Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Kopenhagen dan Bisnis Sampah

Aris Ananta

Tanggal 7–18 Desember ini PBB menyelenggarakan konferensi internasional tentang perubahan iklim Kopenhagen, Denmark.

Konferensi ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan untuk menghadapi musuh bersama manusia dan makhluk hidup lainnya, yakni perubahan iklim yang amat cepat berujud pemanasan global. Disebut musuh bersama karena tak satu pun negara atau masyarakat di bumi ini yang dapat menghindar dari ancaman yang telah atau akan diberikan oleh perubahan iklim.Suhu udara dan permukaan laut naik dengan cepat. Banyak daratan dan pulau kecil yang hilang. Hujan badai, banjir, dan kekeringan akan sering terjadi.

Karena itu, semua makhluk hidup, termasuk manusia, harus segara beradaptasi dengan kondisi ini kalau tidak ingin punah.Pilihan lain, manusia dapat memperlambat atau menghindari terjadinya pemanasan global. Menurut ilmuwan lingkungan, penyebab semua ini adalah peningkatan luar biasa emisi karbon (CO2) yang hampir semuanya akibat ulah manusia. Manusia terus menginginkan “kemajuan” tanpa menghiraukan kerusakan lingkungan. Negara-negara yang kini sudah “maju”telah merusak iklim dengan menghasilkan banyak karbon selama dua abad. Sementara negara berkembang juga ingin mengejar ketertinggalan mereka yang mau tak mau mengikuti jejak pendahulunya. Akibatnya, kerusakan yang lebih parah menghantui umat manusia.

Negara maju tidak ingin bencana itu terjadi, namun tetap ingin mempertahankan pertumbuhan ekonomi dengan menghasilkan emisi karbon. Negara berkembang menolak hal itu,“Bagaimana mereka dapat maju kalau harus mengurangi emisi karbon?” Akhirnya, negara maju mempunyai ide.Mereka ingin membeli hak untuk merusak iklim, membeli hak untuk mempercepat proses pemanasan global. Mereka ingin membeli hak karena punya banyak uang dan negara berkembang butuh uang. Intinya, mereka minta agar tetap boleh menghasilkan emisi karbon,tetapi mereka bersedia memberikan sejumlah uang sebagai kompensasi kepada negara berkembang untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkannya.

Bisnis emisi karbon ini dapat terjadi karena baik negara maju maupun berkembang belum sadar bahwa pemanasan global merupakan musuh bersama. Pemberian kompensasi tidak bisa menghindarkan terjadinya pemanasan global. Keduanya berada dalam kapal yang sama, kalau kapal oleng lalu tenggelam, semuanya akan tenggelam. Itulah salah satu topik yang dibahas di Kopenhagen, yakni bagaimana menghasilkan kesepakatan mengurangi pemanasan global dan bagaimana menghadapi dampaknya? Saya jadi ingat si Sindung (bukan nama sebenarnya),seorang perokok berat.

Dia juga seorang manajer pekerja keras, yang mengerjakan banyak proyek dengan nilai besar.Pada suatu hari kantornya melakukan renovasi gedung. Dia terpaksa seruangan dengan teman-teman lain. Sialnya, temantemannya itu tidak suka asap rokok.Tanpa rokok Sindung tidak dapat bekerja.Akibatnya proyeknya akan terhambat dan penghasilannya akan berkurang. Temanteman Sindung tidak dapat dibujuk untuk mengizinkannya merokok di ruangan dan harus keluar ruangan jika mau merokok.

Namun Sindung mendapatkan ide yang baik. Teman-teman seruangan itu tidak mempunyai banyak proyek. Kalau pun punya, proyeknya bernilai kecil. Mereka sangat membutuhkan uang. Sindung pun berkata ke teman temannya,“ Bagaimana kalau kalian izinkan aku tetap merokok di ruangan ini. Untuk kompensasi, aku berikan proyek yang bernilai mahal untuk kalian?” Teman-teman Sindung pun kaget d a n tertarik dengan ide itu.Sebagian langsung menerima. Sebagian lagi, yang duduknya lebih dekat dengan Sindung, minta proyek yang lebih mahal, karena mereka lebih menderita asap rokok dari yang lainnya.

Hal yang terjadi kemudian adalah negosiasi berapa batang rokok yang boleh dihabiskan Sindung dalam sehari, berapa jauh mereka dari Sindung, dan berapa besar kompensasi yang akan diberikan oleh Sindung.Akhirnya, terdapat kesepakatan berapa batang rokok yang dapat dihisap dan berapa kompensasi yang harus diberikan ke teman-teman Sindung, tergantung jauh dekat jarak temannya ke tempat duduknya. Sindung menyuap teman-temannya agar dia diizinkan merokok? Bukan, di perusahaan itu tidak boleh ada suap-menyuap.Namun saling tukar-menukar kenikmatan dengan imbalan uang bolehboleh saja.Sindung tetap mendapatkan kenikmatan dari asap rokok.

Teman-temannya mengalami derita dari asap rokok namun mendapat kompensasi dari sejumlah proyek. Inikah yang disebut kompromi yang demokratis? Sindung sebenarnya membeli hak untuk “menghasilkan sampah”,yaitu asap rokok,dari teman-temannya.Yang terjadi adalah munculnya bisnis “sampah” yang berujud asap rokok.Bisnis “sampah” ini tidak terjadi hanya dalam contoh di atas.Bisa pula terjadi bersamaan dengan penjualan sumber daya alam (SDA). Investasi untuk menggali dan menjual SDA menghasilkan uang yang banyak sekali.

Sering pula bersamaan dengan perusakan lingkungan. Namun, pemilik SDA sering pula rela menerima kerusakan lingkungan itu demi penerimaan uang yang tinggi. Demi peningkatan investasi, ekspor, dan pertumbuhan ekonomi, pemilik SDA rela menerima ”sampah” yang berwujud kerusakan lingkungan demi sejumlah uang. Di rumah makan, kita melihat petugas yang membersihkan meja makan.Ada yang bekerja dengan amat rapi dan cepat. Begitu kita selesai makan, meja cepat sekali menjadi bersih dan rapi kembali. Pelanggan lain akan dengan nyaman duduk di tempat itu,siap membelanjakan uang mereka. Fungsi petugas pembersih “sampah” ini amat penting.

Harga yang pelanggan bayarkan sudah termasuk jasa petugas untuk membersihkan ”sampah”. Kalau saja para pelanggan dapat tertib dan tidak mengotori meja makan, maka keberadaan petugas itu tidak diperlukan lagi.Harga makanan menjadi lebih murah, tanpa terjadinya bisnis ”sampah”.Keuntungan rumah makan meningkat dan dia dapat meningkatkan bisnisnya.Para ”petugas kebersihan”dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain.Lapangan pekerjaan juga meningkat.

Mungkinkah konferensi di Kopenhagen menghasilkan kesepakatan dari semua pihak untuk melakukan kegiatan ekonomi yang ”bersih” atau sedikit menghasilkan emisi karbon, sehingga kita tidak perlu melakukan bisnis ”sampah”? Bisnis sampah mungkin tampak logis,namun ”sampah”ini akan mengotori dan merusak semuanya. Lagipula, tanpa bisnis ”sampah”, biaya produksi akan lebih murah.Konsumen akan lebih senang. Keuntungan meningkat, dan lapangan pekerjaan juga meningkat.

Memang, kita memerlukan paradigma baru dalam pembangunan ekonomi.Kita memerlukan pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan, baik untuk negara berkembang maupun negara maju. Yang tersulit adalah bagaimana meyakinkan para pemodal besar yang selama ini telah terbiasa menikmati keuntungan besar dari bisnis yang merusak lingkungan, termasuk bisnis yang mempercepat pemanasan global.(*)

(Seputar Indonesia, 8 Desember 2009)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: