Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Naikkan Suku Bunga Penabung Kecil

Aris Ananta

Seputar Indonesia 23 Februari 2010

Agustus tahun lalu Nida sangat marah dengan perbankan Indonesia. Garagaranya, nilai tabungannya menurun setelah setahun didiamkan.

Dia juga mengeluh pada orang tuanya yang meminta untuk menabung di bank. Sebagai mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua, Nida memanfaatkan bank untuk menabung uang kiriman orang tua.Tabungan itu dimaksudkan sebagai cadangan jika ada keperluan mendadak. Selama setahun dia tidak memanfaatkan dana tersebut, hingga pada Agustus lalu saat kiriman orang tuanya terlambat. Namun, dia sungguh stres karena tidak bisa mengambil uangnya. Jumlah tabungannya sudah berkurang banyak sekali. Nida baru sadar bahwa nilai tabungannya terlalu sedikit.

Sudah bunganya terlalu kecil, kena pajak lagi. Bunga ini lebih rendah dari biaya administrasi sehingga dalam setahun uang Nida justru terus menurun. Bukan hanya Nida yang stres. Orang tuanya pun ikut stres. Beruntung, masih ada sistem tradisional, yaitu memanfaatkan jaringan pertemanan.Nida pun mendapatkan pinjaman dari teman orang tuanya. Nida marah karena bank tidak memberitahukan kemungkinan ini. Nida merasa tertipu.Jumlah setoran minimal yang disyaratkan bank tampaknya tidak menjamin bahwa uangnya tidak akan berkurang.

Untung, orang tua Nida sebulan kemudian mengirim tambahan uang untuk ditabung di bank agar jumlahnya tidak terus berkurang sehingga dapat digunakan sebagai dana cadangan untuk Nida. Sabtu, 20 Februari 2010, Nida pantas bergembira mendengar pengumuman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden mencanangkan “Gerakan Indonesia Menabung” melalui peluncuran produk perbankan yang dinamakan “TabunganKu”.Dengan menabung di program ini nasabah tidak akan terkena biaya administrasi. Nida dan banyak “Nida” lainnya tidak perlu risau lagi dengan tabungannya. Selain itu,setoran awal tabungan pun turun dari selama ini sekitar Rp100.000 menjadi hanya Rp10.000 di BPR atau BPR Syariah dan Rp20.000 di bank umum.

Dua hal ini memungkinkan kelompok berpendapatan menengah ke bawah untuk menabung tanpa harus kehilangan uangnya. Presiden mengatakan, program ini untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk berpenghasilan rendah dan menciptakan rasa keadilan.Presiden juga menganjurkan kalangan perbankan untuk memberikan pelayanan dan kemudahan bagi mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah untuk menabung.Jangan sampai mereka justru dirugikan karena menabung. Program “TabunganKu”, sebagai bagian dari “Gerakan Indonesia Menabung”, sungguh tepat. Gerakan ini dapat mengimbangi arus deras gaya hidup “kreditan”.

Saat ini kita sering mendengar program yang mendorong orang untuk membeli dengan kredit, mendorong orang untuk berutang. Untuk beberapa barang,kita tidak dapat membeli dengan tunai.Kebiasaan hidup “lebih besar pasak dari pada tiang” bukanlah kehidupan finansial yang sehat. Hal ini sangat bertentangan dengan nasihat orang-orang tua dulu, untuk “berhemat-hemat dahulu, bersenang- senang kemudian”. Kebiasaan berutang ini tidak hanya merugikan pribadi yang bersangkutan. Gagal bayar dari perorangan dapat pula berakibat pada krisis di masyarakat luas.

Di Amerika Serikat, gagal bayar dari rumah tangga peminjam uang dari bank pada 2007 bahkan telah menyebabkan krisis setahun kemudian. Sebab itu, pemerintah, perbankan, dan masyarakat luas dapat melakukan kampanye besar-besaran untuk mendorong gaya hidup menabung, dan melawan gaya hidup “konsumsi secara kredit”. Kalau kita membeli rokok,kita melihat catatan yang mengatakan bahwa merokok berbahaya untuk kesehatan kita. Untuk setiap penjualan barang dengan kredit, kita perlu pula memberitahukan bahwa konsumsi secara kredit dapat membahayakan kesehatan finansial kita. Selain itu, suku bunga untuk penabung kecil juga perlu ditingkatkan. Selama ini suku bunga akan tinggi bila jumlah tabungan makin besar.

Kalau kita menaruh uang dalam bentuk deposito,yaitu kita tidak akan mengambil uang itu untuk saat tertentu, kita akan mendapatkan bunga yang lebih tinggi. Makin lama periode deposito, makin tinggi bunganya. Sebab itu,mereka yang berpendapatan rendah tidak diuntungkan dengan sistem yang selama ini berlangsung. Karena berpendapatan rendah, mereka juga lebih sulit untuk menaruh uang mereka dalam bentuk deposito. Perlu diingat bahwa inflasi pada kalangan berpendapatan rendah biasanya lebih tinggi dari pada inflasi pada mereka yang berpendapatan lebih tinggi.

Akibatnya, mereka yang berpendapatan rendah akan dirugikan dengan sistem yang sekarang berjalan. Bunga yang mereka terima lebih rendah, tetapi mereka menghadapi inflasi yang lebih tinggi. Lebih parah, kalau bunga (setelah kena pajak) lebih rendah dari inflasi, daya beli dari tabungan itu pun akan berkurang, walau secara nominal jumlahnya bertambah. Dengan demikian, untuk terus meningkatkan rasa keadilan dan mendorong kesejahteraan mereka yang berpendapatan menengah ke bawah,suku bunga untuk penabung kecil perlu dinaikkan. Suku bunga untuk penabung kecil harus di atas inflasi untuk mereka yang berpendapatan rendah. Tiap bulan suku bunga ini harus disesuaikan dengan inflasi pada bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik dapat diminta untuk mengeluarkan angka inflasi menurut kelompok pendapatan masyarakat. Mungkin tidak terlalu mudah untuk menentukan siapakah para penabung kecil.Mereka yang kaya pun dapat memanfaatkan hal ini dengan memecah-mecah tabungannya. Namun, kita tidak perlu risau dengan “keuntungan” yang ikut dinikmati oleh mereka yang kaya asalkan program tersebut benar-benar menguntungkan mereka yang berpendapatan menengah ke bawah. Salah satu cara untuk menciptakan keadilan tersebut adalah dengan menerapkan pajak pendapatan. Dalam pajak pendapatan, makin tinggi pendapatan kita, makin tinggi pajaknya.

Dalam tabungan, makin rendah tabungan kita,makin tinggi suku bunganya misalnya untuk tabungan sejumlah Rp2 juta. Tabungan Rp100.000 pertama mendapatkan bunga 8%. Berikutnya hingga Rp1 juta pertama mendapat bunga 7,5%,sisanya 7%. Ini hanya contoh.Angka-angka ini masih perlu dihitung dengan lebih cermat lagi. Pajak bahkan dapat ditiadakan untuk penabung kecil. Usulan ini intinya kelanjutan dari program “TabunganKu”,yang telah menghilangkan biaya administrasi dan menurunkan jumlah setoran minimal.Program ini akan sangat membantu penabung kecil. Untuk lebih menyukseskan “Gerakan Indonesia Menabung” perlu dipikirkan untuk memberikan suku bunga yang menarik bagi penabung kecil, dengan juga memperhitungkan inflasi di kalangan mereka yang berpendapatan rendah.

Bersamaan dengan menaikkan suku bunga, “Gerakan Indonesia Menabung” juga perlu disertai kampanye besar-besaran mengenai bahaya konsumsi dengan kredit. Semoga Pemerintah Indonesia dapat terus meningkatkan kebijakan moneter yang prorakyat miskin.(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , , ,

One Response

  1. Endih says:

    Tulisan yang sangat bagus Pak Professor…!!
    Mendorong kebiasaan menabung menjadi budaya mungkin harus dilakukan melalui pendidikan masyarakat secara berkelanjutan melalui pendidikan formal dan non-formal dalam bentuk IEC. Membiasakan menabung adalah sanagt baik sebagai langkah untuk membangun kapasitas individu untuk membangun landasan permodalan. Membangun landasan permodalan tersebut dapat dibentuk jika akumulasi saldo tabungan yang dimilki seseorang (di bank atau di bawah bantal, atau dalam tabungan tanah liat alias celengan sama saja) pada satu periode dapat menutupi biaya hidupnya dalam dua periode. Artinya jika seseorang atau satu keluarga memiliki cadangan uang yang merupakan hasil tabungannya dapat menutupi biaya hidup dalam dua periode, maka dikatakan orang tersebut atau keluarga tersebut memiliki kapasitas permodalan individu.
    Jika seseorang atau satu keluarga memiliki cadangan finansial seperti di atas ditambah dengan kemampuan re-investasi sebesar jumlah tersebut maka dapat dikatakan bahwa seseorang atau keluarga tersebut merupakan individu (unit) atau satuan investasi dasar skala rumah tangga yang terjamin.
    Pengalaman saya selama melakukan pemberdayaan masyarakat, bahwa faktor yang berpengaruh besar dalam membangun kapasitas permodalan individu adalah; (1) pengetahuan dalam pengelolaan finansial; (2) konsistensi dalam merencanakan, mengelola, mengendalikan dan mengevaluasi tabungan untuk investasi; (3) daya tahan terhadap godaan penggunaan uang yang direncanakan alokasinya untuk investasi (jangan samapi digunakan untuk konsumsi); (4) adanya peluang pengembangan usaha dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang tersedia; (5) keberadaan contoh keberhasilan yang menjadi daya tarik untuk investasi; (6) adanya sumber pendapatan awal untuk disimpan (ditabung). Mungkin masih banyak faktor yang berpengaruh tetapi dari 13 provinsi yang diwakili oleh 256 kelompok usaha bersama yang saya bangun. faktor-faktor tersebut adalah yang terbesar pengaruhnya.
    Keberhasilan dalam mengembangkan investasi juga sangat dipengaruhi oleh gender. Artinya keberhasilan menabung/investasi adalah sensitif gender. Kelompok yang didominasi perempuan dalam pengambilan keputusan 50 % lebih berhasil (dalam menabung dan mengelola keuangan) daripada kelompok yang didominasi oleh laki-laki. Sebaliknya keberhasilan pengembangan usaha dan investasi yang mengandung resiko tinggi lebih tinggi cenderung dicapai oleh kelompok yang pengambilan keputusannya didominasi oleh laki-laki.
    Kelompok yang didominasi oleh perempuan juga lebih konsisten dalam memegang teguh rencana, alokasi keuangan dan akuntabilitas pelaporan dengan tingkat efficacy, dan efficiency yang lebih baik daripada kelompok laki-laki.
    Mungkin dari uraian di atas dapat disarankan bahwa pendidikan menabung dan mengelola keuangan untuk investasi lebih baik dilakukan oleh perempuan dengan contoh/teladan yang realistik yang diambil dari kehidupan nyata.
    Pengenaan bunga tabungan yang tinggi juga mungkin harus dipertimbangkan sebagai kendala bagi pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan karena tingkat sukubunga tinggi akan secara otomatis mendorong turunnya tendensi seseorang atau kelompok usaha untuk melakukan kegiatan yang bersifat produktif. Selain itu bunga tinggi mendorong masyarakat untuk tidak mengalokasikan dananya yang bersifat memancing kegiatan produktif. Disisi lain perbankan akan sangat terpukul jika bunga terlalu tinggi karena penetapan suku bunga untuk kredit akan sangat sulit mencapai titik yang reasonable ditinjau dari sisi finansial maupun ekonomi.
    Apa hubungannya suku bunga tabungan dengan keadilan ekonomi?
    Ekonomi yang berkeadilan adalah sistem yang menjamin semua pelaku (stakeholder) ekonomi mampu mengelola dan mendistribusikan pendapatan domestik menjadi manfaat yang dapat dinikmati oleh seluruh individu secara proporsional sesuai effort masing-masing. Dalam definisi (hipotetis) ini mengandung arti bahwa indikator kesejahteraan bukanlah rata-rata tetapi indidu artinya kalau seorang ahli atau pejabat berbicara tentang kemakmuran bukanlah atas dasar average, misalnya percapita income Indonesia adalah US$ 2000. Nilai itu bukanlah cermin kemakmuran karena ada yang berpendapatan US$ 200. Disisi lain ada yang berpendapatan US$ 2000000000 per tahun. Jadi ukuran keadilan adalah jika nilai minimum pendapatan individu terendah dua kali lebih besar dari nilai kebutuhan hidup layak ditambah dengan kapasitas pemupukan modal untuk investasi selama satu periode pendapatan yangtelah ditabungkan. Rentang pendapatan dari sebuah negara yang makmur dan accountable ditunjukkan oleh sempitnya income lag………..
    Nah, mampukah Indonesia mewujudkan hal tersbut dalam lima tahun? Saya berani mengatakan TIDAK !!!! jika masih menganut sistem ekonomi kapitalis A La Amerika seperti sekarang ini. Indonesia adalah negara dengan ketimpangan pendapatan yang luar biasa hebat… Di Kampung tempat tinggal saya saja (Cilibende) dalam satu RW ada individu yang berpengahasilan US$ 120 per tahun, tetapi ada individu yang berpendapatan US$ 500000 per tahun…… Yang berpendapatan sebesar ini dengan mudah menghindar pajak dan terbebas dari kewajiban sosial terhadap lingkungannya… Taaaapiiiii orang yang berpendapatan US$ 120 sulit menghidari kewajiban sosial………

    Naah…. itulah uneg-uneg saya……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: