Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Democratizing Indonesia

Aris Ananta

Semula, saya hendak menulis dalam bahasa Inggris. Kemudian, berubah pikiran. Saya pikir, lebih baik dalam bahasa Indonesia. Tetapi, apa judulnya? Indonesia yang sedang mendemokrasi? Terasa tak enak. Saya ingin menggunakan judul yang berarti “ Indonesia yang sedang dalam proses belajar menjadi negara demokrasi”. Tetapi, bagaimana menulis dalam dua kata saja? Kata sifat apa yang harus saya lekatkan pada “Indonesia” untuk menterjemahkan “democratizing”?

Karena tidak kunjung mendapatkan terjemahan yang enak untuk judul catatan pendek ini, saya pun lalu membiarkan catatan ini menggunakan judul berbahasa Inggris, walau isinya menggunakan bahasa Indonesia. Alasan saya? Malas mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia? Ya..memang. Tetapi, ada alasan lain. Sekarang, di Indonesia, baru ngetrend penggunaan bahasa Inggris untuk judul buku, judul bab, judul artikel, bahkan judul seksi dalam sebuah bab, padahal isinya berbahasa Indonesia. Ya….biar dikira ngetrend, begitu alasan yang saya pakai. Mungkin, itu pula lah arti demokrasi. Setiap orang berhak menentukan apa yang menurut mereka baik, termasuk menggunakan judul dalam bahasa Inggris untuk tulisan yang berbahasa Indonesia, seperti dalam catatan kecil ini.

Democratizing Indonesia? Begitulah proses yang saya lihat terjadi di Indonesia sejak jatuhnya Presiden Suharto di tahun 1998. Kita tiba tiba dihadapkan pada kesempatan untuk berdemokrasi, walau kita sendiri masih bingung apa arti demokrasi. (Bukan hanya kita, warga negara di negara yang sudah lama berdemokrasi juga sering tak tahu apa itu demokrasi.) Kita mengalami euphoria. Tiap orang merasa dapat mengajukan hak hak mereka dengan bebas. Bahkan ada pula yang mencoba menggunakan alam kebebasan ini untuk mengurangi kebebasan orang lain.

Yang menggembirakan, saya melihat suatu proses yang makin maju. Kita makin tahu apa itu demokrasi. Dari sisi pelaksanaan pemilihan umum, kita dapat bangga dengan yang telah kita capai. Saya pernah kaget mendapatkan ucapan “congratulation” dari teman yang bukan orang Indonesia. Saya tak tahu, mengapa teman itu memberi ucapan selamat kepada saya. Ternyata, karena Indonesia telah melaksanakan pemilihan umum, dengan memilih presiden kita secara langsung. Bahkan, teman itu pun kagum sekali, saya yang berada di luar negeri dapat pula ikut dalam pesta demokrasi. Saat itu, saya memang baru pulang dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), seusai ikut dalam pemilihan umum.

Congratulation! Kata kata itu terus terngiang di telinga saya. Saya renungkan lagi, kita memang pantas diberi ucapan selamat. Teman di negara lain belum tentu menikmati hal ini. Saya pun makin bangga dengan democratizing Indonesia.

Di tahun 1999 kita pertama kali melakukan pemilihan umum yang demokratis setelah sekian lama pemilihan umum sekedar suatu sandiwara politik. Namun, presiden belum dipilih langsung oleh rakyat. Yang terjadi adalah negosiasi di antara para elit politik yang telah kita pilih melalui pemilu. Di tahun 2004, kita memilih langsung presiden kita. Kita juga memilih wakil kita di DPR, tetapi bukan mereka yang berhak menentukan siapa presiden kita. Setelah 2004, pemilihan gubernur dan bupati pun telah dilangsungkan secara langsung di seluruh Indonesia. Ini yang kita kenal dengan pilkada (pemilihan kepala daerah).

Pesta demokrasi berlangsung terus. Kegiatan ekonomi terdorong oleh proses demokrasi yang berlangsung terus menerus. Biaya yang dikeluarkan untuk tiap pemilu dan pilkada amat besar. Democratizing Indonesia ini juga berakibat munculnya kesadaran politik sampai tingkat administrasi yang rendah. Teman teman yang dulu apatis pada politik mulai terlibat dengan politik. Pengusaha lokal pun masuk ke politik. Sayang, sebagian bermotivasi agar bisnis mereka makin lancar. (Ada teman yang mengatakan bahwa untuk berpolitik, kita harus punya modal yang besar. Permainan politik juga merupakan investasi bisnis. Kalau kita berhasil menanam modal dalam bidang politik, dan berhasil “menguasai” pimpinan lembaga lembaga penting, nasional, mau pun lokal, maka bisnis kita pun akan makin maju.)

Tahun 2009, pesta makin meriah. Di tahun ini kita juga memilih anggota DPR, bukan sekedar memilih partai. Ini kesempatan orang Indonesia untuk terpilih menjadi anggorta DPR, walau bukan pilihan partai. Akibatnya, orang pun berlomba menjadi calon anggota DPR, ingin menjadi anggota DPR yang terhormat, berkuasa, dan “banyak uang” . Tak mengherankan, orang pun berpacu untuk melakukan investasi yang besar. Berkampanye untuk terpilih bukanlah hal yang murah.

Konon, hiruk pikuk berdemokrasi di tahun 2009 ini juga menjadi salah satu sebab penting mengapa ekonomi kita bertahan dengan baik di tengah krisis global. (Saya sebut konon, karena setahu saya belum ada yang melakukan penelitian secara ilmiah.)

Di luar Indonesia, saya pun makin bangga dengan democratizing Indonesia. Dengan adanya kebebasan berpendapat, dengan kebebasan dalam media masa. Ada yang bertanya, apakah saya tidak kuatir bahwa Indonesia akan kembali ke jaman Suharto? Memang, ada teman teman yang takut dengan arus menguatnya demokrasi di Indonesia. Apalagi, Indonesia masuk ke kelompok G-20, yang diprediksi akan menguasai dunia, menggantikan Amerika Serikat. Mereka kuatir, Indonesia akan dengan gigih menyebar-luaskan virus demokrasi ke negara lain, termasuk negara mereka.

Saya katakan, orang Indonesia kini telah menikmati demokrasi, walau tidak tahu persisnya apa. (Banyak hal yang dapat kita nikmati, walau kita tidak tahu apa yang kita nikmati itu. Menikmati sesuatu adalah proses subyektif, sedang memahami adalah proses yang lebih rasional.) Saya katakan, menikmati demokrasi itu menyebabkan kecanduan. Sekali menikmati, tak akan melepaskan lagi. Itu lah yang terjadi dengan Indonesia. Kalau ada yang memaksakan hilangnya demokrasi di Indonesia, rakyat akan marah. Walau mereka dapat dipaksa untuk diam, tetapi kemarahan tetap terpendam.

Ada pula yang mengatakan bahwa korupsi baik untuk Indonesia. Tanpa korupsi, investasi asing tak dapat dijalankan. Menurut pebisnis asing itu, jaman otoritas seperti jaman Suharto justru lebih baik. Lebih mudah melakukan penyuapan. Investasi lebih cepat. Iklim usaha (business climate) juga amat bagus di jaman Suharto, demikian kata teman itu. Itu sebabnya, pertumbuhan ekonomi juga tinggi di jaman Suharto.

Saya katakan ke teman itu bahwa jaman sudah berubah. Orang Indonesia telah menikmati democratizing Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia tak mau mengorbankan demokrasi semata demi pertumbuhan ekonomi. Untung teman itu tidak bertanya, darimana saya mengetahui hal itu. Apakah sudah ada survai? Memang, belum ada survai mengenai hal itu. Itu sekedar hasil pengamatan yang subyektif dari seorang peneliti seperti saya yang tinggal di luar Indonesia.

Mungkin sebagian ekonom dan pebisnis masih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi. Mungkin, mereka ini tidak mau mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi meningkatkan demokrasi. Buat teman teman ini, demokrasi adalah alat untuk pertumbuhan ekonomi. Kalau ekonomi bisa tumbuh tanpa demokrasi, mereka tak akan meningkatkan demokrasi. Kalau perlu, melakukan pemerintahan yang otoriter untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Bahkan, ada hopotesis bahwa peningkatan korupsi itu juga sarana yang baik untuk menjatuhkan demokrasi dan memunculkan sistem otoriter.

Di pihak lain, ada pula teman teman yang ingin sekali belajar mengenai demokrasi di Indonesia. Saya pernah ditanya oleh teman peneliti dari Cina dan Vietnam mengenai proses demokrasi di Indonesia. Mereka ingin sekali negara mereka mengikuti jejak Indonesia.

Ada pula negara kecil dan miskin seperti Kamboja, yang mengalami dampak luar biasa di krisis global saat ini. Di saat krisis Asia sepuluh tahun yang lalu, Kamboja tidak mengalami dampak yang luar biasa. Setelah krisis Asia selesai, Kamboja mulai ikut ngetrend. Melakukan liberalisasi dan globalisasi, yang berarti free trade, free movement of capital, dan free movement of skilled labour. (Low skilled labour tidak boleh bergerak dengan bebas, karena dalam paradigm ini, arus bebas low skilled workers akan mengganggu stabilitas sosial dan politik negara penerima, yang umumnya adalah negara kaya.) Akibatnya, dalam sepuluh tahun terakhir, Kambojo mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sayang, akibat globalisasi itu pula, di krisis global ini, Kamboja mengalami dampak yang luar biasa pula. Menarik sekali, ada teman dari Kamboja yang ingin belajar dari Indonesia, bagaimana Indonesia melakukan demokrasi dan mengurangi kemiskinan.

Memang, membanggakan. Hidup di luar Indonesia, memperhatikan Indonesia yang makin maju dari sisi demokrasi. Dikagumi banyak orang, tetapi juga ditakuti sebagian yang lain. Semoga saja, arus demokrasi makin menguat di Indonesia—walau sayup sayup saya mendengar kicau burung bahwa proses democratizing Indonesia sedang berada dalam proses yang kurang menyenangkan. Semoga saja, ini sekedar tahap berat untuk menuju kedewasaan kita dalam berdemokrasi.

31 Oktober 2009

Filed under: economy, English, , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: