Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Perlukah Angka Pengangguran Diturunkan?

Aris Ananta

SEPUTAR   INDONESIA,  4 Mei 2010

AKHIR-AKHIR ini Ojan sedang bingung dengan statusnya. Maret lalu dia diwisuda sehingga secara resmi menyandang gelar sarjana.

Saat ini dia sibuk melamar pekerjaan ke sana ke mari, ikut tes, dan wawancara. Dia belum bekerja. “Lalu apa statusku?” tanya Ojan pada salah satu seniornya,Anah. “Statusmu penganggur,” kata Anah, yang kini telah mempunyai pekerjaan mantap. Mendengar pernyataan itu, Ojan kaget. Dia ingat Riwut, salah satu temannya yang terkenal malas, tidak mau kuliah,tidak mau bekerja, tidak mencari pekerjaan, dan hanya jalan-jalan. Untung orang tuanya masih sanggup dan mau membiaya hidupnya. Ojan sangat tidak suka pada Riwut.Ojan menyebut Riwut sebagai penganggur. Kini seniornya menyebut dia sebagai penganggur! Anah segera mengerti Ojan amat gundah dengan statusnya sebagai penganggur.

Dia ingat kuliah demografi yang dulu pernah dia ambil. Dalam kuliah itu, Anah belajar bahwa orang seperti Ojan diberi gelar penganggur. Sementara itu, orang seperti Riwut tidak berhak mendapat gelar penganggur. Ojan makin heran. “Riwut, anak malas itu,bukan penganggur?” “Betul,” kata Anah. Dalam definisi demografi, yang juga digunakan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) dan PBB, Riwut bukan penganggur. Dia disebut “Bukan angkatan kerja”. Sementara itu,“Kamu, menurut definisi nasional dan internasional, adalah seorang penganggur. Kamu berhak mendapatkan gelar penganggur.” Ojan masih penasaran. Dia menerangkan ke Anah bahwa dia bukan orang malas. Dia ingin sekali mendapatkan pekerjaan.

Dia bersyukur bahwa dia mempunyai kakak yang membiayai hidupnya selama dia belum mendapatkan pekerjaan sehingga dapat menumpang di rumah kakaknya. Anah pusing juga menghadapi kegelisahan Ojan. Untung, Wiro lewat dan mendengar obrolan mereka. Wiro langsung menimbrung. Merasa pernah mendapat nilai A dalam kuliah Teori Ekonomi, Wiro mengatakan bahwa menganggur di Indonesia mahal. Harus ada yang membiayai. Di Belanda misalnya ada tunjangan untuk para penganggur. Di Indonesia tak ada tunjangan tersebut. Hanya orang yang mempunyai teman atau keluarga yang dapat membiayai hidup mereka sajalah yang mampu menganggur.

“Kalau tak ada sanak saudara atau teman yang dapat membiayai status penganggurmu, kamu akan terpaksa bekerja apa pun. Dan kamu akan kehilangan gelar penganggurmu,” tambah Wiro. Ojan tampak paham. Anah pun mengiyakan. “Tapi,” sergah Ojan, “Kenapa pemerintah mencanangkan target menurunkan angka pengangguran?” “Betul,” tambah Anah, “Presiden menargetkan angka pengangguran turun menjadi antara 5-6% pada 2014.” “Ojan dan Ceu Anah”, jawab Wiro, “Kita ingat enggak sama Wiri? Kasihan sekali hidup Wiri paspasan. Anaknya banyak. Bekerja hampir 80 jam seminggu. Suaminya juga tidak mempunyai pekerjaan tetap dan penghasilannya lebih kecil lagi.” Anah ingat betul dengan Wiri. Pekerja keras. Namun,kurang beruntung. Tetapi, Wiri tidak berhak mendapat gelar “penganggur”.

Pada April lalu Bank Dunia, demikian kata Wiro, melaporkan penelitian mereka di 28 negara di dunia. Krisis global pada 2008 dan 2009 ternyata berdampak kecil sekali pada jumlah orang yang bekerja (employment). Dampak hanya terasa pada penghasilan mereka. Ketika terjadi krisis, orang masih harus bekerja. Namun, mereka terpaksa bekerja dengan penghasilan yang lebih rendah. “Ojan,” kata Wiro, “Dalam buku teks ekonomi yang berbahasa Inggris, kita mengenal istilah employment. Dalam bahasa Indonesia, orang sering menyebut kesempatan kerja atau lapangan kerja.” Namun, kata Anah, banyak orang salah mengerti terhadap statistik employment, kesempatan kerja, atau lapangan kerja ini. Statistik ini sekadar mengukur jumlah orang yang bekerja ,bukan kesempatan kerja ataupun lapangan kerja.

Jumlah yang bekerja dapat tidak berubah, tetapi penghasilan dan peluang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dapat berubah. Menambah lapangan kerja tidak berarti menambah jumlah orang yang bekerja. Menciptakan lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi dapat berarti orang yang sama pindah ke pekerjaan lain yang memberi penghasilan yang lebih tinggi. Wiro juga mengungkapkan bahwa di Indonesia, BPS juga kesulitan mencari hubungan antara pengangguran, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam buku Analisis Kemiskinan,Ketenagakerjaan, dan Distribusi Pendapatan yang menggunakan data 2005- 2007, BPS memperlihatkan betapa sulitnya memperlihatkan hubungan kuat antara tiga variabel itu.

Mereka memperlihatkan bahwa di antara penganggur hanya sekitar 18% yang berstatus miskin. Persentase ini tidak jauh berbeda dengan yang ditemukan di antara mereka yang bekerja yang berkisar 16%. Ketika terjadi krisis global, pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun dari 6,3% pada 2007 menjadi 6,1% pada 2008 dan kemudian 4,5%  pada 2009. Namun, pada 2008 dan 2009 tersebut angka pengangguran juga menurun, dari 9,8% pada 2007 menjadi 8,5% 2008 dan 8,1% pada 2009. “Ceu Anah, ingat nggak, ada istilah elastisitas employment terhadap pertumbuhan ekonomi?” tanya Ojan, penasaran. Anah kemudian mengungkapkan bahwa memang dalam buku teks ekonomi sering dijumpai diskusi elastisitas employment terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dalam teori ini ada hubungan positif dan kuat antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan employment. Namun di Indonesia ,employment diukur dengan jumlah orang yang bekerja, yang tidak mencerminkan lapangan pekerjaan ataupun peluang pekerjaan.“Jadi, secara teoritis tak diharapkan ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan employment di Indonesia?”sergah Ojan. “Benar,” jawab Wiro. “Begitu juga dengan statistik pengangguran”.

Karena statistik pengangguran hanyalah semacam kebalikan statistik employment, secara teoritis tak akan ada hubungan antara statistik pertumbuhan ekonomi dan statistik pengangguran. Kita tidak perlu merisaukan apakah target pengangguran pada 2014 akan tercapai atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah target kemiskinan tercapai atau tidak. Selain itu, kita juga perlu memusatkan perhatian pada aspek kemiskinan lain, yang tidak sekadar diukur dari konsumsi mereka. Misalnya, kita perlu melihat apakah target kesehatan dan pendidikan tercapai.

Wiro kemudian menutup obrolan dengan mengingatkan Ojan dan Anah untuk berpartisipasi dalam Sensus Penduduk 2010. Di situ ada data pengangguran, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, suku, dan agama.“Partisipasi kita semua akan meningkatkan mutu statistik kita dan akan meningkatkan pemahaman kita mengenai kita semua,penduduk Indonesia.”(*) 

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, ,

2 Responses

  1. sarastri says:

    pak,

    bicara soal sensus, sy masih belum jelas, kenapa suku ditanyakan, kaitannya apa ? karena, petugasnya jg bingung, akan nulis sukunya apa, jika, bapaknya dr jawa, ibunya dari sumatra, terus anaknya suku apa..?

    salam

    • mletiko says:

      Statistik suku bangsa pernah dikumpulkan tahun 1930, di jaman pemerintahan Belanda. Setelah kemerdekdaan, statistik ini tidak dikumpulkan, karena pemerintah kuatir akan menimbulkan kerusuhan. Baru di jaman reformasi kita berani melihat wajah kita sendiri. Di sensus penduduk 2000 kita mulai mengumpulkan statistik kependudukan.

      Kita mengikuti suku bangsa Bapaknya. Kalau Bapaknya Jawa, Ibunya Sunda, anaknya disebut Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: