Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Merenungi Statistik: Jalan Macet dan Sariawan

Aris Ananta

Dari Singapura, di hari ini, tanggal 21 September 2009, saya membayangkan keriuhan dan keramaian di Indonesia, terutama di kota kota kecil dan pedesaan. Jalanan yang padat dan penuh suka cita. Dari cerita cerita di koran, makin tahun kepadatan lalu linta saat lebaran memang terus meningkat. Ini memang mengagumkan. “Pertanda ekonomi kita makin baik”. Lagipula, orang tidak mengeluh bukan?

Lamunan ini mengingatkan pada tulisan saya di blog ini beberapa saat yang lalu, soal jalan macet dan pertumbuhan ekonomi. Saya mengritik penggunaan statistik penjualan mobil sebagai indikator pembangunan ekonomi. Saya katakan, kalau statistik ini dipakai, tentu saja jalan di Jakarta dan kota kota lain akan bertambah macet.

Beberapa kawan yang membaca tulisan itu telah memprotes saya. Kata mereka, statistik penjualan mobil itu memang memperlihatkan permintaan di masyarakat. Peningkatan penjualan mobil berarti memperlihatkan telah terjadinya peningkatan pendapatan masyarakat, bahwa perekonomian terus maju. Kalau jalanan jadi macet, demikian kata teman tersebut, yang salah bukan kemajuan ekonominya, tetapi sistem transportasi yang jelek. Tampaknya, teman itu mengasumsikan bahwa para ekonom memang tidak menaruh perhatian pada hal hal seperti kemacetan lalu lintas.

Saya kemudian teringat cerita yang dulu, di tahun 90-an, sering saya sampaikan waktu memberi kuliah Ekonomi Kependudukan di FE-UI, waktu memberi kuliah kependudukan di Program Studi Kependudan dan Ketenagakerjaan di UI, dan dalam berbagai seminar mengenai penduduk dan pembangunan.

Alkisah, ada seorang kawan yang sangat senang makan makanan yang pedas. Kalau makan, sambalnya banyaaaak sekali. Namun, kasihan, dia juga sering menderita sariawan. Tidak tanggung tanggung, dia sering mengalami tujuh sariawan sekaligus di mulutnya. Kiri atas dan bawah, kanan atas dan bawah, lidah bagian atas dan bawah, dan juga di bibir. Bayangkan, dengan begitu banyak luka sariawan di mulutnya, dia makan sambal yang demikian banyaknya. Tentu amat amat sakit. Teman itu sudah tidak dapat menikmati sambal ketika dia mengalami sariawan.

Siapa yang salah? Sariawan atau sambalnya? Apakah sambal menyebabkan kawan itu menderita? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Kalau dia tidak menderita sariawan, sambal itu memberikan kenikmatan luar biasa untuknya. Kalau dia menderita sariawan, sambal itu menjadi sumber penderitaan yang luar biasa.

Penyelesaiannya: ya..sembuhkan sariawan itu, agar dapat selalu menikmati sambal. Atau, sementara sariawan berjangkit, jangan makan sambal dulu.

Soal sambal dan sariawan ini mungkin dapat menerangkan soal jalan macet dan pertumbuhan ekonomi yang saya tulis di blog ini.

Pertumbuhan ekonomi itu bagaikan sambal dan jalan macet itu sariawan. Kalau tahu sedang menderita sariawan, mengapa memaksakan makan sambal? Kalau teman itu memaksakan makan sambal, teman itu tentu menderita sekali. Kecuali bahwa dia mengatakan pada diri sendiri bahwa kelezatan makanan adalah berapa banyak sambal yang dapat kita lahap, tidak pandang penderitaan yang kita alami karena sakit yang disebabkan kombinasi sariawan dan sambal.

Kita pun dapat memaksakan pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan penjualan mobil, sambil menderita kemacetan lalu lintas, dan menghibur diri…”ini tandanya ekonomi kita bagus”

Pembangunan semacam ini kah yang kita inginkan? Kita tetap ingin makan sambal walau menderita sariawan? Kalau memang itu yang kita inginkan, ya…kita harus bersyukur bahwa Jakarta makin macet.

Karena kita tahu sistem transportasi masih jelek, kita jangan mendorong penjualan mobil. Kita perlu mencari sumber pertumbuhan ekonomi yang lain. Saya tidak percaya bahwa para ekonom tidak peduli dengan masalah kemacetan lalu lintas. Saya tidak percaya bahwa para ekonom sekedar ingin menaikkan pertumbuhan ekonomi, apa pun dampaknya, termasuk dampak pada kemacetan lalu lintas.

Semoga “kepercayaan” saya ini memang masuk akal. Semoga kemacetan di Jakarta dan kota kota lain di Indonesia dapat berkurang. Semoga lebaran tahun depan tidak sepadat tahun ini, sehingga memungkinkan lebih banyak orang untuk saling bersilaturahmi.

Singapura, 21 September 2009

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, internal migration, migration, Uncategorized, , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 90 other followers

%d bloggers like this: