Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Ekonomi Ramah Lingkungan

Aris Ananta

Nunun (bukan nama sebenarnya) seorang yang penuh dedikasi pada pekerjaannya. Bekerja keras, tidak pantang lelah. Kalau pun dia merasa letih, dia atasi dengan minum kopi. Nunun lalu merasa segar lagi, dan bekerja keras lagi. Setelah pekerjaan selesai, dia baru istirahat. Di saat lain, muncul lagi kegiatan yang sangat menyita waktu dan tenaga dia. Lagi lagi dia atasi semua ini dengan minum kopi.
Namun, tubuh tidak dapat terus dipaksa. Kopi hanya dapat mempertahankan kesegaraan Nunun untuk sementara. Akhirnya, dia sakit. Dia tidak bisa bekerja lagi. Pekerjaan dia berantakan.

Nunun masih untung. Dia masih dapat pulih lagi, walau butuh waktu yang lama. Banyak kasus yang tidak seberuntung Nunun. Mereka terkena sakit parah seperti tekanan darah tinggi dan jantung. Kalau pun dapat sembuh,mereka tak dapat lagi bekerja seperti sediakala. Lebih parah lagi, ada pula yang kemudian meninggal dunia.

Bayangkan banyaknya kerugian yang muncul akibat sakitnya, atau meninggalnya, orang orang yang bekerja penuh dedikasi itu. Kalau mereka tetap sehat, mereka masih dapat berproduksi dengan baik. Gara gara sakit (bahkan meninggal), banyak pekerjaan yang tak dapat mereka kerjakan lagi. Mereka rugi, masyarakat banyak pun rugi.

Banyak kasus semacam ini di sekitar kita. Itu pula yang terjadi dengan pembangunan yang tidak ramah lingkungan. Pembangunan yang mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, 7 atau 8 persen atau bahkan lebih, dan mengabaikan kondisi lingkungan ibarat Nunun, si pekerja keras yang penuh dedikasi tetapi tidak memperhatikan kondisi tubuhnya. Ekonomi yang dibangun dengan merusak lingkungan hanya akan bertahan sementara. Akhirnya, setelah lingkungan benar benar rusak, ekonomi pun akan ikut hancur. Masyarakat menderita.

Fungsi lingkungan hidup dalam pembangunan ekonomi bagaikan fungsi kesehatan untuk pekerjaan kita. Kita perlu sehat agar pekerjaan kita berhasil. Berhasil bukan hanya untuk sementara waktu, tetapi untuk waktu yang lebih lama.

Selain itu, sehat sendiri merupakan sumber kebahagiaan. Itu pula dengan kondisi lingkungan hidup kita. Lingkungan hidup yang baik merupakan hal yang amat penting untuk terjadinya pembangunan ekonomi jangka panjang. Namun, selain itu, yang lebih penting lagi, dengan lingkungan hidup yang lebih baik, hidup kita pun menjadi lebih baik, walau pertumbuhan ekonomi tidak tinggi.

Pertanyaannya adalah apakah kita mau mengorbankan kesehatan kita demi pekerjaan kita, seperti yang terjadi dengan Nunun? Apakah kita mau mengorbankan kondisi lingkungan hidup kita demi pertumbuhan ekonomi?

Sayangnya, sebagian ekonom tidak mau “mengorbankan” pertumbuhan ekonomi demi lingkungan hidup yang baik. Buat mereka, pertumbuhan ekonomi adalah panglima. Lihat saja, program ekonomi sering dimulai dengan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Keberhasilan pembangunan ekonomi diukur dengan kemampuan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ini persis yang dikerjakan Nunun, bekerja keras tanpa memperhitungkan kondisi kesehatan. Bahkan, Nunun juga menghancurkan kesehatannya dengan minum kopi terus menerus. Ini lah yang terjadi dengan berbagai program ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan tinggi dengan merusak lingkungan.

Mungkin, pertanyaan kongkritnya adalah bagaimana melaksanakan hal ini. Salah satu contoh, adalah bagaimana mengembangkan proyek turisme bebas dari asap rokok. Mungkinkah suatu daerah menjadi terkenal sebagai daerah turisme yang bebas dari asap rokok? Dan, kemudian, daerah akan dikunjungi oleh mereka yang mencintai daerah yang bersih dari asap rokok? Hal ini sangat mungkin terjadi karena kesadaran terhadap bebas asap rokok sudah makin meningkat. Dearah yang bebas asap rokok ini pun dapat menarik turis asing karena di dunia ini kecintaan pada udara yang bebas asap rokok telah meningkat dengan luar biasa. Apalagi bila mendapat bantuan dari pemerintah setempat dan pemerintah Indonesia.

Namun, ironis, kadang kadang kita mendengar bahwa orang ingin berkunjung ke Indonesia karena Indonesia adalah “surga para perokok”. Orang dapat dengan mudah merokok dan merusak mutu udara kita. Alasan yang kita dengar, kita membutuhkan uang mereka. Akibatnya, kita lalu takut melarang orang merokok, kuatir turis tidak akan datang lagi, dan pertumbuhan ekonomi kita akan terganggu. Tetapi, apakah kita rela kondisi lingkungan kita dirusak dengan arus rokok yang terus berdatangan ke Indonesia, semata demi uang jangka pendek?

Sesungguhnya berupaya menciptakan turisme tanpa rokok tidak harus berarti menurunkan penghasilan. Sekarang, termasuk dan terutama di dunia internasional, kesadaran tentang pentingnya bebas dari asap rokok makin meningkat. Oleh sebab itu, kita tidak perlu kuatir menciptakan daerah turisme yang bebas asap rokok. Para perokok memang akan menjauh dari kita, tetapi, turis lain, yang mencintai udara bebas asap rokok, akan berdatangan. Ekonomi pun tumbuh, bersamaan dengan peningkatakan mutu udara kita.

Asap rokok hanya lah satu contoh kasus perusakan lingkungan. Kesadaran perlunya lingkungan hidup yang baik (bukan hanya bebas dari asap rokok) pun telah terus meningkat, termasuk di dunia internasional. Gaya hidup yang ramah lingkungan makin dicari orang. Kita pun dapat terus membantu memasarkan gaya hidup ramah lingkungan ini, agar gaya hidup ramah lingkungan menjadi trendy. Permintaan akan barang dan jasa yang ramah lingkungan pun akan meningkat. Kita pun kemudian menciptakan barang dan jasa yang ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat ini.

Perekonomian akan tumbuh, produksi barang dan jasa berlimpah, yang semuanya adalah barang dan jasa yang ramah lingkungan, yang memuaskan gaya hidup ramah lingkungan.

Kita dapat menciptakan pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan, yang bermanfaat untuk rakyat kita sendiri. Kalau lingkungan kita rusak, kita sendiri yang menderita dengan banyak isu seperti masalah kesehatan, banjir, tanah longsor, serta polusi udara dan air.

Mari kita laksanakan pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan. Pertumbuhan ekonomi antara 4 dan 5 persen sudah bagus asalkan terjadi perbaikan dalam kondisi lingkungan hidup. Adalah bonus, bahwa ekonomi dapat tumbuh di atas 5 per sen. Pemerintah seyogyanya menjadikan kemajuan dalam kondisi lingkungan hidup sebagai salah satu indikator utama keberhasilan pemerintah setempat dan pemerintah Indonesia. Statistik lingkungan hidup dapat dilaporkan setiap 3 bulan bersamaan dengan laporan pertumbuhan ekonomi.

Kita telah menciptakan Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zones) di Batam, Bintan, dan Karimun, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tingi. Pemerintah Kepulauan Riau, pemerintah Indonesia, dan pemerintah Singapura berusaha membuat ketiga daerah ini melonjak dengan cepat dalam pembangunan ekonomi, dalam arti mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Berbagai fasilitas khusus diberikan untuk tiga daerah ini. Kalau berhasil, program semacam ini akan diperluas ke daerah daerah lain di Indonesia.

Namun, masalah lingkungan hidup tampaknya belum mendapatkan perhatian khusus dalam proyek Kawasan Ekonomi Khusus itu. Apakah ketiga daerah itu akan mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan mengorbankan kondisi lingkungan hidup di daerah itu? Kalau hal itu yang terjadi, apakah pertumbuhan ekonomi tersebut akan berkelanjutan? Semoga perencanaan dan pelaksaan Kawasan Ekonomi Khusus di Batam, Bintan, dan Karimun telah memperhatikan kondisi lingkungan hidup. Semoga proyek ini juga memberi perhatian prima pada peningkatkan lingkungan hidup di kawasann tersebut.

Sudah saatnya kita menciptakan proyek “Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan”. Tekanannya bukan pada pengejaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi pada pencapaian kondisi lingkungan hidup yang baik. Tentu saja, ekonomi di kawasan ini harus tumbuh, tetapi pertumbuhan yang tinggi bukan lah target utama pembangunan di daerah ini. Pemerintah Indonesia dan pemerintah Kepulauan Riau telah berani bereksperimen dengan Kawasan Ekonomi Khusus. Maka, pemerintah Indonesia pun, bekerjasama dengan pemerintah setempat, dapat pula membuat eksperimen dengan menciptakan Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan, yang bertujuan utama meningkatkan kondisi lingkungan hidup.

Kita pilih daerah yang dapat dijadikan pilot project. Kita berikan fasilitas khusus agar daerah itu dapat berkembang dengan kondisi lingkungan yang bagus. Kalau berhasil, proyek ini diperluas ke daerah lain. Kita pun dapat bekerja sama dengan pemerintah negara lain untuk menciptakan “Kawasan Ekonomi Ramah Lingkungan” di Indonesia. Mungkin, Bali dapat dijadikan sebagai salah satu kawasan tersebut. Bali memiliki banyak potensi untuk menjadi contoh keberhasilan dalam pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan.

22 November 2009

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: