Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

MENGHADAPI ERA PELEDAKAN PENDUDUK LANSIA

Aris Ananta
 SEPUTAR   INDONESIA,  20 April 2010
 Biasanya orang bergembira ketika hari ulang tahunnya tiba. Namun, bagi Broto, bukan nama sebenarnya, ulang tahun ke-55 tahun ini bukan sesuatu yang menyenangkan karena tahun ini dia harus berhenti bekerja.

Dia harus pensiun. Dia harus punya pekerjaan baru untuk membiayai hidupnya. Uang pensiun yang bakal dia terima tidak akan mencukupi. Menurut seorang kawan, angka harapan hidup seorang laki-laki di Indonesia saat ini hampir mencapai 70 tahun. Jadi berapa lama lagi kira kira seorang laki-laki seperti Broto akan hidup? Minimal 15 tahun atau katakanlah 20 tahun hingga usia 75 tahun. Nah, selama 20 tahun itu, pengeluaran Broto untuk kesehatan pasti meningkat. Maka uang pensiun yang dia terima tidak akan mencukupi untuk membiayai sisa hidupnya. Karena itu, ketika dia masih sehat dan mampu bekerja, dia sebenarnya ingin terus bekerja untuk dapat membiayai diri sendiri dan keluarganya. Namun, usia telah menyebabkan dia harus berhenti bekerja. Broto sesungguhnya mempunyai hak untuk bekerja.

Hak asasinya telah dilanggar. Dia hanya bisa berkeluh- kesah dan berharap mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik, yang tidak menggunakan usia sebagai kriteria untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Kebetulan Taufik, bukan nama sebenarnya,yang masih berusia 23 tahun mendengar keluhan Broto. Taufik mengaku jengkel dengan keluhan Broto. Dia mengatakan, Broto sangat egois karena sudah lama bekerja minimal 30 tahun. Sedangkan dia, yang baru lulus dengan S-1 ekonomi, tidak kunjung mendapat pekerjaan. Menurut Taufik, Broto perlu dipensiunkan agar memberi kesempatan pada yang muda untuk dapat bekerja dan meningkat dengan cepat. Taufik ternyata bekerja di instansi yang menggunakan sistem senioritas. Karyawan yang lebih tua mendapat prioritas.

Berbagai posisi diutamakan pada yang lebih tua.Tak mengherankan Taufik sangat senang dengan sistem pensiun. Dengan sistem pensiun, terutama pada usia pensiun 55 tahun, Taufik akan mempunyai kesempatan meningkat dengan lebih baik, apalagi usianya juga akan bertambah. Di sinilah dilemanya.

Mau membantu yang tua agar dapat terus membiayai diri sendiri? Dari sisi ini, usia pensiun memang sebaiknya dihapuskan agar orang masih dapat terus bekerja selama dia memang masih mampu dan mau bekerja. Penghapusan usia pensiun juga menjamin hak asasi tiap manusia untuk bekerja. Mau pensiun atau tidak adalah soal pilihan, bukan karena usia.

Di pihak lain, dalam sistem senioritas, usia pensiun diperlukan agar yang muda dapat naik. Karena itu, bersamaan dengan penghapusan usia pensiun, sistem senioritas juga harus dihapuskan. Taufik yang masih berusia 23 tahun berhak mendapatkan gaji atau posisi yang tinggi bila dia memang mampu. Seorang nenek berusia 75 tahun juga berhak mendapat gaji dan posisi yang tinggi bila dia memang mampu. Dengan kata lain, penentuan apakah seseorang mendapatkan pekerjaan dan berapa balas jasa yang diterima sebaiknya bergantung pada produktivitas mereka, bukan pada usia mereka, apakah mereka muda atau tua. Broto dan Taufik tampaknya senang dengan pemikiran ini. Broto senang karena dia berhak untuk bekerja terus selama dia mampu. Taufik juga senang karena dia mempunyai kesempatan untuk “meloncat”, tanpa menunggu teman-temannya yang lebih tua.

Tapi, Laksmi, bukan nama sebenarnya, tampak tidak terlalu bersemangat mendengar usulan penghapusan usia pensiun, penghapusan sistem senioritas, dan pelaksanaan sistem bekerja sesuai produktivitas. Laksmi yang berumur 50 tahun telah merasakan bagaimana susahnya mengurus dan membiayai kedua orang tuanya yang berusia sekitar 80 tahun. Orang tuanya sudah tidak dapat bekerja sama sekali. Melakukan kegiatan sehari hari pun sudah sulit dan selalu membutuhkan bantuan orang lain. Biaya pengobatan juga banyak. Mereka juga tinggal jauh dari tempat tinggal Laksmi.

Orangtua Laksmi tidak pernah mendapat pensiun karena dulu mereka bekerja di instansi yang tidak mengenal sistem pensiun. Laksmi membayangkan, kalau saja orang tuanya dulu bekerja di instansi yang mengenal sistem pensiun, tentu hidup mereka sekarang lebih terbantu. Walau kecil, uang pensiun akan masih bermanfaat untuk kedua orang tuanya. Itu sebabnya, Laksmi tidak sependapat dengan penghapusan usia pensiun. Dia tidak ingin orang lain mengalami nasib seperti kedua orang tuanya. Orangtua Laksmi masih dapat hidup karena Laksmi dan kakaknya membantu kedua orang tua mereka. Namun, bagaimana dengan para lansia yang anak-anaknya tak mampu membiayai mereka? Itulah kelemahan sistem yang mendasarkan pada produktivitas yakni berdasarkan kekuatan pasar, tanpa memandang usia.

Mereka yang tidak mampu bekerja tidak mendapat perhatian. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah perlu campur tangan. Pemerintah perlu menciptakan sistem jaminan sosial, yang diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar tidak mampu bekerja. Mereka yang tidak mampu bekerja ini tidak terbatas pada para lansia, tetapi juga orang muda yang memang benar-benar tidak dapat bekerja. Tidak semua lansia berhak mendapatkan bantuan dalam sistem jaminan sosial ini. Hanya mereka yang benar-benar tidak mampu bekerja yang mendapat bantuan ini.

Jaminan sosial ini juga mencakup biaya kesehatan. Karena itu, suatu sistem jaminan sosial yang adil dan berkelanjutan perlu diciptakan. Harus adil sehingga mengurangi rasa iri di masyarakat. Harus berkelanjutan dalam arti pemerintah dapat terus mempunyai uang untuk membiayai sistem jaminan sosial ini. Persoalan mencari sistem jaminan sosial yang adil dan berkelanjutan ini memang bukan soal mudah. Semua negara di dunia kini menghadapi persoalan semacam ini. Di Eropa misalnya mereka terbiasa dengan uang pensiun yang relatif tinggi. Maka mereka kini menghadapi ancaman pembengkakan defisit anggaran pemerintah karena peningkatan yang luar biasa dalam jumlah lansia.

Di Asia Tenggara seperti Indonesia para lansia biasanya masih bekerja, membiayai diri mereka sendiri. Namun, siapa yang akan membantu mereka bila mereka tidak mampu bekerja? Karena itu,tugas kita sekarang adalah memikirkan sistem jaminan sosial yang adil dan berkelanjutan ini. Sementara itu, kita dapat mulai meniadakan usia pensiun dan sistem senioritas. Kita hapuskan usia sebagai kriteria, apakah seseorang dapat bekerja atau tidak, berapa penghasilan yang dapat diperolehnya, atau pun posisi apa yang dapat dipegang mereka. Kriteria yang dipakai adalah kemampuan atau produktivitas.

Advertisements

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, economy, poverty, , , , ,

3 Responses

  1. Haslim Mulyadi says:

    Menarik sekali pak Aris,
    Senang bisa mengikuti alur pikiran Pak Aris n Bu elvi..

    Sedikit pemikiran dari saya:
    Jaminan sosial yang bersifat subsidy tidak sustainable.. Apakah model cpf singapore, epf malaysia bisa dipelajari sebagai model jaminan sosial.
    Selain itu kedepanannya adalah peningkatkan produktivitas para tenaga kerja senior ini. Continuous training, learning and developement are required
    Untuk ttp bisa bersaing dalam sistem meritocracy ini.

    • mletiko says:

      Terimakasih banyak.

      Saya belum tahu secara persis mengenai sistem jaminan sosial yang adil dan berkelanjutan. Namun, saya yakin bahwa sistem jaminan sosial ini harus mencerminkan rasa keadilan dan dijamin berkelanjutannya (terutama dari segi keuangan).

      Sistem di Singapura atau Malaysia? Uang pensiun di dua negara ini sesungguhnya adalah tabungan mereka sendiri ketika mereka bekerja. Sistem ini baik baik saja, tetapi belum cukup.

      Sistem pay as you go banyak dilakukan di negara maju seperti Amerika Serikat dan negara di Eropa. Di sana, pemerintah mengeluarkan uang untuk menjamin hidup para lansia. Uang itu diperoleh dari penduduk yang masih bekerja. Jaminan pensiun memang relatif bagus. Tetapi, dengan peningkatkan pesat jumlah dan persentase penduduk lansia, pemerintah negara negara tersebut akan mengalami kesulitan dalam pemberian pensiun. Baby boomer, yang lahir tahun 50-an hingga 60-an, akan mulai menjadi lansia pada tahun 2015. Baby boomer itu menjadi older person boomer.

      Saya membayangkan suatu sistem campuran, antara membiayai sendiri dan bantuan pemerintah. Saya belum tahu persisnya. Kita dapat bersama sama memikirkan hal ini. Model ini dapat berguna untuk Indonesia, dan juga negara lain, baik yang berkembang mau pun yang sudah maju.

      Yang pasti: kita jangan lagi hanya memikirkan jaminan sosial untuk para lansia, termasuk pensiun. Kita perlu memikirkan penduduk Indonesia secara luas, baik yang muda mau pun yang tua. Sistem jaminan sosial itu juga ditujukan kepada penduduk muda yang tidak bisa bekerja sama sekali. Sebaiknya, tidak ada lagi pensiun. Yang ada sistem jaminan sosial untuk semua penduduk, tidak pandang umur. Disertai dengan merit system, penghapusan usia pensiun, dan penghapusan sistem senioritas.

      Salam,

      Aris

  2. Pandya says:

    iya bagus tuh artikelnya pak aris. Pas waktu saya ulang tahun juga tanggal 20 april, mirip dengan si Taufik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 91 other followers

%d bloggers like this: