Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Perlukah Peningkatan Pinjaman?

Aris Ananta

Waktu saya kecil, ayah saya sering menasihati agar kelak saya dapat mengatur keuangan saya sendiri. Agar saya mengkonsumsi sebatas yang saya mampu. Kalau tidak terpaksa, jangan berhutang. Tabunglah dahulu, baru kemudian membeli barang yang diinginkan. Setelah saya agak besar, ayah mengajari saya berbisnis. Seperti soal konsumsi, ayah mengatakan bahwa kita sebaiknya tidak berhutang. Kalau pun berhutang, hutang harus segera dibayar. Mulailah dari usaha kecil. Dapat keuntungan kecil. Sisihkan keuntungan itu untuk investasi. Usaha lebih besar. Keuntungan lebih besar. Sisihkan lagi. Investasikan lagi. Jadi, bukan dengan tiba tiba pinjam uang dalam jumlah besar.

Saya memang tak pernah menjadi pengusaha, tidak pernah masuk dunia bisnis. Saya belajar teori ekonomi di Indonesia dan Amerika Serikat. Saya jadi ekonom. Saya belajar, bahwa kita tidak harus menabung lebih dulu. Kita bisa berhutang. Tak usah menunda konsumsi. Hutang saja, kita dapat mengkonsumsi sekarang. Tak usah menunda investasi . Hutang saja. Kita berinvestasi sekarang. Dengan cara begini, ekonomi akan tumbuh lebih cepat.

Di sinilah, menurut yang saya pelajari, peran hutang dalam mengikis kemiskinan. Masyarakat miskin tak perlu menabung lebih dahulu. Hutang saja. Maka, banyak pinjaman luar negeri mengalir ke negara berkembang, seperti Indonesia.

Lihatlah, betapa gencarnya bank menawarkan hutang untuk konsumsi dan produksi. Usaha yang kelihatannya berjualan barang sehari hari pun ternyata menawarkan hutang. Beli harus diangsur, tak boleh tunai. Mereka dapat untung dari meminjamkan uang, bukan menjual barang itu sendiri. Masyarakat makin diajari untuk berhutang, berhutang, dan berhutang, demi bisnis dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Pertumbuhan ekonomi yang cepat, yang tidak menjamin sustainability. Bahkan, mungkin, pertumbuhan yang cepat, yang menunggu saat untuk tiba tiba tersungkur.

Orang berpendapatan rendah juga diajari dan dibujuk untuk berhutang. Ini telah menjadi bisnis yang menggiurkan.Bukan hanya itu, kita sering mendengar bahwa salah satu indikator majunya perekonomian adalah peningkatan lending/ pinjaman dari perbankan. Dan kita pun sering mendengar betapa kita terus berusaha meningkatan pinjaman.

Di pihak lain, kita tahu bahwa krisis global yang terjadi belum lama ini (sekarang sudah usai?) karena orang terlalu banyak berhutang. Orang berhutang di luar kemampuan. Akhirnya bangkrut, dan berdampak luar biasa pada banyak orang, termasuk mereka yang tidak berhutang.

Mungkin kita perlu mengkaji-ulang manfaat peminjaman/ lending? Sehatkah promosi kredit yang luar biasa yang akhir akhir ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi di mana mana di dunia? Sehatkah mengajari masyarakat untuk pinjam, pinjam , dan pinjam? Bukankah ini tindakan pembodohan masyarakat? Mungkin saya yang tertinggal oleh jaman, masih ingat ajaran ayah saya di jaman dulu, untuk menabung dulu sebelum berkonsumsi dan berinvestasi.

Lalu bagaimana dengan teori yang saya pelajari selama ini? Mungkin, saya harus berani untuk mengkaji-ulang teori teori ini. Mungkin, teori ini benar, dan saya yang salah. Mungkin, semuanya salah.
Mari kita kaji-ulang teori ini, dengan pikiran terbuka.

Singapura, 25 Oktober 2009

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , , , , ,

2 Responses

  1. sahabat says:

    Saya sangat setuju sekali dengan pendapat bapak, karena saya juga mempunyai bapak yang mempunyai pendapat yang sama seperti itu. Semua anak-anaknya dilarang untuk meminjam, tapi harus nabung dulu. Saya setuju bahwa tidak perlu pinjam jika untuk KONSUMSI, apalagi untuk gaya hidup mewah.
    Tapi untuk ‘produksi’ saya masih setuju, supaya bisa menghasilkan uang kembali dan bisa menutupi pinjaman.
    Saya sangat merasakan keuntungan yang sangat besar dari pinjaman, karena dengan bantuan pinjaman tersebut jiwa saya bisa tertolong kembali. Dengan badan yang sehat, jadi bisa usaha kembali. Namun sebenarnya tindakan melakukan pinjaman tersebut SANGAT terpaksa karena sangat perlu, dan tidak ada biaya……

  2. Abduh says:

    Berkaitan dg topik utang menghutang ini, mgk gak pemerintah memaksakan bunga rendah sehingga bank / pemodal terkondisi untuk meminjamkan modal untuk usaha. Tidak seperti skrg, orang yg punya duit lbh senang simpan uangnya di deposito…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: