Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Ubah Paradigma Pembangunan Dunia

Aris Ananta

Tanpa adanya perubahan mendasar dalam paradigma pembangunan, dunia akan mengalami dua krisis besar dalam lima tahun mendatang: krisis finansial global jilid 2 dan krisis lingkungan akibat pemanasan global. Dampak krisis finansial jilid 2 pada perekonomian akan lebih besar daripada apa yang telah terjadi pada krisis finansial jilid 1. Selain itu, krisis finansial global jilid 2, yang diikuti dengan krisis ekonomi yang lebih mendalam, juga akan disertai dengan krisis sosial dan politik. Krisis jilid 2 ini hanya dapat dielakkan bila dunia berani dengan segara menata-ulang sistem finansial dunia. Beranikah kita semua menghilangkan atau mengurangi dengan drastis kegiatan spekulatif di sektor finansial, yang juga sering merambat ke sektor property, sektor energi, dan sektor pangan?

Krisis finansial yang terjadi di Dubai dua minggu yang lalu, kemudian diikuti kesulitan ekonomi di Yunani, Sepanyol, dan Itali mengurangi optimisme untuk mengelakkan krisis finansial global jilid 2. Kalau kesulitan ekonomi di Dubai dan beberapa negara di Eropa tidak dapat diisolagi, dan bahkan menyebar ke seluruh Timur Tengah dan Eropa, maka krisis finansial global jilid 2 dapat terjadi dalam waktu enam bulan mendatang. Semoga saja pesimisme ini tidak menjadi kenyataan.

Perdebatan di Kopenhagen dalan konferensi mengenai perubahan iklim yang sekarang masih berlangung tampaknya masih berputar pada paradigma bahwa perekonomian harus terus tumbuh dan tumbuh makin tinggi. Selain itu, diasumsikan juga bahwa pertumbuhan selalu membutuhkan emisi gas buang (emission of carbon dioxide). Dengan paradigma semacam ini, pengurangan emisi gas buang berarti pengurangan pertumbuhan ekonomi. Padahal, dalam paradigma ini, ekonomi harus selalu tumbuh dengan cepat. Terkesan bahwa belum ada kesadaran mendalam bahwa pemanasan global akan membawa seluruh dunia dalam mala petaka, siapa pun yang menghasilkan emisi gas buang. Belum tampak kesadaran penuh bahwa negara maju yang terus menghasilkan emisi gas buang, walau membayar banyak ke negara berkembang, dengan sendirinya juga akan mencelakakan mereka sendiri. Belum tampak kesadaran di negara berkembang bahwa kalau mereka terus menghasilkan emisi gas buang, mereka sendiri juga akan menderita. Yang terjadi di Kopenhagen masih lebih terfokus pada negosiasi jual beli “hak” menghasilkan emisi gas buang—suatu bisnis “sampah”.

Selama paradigma pembangunan dunia masih bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang cepat dan makin cepat, dan pertumbuhan diukur dengan pertumbuhan GDP, maka ancaman pemanasan global akan makin nyata dalam lima tahun ke depan. Bahkan, ada skenario yang amat pesimis, bahwa bencana dapat terjadi di tahun 2011 atau 2010.

Beranikah kita semua (dunika) segera mengubah paradigma pembangunan yang selalu bertumpu pada pertumbuhan ekonomi yang cepat dan makin cepat, tidak risau pada lingkungan, khususnya emisi gas buang? Beranikah kita semua menggunakan statistik selain GDP untuk mengukur keberhasilan perekonomian? Beranikah kita semua mengubah kurikulum di banyak departemen ekonomi di seluruh dinia.?

Sulit membayangkan apa yang terjadi bila skenario pesimis dari krisis finansial dan perubahan iklim tersebut akan benar benar terjadi.

Apa yang dapat Indonesia lakukan? Pertama, kita dapat memberikan ide ide ini ke dunia internasional dengan memanfaatkan forum seperti G-20. Kedua, Indonesia melaksanakan apa yang kita dapat laksakan dalam negeri untuk menata sistem finansial kita dan mengurangi emisi gas buang. Kita juga perlu mengurangi ketergantungan kita pada luar negeri, untuk mengurangi dampak krisis global pada perekonomian kita.

Di dalam negeri, kita dapat aktif menghilangkan atau mengurangi dengan drastis kegiatan ekonomi spekulatif, termasuk di sektor property, energi, dan pangan. Perbankan kembali ke habitatnya, yaitu menjadi perantara tabungan dan investsi. Perbankan jangan lagi ikut dalam kegiatan spekulatif. Bank Indonesia juga harus aktif menstabilkan inflasi asset, yang merupakan salah satu indikator penting terjadinya krisis finansial. Kita perlu mengkaji-ulang berbagai kegiatan yang berusaha mempercepat ekspansi perkreditan, baik untuk produksi dan, terutama, untuk konsumsi. Seberapa jauh kita perlu mengekspansi perkreditan? Sebarapa jauh kita perlu mendorong masyarakat kita untuk berhutang, berhutang, dan berhutang? Perhatikan bagaimana makin gencarnya bisnis di Indonesia mendorong konsumen Indonesia untuk berhutang, berhutang, dan berhutang; dan juga bagaimana pemerintah, perbankan, dan dunia internasional terus mendorong kita untuk berhutang, berhutang, dan berhutang dalam melakukan bisnis. Hutang memang kita perlukan, tetapi seberapa juah kita perlu berhutang?

Di sektor finansial kita juga perlu mengurangi pengaruh internasional pada perekonomian Indonesia. Misalnya, seberapa besar kita ijinkan arus modal keluar masuk ke Indonesia? Apakah tetap kita serahkan ke pasar yang berakibat bahwa sektor finansial kita amat rentan terhadap kegiatan spekulasi di dunia internasional? Maukah kita bahwa sektor finansial dan juga sektor ekonomi kita sangat dipengaruhi oleh kegiatan spekulasi di dunia interanasional?

Selanjutnya, kita perlu makin memperhatikan pasar dalam negeri kita. Banyak negara mengincar Indonesia sebagai pasar yang menarik. Mengapa kita melupakan pasar kita sendiri? Ekspor kita teruskan, tetapi jangan dijadikan primadona. Ini mengurangi ketergantungan kita pada perekonomian internasional, dan memanfaatkan pasar kita yang terdiri dari 230 juta penduduk.

Secara khusus kita perlu mengurangi ekspor untuk komoditi yang berkaitan banyak dengan emisi gas buang. Misalnya, ekpor minyak dan gas (termasuk batu bara) perlu dikurangi dengan drastis. Sebelum mendapatkan pengganti, minyak dan gas kita gunakah untuk kebutuhan dalam negeri, bukan untuk ekspor. Selain mengurangi emisi gas buang, mengutamakan konsumen dalam negeri (antara lain agar listrik tidak sering padam) juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat lebih penting dari pada pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan naiknya ekspor minyak dan gas.

Di dalam negeri, kita juga perlu makin aftif mengurangi emis gas buang, demi kepentingan rakyat Indonesia sendiri. Tidak relevan untuk mendiskusikan trade-off antara pengurangi emisi gas buang dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi bukan tujuan pembangunan ekonomi kita. Kesejahteraan rayat, termasuk terjadinya lingkungan hidup yang baik, merupakan tujuan pembangunan ekonomi kita. Pertumbuhan ekonomi hanyalah salah satu alat untuk mensejahterakan masyarakat, dan bukan tujuan pembangunan ekonomi. Kita perlu kreatif mencari cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, antara lain dengan mengurangi secara drastis emisi gas buang.

Selama ini kita ikut aktif mencoba mengintegrasikan perekonomian kita dengan perekomian interansional. Tetapi, kita masih kurang memperhatikan integrasi perekonomian dalam negeri kita. Sudah saatnya kita memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada integrasi perekonomian dalam negeri. Dengan terintegrasinya perekonomian dalam negeri, 230 juta penduduk Indonesia akan menjadi pasar yang makin kuat, dan juga sumber daya manusia yang luar biasa.

Saya menyarankan adanya berbagai statistik tambahan untuk mengukur keberhasilan perekonomian kita. Setiap tiga bulan, pemerintah perlu mengeluarkan dan mengumumkan statistik mengenai, kegiatan ekonomi spekulatif, inflasi asset, kemiskinan (termasuk inequality), kesehatan, dan lingkungan hidup (termasuk polusi udara, air, dan usaha pengurangi emisi gas buang). Statistik ini jauh lebih penting daripada statistik pertumbuhan ekonomi. Namun perlu pula disebutkan bahwa tentu saja kita masih membutuhkan statistik pertumbuhan ekonomi dan statistik lain yang selama ini telah dihasilkan. Perbedaannya adalah bahwa pertumbuhan ekonomi sekedar alat untuk mensejahterakan masyarakat., bukan tujuan.

Selain statistik tersebut di atas, kita semua perlu memikirkan lebih lanjut statistik apa lagi yang perlu menjadi acuan pemerintah dalam pembangunan ekonomi lima tahun ke depan.

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: