Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Memahami Statistik Ekonomi: Inflasi Turun, Daya Beli Meningkat?

Aris Ananta

Seputar Indonesia, 10 Maret 2010

Seorang kawan pernah meluapkan kekecewaan pada statistik pemerintah yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).Dia marah dan mengatakan bahwa data BPS ngawur dan BPS tidak melihat kondisi lapangan.

”Baca di koran enggak? Katanya, angka inflasi turun,dari 0,84% pada Januari 2010 ke 0,30% pada Februari 2010. Padahal, di pasar harga-harga tetap naik. Kalau Anda tidak percaya, ayo kita ke pasar!”

Saya mencoba menenangkan teman saya ini.Saya katakan ke teman tersebut bahwa sekarang sudah memasuki Maret 2010. Data yang diumumkan BPS itu untuk Februari 2010.Dengan begitu,kita tidak bisa mencocokkan data BPS itu dengan yang sekarang terjadi di pasar.

”Baik. Kalau begitu,Anda percaya saja pada saya.Hampir setiap minggu saya pergi ke pasar. Bulan lalu saya juga ke pasar.Dan bulan lalu pun saya melihat kenaikan harga itu. Nah, apakah ini cocok dengan data BPS?”

Saya bertanya kepada teman tersebut,apa saja yang ia beli bulan lalu. Teman saya agak meradang dengan pertanyaan saya.

”Tentu saja saya beli beras. Juga cabe rawit, yang jadi hobi saya.”

”Anda beli ikan segar dan telur ayam ras atau tidak?”

”Tentu saja tidak, saya vegetarian. Lalu,ada apa?”

”Anda beli minyak goreng?”

”Saya mengikuti pola hidup sehat, saya jarang menggoreng.”

”Bulan lalu,Anda membeli pakaian atau tidak?”

”Saya orangnya sederhana. Tidak berhobi membeli pakaian. Bulan lalu saya sama sekali tidak membeli pakaian.Pertanyaan Anda makin aneh saja!”

”Beli emas?”

”Pertanyaan apa lagi ini. Saya tak punya uang untuk membeli emas.”

Melihat teman saya makin kesal dengan pertanyaan saya, saya pun kemudian mengatakan kepadanya bahwa kebetulan sekali barang-barang yang tidak dia konsumsi (ikan segar, telur ayam ras, minyak goreng, pakaian, dan emas) sedang mengalami penurunan harga pada Februari. Celakanya, harga beras dan cabe rawit, yang dia konsumsi, justru meningkat banyak. Saya katakan kepadanya bahwa dia kesal pada data BPS karena dia mengonsumsi barang-barang yang harganya naik. Kebetulan pula dia menyewa rumah dan sewa rumah memang naik pada Februari.

Teman saya terdiam, tetapi dia tampak sangat tidak puas. Dia paham bahwa angka inflasi 0,30% pada Februari 2010 itu angka ratarata. Yang turun dari Januari ke Februari adalah angka rata-rata. Tiba-tiba dia mengalihkan persoalan. ”Anda ingat tidak bahwa angka inflasi pada 2009 jauh lebih rendah daripada angka inflasi pada 2008?”

”Ya, ingat. Inflasi mencapai 11,06% pada 2008,kemudian turun drastis menjadi 2,78% pada 2009.”

”Jadi,rata-rata harga pada 2009 jauh lebih rendah daripada pada 2008 bukan?” tanya teman saya dengan tertawa yang setengah mencemooh.

”Oh.Tidak.”

”Kalau begitu, benar kan bahwa BPS ngawur,” kata teman saya dengan senyum lebar.

Saya kemudian menjelaskan bahwa angka inflasi menunjukkan rata-rata kenaikan harga. Angka inflasi bukanlah rata-rata harga, melainkan rata-rata kenaikan harga. Kalau inflasi turun, yang turun adalah kenaikannya.Selama masih naik, walau kenaikannya turun, harga tentu terus menjadi lebih mahal. Itulah yang menyebabkan tampak ada ”ketidakcocokan” di statistik dan di pasar. Inflasi yang menurun memang tidak mengatakan harga yang menurun. Selama masih ada inflasi (selama inflasi masih positif), harga masih akan naik terus.

Teman saya terdiam. Mencoba merenung, perbedaan antara kenaikan harga dan harga itu sendiri. Penurunan inflasi berarti penurunan kenaikan harga,sedangkan harga itu sendiri masih meningkat.

Contoh lain yang amat mencolok adalah yang terjadi pada 2005 dan 2006.Angka inflasi turun amat drastis dari 17,11% pada 2005 menjadi 6,60% pada 2006. Harga turun dengan drastis? Daya beli masyarakat meningkat? Karena inflasi masih positif, rata-rata harga pada Desember 2006 hampir 25% lebih tinggi daripada rata-rata pada Januari 2005. Kalau tidak ada peningkatan dalam pendapatan,daya beli masyarakat justru menurun. BPS tidak salah karena di seluruh dunia inflasi memang menunjukkan kenaikan harga,bukan harga itu sendiri.

Teman saya menganggukangguk. Ia paham mengenai statistik inflasi.BPS tidak salah. ”Tetapi,” teman saya masih penasaran, ”Tidak perlukah kita menyajikan statistik yang lain agar kita dapat lebih memahami harga dan daya beli masyarakat?” Dia mengatakan bahwa kita perlu statistik selain inflasi. Selama ini dia selalu mengira bahwa inflasi yang turun berarti harga yang turun. Menurut dia, banyak orang lain yang berpikir seperti dia. Dia mengatakan, kalau bukan ekonom, tentu tidak akan tahu hal ini.

Saya menimpali, ”Ada juga ekonom yang tidak tahu hal itu…….Tetapi, mestinya itu hanya kebetulan saja.”

”Aris, bagaimana kalau tiap bulan pemerintah juga mengatakan bahwa harga-harga tetap terus naik,dan tidak hanya mengatakan apakah inflasi turun atau naik.Harga dikatakan turun, bila inflasi negatif.”

”Menurut teori ekonomi,harga yang turun itu tanda ekonomi lesu. Jadi, harga yang menurun tidak baik untuk perekonomian,” saya mencoba menerangkan ke teman itu.

”Aris,Anda ini bicara apa? Tiap bulan harga naik.Tapi, honor yang saya peroleh dari mengajar tidak naik tiap bulan. Bahkan setahun atau dua tahun pun sering tidak naik. Kalaupun naik, itu bukan karena penyesuaian dengan kenaikan harga.Penghasilan saya hanya meningkat kalau saya mengajar lebih banyak. Maaf,saya bukan ekonom.”

Saya terdiam.Tak dapat menjawab pertanyaan ini. Saya merenungi lagi semua teori ekonomi yang pernah saya pelajari. Memang kita perlu mempelajari lagi (re-learn) teori ekonomi.Kita perlu teman-teman yang bukan ekonom untuk memberikan pertanyaan fundamental untuk memaksa para ekonom (termasuk saya) mengkaji ulang ”dogma”yang sering kita pelajari, termasuk statistik yang kita pakai. Mungkin ada baiknya bila para ekonom mencoba ”memasyarakatkan” konsep ekonomi secara luas agar para bukan ekonom (dan juga ekonom) tidak menyalahartikan statistik ekonomi. Setiap pengumuman statistik ekonomi perlu penjelasan mengenai apa yang diperlihatkan statistik itu. Inflasi adalah salah satu contoh.(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , , , , , , , ,

6 Responses

  1. ab says:

    Menarik tulisannya Prof. Memang ekonom perlu lebih menjelaskan mengenai perihal inflasi ini. Ada pandangan bahwa inflasi rendah adalah prestasi, seperti dikatakan oleh Ibu Menteri.

    http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=39502:inflasi-2009-278-terendah-dalam-10-tahun-terakhir-&catid=522:05-januari-2010&Itemid=135

    Menurut hemat saya, adalah lebih penting untuk melihat sumber atau penyebab inflasi itu daripada angka inflasi itu sendiri. Inflasi rendah, bila disebabkan menurunnya daya beli mungkin pertanda kurang baik. Sementara inflasi relatif tinggi, yang disebabkan oleh membaiknya daya beli dan kondisi perekonomian bisa jadi lebih baik.

    Salam,

    • mletiko says:

      Betul sekali. Pertama, para ekonom (termasuk saya) perlu lebih giat memahami statistik ekonomi, termasuk bagaimana statistik tersebut dikumpulkan dan dihitung. Kedua, para ekonom (termasuk saya) perlu menyebarkan arti statistik ekonomi tersebut ke masyarakat luas.

  2. sarastri says:

    salam kenal, pak Aris…

    alhamdulillah…, sy bs menemukan blognya pak Aris…

    sy sangat senang,, setelah membaca artikel ttg inflasi… n menjadi lebih mnegerti….

    usul saya…, bapak bisa lebih banyak menjelaskan hal2 yg mendasar dr ilmu ekonomi seperti artikel inflasi ini…

    semoga bapak n ibu selalu sehat, sehingga saya bisa mendapatkan ilmu lebih banyak lagi…. he he…

    terima kasih ya pak n ibu ….

    • mletiko says:

      Mbak Sarastri,

      Terimakasih banyak. Saya memang mencoba menguraikan asumsi substantif di balik statistik ekonomi-sosial. Kadang kadang, ada teman ekonom yang lupa pada asumsi substantifnya.

      Misalnya, apa beda GNP dan GDP? Mengapa kita jarang jarang memakai GNP?

      Salam,

      Aris

      Semoga

  3. sarastri says:

    pak Aris,

    maaf.., apa karena negara ingin dinilai baik n sehat, maka data yang dikeluarkan antara lain, GDP n pertumbuhan ekonomi, seperti yang bapak ungkapkan pada tulisan ttg “investasi asing, ekspor dan pendapatan nasional”, tanpa mengeluarkan data statistik kemiskinan, seperti pada tulisan, “harga turun: senyum atau cemberut?”
    sehingga negara bisa mendapatkan penilaian yg baik dari dunia, yg pada akhirnya negara asing ingin berinvestasi disini ? n berharap dengan investasi tersebut negara bisa berkembang menjadi lebih baik n maju ?

    salam

    • mletiko says:

      Mbak Sarastri mengajar teori ekonomi makro? Kalau ya, ubahlah isinya. Masukkan diskusi kemiskinan dalam pembahasan teori ekonomi makro. Jadikan kemiskinan sebagai dependent variable. Jadikan perubahan pendapatan sebagai salah satu determinan kemiskinan

      Memang, buku teks ekonomi makro perlu dirombak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: