperpanjang hingga 15 Juni 2010.

           Sensus penduduk Indonesia dimulai di tahun 1961. Dilanjutkan di tahun 1971, kemudian tahun 1980. Setelah itu, sensus penduduk dilakukan tiap tahun yang berakhiran “0”, suatu kelaziman yang dilakukan di banyak negara.  Standardisasi ini perlu dilakukan untuk kepentingan perbandingan pada tingkat internasional.

            Sensus kali ini lebih besar daripada sensus di tahun 2000. Jumlah pertanyaan jauh lebih banyak daripada di tahun 2000. Oleh sebab itu, data yang dikumpulkan oleh sensus ini juga akan memberikan informasi yang jauh lebih berharga untuk perencanaan pembangunan daripada yang dikumpulkan oleh sensus sebelumnya.  Semua informasi direncanakan untuk dikumpulkan dari semua penduduk Indonesia.

            Seperti sensus sebelumnya dan survai lain yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik)  dan banyak lembaga lain, sensus ini pun bersifat rahasia. Di pojok kiri atas halaman pertama tertulis “RAHASIA”.  Ke-RAHASIA-an sensus dan survai penting untuk menjaga mutu data. Kalau data tidak rahasia, responden akan dapat memberikan informasi yang salah, terutama kalau  mereka tidak ingin data diketahui oleh orang lain. Kalau mereka tidak yakin dengan kerahasiaan data, mereka pun enggan untuk diwawancara.

            Sebagian penduduk juga enggan diwawancara karena merasa  tidak apa gunanya. Mereka berpikir, wawancara hanya akan menghabiskan waktu saja, seperti yang dilakukan oleh para pedagang  yang menjual barang dagangan.  Kalau pun mau, mereka bisa saja menjawab asal menjawab. Yang penting, cepat selesai.

            Di sinilah letak penting peran pencacah. Dan BPS pun telah banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan uang untuk melatih para pencacah ini. Walau begitu, kadang kadang terdengar berita yang kurang menyenangkan dari pelaksanaan sensus penduduk. Misalnya, ditemukan seorang penduduk yang sudah berusia tua di atas 100 tahun. Bahkan, katanya, ada yang mendekati 150 tahun. Namun, tidak ada bukti bahwa mereka memang sudah di atas 100 tahun. Tak ada surat kelahiran.

            Memang banyak penduduk Indonesia, terutama yang tua tua, yang tidak mempunyai surat kelahiran. Namun, para pencacah sudah dilatih untuk membuat perkiraan, menanyakan peristiwa peristiwa penting yang terjadi di waktu yang lalu, untuk menduga umur responden.  Walau begitu, sementara orang masih meragukan kepandaian para pencacah ini. Benarkah ditemukan orang yang berumur hampir 150 tahun?

            Ada pula yang berkomentar bahwa mutu para pencacah sangat rendah. Bahkan, katanya, ada pencacah yang berumur 10 tahun. Ada pula yang berkata, bahwa pencacah  hanya mengajukan sedikit pertanyaan  dan mereka  mengumpulkan informasi dari KK (Kartu Keluarga).

            Sayang, saya tidak mengalami disensus. Saya tidak berada di Indonesia, jadi saya bukan subyek sensus penduduk Indonesia. Namun, saya  ingin mendengar pengalaman anda, pengalaman disensus.

            Apakah anda tersensus? Mungkin anda bertanya, apakah setiap orang harus diwawancara?   Siapakah yang disebut rumah tangga?

             Di dalam kuesioner sensus penduduk dikatakan bahwa rumah tangga adalah sekelompok orang yang biasanya tinggal bersama dalam suatu bangunan serta mengatur makan mereka dari satu dapur. Mengurus dapur bukan sekedar menggunakan dapur secara fisik, tetapi masalah pengaturan  pengeluaran makanan mereka. Bisa saja, dua orang secara fisik menggunakan dapur yang sama, namun masing masing membeli makanan sendiri sendiri. Maka, mereka dikatakan dari rumah tangga yang berbeda.

              Oleh sebab itu, satu rumah tangga dapat juga terdiri dari orang yang bukan bersaudara.  Selain itu, dalam satu bangunan bisa saja terdiri dari lebih satu rumah tangga. Atau, satu rumah tangga terdiri dari satu orang saja, kalau tiap orang mengurus dapurnya sendiri sendiri.  

             Dalam sensus ini pencacah ini biasanya datang dua kali. Yang pertama yang disebut listing, yang dilakukan pada tanggal 1-7 Mei 2010. Dalam listing pencacah hanya mengumpulkan informasi mengenai bangunan, nomor bangunan sensus, penggunaan bangunan, nomor rumah tangga, nama kepala rumah tangga, dan jumlah rumah tangga menurut jenis kelamin. Setelah wawancara selesai, pencacah menempelkan stiker pada bangunan sensus tersebut.  Informasi ini digunakan unuk wawancara tahap kedua, yang merupakan pencacahan lengkap.

              Dalam pencacahan lengkap ditanyakan informasi mengenai nama anggota rumah tangga, hubungan dengan kepala rumah tangga (suami, istri, anak, menantu, cucu, danseterusnya), jenis kelamin, umur, agama, kecacatan, warga negara, suku bangsa, bahasa, perpindahan penduduk, status perkawinan, ketenagakerjaan, kelahiran, kematian, status kesehatan, dan perumahan. Informasi ini dikumpulkan dari semua penduduk Indonesia.  Dalam Pedoman Pencacah Sensus Penduduk 2010 (buku 6) disebutkan bahwa wawancara dilakukan secara tatap muka dengan masing masing anggota a rumah tangga, kecuali untuk anak anak.

            Nah, bagaimana pengalaman anda dengan sensus penduduk? Apakah anda diwawancara? Atau ada orang lain yang memberikan informasi anda? Atau anda tidak tersensus? Anda sedang di mana? Atau, ada komentar lain mengenai sensus penduduk ini?

            Silakan memberikan komentar mengenai sensus penduduk di blog ini. Kalau anda tidak ingin  komentar dibaca umum, silakan kirim komentar anda pada saya di arisananta@gmail.com  atau ke Evi Nurvidya Arifin di enarifin@gmail.com

            Informasi dari anda akan sangat bermanfaat bagi kami berdua untuk mengevaluasi data sensus dan pemanfaatan data sensus dalam pemahaman kondisi masyarakat Indonesia. Pemahaman yang benar akan amat bermanfaat untuk perencanaan pembangunan, segmentasi pasar, atau pun kepentingan para politisi untuk menjaring pendukung mereka.

            Terimakasih banyak.

Baca juga   Berapa Lama Lagi Kita Akan Hidup?

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: