Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Beberapa Tantangan Ekonomi China

SEPUTAR INDONESIA, 30 Maret 2010

Baru-baru ini perusahaan China yang bergerak di bidang jalan kereta telah memenangkan kontrak 24 tahun untuk membangun dan mengurusi jalan kereta api batu bara (coal rail way) di Indonesia.

Proyek ini akan membangun rel kereta di sepanjang 307 km untuk membawa batu bara dari Banko Tengah, Sumatera Selatan ke Srengsem, Lampung. Perusahaan China tersebut bekerja sama dengan PT Bukit Asam Transpacific Railway. Perusahaan China dan PT Bukit Asam masing-masing memiliki 10% saham di PT Bukit Asam Transpacific Railway, sedangkan mayoritas sahamnya dipegang oleh perusahaan swasta IndonesiaTranspacific.

Ketika proyek ini selesai pada 2014, jalur kereta api ini diharapkan mampu membawa 27 juta ton batu bara per tahun. Dalam pembangunan rel kereta api ini, China ternyata tidak hanya melihat Indonesia. Negeri itu juga berambisi untuk membangun jaringan kereta internasional yang menghubungkan China dengan negara-negara ASEAN, Asia Tengah, dan Eropa.

China ingin menjual teknologi kereta super cepat, gaotie, menyaingi LGV di Prancis dan Shinkansen di Jepang. Masih banyak kegiatan lain yang telah dan akan dijalankan China. Saat ini China pun sering dikatakan sebagai ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS). Beberapa pengamat mengatakan, ada kemungkinan China akan menggeser AS menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Jumlah penduduknya yang luar biasa besar kira-kira 1,3 miliar, kini telah menjadi aset yang sangat berharga bagi China. Dahulu pada era 1960-an, jumlah penduduk yang besar hanya dilihat sebagai beban. Pertumbuhan ekonomi yang cepat telah mengubah jumlah penduduk menjadi aset. Padahal, jumlah penduduk China empat kali lipat dari jumlah penduduk AS. Angka kelahiran yang tinggi pada 40 tahun lampau membuat China memiliki penduduk muda yang banyak.

Dengan program penurunan angka kelahiran, termasuk program satu keluarga satu anak, jumlah anak yang dilahirkan per perempuan menurun drastis. Anak yang dilahirkan kemudian mempunyai mutu yang lebih tinggi. Namun, karena jumlah penduduk perempuan masih terus meningkat, jumlah penduduk muda pun terus meningkat.

Mereka inilah penduduk muda yang lahir dari keluarga dengan jumlah anak amat sedikit dengan mutu yang tinggi. Hal ini telah menjadi salah satu penyumbang utama pesatnya ekonomi China. Program penurunan angka kelahiran telah banyak menyumbang keberhasilan ekonomi China.

Namun, ancaman juga muncul dibalik keberhasilan ini. Penduduk China segera menua karena jumlah dan persentase penduduk tua meningkat dengan cepat. Setelah 2015 dan 2020 jumlah angkatan kerja di China akan menurun terus. Tampaknya China harus segera memikir ulang strategi pembangunannya. Mereka tak dapat mengandalkan pada jumlah penduduk muda bermutu yang melimpah ruah.

Sebaliknya, mereka harus dapat memanfaatkan penduduk lansia. Peningkatan penduduk muda dan pertumbuhan ekonomi juga berarti angkatan kerja menjadi lebih mahal. Kekurangan tenaga kerja mulai terasa di China. Tenaga kerja di China mulai meminta upah yang lebih tinggi, dan atau fasilitas yang lebih baik.

Dua hal ini, penuan penduduk dan peningkatan pertumbuhan ekonomi, tampaknya segera mengakhiri era tenaga kerja murah di China. Kalau hal ini terjadi, China akan menghadapi masalah dalam menghasilkan barang yang murah harganya. Alternatifnya, China akan memindahkan produksi mereka ke negara lain yang biaya tenaga kerjanya masih murah. Tantangan kedua adalah bagaimana mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di China.

Selama kira-kira 30 tahun, ekonomi China telah tumbuh di atas 10% per tahun. Namun, pertumbuhan yang amat tinggi ini ada batasnya. Seperti seseorang yang lari, lari, dan lari lebih cepat. Kalau tidak, dipaksakan lari terus, ia akan kolaps, dan temperatur tubuhnya akan panas. Demikian pula dengan perekonomian. Masalahnya, dalam perekonomian, psikologi pemain di sektor bisnis amat berperan.

Kalau pertumbuhan ekonomi turun, para pebisnis dapat kurang percaya pada perekonomian. Kekurangpercayaan ini dapat mengurangi investasi mereka. Itu sebabnya, Pemerintah China juga menghadapi dilema, antara meneruskan pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.

Gejala peningkatan spekulasi mulai tampak dari kenaikan yang sangat cepat pada sektor properti. Penyaluran pinjaman mulai terlihat terlalu banyak sehingga dapat menyumbang pada peningkatan inflasi dan spekulasi. Artinya mau tak mau, China harus mau mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat. Apalagi bila pertumbuhannya dipicu oleh melejitnya sektor keuangan yang penuh spekulasi.

Dengan pertumbuhan yang lebih lambat, dapat berarti berkurangnya ekspansi ke negara lain. Banyak negara mungkin akan “menderita” karena sangat bergantung pada impor dari China. Tantangan ketiga adalah ketimpangan pendapatan, baik individu maupun regional karena pertumbuhan ekonomi yang cepat terutama terjadi di daerah selatan. Pemerintah China juga telah berusaha untuk mengintegrasikan perekonomian dalam negeri mereka dan mengurangi ketimpangan regional.

Kalau tak dapat diatasi, ketimpangan ini dapat memicu ketidakstabilan politik. Tantangan keempat adalah demokratisasi di China. Mereka mempunyai penduduk muda yang cerdas, sehat, dan beraspirasi dunia. Globalisasi dan angka kelahiran yang rendah menyebabkan peningkatan kesadaran politik penduduk muda ini. Akan sangat menarik mengikuti bagaimana Pemerintah China berusaha menangani kelompok ini.

Akankah China berubah dari negara otoriter ke suatu negara demokrasi? Mereka menghadapi persoalan, apakah mereka mau mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, tetapi mengalami proses demokratisasi. Di pihak lain, mereka juga menyadari bahwa proses demokratisasi pasti akan terjadi,lambat atau cepat. Kalau China dapat mengatasi empat tantangan ini dengan baik, China akan menjadi superpower di dunia, menjadi negara demokratis paling kaya di dunia.

Walau begitu, China tampaknya membutuhkan waktu yang agak lama untuk memasuki era demokratisasi. Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia, yang telah memulai era demokratisasi sejak 1998. Indonesia perlu meneruskan proses demokratisasi ini, menjaga pertumbuhan ekonomi yang tak perlu tinggi,menurunkan angka kemiskinan dan ketimpangan pendapatan nasional baik individual maupun regional, menjaga lingkungan hidup dan sumber daya alam, serta meningkatkan mutunya.

Kalau Indonesia berhasil dan China saat itu baru memulai proses demokratisasi, Indonesia mempunyai kemungkinan untuk juga menjadi salah satu superpower demokratis di dunia setelah AS. Tentu saja ini dengan asumsi negara lain seperti India tidak melakukan hal yang serupa dilakukan oleh Indonesia atau China sendiri tiba-tiba melakukan proses demokratisasi tak lama lagi. Akankah skenario ini terjadi? (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , ,

4 Responses

  1. Laksmi Haninda says:

    Mestinya negara seperti China juga mulai melihat kegagalan negara-negara maju saat ini. Alih-alih memajukan sektor finansial, kenapa tidak lebih memperhatikan kesejahteraan rakyatnya secara langsung, yaitu dengan cara :
    – lebih memperhatikan lingkungan dan kesehatan
    (misalnya : menerapkan pola pertanian organik
    dengan sedikit air, menerapkan diet vegetarian)
    – menghentikan perdagangan rokok, alkohol dan
    narkoba
    – lebih memberikan pendanaan pada sektor energi
    berkelanjutan dan non emisi, seperti : energi
    angin, energi ombak, energi matahari dan juga
    energi gravitasi

    Apa gunanya menjadi superpower demokratis kalau rakyat tidak sehat, alkohol dan narkoba merajalela dan emisi gas rumah kaca terus meningkat dengan tajam?

    Semoga beberapa hal di atas berguna sebagai bahan pemikiran para penggagas dunia…

  2. Sari says:

    Nampaknya memang akan menjadi kenyataan, akan makin banyak investment dr China menuju Indonesia karena alasan labour cost di China yg makin meningkat.

    Hal itu dijelaskan dalam berita Jakarta Post, ikuti link ini.
    http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/31/ri-new-horizon-plant-relocation-china.html

    Apakah hal ini baik atau buruk bagi Indonesia?

  3. edy says:

    Jangan mengagung-agungkan demokrasi, apabila tidak diatur secara bijak dan dibatasi akan kebablasan dan cenderung mengarah pada prilaku semau gue, demokrasi bertahap dengan melihat kesiapan rakyat adalah amat perlu, sebab jika tidak maka yang terjadi ya seperti di Indonesia ini, masa foto lambang negara/presiden diinjak dan diludahi… benar2 kelakuan yang rendah dan memalukan bangsanya sendiri, mungkin wajar kalau dilakukan orang gila, tetapi kalau mahasiswa yang melakukan ya jadilah mahasiswa2 gila.

    • mletiko says:

      Mas Edy,

      Terimakasih. Semua yang diagung-agungkan memang jelek. Jadi lupa diri. Menurut pengamatan saya, kita sedang belajar demokrasi. Banyak liku liku yang menyakitkan dan menggelikan. Tetapi, saya optimis, bangsa kita akan cepat belajar.

      Salam,

      Aris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: