Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Perang terhadap Kegiatan Ekonomi Spekulasi

Seputar Indonesia, 9 Februari 2010

“Kalau mau kaya, masuklah ke sektor keuangan”, kata seorang pengajar mata kuliah manajemen keuangan yang juga aktif bermain dalam pasar uang kepada mahasiswanya.

Teman ini, seorang pengajar di Singapura, memang kaya, jauh lebih kaya dibanding teman-teman pengajar lain. Dia mempunyai rumah sendiri yang jauh lebih baik daripada rumah yang diberikan universitas. Dia kaya karena bermain di pasar keuangan, selain mendapatkan gaji dari universitasnya. Dia mempraktikkan apa yang dia ajarkan. Dia memang pandai berspekulasi.

Tak sedikit tenaga akademis seperti ini. Seorang teman yang statistisi menjadi sangat kaya karena keahliannya menerapkan analisis statistik di pasar keuangan. Kecintaannya pada dunia akademis membuat dia menyumbangkan kekayaannya (dari bermain spekulasi) untuk berbagai kegiatan akademik.

Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita dapat terlibat dalam kegiatan di pasar keuangan yang melibatkan kegiatan spekulasi? Sesungguhnya, kegiatan spekulasi ini tak menghasilkan ”nilai tambah”. Kalau kita memproduksi dan menjual sepatu, kita memberikan nilai tambah berwujud sepatu. Kalau kita menjadi guru, kita memberikan nilai tambah berwujud penyampaian informasi ke murid. Kalau kita menjadi dokter, kita memberikan nilai tambah berupa saran dan obat agar sembuh. Kalau kita jadi wartawan, kita memberi nilai tambah dengan menyebarkan informasi.

Namun, keuntungan yang besar dari kegiatan spekulasi sesungguhnya tidak memberikan nilai tambah apa pun, misalnya jual beli di sektor properti. Kita membeli sebuah rumah, kemudian dijual, dan kita untung. Rumahnya tetap, kita memperoleh untung, tetapi tidak ada nilai tambah apa pun.

Lain halnya kalau rumah kita renovasi dan kita jual lagi. Kita mendapat untung dari renovasi itu. Namun, hal ini pun dapat memasukkan unsur spekulasi. Setelah direnovasi, harga kita naikkan sehingga menjadi jauh lebih tinggi daripada ”semestinya”. Sebab itu, keuntungan yang kita peroleh jauh lebih tinggi dari ”nilai tambah” yang kita hasilkan. Keuntungan dari spekulasi ini menyebabkan semua krisis keuangan. Keuntungan spekulasi ini memang mencengangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan ekonomi semacam ini ada batasnya dengan terjadinya krisis finansial.

Ini persis dengan pertumbuhan ekonomi yang merusak lingkungan, yang akhirnya tidak berkelanjutan. Mirip sekali dengan orang yang bekerja keras tanpa istirahat, dengan terus minum kopi. Orang ini akhirnya kolaps. Kegiatan spekulasi adalah kegiatan ”tak rasional”. Dalam kegiatan rasional, harga yang naik memberi tanda bahwa permintaan terlalu banyak dibanding penawaran. Maka ketika harga naik, permintaan turun. Ketika harga turun, permintaan naik.

Akhirnya,terjadi keseimbangan lagi, penawaran sama dengan permintaan. Ketika terjadi spekulasi, tingkah laku menjadi tak rasional.Ketika harga rumah naik,orang justru berlomba membeli rumah. Orang berharap harga rumah terus meningkat. Mereka berspekulasi untuk membeli dulu. Orang makin memburu harga yang terus meningkat. Spekulasi makin menjadi hingga akhirnya harus berhenti setelah dipaksa dengan suatu krisis keuangan. Sektor keuangan dipaksa untuk kolaps. Menariknya,kegiatan spekulasi dilakukan banyak lembaga resmi yang secara khusus bekerja di bidang spekulasi ini. Lembaga asuransi dan pensiun juga ikut dalam kegiatan ini.

Lebih jauh, bank pun terlibat dalam kegiatan spekulasi ini, sering tanpa sepengetahuan nasabah mereka. Pada mulanya, fungsi bank untuk menjembatani mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan uang dengan mereka yang membutuhkan uang. Orang menyimpan uang di bank mendapatkan bunga, sedangkan yang meminjam dari bank membayar bunga. Bunga yang dibayar ke bank lebih tinggi daripada yang dibayarkan oleh bank. Inilah satu sumber keuntungan bank untuk nilai tambah berwujud ”jembatan”tadi. Namun, dalam 20 tahun terakhir, bank pun menaruhkan uang nasabah dalam dunia spekulasi, sering tanpa sepengetahuan nasabah.

Bank juga ikut menjual produk keuangan yang bersifat spekulatif. Untungnya banyak elite dunia sudah menyadari kebobrokan sistem keuangan yang terlalu dipengaruhi kegiatan spekulasi ini. Makin banyak elite dunia sadar, tanpa perubahan radikal dalam sistem keuangan dunia, tanpa mengurangi atau menghilangkan kegiatan ekonomi spekulasi, krisis finansial akan terjadi lagi dengan lebih mendalam dan lebih lama.

Itu sebabnya, 21 Januari 2010, Barack Obama, Presiden Amerika Serikat,menyatakan perang pada Wall Street, ikon keuangan Amerika Serikat. Obama mengeluarkan peraturan yang melarang bank penerima deposito melakukan perdagangan yang tak menyangkut kepentingan nasabah. Obama berusaha mengurangi kegiatan spekulasi melalui peraturan pada sektor keuangan. Dengan hilangnya kegiatan spekulasi, Obama berharap, bank gagal dapat dibiarkan gagal tanpa kekhawatiran mengacaukan seluruh sistem perbankan dan masyarakat secara keseluruhan (tanpa risiko sistemik). Dengan hilangnya kegiatan spekulasi, Amerika dan dunia diharapkan terhindar dari krisis keuangan, krisis ekonomi, bahkan krisis sosial dan politik yang besar.

Perang yang dilakukan Obama bukan hal yang terjadi tiba-tiba. Elite politik dunia telah mewacanakan hal ini. Di Paris, Januari 2009, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair menyelenggarakan simposium bertema ”New Word, New Capitalism”. Simposium ini menyarankan peran pemerintah yang lebih besar dalam sistem keuangan. Dibutuhkan suatu sistem keuangan yang tidak berdasarkan maksimali keuntungan jangka pendek. Blair menuduh sistem keuangan yang berjalan sekarang sebagai ”tak bermoral”.

Sarkozy mengkritik sistem keuangan yang kini berlaku bertolak belakang dengan ide dasar kapitalisme. Wacana serupa juga terdengar di Indonesia. Boediono, sewaktu menjadi Gubernur Bank Indonesia, telah menyatakan bahwa perbankan perlu kembali ke fungsi ”asli” perbankan—return to basics. Dalam pidatonya di pertemuan tahunan perbankan 2009 pada 29 Januari 2009, Boediono menginginkan bank berkonsentrasi pada pendanaan kegiatan yang ”nyata” (real) dan bukan pada kegiatan spekulasi.

Wacana semacam ini—yang menginginkan perbankan tidak masuk dalam kegiatan spekulasi dan adanya pengaturan ketat dari pemerintah dalam sistem keuangan— telah makin sering disuarakan, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia. Kalau wacana ini dilaksanakan, kalau Obama menang dalam perangnya melawan Wall Street, sistem keuangan memang akan menjadi ”membosankan”, karena tak banyak gejolak yang membahayakan, terutama bagi mereka yang haus risiko. Namun, sistem yang ”membosankan” ini juga sistem yang dapat menghindarkan perekonomian dunia jatuh ke dalam krisis yang lebih dalam,lebih lama, bahkan dapat disertai krisis sosial dan politik.

Wacana ini tentu saja ditentang mereka yang mempunyai selera tinggi pada risiko, mereka yang telah mengambil banyak keuntungan dari sistem keuangan berisiko tinggi, sistem keuangan yang penuh unsur spekulasi. Mereka juga mempunyai kekuatan politik yang besar. Para pemain ini juga sering mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Itu sebabnya perang yang dimulai Obama ini dapat menjadi momentum penting untuk perubahan radikal sistem keuangan dunia. Siapa yang akan menyusul Obama?

Boediono kini menjadi Wakil Presiden Indonesia. Dengan demikian, dukungan politik dari pemerintah Indonesia untuk melaksanakan wacana ”perbankan kembali ke fungsi asal” makin besar. Apalagi, Bank Indonesia pun terus menggalakkan perbankan syariah yang melarang kegiatan spekulasi dan penjualan produk yang berkaitan dengan kegiatan spekulasi. Indonesia pun dapat segera melakukan gebrakan untuk mengurangi atau menghilangkan kegiatan spekulasi dalam perekonomian Indonesia.

Sebagai anggota G-20, Indonesia mempunyai peluang untuk memperkenalkan inisiatif ini pada dunia. Keberhasilan Indonesia dapat menjadi contoh untuk negara lain. Tidak hanya Amerika Serikat yang dapat memerangi kegiatan spekulasi, Indonesia pun dapat menjadi contoh suatu negara berkembang yang berhasil mengikis kegiatan spekulasi. Semoga menjadi kenyataan.(*)

ARIS ANANTA
Ekonom

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: