Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Harga Turun: Senyum atau Cemberut?

Aris  Ananta

SEPUTAR   INDONESIA, 6 April 2010

Pertanyaan yang dipakai untuk judul tulisan ini mungkin tampak konyol. Mendengar pertanyaan itu, Vidya,yang bukan ekonom, mengatakan dengan penuh semangat bahwa harga turun adalah hal yang bagus.  Dia dapat membeli barang dengan lebih banyak. “Jadi, Anda bergembira ketika Maret yang lalu harga turun?” “Benar,” kata Vidya.“Saya mendengar BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan bahwa pada Maret yang lalu terjadi deflasi.”

Vidya tahu arti deflasi yaitu penurunan harga. Ini berlawanan dengan inflasi yang berarti kenaikan harga. Mungkin Vidya pernah membaca tulisan saya “Memahami Statistik Ekonomi: Inflasi Turun, Daya Beli Meningkat?” di Seputar Indonesia pada 10 Maret 2010.

Tiba-tiba Sindung, teman saya yang ekonom, ikut nimbrung. Dia ternyata tidak gembira dengan deflasi atau penurunan harga di Indonesia. Kalau deflasi ini berkelanjutan, gairah ekonomi (bisnis) akan turun. Akibatnya pertumbuhan ekonomi akan turun.

“Tapi,” lanjut Sindung, “Jangan khawatir, deflasi ini tidak akan lama. Tak lama lagi juga akan terjadi inflasi.”

Kini giliran Vidya yang protes. Dia heran mengapa Sindung justru mengharapkan inflasi segera kembali ke Indonesia, Sindung tidak senang dengan penurunan harga.

Saya mengerti kerisauan Vidya. Saya mencoba menjelaskan kepadanya bahwa perhitungan inflasi dan deflasi (kenaikan atau penurunan harga) di Indonesia sangat dipengaruhi dengan apa yang terjadi pada harga beras. Pada Januari lalu inflasi mencapai 0,84%. Hal ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga beras. Setelah panen beras pada Februari, inflasi Februari menurun menjadi 0,30%. Dampak panen beras baru terasa pada Maret, ketika harga beras turun. Ini menyebabkan inflasi yang negatif atau yang disebut deflasi, penurunan harga.

“O, harga beras turun?” Vidya bertanya, “Tetapi kenapa nasi yang saya beli di warung tidak turun harganya?”

Saya kemudian menjelaskan bahwa yang turun memang harga beras, bahan makanan, dan bukan harga beras yang sudah ditanak menjadi nasi. Yang juga turun adalah harga cabai merah dan ikan segar.

Namun, Vidya masih tetap tidak paham apa yang dikatakan Sindung. Vidya berpendapat bahwa dia memang tidak merasakan penurunan harga pada Maret karena yang dia beli bukan beras, tetapi nasi.

Dia juga tidak suka cabai merah dan ikan segar. Tetapi,Vidya juga mengatakan bahwa masyarakat di kelompok rendah tentu senang dengan penurunan harga beras, cabai merah, dan ikan segar. Menurut dia, konsumsi beras merupakan bagian besar dari pengeluaran mereka yang berpendapatan rendah.

“Maksud Anda, penurunan harga ini menguntungkan orang miskin?” saya bertanya.

“Ya, benar,” kata Vidya, “Deflasi ini bagus. Semoga berkelanjutan.”

Kali ini Sindung yang sewot, “Kalau deflasi terjadi terus-menerus, pertumbuhan ekonomi akan menurun. Orang miskin akan sengsara!”

Saya lalu menengahi. Kalau pengukuran keberhasilan pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi, deflasi yang terus menerus memang tidak baik untuk pembangunan ekonomi.Tiap tiga bulan sekali kita mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi. Kita bangga bahwa pertumbuhan ekonomi kita pada 2009 masih mencapai 4,5%, walau dunia dilanda krisis global dan banyak negara yang mengalami pertumbuhan negatif. Kita juga mengharapkan dan memperkirakan angka pertumbuhan ekonomi kita akan terus naik. Memang, kita mengukur keberhasilan ekonomi kita dari pertumbuhan ekonomi.

“Bagaimana kalau diukur dengan angka kemiskinan?” Vidya menyela dengan tidak sabar.

“Kita harus sabar menunggu setiap tahun. Kita menghitung statistik kemiskinan setahun sekali, bukan sekali dalam tiga bulan,” saya mencoba menjelaskan.

“Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi, akan kemiskinan pasti turun juga,” tambah Sindung.

Obrolan menjadi tambah panas. Saya mencoba menyabarkan Sindung. Pada 2009 angka pertumbuhan ekonomi masih relatif tinggi yaitu 4,5%. Tetapi, itu penurunan dari 6,1% pada 2008. Namun, angka kemiskinan tetap turun! Jadi, jangan tergesa-gesa menyebutkan ada kaitan antara pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan.

Vidya kini tersenyum. Dia kemudian mengusulkan agar Presiden mengumumkan angka kemiskinan tiap tiga bulan sekali. Dia juga yakin BPS dapat melakukan hal ini karena dia tahu betul mutu para statistisi di BPS.

Saya senang dengan usulan Vidya. Tetapi, saya risau dengan dana untuk mengumpulkan statistik kemiskinan tiap tiga bulan. Maka, saya lalu meminta pendapat pada dua teman saya tersebut. “Bagaimana kalau kita usulkan ke menteri keuangan dengan tembusan ke wakil presiden dan menko perekonomian agar pemerintah memberi dana ke BPS untuk menghasilkan statistik kemiskinan tiap tiga bulan?”

“Wah,itu perubahan paradigma pembangunan. Dari yang berorientasi ke pertumbuhan ekonomi ke paradigma yang berorientasi ke pengurangan kemiskinan. Kalau pemerintah setuju, ini luar biasa,” sambut Vidya dengan penuh semangat.

Saya lalu mengatakan bahwa saya optimistis pemerintah mengerti hal ini. Pemerintah tampaknya memang memberi perhatian yang besar pada pengurangan kemiskinan. Namun,kita semua perlu terus memberi dukungan dan masukan yang dapat membantu mereka melaksanakan pembangunan yang berorientasi ke pengurangan kemiskinan. Antara lain dengan usulan tadi, melaporkan angka kemiskinan tiap tiga bulan sekali.

Sindung dengan cepat ikut nimbrung lagi. Dia amat setuju dengan usulan itu, melaporkan statistik kemiskinan tiap tiga bulan.

“Nanti akan terbukti,” kata Sindung “bahwa penurunan angka kemiskinan berkorelasi positif dengan kenaikan angka pertumbuhan ekonomi”.

Sindung masih percaya betul bahwa pertumbuhan ekonomi pasti disertai dengan penurunan angka kemiskinan. Sementara itu, Vidya juga sangat yakin bahwa penurunan kemiskinan belum tentu berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Saya katakan bahwa pertumbuhan ekonomi itu masih diperlukan. Namun, perhatian ke pengurangan kemiskinan juga amat penting. Apakah memang ada kaitan antara pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan biarlah menjadi topik penelitian Sindung, yang sedang mengikuti postdoctoral program di Eropa.

“Mas Sindung tidak merasakan manfaat turunnya harga beras dan cabai merah soalnya Mas Sindung berada di Eropa,” kata Vidya dengan tertawa.

“Sudahlah. Yang penting kita bertiga setuju bahwa pemerintah perlu mengeluarkan statistik kemiskinan tiga bulan sekali,” saya mencoba mengakhiri obrolan santai tapi serius ini.

“Setuju banget,” kami bertiga serempak menjawab.

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: