Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Krisis Ekonomi Global Jilid 2?

Aris Ananta

Seputar Indonesia, Rabu, 2 Desember 2009

Dunia telah berulang kali mengalami krisis.Dari yang sifatnya regional ke yang bersifat global. Indonesia, misalnya, pernah mengalami krisis Asia pada 1997-1998.

Krisis ini bermula dari Thailand yang meski tidak menyebar jauh dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Pemulihan krisis tersebut terjadi pada 1999 dan kemudian kita melihat kondisi perekonomian di Asia Timur dan Tenggara termasuk Indonesia terus membaik.Namun,pada 2008 dunia kembali dilanda krisis global yang dimulai dari negara maju yaitu Amerika Serikat. Seluruh dunia merasakan dampaknya. Krisis Asia Timur dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) pada 1997-1998 dimulai dengan krisis finansial yang kemudian menjalar ke krisis ekonomi. Untuk Indonesia, krisis ekonomi ini juga menjalar ke krisis sosial dan politik. Sementara krisis global 2008-2009 juga bermula dengan krisis finansial, kemudian diikuti dengan krisis ekonomi.Untungnya, tak ada dampak sosial dan politik yang berarti.

Sekarang banyak yang mengatakan bahwa krisis global sudah usai. Pendapatan nasional sudah meningkat lagi.Namun,sering pula dikatakan bahwa pemulihan baru terasa untuk sektor finansial. Sementara pemulihan sektor ekonomi terasa lebih lamban. Bahkan dampak sosial dari krisis ini masih terasa sampai sekarang. Dalam laporan UNDP yang terbaru (The Global Financial Crisis and the Asia-Pacific Region, 2009) dikatakan bahwa pemulihan sosial biasanya lebih lambat dari pemulihan ekonomi. Bahkan dampak sosial seperti nutrisi yang rendah pada anak-anak dapat berlangsung selama-lamanya.

Sementara itu, banyak pihak yang masih merisaukan kepulihan ekonomi ini.Sistem finansial dunia yang menjadi penyebab semua krisis masih sama dengan sebelum krisis. Sektor finansial selalu tumbuh cepat,jauh lebih cepat dari pertumbuhan sektor produksi.Padahal sektor finansial diperlukan untuk membantu tumbuhnya sektor produksi. Sektor finansial bagaikan minyak agar kendaraan bermotor dapat berjalan dengan baik. Ketika minyaknya terlalu banyak, kendaraan bermotor pun akan berjalan terseok-seok dan mungkin malah mogok. Itulah yang terjadi ketika sektor finansial melaju dengan pesat,meninggalkan pertumbuhan di sektor produksi. Hal ini telah berulang terjadi.

Pertumbuhan sektor finansial yang luar biasa, yang juga dicerminkan dengan pertumbuhan pendapatan nasional,akhirnya diikuti dengan krisis finansial. Lebih parah lagi, dinamika sektor finansial sering amat tergantung pada gosip di kalangan investor di sektor keuangan. Ketika para investor ini kehilangan confidence, mereka beramai-ramai menjual surat berharga mereka. Sektor finansial jatuh dan akibatnya membuat confidence jatuh lebih jauh. Bank dapat berjatuhan sehingga perekonomian kena getahnya.

Ketika confidence para investor pulih, sektor finansial pun pulih kembali. Namun, tidak otomatis sektor produksi pulih. Memulihkan sektor produksi membutuhkan waktu yang lebih lama dari sekadar memupuk confidence para investor. Sayangnya, sampai sekarang kita belum berhasil mengatur sektor yang dikuasai oleh gosip para investor ini. Maukah perekonomian kita dan sektor sosial kita terus menerus dipengaruhi oleh gosip para investor ini? Kalau gosip mereka membuat sektor finansial berantakan, sektor ekonomi berantakan, dan sektor sosial kena dampak yang lama.

Kalau gosip mereka membaik,  sektor finansial membaik, para investor berjaya lagi. Namun, sektor perekonomian mengikuti dengan lambat, dan sektor sosial akan mengikuti dengan jauh lebih lambat lagi. Tanpa perubahan fundamental dalam struktur finansial dunia, pola yang sama akan terus berulang. Sektor finansial tumbuh pesat, kemudian krisis, lalu terjadi pemulihan. Kemudian sektor finansial tumbuh pesat lagi, dan krisis lagi. Demikian seterusnya. Dengan integrasi finansial dan perekonomian yang makin kuat, krisis pun akan terjadi lebih meluas dan mendalam. Jarak dari satu krisis ke krisis lain pun akan makin pendek.

Krisis finansial dan ekonomi dikhawatirkan akhirnya membawa krisis sosial dan politik. Saat ini di beberapa negara sektor properti telah memberikan gejala memanas. Orang berlomba berspekulasi di sektor properti. Di beberapa negara inflasi mulai dikhawatirkan menjadi bahaya yang baru. Ini semua memberi tanda bahaya. Akan segera terjadi krisis lagi? Krisis global jilid II? Dan, tiba-tiba saja, Rabu yang lalu (25 November 2009), Dubai World, suatu konglomerasi milik Pemerintah Dubai, mengumumkan penundaan pembayaran utang mereka.

Hal ini menandakan konglomerasi ini mengalami kesulitan keuangan. Sontak berita ini membuat panik para investor. Mereka berlomba menjual surat berharga mereka. Namun, karena tanggal 27 hari libur (Idul Adha), disusul week-end, pasar finansial tutup dan tidak banyak informasi yang didapat dari Dubai. Pada Minggu (29 November) Pemerintah Uni Emirat Arab mencoba menenangkan para investor dengan mengatakan bahwa mereka akan membantu likuiditas sektor finansial di Dubai. Pekan ini adalah pekan yang menentukan. Kita akan melihat apakah krisis Dubai ini akan tetap di Dubai saja, atau akan meluas ke Asia, Eropa, dan seluruh dunia.

Apakah menjadi krisis global jilid II? Semoga saja, krisis Dubai ini dapat ditahan di Dubai dan tidak menjalar ke mana-mana. Apa pun hasilnya, tampaknya kita harus sudah segera membuat tatanan finansial dunia yang baru, yang tidak bergantung pada gosip para investor. Indonesia, pada khususnya, tidak perlu terburu buru mengintegrasikan sektor finansial kita ke sektor finansial dunia. Indonesia dapat memberi contoh untuk mengatur sektor finansial agar tidak tumbuh meninggalkan pertumbuhan sektor produksi. Sektor finansial perlu dikembalikan pada fungsi semula yaitu membantu pertumbuhan sektor produksi.

Janganlah sektor finansial menjadi sumber keuntungan tersendiri, terlepas dari sektor produksi,  seperti yang selama ini terjadi, dan selalu menghasilkan krisis. Selain itu, untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan terjadinya krisis global jilid II, entah karena krisis Dubai atau krisis lainnya, Indonesia perlu untuk makin memperhatikan ekonomi dalam negeri. Pengintegrasian ekonomi dalam negeri menjadi jauh lebih penting daripada integrasi regional atau pun integrasi global. Dengan ketergantungan pada pasar dan faktor produksi yang besar di dalam negeri, kita dapat mengurangi dampak krisis global pada perekonomian dan sektor sosial kita. Krisis global jilid I jelas memperlihatkan bahwa kita diuntungkan karena dua hal.

Pertama, sektor finansial kita belum benar-benar terintegrasi ke sektor finansial dunia. Kedua, sumbangan ekspor kita juga masih rendah. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: