Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Reformasi Sektor Keuangan untuk Hadapi Krisis Global

Aris  Ananta  PDF Print
 SEPUTAR  INDONESIA,  Rabu, 19 Mei 2010
KALAU pemerintah Yunani bangkrut, tidak mampu membayar utang-utang mereka, negara lain, seperti Portugal, Spanyol, dan Italia pun akan ikut bangkrut.

Mengapa kebangkrutan dapat mewabah? Yunani mengalami defisit anggaran yang luar biasa. Meski tidak separah Yunani, Portugal, Spanyol, dan Italia juga mengalami defisit anggaran yang besar. Maka kalau Yunani bangkrut, kepercayaan para pemegang uang di negara yang serupa dengan Yunani juga akan hilang. Uang juga akan ditarik dari negara-negara tersebut sehingga akan memperparah defisit. Akibatnya ketiga negara itu pun dapat ikut bangkrut. Selain itu, karena Yunani banyak berutang ke kreditor di Jerman dan Prancis, kebangkrutan Yunani akan berdampak besar pada sektor keuangan di Jerman dan Prancis. Para pemilik uang pun akan tidak percaya lagi pada Prancis dan Jerman, bahkan seluruh Eropa. Sekarang pun nilai mata uang euro telah melorot dengan drastis, karena para pemilik uang sudah mulai tidak percaya pada euro.

Kalau Yunani akhirnya bangkrut, kasus ini serupa dengan kebangkrutan Lehman Brothers di Amerika Serikat pada 2008 lalu, yang berakibat pada terjadinya krisis keuangan global di tahun 2008–2009 silam. Kehilangan kepercayaan pemegang uang terhadap keuangan Eropa menyebabkan mengalirnya uang ke Asia, termasuk Indonesia. Rupiah dan mata uang Asia lainnya menguat. Bahkan pernah ada yang “mengkhawatirkan” rupiah akan terlalu kuat, menjadi di bawah Rp9.000 per dolar Amerika Serikat. Namun, banyak pula yang mengingatkan bahwa “kuat”-nya rupiah ini “semu” belaka.“Kepercayaan” para pemilik uang itu sangat mudah berubah. Begitu mereka khawatir dengan kondisi Indonesia, uang akan segera ditarik dan rupiah akan melemah.

Peran dan tingkah laku pemilik uang memang luar biasa. Terutama pada “kepercayaan” mereka terhadap kondisi keuangan suatu negara. Kalau kepercayaan mereka baik, akan membaiklah kondisi keuangan di negara tersebut. Kalau kepercayaan mereka hilang, jatuhlah kondisi keuangan di negara itu. Kalau kepercayaan para pemegang uang makin hilang, akhirnya kondisi keuangan dunia akan berantakan.

Sementara itu,kepercayaan para pemilik uang telah membuat masalah lain di beberapa negara di Asia, seperti China. Kepercayaan pada perekonomian dan stabilitas politik di China begitu besar. Apalagi pemerintah China pernah menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 10% per tahun.

Orang berlomba- lomba menanamkan uang mereka di China. Akibatnya, inflasi meningkat sehingga menyebabkan peningkatan spekulasi baik di sektor keuangan maupun properti. Kondisi semacam ini juga telah menjadi penyebab terjadinya krisis dari subprime mortgage di Amerika Serikat pada 2008 lalu. Ketika itu, juga terjadi kenaikan harga yang pesat di sektor properti. Orang yang “tidak layak (subprime)” berutang pun dapat meminjam ke bank dan bank pun berani memberikan pinjaman. Perhitungan mereka—baik pengutang dan bank—adalah harga properti akan meningkat terus dengan pesat. Maka kalaupun pengutang tak lagi mempunyai uang untuk membayar, rumah dapat dijual. Pengutang dan bank tetap untung. Namun, ketika harga properti tiba-tiba turun, orang panik. Orang menjual rumah dan harga rumah makin turun. Akibatnya, banyak orang rugi tidak dapat membayar utang karena harga rumah telah jatuh. Pemberi kredit juga berantakan.

Karena pemberi kredit saling berkaitan satu dan lain, akhirnya perusahaan keuangan sebesar Lehman Brothers pun bangkrut. Seluruh dunia, termasuk mereka yang tidak ikut berspekulasi di sektor keuangan dan sektor properti, terkena dampaknya. Panasnya ekonomi seperti yang dialami di China juga terlihat di beberapa negara lain, seperti Vietnam dan Singapura,walau dalam taraf yang berbeda. Mampukah negara negara ini menghindar dari terjadinya kasus seperti krisis subprime mortgage di Amerika Serikat?

Barack Obama, Presiden Amerika Serikat, rupanya telah letih dengan “kekuasaan” yang luar biasa dari pelaku bisnis di sektor keuangan, terutama bercokol di Wall Street. Kalau mereka optimistis, mereka memasukkan uangnya. Kalau mereka tidak suka pada suatu kebijakan di suatu negara, maka uang pun mereka tarik.

Obama telah melakukan perang terhadap pelaku sektor keuangan. Obama tidak ingin perekonomian amat dipengaruhi tingkah laku para pemilik uang. Ia melakukan revolusi dengan membatasi gerak-gerik para pemain uang, termasuk memisahkan sektor perbankan dari kegiatan spekulasi. Tentu saja, usaha ini mendapat tantangan dari pebisnis di sektor keuangan. Namun, Obama sangat tegas dan mengatakan pada para pebisnis bahwa mereka tidak perlu khawatir dengan reformasi yang ia jalankan, bila bisnis mereka bukan bisnis yang “menipu”masyarakat. Obama memang telah bertindak dengan sangat keras. Ia berani berbuat karena yakin akan mendapat dukungan dari masyarakat Amerika Serikat yang telah bosan dengan krisis keuangan di negara itu. Semoga saja, usaha Obama diikuti pemimpin di banyak negara lain.

Para pebisnis di sektor keuangan mungkin perlu melihat keadaan dunia secara lebih arif. Keuntungan mereka akan lebih berkelanjutan kalau mereka mengurangi secara drastis kegiatan spekulasi mereka. Kalau mereka terus bertahan dengan tingkah laku mereka ini, masyarakat pun akan sadar dan marah pada mereka. Lehman Brothers sekarang menghadapi persoalan hukum di Amerika Serikat. Di Indonesia, kita pun perlu secara aktif menyadarkan masyarakat akan bahaya permainan di sektor keuangan ini. Pemerintah perlu meningkatkan usaha membatasi kegiatan spekulasi, termasuk spekulasi di sektor properti.

Selain di sektor keuangan dan perbankan, usaha pun perlu dilakukan di sektor yang tampaknya bukan sektor keuangan. Kini banyak sektor perdagangan yang melakukan usaha keuangan dengan menjual barang secara kredit. Mereka mendapat keuntungan dari pinjaman dan bukan semata dari barang yang mereka jual. Makin banyak pula usaha untuk terus mendorong masyarakat agar mau meminjam dan meminjam. Bisnis semacam ini perlu diatur. Masyarakat jangan terus menerus dibujuk untuk meminjam, apalagi untuk tujuan konsumsi. Arus lalu lintas uang antarnegara juga perlu dipantau. Harus dicari cara agar kondisi ekonomi kita tidak bergantung pada kepercayaan para pemain spekulasi. Ini bukan pekerjaan mudah.

Kekuasaaan mereka—melalui uang—memang amat besar. Namun, kita harus berani melakukan hal ini. Bila tidak, krisis keuangan di satu wilayah di dunia akan dengan mudah merebak ke kita, apalagi dengan makin gencarnya usaha mengintegrasikan perekonomian (dan sistem keuangan) dunia.(*)

Baca juga  Perang Terhadap Kegiatan Ekonomi  Spekulasi

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , ,

2 Responses

  1. Saya menggarisbawahi kalimat berikut: “Ia (obama) melakukan revolusi dengan membatasi gerak-gerik para pemain uang, termasuk memisahkan sektor perbankan dari kegiatan spekulasi.”
    Pertanyaan saya: Apakah ini mungkin? Jika mungkin, kira2 bagaimana gambaran pelaksanaannya? Salam.

    • mletiko says:

      Pak Abduh,

      Kita ikuti saja apa yang terjadi di Amerika Serikat. RUU-nya telah berhasil dijadikan UU. Semoga gebrakan ini berhasil, dan kemudian menular ke banyak negara lain, termasuk Indonesia. Pelaksanaan reformasi ini memperlukan kombinasi kepandaian serta kejelian di bidang ekonomi, khususnya perbankan, ketegasan pemimpin negara, dan seni dalam bidang politik.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: