Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Korupsi Baik untuk Pertumbuhan Ekonomi?

Aris Ananta

Beberapa hari yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan baru (bukan orang Indonesia). Dia mempunyai banyak bisnis di Indonesia. Menurut dia, korupsi itu baik untuk Indonesia. Kata dia, tanpa melakukan penyuapan, bisnis dia tidak dapat jalan di Indonesia. Menurutnya, orang seperti dia itu banyak.

Bayangkan, katanya, kalau orang orang seperti dia ini tidak dapat melakukan penyuapan! Berapa banyak proyek yang gagal dilaksanakan. Berapa banyak FDI (foreign direct investment) yang gagal masuk ke Indonesia. Dampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terasa. Maka, penyuapan (dan korupsi) itu baik untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Bayangkan, katanya lebih lanjut, dampaknya pada ekspor Indonesia. Kalau FDI itu sebagian besar bergerak di bidang yang berorientasi ekspor, maka tanpa korupsi, ekspor pun akan turun. Kalau ekspor turun, pertumbuhan ekonomi akan turun.

Saya kaget mendengar uraian kawan baru ini. Saya katakan, pertumbuhan ekonomi seperti itu akan merusak rasa keadilan.

Saya bertambah kaget ketika dia menjawab “Itu soal ideologi!”

Saya terdiam sejenak, dan dengan agak emosi saya berkata “Please, do not promote corruption in Indonesia though it is good for your business and Indonesian economic growth”.

Kawan itu ganti agak kaget melihat reaksi saya. Namun, dia masih menerangkan lagi. Dia mengatakan bahwa tanpa korupsi kegiatan di Indonesia tak bisa jalan. Jadi, mau tetap miskin, atau lebih kaya walau dengan korupsi?

Saya lalu jelaskan pada dia bahwa kami mempunyai paradigma pembangunan yang berbeda. Saya seorang ekonom, tetapi saya tidak sependapat dengan growth oriented paradigm.

Saya jelaskan ke dia bahwa rakyat Indonesia sedang mempelajari demokrasi. Rakyat Indonesia suatu ketika akan marah besar kalau mereka sadar bahwa ada orang yang sengaja mendorong korupsi di Indonesia.

Kali ini teman baru saya itu benar benar kaget dengan reaksi saya. Dia diam saja. Rupanya, dia baru sadar bahwa teman barunya adalah orang Indonesia yang ingin melepaskan dari growth oriented paradigm.

Dia tampak menyesal sekali. Setelah itu, saya lihat, dia duduk termenung di suatu sofa.

Sampai di rumah, suasana dia termenung di sofa itu kembali muncul di benak saya. Saya jadi kasihan pada teman baru itu. Dia bukan pengusaha besar, dia bukan tokoh masyarakat.

Dia tidak dapat disalahkan….
Pengajaran ekonomi memang begitu…………..
Pertumbuhan ekonomi menjadi pengukur utama pembangunan.
Orang berlomba-lomba mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, apa pun caranya.

Beranikah kita, para ekonom, mengubah cara berpikir kita dalam melihat pembangunan ekonomi? Beranikah kita mengubah buku teks ekonomi makro kita?

Untungnya, dunia sudah mulai berubah. Dunia tampaknya sudah mulai bergerak untuk mengubah paradigma pembangunan.
Kita, orang Indonesia, jangan ketinggalan. Kita dapat menyumbang banyak untuk perubahan paradigma ini.

Kita mulai dengan Indonesia.

Singapura, 11 Oktober 2009

Filed under: economy, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 89 other followers

%d bloggers like this: