Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Gaji TKI Terlalu Rendah

Aris Ananta

Seputar Indonesia, 28 Desember 2009

Cerita mengenai penyiksaan, penganiayaan, dan perlakuan tidak layak TKI di luar negeri tak pernah berhenti.Banyak usaha, baik dari pihak Indonesia mau pun negara penerima, telah dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi jumlah kasus semacam ini.

Hasil positif telah tampak.Tetapi, kasus semacam ini masih terus terjadi, dan tetap merisaukan karena menyangkut manusia, harga diri manusia, dan nyawa manusia. Walau begitu, seperti diberitakan di Jakarta Globe (14 Desember 2009), Duta Besar RI di Singapura menyebutkan bahwa jumlah TKI di Singapura terus bertambah.

Duta Besar melihat adanya permintaan terhadap TKI yang luar biasa,yang sesungguhnya dapat meningkatkan daya tawar para TKI. Permintaan terhadap TKI yang tinggi tidak saja terjadi di Singapura. Tempointeraktif (14 Desember 2009) melaporkan bahwa Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI juga mengakui adanya permintaan terhadap TKI yang amat tinggi dari banyak negara, terutama dari Timur Tengah.

Dalam istilah ekonomi,yang dikatakan oleh duta besar dan menteri tersebut adalah kasus ”kelebihan permintaan atau excess demand”. Sesungguhnya, kelebihan permintaan diharapkan berakibat pada naiknya harga. Ini artinya akan ada perbaikan dalam gaji untuk para TKI dan fasilitas lain seperti jatah hari libur,kebebasan bertemu dengan orang lain,dan kebebasan menyimpan paspor, serta gaji mereka sendiri.

Tetapi, mengapa gaji TKI tidak naik, dan bahkan sedikitnya hari libur untuk TKI sering digunakan sebagai iming-iming agar para calon majikan memperkerjakan TKI? Sebab utamanya adalah bahwa struktur pasar TKI bukan struktur pasar kompetitif, tetapi struktur pasar yang ”oligopsonis”,yaitu ketika jumlah pembeli relatif amat sedikit dibanding jumlah penjual. Para agen, di Indonesia dan negara penerima, adalah pembeli jasa TKI.

Jumlah mereka amat sedikit, terutama bila dibandingkan dengan jumlah TKI. Akibatnya, merekalah yang mempunyai daya tawar yang amat tinggi,bukan para TKI. Gaji para TKI dapat ditekan oleh para agen. Dengan ”jual murah”, agen mengharapkan peningkatan permintaan terhadap TKI. Dengan demikian, para agen, baik dari Indonesia mau pun negara penerima, mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.

Satu contoh betapa berkuasanya para agen adalah apa yang terjadi di Singapura.Dalam suatu artikel di The Straits Times (21 Desember 2009), surat kabar yang paling berpengaruh di Singapura, diceriterakan betapa para PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga atau pembantu rumah tangga), yang tidak hanya berasal dari Indonesia,telah memberikan subsidi pada para majikan.

PLRT mempunyai utang pada agen,untuk membayar semua jasa yang telah dilakukan oleh agen sehingga PLRT tersebut bekerja di Singapura. Di akhir 1990- an, utang mereka sebesar empat bulan gaji. Dengan kata lain, selama empat bulan pertama, majikan memberikan gaji ke agen,dan bukan ke PLRT. Selain itu,untuk mendapatkan satu PLRT, majikan harus membayar 1.500 dolar Singapura.

Namun, para agen merasakan kesulitan majikan untuk membayar 1.500 dolar Singapura.Khawatir permintaan berkurang, para agen menurunkan biaya mendapatkan satu PLRT. Kini biaya itu telah turun drastis, menjadi antara 400 dolar Singapura dan 600 dolar Singapura. Tampaknya, demikian dilaporkan oleh tulisan tadi,para agen telah memindahkan biaya dari tanggungan majikan ke tanggungan PLRT.

Sekarang, satu PLRT mempunyai utang delapan bulan gaji.Artinya,selama delapan bulan pertama bekerja, majikan memberikan gaji PLRT ke agen. Di Indonesia, kelebihan permintaan itu ditanggapi dengan penurunan ”mutu” para TKI yang diberangkatkan ke luar negeri. Hal ini dapat terjadi, karena dengan gencarnya pemasaran mencari calon TKI, jumlah yang melamar menjadi TKI pun terus meningkat.

Menakertrans mengatakan bahwa telah terjadi ”pemaksaan” pemberangkatan TKI. Mereka yang belum siap pun telah diberangkatkan. Menteri menyadari adanya pemalsuan dokumen, termasuk memalsukan usia. Pelatihan terhadap para calon TKI pun sangat kurang, sehingga para TKI sering tidak siap ketika sampai di tempat kerja mereka, di tempat yang sangat asing untuk mereka.

Ketidaksiapan para TKI ini juga termasuk sangat sedikitnya informasi yang diterima para calon TKI mengenai berbagai risiko bekerja di luar negeri dan segala prosesnya. Pengetahuan yang sangat sedikit ini membuat PLRT rawan terhadap berbagai perlakukan tidak layak, baik yang dilakukan para agen di dalam negeri, ketika dalam proses pelatihan dan pemberangkatan serta pemulangan mereka; atau pun penyiksaan, penganiyaan, dan perlakukan tidak layak ketika mereka bekerja di luar negeri.

Tidak semua TKI menderita. Seorang TKI yang ”berhasil” pernah menceriterakan ke saya mengenai pentingnya ”pemberdayaan” para TKI. ”Kalau kita pintar, mereka tidak akan dapat berbuat yang aneh aneh pada kita Pak! Saya sudah tahu semuanya.” Pemberdayaan tidak hanya mencakup latihan ketrampilan dalam bekerja.

Tetapi juga pemberian informasi yang lengkap mengenai semua prosedur, dan bantuan pada mereka untuk menghindarkan kasus penganiayaan/ penyiksaan dan perlakukan yang tidak layak. Salah satu cara pemberdayaan yang dapat dijalankan adalah dengan menaikkan gaji (harga) para TKI,agar lebih mencerminkan gaji di pasar kompetitif. Gaji yang terjadi selama ini merupakan negosiasi antara wakil Indonesia (bukan wakil TKI) dan wakil negara penerima.

Para wakil Indonesia harus mempunyai tekad untuk menaikkan gaji para TKI, dan bukan berpedoman untuk ”menjual murah” TKI.Di Singapura,PLRT asal Indonesia bahkan mendapatkan gaji yang lebih rendah dari PLRT asal Filipina, agar PLRT di Indonesia lebih ”laku”. Usaha ”jual murah” juga tampak dengan iming-iming bahwa TKI hanya mempunyai jatah libur yang sedikit. Hal ini semua bukan hasil mekanisme pasar yang kompetitif, tetapi hasil negosiasi.

Selain meningkatkan gaji, utang yang ditanggung oleh para TKI juga harus dikurangi. Jumlah utang yang besar membuat para TKI stres. Bayangkan mereka harus bekerja delapan bulan tanpa gaji,hanya untuk membayar utang. Stres dapat membuat pekerjaan mereka buruk, dan kekecewaan pada para majikan. Kekecewaan ini, apalagi bila terus menumpuk, dapat berakibat pada penyiksaan/ penganiayaan atau pun perlakuan yang tidak layak.

Para wakil Indonesia juga harus mampu memintakan fasilitas lain untuk para TKI, yang sering hidup ”kesepian” di rumah susun, jauh dari keluarga dan teman,dan tak ada kesempatan untuk bertemu dengan orang lain.Jatah hari libur,misalnya, perlu diperjuangkan, agar para TKI dapat libur sehari dalam sepekan.Penambahan jatah hari libur akan meningkatkan kesejahteraan para TKI dan produktivitas mereka.

Dari sisi negara penerima, pelatihan yang diberikan kepada calon majikan di Singapura tampaknya telah memberikan hasil yang positif. Seperti disebutkan dalam tulisan di Straits Times di atas, dalam pelatihan itu para calon majikan diajak memahami keadaan PLRT, termasuk memahami perubahan budaya yang dialami PLRT, dan bahwa PLRT mengalami stress akibat beban utang yang besar sekali.

Calon majikan belajar bagaimana cara memperlakukan PLRT, agar terdapat keharmonisan antara PLRT dan majikan. Dengan upah yang lebih tinggi, utang yang lebih kecil, dan jatah hari libur yang lebih banyak, permintaan terhadap TKI dapat menurun, mengurangi kelebihan permintaan. Hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pemalsuan dokumen.

Selanjutnya, yang terkirim adalah yang benar-benar siap. Kalau yang terkirim adalah yang benar-benar siap,para majikan pun akan puas. Majikan yang puas,walau harus membayar lebih banyak, akan mengurangi risiko terjadinya penyiksaan, penganiayaan, dan perlakuan tidak layak pada TKI. Dengan gaji yang lebih tinggi, para agen juga memperoleh penerimaan yang lebih tinggi per TKI.

Sebagian dari peningkatan penerimaan ini dapat digunakan untuk meningkatkan mutu para TKI,dan sebagian lainnya untuk meningkatkan keuntungan para agen. Masih banyak langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan pada para TKI.Meningkatkan gaji adalah salah satu langkah penting yang harus segera dilaksanakan.(*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Uncategorized, , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: