Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

AKU CINTA KONSUMEN INDONESIA

Aris Ananta

SEPUTAR INDONESIA, 16 Februari 2010

Paradigma pembangunan terus berubah sesuai tuntutan zaman.Sampai periode 1960- an banyak negara berkembang menganut paradigma industrialisasi pengganti impor (import substitution paradigm).

Paradigma ini pula yang dilakukan oleh banyak negara maju ketika ekonomi mereka belum maju. Mereka melindungi industri dalam negeri dari persaingan dengan dunia internasional. Zaman ini sering pula disebut dengan zaman proteksionis. Karena harga barang impor lebih murah daripada harga barang dalam negeri, konsumen dalam negeri pun memilih barang impor.

Konsumen bersyukur karena dapat menikmati barang yang murah dan mempunyai pilihan yang lebih banyak. Namun, produsen dalam negeri menderita karena usahanya rugi dan bahkan bangkrut. Menurut paradigma ini, industri dalam negeri masih terlalu lemah untuk dapat bersaing dengan pemain internasional. Karena itu, agar industri dalam negeri dapat tumbuh, pemerintah perlu mengurangi masuknya barang impor misalnya dengan menerapkan tarif yang tinggi pada barang impor.

Pemerintah juga membuat berbagai peraturan yang mempersulit masuknya barang impor.Menurut paradigma ini, industri dalam negeri masih terlalu lemah untuk dapat bersaing dengan pemain internasional. Setelah industri dalam negeri tumbuh dan kuat,pemerintah baru akan mengizinkan masuknya barang impor secara mudah. Di saat itu industri dalam negeri sudah kuat dan dapat bersaing dengan barang impor.

Itu sebabnya,menurut paradigma ini, konsumen dalam negeri perlu bersabar.Konsumen harus mau mengonsumsi barang dengan harga mahal. Konsumen perlu mendukung produksi dalam negeri.Ini semua demi mendukung industrialisasi dalam negeri. Untuk kasus Indonesia, pemerintah menggalakkan “Aku Cinta Produksi Indonesia”.

Namun, yang sering terjadi adalah bahwa perlindungan terhadap industri dalam negeri berlangsung dalam waktu yang lama. Konsumen pun harus bersabar dalam waktu yang lama untuk dapat menikmati harga yang murah. Tak ada motivasi di antara produsen untuk menjual barang dengan harga yang lebih murah. Untuk negara yang besar,pasar dalam negeri telah menciptakan kesempatan berbisnis yang menggiurkan.

Ditambah tak ada persaingan dari dunia internasional, industri dalam negeri––yang dilindungi pemerintah–– pun memperoleh keuntungan yang besar. Hal yang sebaliknya terjadi di beberapa negara kecil seperti Singapura, Taiwan,KoreaSelatan,dan Hong Kong pada 1960-an.Mereka sadar, konsumen dalam negeri mereka amat sedikit. Mereka tak dapat mengandalkan pasar dalam negeri.

Mereka harus melihat pasar internasional. Mereka pun menerapkan paradigma promosi ekspor (export promotion paradigm). Negara-negara ini mengurangi tarif dan mempermudah masuknya barang impor. Mereka juga memberi fasilitas pada investasi dari luar negeri (foreign direct investment). Dengan ekspor yang lebih tinggi mereka juga mampu mengimpor lebih banyak.

Konsumen dalam negeri pun menikmati barang dengan pilihan yang lebih banyak dan harga yang lebih murah. Sejarah menunjukkan bahwa pada 1970-an empat negara tersebut telah memetik hasil dari paradigma promosi ekspor. Keberhasilan ini menarik perhatian banyak orang dan juga ekonom.

Sejak akhir 1970-an paradigma promosi ekspor terus digulirkan. Pada periode 1980-an dan 1990-an hampir tiap negara di dunia mengikuti paradigma promosi ekspor ini. Ekspor telah menjadi leading sector dalam paradigma pembangunan di banyak negara. Sejalan dengan paradigma promosi ekspor ini, sejak 1990-an usaha melakukan “integrasi perekonomian” pun makin kuat.

Berbagai integrasi regional di tingkat internasional pun dilakukan, termasuk usaha penciptaan ASEAN Economic Community, yang berarti ada perdagangan bebas (free trade) dalam wilayah itu.Salah satu ide dasar dari penciptaan “wilayah ekonomi regional”, dengan melakukan integrasi ekonomi,adalah kepercayaan pada paradigma promosi ekspor.

Dengan terintegrasinya suatu wilayah,ekspor dari tiap negara anggota wilayah itu akan meningkat. Impor negara itu juga bertambah. Barang dan jasa di negara itu juga akan berlimpah dengan harga yang murah. Integrasi perekonomian ini tidak hanya mencakup perdagangan bebas,tetapi juga mencakup bebasnya arus modal dan arus tenaga kerja terdidik dalam wilayah ini.

Yang menarik adalah bahwa para penganjur integrasi perekonomian juga percaya bahwa arus tenaga kerja tak terdidik tak perlu diintegrasikan. Menurut penganjur integrasi perekonomian regional,“proteksi” adalah suatu kata yang amat jelek, yang tidak boleh dilakukan, kecuali dalam arus tenaga kerja tak terdidik.Yang lebih menarik adalah bahwa negara yang mempunyai banyak tenaga kerja tak terdidik pun kurang melakukan usaha untuk memasukkan tenaga kerja tak terdidik dalam integrasi ekonomi regional mereka. (bersambung)

SEPUTAR INDONESIA 17 Februari 2010

Kemudian, krisis melanda dunia. Apa yang terjadi pada rumah tangga di Amerika Serikat pada 2007 berdampak luas. Pada 2008, kita melihat bahwa krisis finansial itu menyebar ke seluruh dunia. Pendapatan banyak negara maju berkurang dengan drastis. Padahal, mereka lah pasar utama banyak negara berkembang. Akibatnya, negara yang sangat menggantungkan pada ekspor menjadi amat menderita. Kamboja adalah suatu contoh negara miskin yang barusan saja sangat bersemangat dengan promosi ekspor, dan kemudian sangat menderita gara-gara krisis global.

Orang pun sekarang kembali menaruh perhatian pada konsumen dalam negeri, sebagai salah satu cara untuk menghindar, atau mengurangi, dampak krisis global—yang mungkin dapat terjadi lagi. Untuk negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti Indonesia, perhatian yang besar ke pasar dalam negeri pun telah mulai diberikan. Menariknya, negara yang relatif kecil pun sekarang, gara-gara krisis global, terpaksa mengoptimalkan potensi dalam negeri mereka. Paradigma promosi ekspor, yang lebih terpusat ke pasar luar negeri, mulai dipertanyakan.

Apakah kita akan kembali ke zaman substitusi impor, ke zaman proteksi? Nampaknya, kita tidak akan kembali ke zaman 1960-an, yang menolak impor dan investasi asing. Namun, kita akan lebih memperhatikan pasar dalam negeri, bersamaan dengan perhatian ke pasar luar negeri. Ekspor masih diperlukan, tetapi bukan lagi menjadi leading sector dalam pembangunan.

Kalau kembali ke periode 1960-an, konsumen dalam negeri harus bersabar lebih lama sebelum mereka dapat mengonsumsi barang dan jasa dalam jumlah yang lebih banyak, lebih bermutu, dan lebih murah. Kita sebaiknya tidak kembali ke zaman 1960-an. Di era demokrasi, konsumen juga mempunyai hak untuk memilih barang sesuai kebutuhan mereka, baik mutu maupun harga. Perlindungan industri dalam negeri akan mengurangi kebebasan konsumen dalam memilih konsumsi mereka. Dengan harga yang lebih murah, daya beli konsumen pun lebih besar. Hal ini juga dapat menjadi peluang usaha yang besar.

Sementara itu, FTA (Free Trade Agreement) antara ASEAN dan China telah ditandatangani pada 2002, untuk dilaksakanan mulai 1 Januari 2010. Menyadari bahwa perjanjian sudah tidak mungkin dibatalkan, usaha lalu dilakukan untuk mengundur pelaksanaan perjanjian ini. Namun, cepat atau lambat, perjanjian ini harus dilakukan.

Kita dapat mengambil langkah positif dengan adanya FTA ini. Pertama, konsumen Indonesia yang berjumlah 230 juta akan diuntungkan dengan adanya berbagai barang yang lebih murah. Inflasi juga akan menurun. Rendahnya inflasi akan mendorong orang untuk menabung. Hal ini sangat penting untuk mereka dari kelompok menengah ke bawah. Untuk mereka yang mempunyai pendapatan yang tinggi, rendahnya inflasi dapat juga mengurangi keinginan mereka untuk bermain spekulasi di sektor keuangan atau pun properti. (Sejarah telah memperlihatkan bahwa kegiatan spekulasi inilah yang menjadi penyebab semua krisis finansial.)

Kedua, adanya FTA akan memaksa pemerintah Indonesia untuk meluaskan usaha reformasi birokrasi pemerintahan. Usaha yang selama ini dilakukan telah memberikan hasil yang menggembirakan. Namun, usaha ini masih perlu terus ditingkatkan. Reformasi birokrasi bukan hanya pada tingkat nasional, tetapi juga di tingkat administrasi yang di bawah. Birokrasi yang ramping dan sederhana akan mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan daya saing pengusaha Indonesia.

Selain reformasi birokrasi, pemerintah dan masyarakat juga perlu mengupayakan pengurangan berbagai pungutan liar di masyarakat. Pengurangan, atau penghilangan, berbagai pungutan liar ini akan sangat mengurangi biaya produksi.

Ketiga adalah pengintegrasian perekonomian dalam negeri. Menjamin adanya perdagangan bebas antarwilayah di Indonesia, tanpa ada pajak atau berbagai peraturan yang mempersulit perdagangan antarwilayah di Indonesia. Kita juga perlu menjamin adanya kebebasan modal untuk mengalir antarwilayah di Indonesia. Tentu saja, kita pun tak dapat menghalangi arus-bebas tenaga kerja untuk memilih bekerja ke seluruh wilayah Indonesia, tak pandang apakah mereka tenaga kerja terdidik atau tak terdidik.

Keempat, panyadaran pada para produsen dalam negeri bahwa era “perlindungan” telah selesai. Dan kinilah saatnya, para produsen dalam negeri menciptakan berbagai inovasi untuk dapat memanfaatkan peluang usaha dari 230 juta penduduk Indonesia, yang daya belinya akan meningkat karena masuknya barang dari luar negeri dengan bebas. Selain itu, produsen dalam negeri juga dapat melakukan berbagai inovasi untuk menembus pasar China yang lebih dari 1 miliar.

Di era demokratisasi ini, paradigma pembangunan telah berubah dari “Aku Cinta Produksi Indonesia” ke “Aku Cinta Konsumen Indonesia”. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: