Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Berapa Lama Lagi Kita Akan Hidup?

Aris  Ananta

SEPUTAR  INDONESIA, 11  Mei  2010

Mungkin Anda tidak merisaukan jawaban atas pertanyaan ini. Mungkin hanya orang tua yang sudah amat tua dan orang yang sakit parah akan mengajukan pertanyaan di atas dan ingin mencari jawabnya.

Mungkin juga Anda bertanya,“Kalaupun sudah tahu jawabnya, lalu apa gunanya?” Namun, para perencana pembangunan dan pebisnis amat berkepentingan dengan jawaban atas pertanyaan di atas. Mereka sadar betul bahwa, misalnya, membuat perencanaan pembangunan di masyarakat yang harapan hidupnya 50 tahun tentu jauh berbeda dengan perencanaan pembangunan di masyarakat yang harapan hidupnya 80 tahun.

Kalau harapan hidupnya 50 tahun, sebagian besar penduduk masih muda sehingga perencanaan pembangunan diarahkan kepada mereka. Mulai dari fasilitas kesehatan, pendidikan,prasarana, bahkan keamanan. Perhatian pada kesehatan bayi, balita, ibu hamil, dan pelayanan kontrasepsi menjadi amat penting.

Para pebisnis juga mengarahkan produksi dan penjualan mereka ke penduduk usia muda untuk kepentingan ibu hamil dan melahirkan, saat ibu menyusui, kepentingan bayi dan balita, sekolah dasar, sekolah menengah, pakaian untuk anak-anak, dan seterusnya. Namun, perencanaan di masyarakat dengan harapan hidup 80 tahun tentu akan berbeda. Di sini banyak sekali penduduk usia tua.

Mereka hidup lama, mungkin mengalami berbagai macam penyakit khas orang tua. Bagaimana membiayai hidup mereka? Bagaimana menyediakan prasarana untuk mereka? Pekerjaan apa yang cocok untuk mereka? Pebisnis pun melihat peluang dari adanya peledakan penduduk usia tua—yang sering disebut dengan silver industry—industri yang melihat peluang usaha dari penduduk yang rambutnya sudah berwarna “perak”. Pertanyaannya:

Apakah mungkin mengetahui berapa lama lagi kita akan hidup? Untungnya, para demografer telah mempunyai keahlian untuk memberikan jawaban ini. Demografer tak mampu mengatakan berapa lama lagi Aris akan hidup, tetapi demografer akan mampu mengatakan rata-rata satu orang laki-laki Indonesia berusia 55-59 akan hidup berapa tahun lagi.

Saat ini, 2010, saya perkirakan angka harapan hidup waktu lahir sekitar 75 tahun. Artinya, bayi yang lahir tahun ini akan hidup kira-kira 75 tahun lagi. Ini yang disebut dengan angka harapan hidup waktu lahir. Bayi perempuan akan hidup lebih lama daripada bayi laki-laki. Kalau begitu, apakah berarti mereka yang saat ini berusia 55 tahun hanya akan hidup kira-kira 20 tahun lagi? Tidak. Mereka ini sudah dapat hidup sampai 55 tahun.

Maka, angka harapan hidup di usia 55 tahun bisa saja sekitar 25 atau 30 tahun. Mereka rata-rata akan meninggal pada usia 80 atau 85 tahun. Benarkah dugaan saya ini? Sensus Penduduk 2010, yang kita laksanakan Mei ini, akan dapat memberikan jawaban dengan data empiris. Selama ini kita hanya memiliki data empiris (bukan diasumsikan) untuk kematian bayi dan kematian balita.

Selebihnya, angka kematian di atas usia lima tahun hanya kita asumsikan saja, mengikuti suatu model, yang diperoleh dari negara lain. Karena data empiris hanya untuk yang berusia di bawah lima tahun, angka harapan hidup pun diperoleh bukan dengan data empiris. Perkiraan saya mengenai angka harapan hidup 2010 ini juga berdasar data yang sebagian besar bukan data empiris.

Salah satu inovasi Sensus Penduduk 2010 adalah dalam informasi mengenai kematian di setiap kelompok usia. Sensus penduduk kali ini diharapkan dapat memberikan data empiris kematian di tiap usia dari bayi hingga usia 80 tahun atau lebih. Angka kematian tiap kelompok usia ini penting sekali, umpamanya penduduk usia 70-74 tahun mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi daripada penduduk usia 25-29 tahun.

Sensus ini juga diharapkan dapat memberikan data empiris pada 2009-2010, dan bukan mundur ke beberapa tahun sebelum 2010, seperti yang kita lakukan di sensus dan survei sebelumnya. Dengan data yang baru dan lengkap ini, kita dapat saja dikejutkan dengan angka yang berbeda dengan apa yang selama ini telah kita ketahui.

Kita dapat saja dikagetkan dengan angka kematian yang relatif tinggi di kelompok usia 45-54 tahun misalnya. Mungkin saja angka harapan hidup lebih rendah daripada yang selama ini kita duga, mungkin juga justru lebih tinggi. Dengan data sensus ini, kita akan dapat memperkirakan angka harapan hidup dengan lebih rinci misalnya kita dapat mengetahui angka harapan hidup seorang perempuan suku Sunda berusia 45-49 tahun, berlokasi di Jakarta, lahir di Tasikmalaya , pendidikan SMA, bekerja sebagai pegawai di sektor pendidikan.

Kita pun dapat mengetahui angka harapan hidup seorang penduduk lansia berusia 65-69 tahun yang beragama Kristen, tinggal di Sumatera Utara, kelahiran di luar Sumatera Utara. Contoh lain lagi, kita juga akan mampu menghitung angka harapan hidup lakilaki warga negara Indonesia suku Tionghoa yang masih bujangan, berusia 20-24 tahun, beragama Islam, dan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Itu hanya beberapa contoh saja dari manfaat data kematian secara empiris di tiap kelompok usia dan jenis kelamin.

Mereka yang bekerja di sektor asuransi akan dapat memberikan pelayanan lebih baik ke konsumen mereka. Pebisnis pada umumnya dapat melakukan segmentasi pasar dengan lebih baik. Pemerintah dan masyarakat akan dapat memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih efisien. Selain itu, para politisi juga akan beruntung karena mereka akan lebih mengetahui masyarakat mereka, bukan saja untuk kepentingan mencari dukungan, tetapi juga untuk melayani masyarakat dengan lebih baik.

Keberhasilan sensus ini tergantung pada banyak pihak dan faktor. Pertama, ketelitian, kerja keras, dan kejujuran para pelaksana sensus. Kedua, partisipasi kita semua dalam sensus ini, apakah kita mau memberikan informasi yang lengkap dan jujur. Ketiga, kecermatan para petugas sensus dalam mengolah dan menyajikan data. Keempat, kerahasiaan data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Di halaman pertama setiap kuesioner sudah tertulis “RAHASIA”.

Sebab itu, kerahasiaan data sensus ini mutlak harus dijaga. Data secara umum (agregat) dapat dipublikasikan, tetapi nama dan alamat individu mutlak harus dirahasiakan. Tanpa kerahasiaan, yang merupakan prinsip dasar semua survei dan sensus, penduduk yang disensus akan merasa dibohongi.

Kepercayaan masyarakat pada survei dan sensus akan hilang, dan mutu data akan merosot. Tanpa kerahasiaan, para perencana pembangunan, pebisnis, dan politisi juga tidak memperoleh manfaat dari data survei dan sensus. Semoga sensus ini berjalan dengan baik, dan partisipasi dari kita semua amat dibutuhkan. Salam Sensus.(*) 

Mungkin Anda tidak merisaukan jawaban atas pertanyaan ini. Mungkin hanya orang tua yang sudah amat tua dan orang yang sakit parah akan mengajukan pertanyaan di atas dan ingin mencari jawabnya.


Mungkin juga Anda bertanya,“Kalaupun sudah tahu jawabnya, lalu apa gunanya?” Namun, para perencana pembangunan dan pebisnis amat berkepentingan dengan jawaban atas pertanyaan di atas. Mereka sadar betul bahwa misalnya membuat perencanaan pembangunan di masyarakat yang harapan hidupnya 50 tahun tentu jauh berbeda dengan perencanaan pembangunan di masyarakat yang harapan hidupnya 80 tahun.

Kalau harapan hidupnya 50 tahun, sebagian besar penduduk masih muda sehingga perencanaan pembangunan diarahkan kepada mereka. Mulai dari fasilitas kesehatan, pendidikan,prasarana,bahkan keamanan.Perhatian pada kesehatan bayi,balita,ibu hamil,dan pelayanan kontrasepsi menjadi amat penting.

Para pebisnis juga mengarahkan produksi dan penjualan mereka ke penduduk usia muda untuk kepentingan ibu hamil dan melahirkan, saat ibu menyusui, kepentingan bayi dan balita,sekolah dasar,sekolah menengah,pakaian untuk anak-anak, dan seterusnya. Namun,perencanaan di masyarakat dengan harapan hidup 80 tahun tentu akan berbeda.Di sini banyak sekali penduduk usia tua.

Mereka hidup lama,mungkin mengalami berbagai macam penyakit khas orang tua. Bagaimana membiayai hidup mereka? Bagaimana menyediakan prasarana untuk mereka? Pekerjaan apa yang cocok untuk mereka? Pebisnis pun melihat peluang dari adanya peledakan penduduk usia tua—yang sering disebut dengan silver industry—industri yang melihat peluang usaha dari penduduk yang rambutnya sudah berwarna “perak”. Pertanyaannya:

Apakah mungkin mengetahui berapa lama lagi kita akan hidup? Untungnya, para demografer telah mempunyai keahlian untuk memberikan jawaban ini.Demografer tak mampu mengatakan berapa lama lagi Aris akan hidup, tetapi demografer akan mampu mengatakan rata-rata satu orang laki-laki Indonesia berusia 55-59 akan hidup berapa tahun lagi.

Saat ini, 2010, saya perkirakan angka harapan hidup waktu lahir sekitar 75 tahun.Artinya,bayi yang lahir tahun ini akan hidup kira-kira 75 tahun lagi. Ini yang disebut dengan angka harapan hidup waktu lahir.Bayi perempuan akan hidup lebih lama daripada bayi laki-laki. Kalau begitu, apakah berarti mereka yang saat ini berusia 55 tahun hanya akan hidup kira-kira 20 tahun lagi? Tidak.Mereka ini sudah dapat hidup sampai 55 tahun.

Maka, angka harapan hidup di usia 55 tahun bisa saja sekitar 25 atau 30 tahun. Mereka rata-rata akan meninggal pada usia 80 atau 85 tahun. Benarkah dugaan saya ini? Sensus Penduduk 2010,yang kita laksanakan Mei ini,akan dapat memberikan jawaban dengan data empiris. Selama ini kita hanya memiliki data empiris (bukan diasumsikan) untuk kematian bayi dan kematian balita.

Selebihnya, angka kematian di atas usia lima tahun hanya kita asumsikan saja,mengikuti suatu model, yang diperoleh dari negara lain. Karena data empiris hanya untuk yang berusia di bawah lima tahun, angka harapan hidup pun diperoleh bukan dengan data empiris.Perkiraan saya mengenai angka harapan hidup 2010 ini juga berdasar data yang sebagian besar bukan data empiris.

Salah satu inovasi Sensus Penduduk 2010 adalah dalam informasi mengenai kematian di setiap kelompok usia.Sensus penduduk kali ini diharapkan dapat memberikan data empiris kematian di tiap usia dari bayi hingga usia 80 tahun atau lebih.Angka kematian tiap kelompok usia ini penting sekali, umpamanya penduduk usia 70-74 tahun mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi daripada penduduk usia 25-29 tahun.

Sensus ini juga diharapkan dapat memberikan data empiris pada 2009-2010,dan bukan mundur ke beberapa tahun sebelum 2010,seperti yang kita lakukan di sensus dan survei sebelumnya. Dengan data yang baru dan lengkap ini, kita dapat saja dikejutkan dengan angka yang berbeda dengan apa yang selama ini telah kita ketahui.

Kita dapat saja dikagetkan dengan angka kematian yang relatif tinggi di kelompok usia 45-54 tahun misalnya.Mungkin saja angka harapan hidup lebih rendah daripada yang selama ini kita duga, mungkin juga justru lebih tinggi. Dengan data sensus ini, kita akan dapat memperkirakan angka harapan hidup dengan lebih rinci misalnya kita dapat mengetahui angka harapan hidup seorang perempuan suku Sunda berusia 45-49 tahun,berlokasi di Jakarta,lahir di Tasikmalaya,pendidikan SMA,bekerja sebagai pegawai di sektor pendidikan.

Kita pun dapat mengetahui angka harapan hidup seorang penduduk lansia berusia 65-69 tahun yang beragama Kristen, tinggal di Sumatera Utara,kelahiran di luar Sumatera Utara. Contoh lain lagi, kita juga akan mampu menghitung angka harapan hidup lakilaki warga negara Indonesia suku Tionghoa yang masih bujangan, berusia 20-24 tahun, beragama Islam, dan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Itu hanya beberapa contoh saja dari manfaat data kematian secara empiris di tiap kelompok usia dan jenis kelamin.

Mereka yang bekerja di sektor asuransi akan dapat memberikan pelayanan lebih baik ke konsumen mereka.Pebisnis pada umumnya dapat melakukan segmentasi pasar dengan lebih baik. Pemerintah dan masyarakat akan dapat memberikan pelayanan masyarakat dengan lebih efisien. Selain itu,para politisi juga akan beruntung karena mereka akan lebih mengetahui masyarakat mereka, bukan saja untuk kepentingan mencari dukungan,tetapi juga untuk melayani masyarakat dengan lebih baik.

Keberhasilan sensus ini tergantung pada banyak pihak dan faktor. Pertama, ketelitian, kerja keras, dan kejujuran para pelaksana sensus. Kedua, partisipasi kita semua dalam sensus ini, apakah kita mau memberikan informasi yang lengkap dan jujur.Ketiga, kecermatan para petugas sensus dalam mengolah dan menyajikan data.Keempat, kerahasiaan data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Di halaman pertama setiap kuesioner sudah tertulis “RAHASIA”.

Sebab itu, kerahasiaan data sensus ini mutlak harus dijaga.Data secara umum (agregat) dapat dipublikasikan, tetapi nama dan alamat individu mutlak harus dirahasiakan. Tanpa kerahasiaan, yang merupakan prinsip dasar semua survei dan sensus, penduduk yang disensus akan merasa dibohongi.

Kepercayaan masyarakat pada survei dan sensus akan hilang, dan mutu data akan merosot. Tanpa kerahasiaan, para perencana pembangunan, pebisnis, dan politisi juga tidak memperoleh manfaat dari data survei dan sensus. Semoga sensus ini berjalan dengan baik,dan partisipasi dari kita semua amat dibutuhkan. Salam Sensus.(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: