Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Mletiko

“mletiko” comes from the verb “mletik”, a Javanese word that means something close to “sparkle”. Mletik, however, is a very brief spark just like when we ignite a match. If it is not caught immediately, it will die.

Mletiko then means to mletik – to spark ideas. I hope this blog can mletik everybody who reads it. Yet, readers must be cautioned. To mletik will not necessarily make us happy. When we mletik, we catch fire and with this light we may see the surrounding a little better. However, a better understanding of our surrounding may make us frustrated and angry. It really depends on how we perceive pe-mletik-an.

A good English synonym for pemletikan is enlightenment. I would say, however, that enlightenment is deeper than pemletikan. Enlightenment is more spiritual, but here, in this blog, it is simply an intellectual process.

I love economic analyses, tools to choose whenever we have scarcity. The issues are not necessarily related to “money”. I may cover “cultural” and “political” issues. I am also a demographer, working with statistics on population dynamics as well as its wide social, economic, and political determinants and implications. Southeast Asia, particularly Indonesia, is my main research interest.

Selamat Mletik, Happy Mletik.

Aris Ananta (arisananta@gmail.com)

Filed under: Uncategorized,

Apinya Para Jago

Aris Ananta, 22 Januari 2017

Imlek (Chinese New Year) segera tiba. Tahun akan berganti dengan Tahun Ayam Jago.

Di tahun ini akan muncul para “Jago”, yang membusungkan dada, memamerkan kehebatan mereka.

Semoga tahun ini berisi para Jago yang penuh kasih-sayang, mudah memaafkan. Para Jago yang membawa rasa nyaman, bukan mengobarkan kemarahan dan kebencian. Para Jago yang membusungkan dada bahwa mereka toleran, tidak gampang marah. Para Jago yang bersaing dalam menciptakan kedamaian di antara semua manusia, semua mahluk hidup dan lingkungan mereka.

Tahun yang segera datang adalah juga Tahun Ayam Jago yang bersifat api. Semoga para Jago membawa api saling memaafkan, api pencerahan jiwa, api kedamaian, api kasih sayang, api persaudaraan, api kebersamaan, api keragaman. Para Jago yang anti korupsi dalam perbuatan sehari hari, yang bekerja keras dengan jujur, yang menjaga lingkungan mereka, yang selalu mengasihi siapa saja.

Kita semua adalah para Jago, tidak pandang usia, jenis kelamin, pendidikan, agama, suku bangsa dan berbagai latar belakang kita.

Selamat Imlek.

Filed under: Bahasa Indonesia, Ethnicity

Jakartaku Nan Indah

Aris Ananta, 16 Januari 2017

 

Ini bukan ulasan ilmiah. Sekedar ngobrol, berbagi perasaan. Hampir 2 tahun aku kembali hidup di Indonesia, khususnya Jakarta. Persisnya mulai tanggal 5 Februari 2015. Tiga hari kemudian, rumah direndam banjir. Air masuk rumah hampir setengah betisku. Tiga hari air baru mulai menyusut. Di luar rumah masih di kepung air. Kami bahkan sempat membeli sayur dan buah di “sungai apung”, jalanan yang menjadi sungai tetapi tukang sayur sudah berani jualan dan kami pun sudah bisa keluar rumah dengan menerobos air.

Banjir sudah jadi “nasib” Jakarta tiap tahun. Aku putuskan kembali ke Jakarta dan sudah pasrah dengan nasib ini. “Hanya setahun sekali”, kata seorang keponakanku. “Seperti berkemah,” kata seorang anakku. Aku hanya bisa senyum kecut mendengar komentar anak anak muda ini.

Namun, “nasib” memang berubah. Tahun 2016 bebas banjir. Kalau pun ada air tergenang karena hujan, air surut dengan cepat. Kalau dulu aku selalu was was akan banjir bila awan sudah gelap sekali, kini aku lebih tenang. Aku tahu, tak akan banjir seperti dulu lagi. Tak perlu bingung menaikkan kursi, dan perabot rumah tangga lagi. Kendaraan tak akan mogok di jalan.  Semoga Jakarta terus makin bebas dari banjir. Genangan air akan hilang. Jakarta akan menjadi contoh kota kota lain di Indonesia dan di negara berkembang lain.

Sungai dan danau dibenahi. Semoga suatu saat, sungai dan danau di Jakarta dapat menjadi daerah wisata dan penyangga persediaan air penduduk Jakarta.

Bukan hanya soal banjir dan air. Dua tahun hidup di Jakarta, aku juga merasakan berbagai perbaikan lain. Lalu lintas masih macet, tetapi kami kini aku makin sering menjumpai titik titik yang lancar. Fasilitas di “busway” makin baik. Para orang tua dan cacat mendapat perhatian yang ramah dari petugas. Busway memang tidak mengurangi kemacetan, tetapi telah banyak membantu penduduk Jakarta dalam mobilitas mereka sehari hari, dengan harga terjangkau. Busway membantu mengurangi rasa ketidak adilan.

Di saat aku memberikan kuliah, hampir tiap hari aku naik KRL (kereta listrik). Biayanya murah karena mendapat subsidi dari pemerintah. Belum senyaman MRT di Singapura, tetapi sudah amat bagus. Menghindar dari kamacetan. Para penumpang yang masih muda pun sering dengan gesit memberikan tempat duduk ke penumpang yang sudah lansia, ibu hamil, orangtua dengan anak anak. Memang, di jam jam tertentu penumpang berjubel, seperti halya di MRT Singapura ketika di jam jam berangkat dan pulang kantor.

Turun dari kereta di stasiun Universitas Indonesia. Aku berjalan kaki menerobos hutan kampus. Nikmat sekali. Segar. Tiba di kampus FEB. Sering saya berkeringat. Tetapi tak apa, saya membawa ganti baju. Indah sekali. Siap mengajar dengan segar.

Tempat tempat yang rawan dengan kriminalitas makin sedikit jumlahnya. Aku terpesona melihat betapa santainya penduduk Jakarta bermain HP di tempat umum, bahkan di sepeda motor… walau itu berbahaya. Di bus, di kereta, di mana saja, orang ber- HP. Bahkan membawa komputer ke mana mana. Betapa amannya Jakarta saat ini.

Aku juga senang dengan makin banyaknya tanaman di tempat umum. Mengurangi stress di jalan raya.

Tempat bebas dari asap rokok juga makin banyak. Kalau pun masih ada yang merokok, mereka biasanya sudah merasa bersalah, kalau ditegur.

Birokrasi pemerintah? Wah.. beda banget. Birokrasi pemerintah makin efisien. Kami merasakan efisiensi dan profesionalitas para petugas di birokrasi pemerintahan.

Ah.. masih banyak lagi yang aku lihat. Tetapi, catatan ini aku akhiri di sini saja. Sedikit renungan dari 2 tahun aku kembali hidup dan bekerja di Jakarta. Jakartaku yang indah dan akan makin indah. Semoga di hari hari dan tahun tahun ke depan Jakartaku akan terus makin indah.

Filed under: Bahasa Indonesia, jakarta

Chinese Indonesians: How Many,Who and Where

Just Published on line

Evi Nuvidya Arifin, M. Sairi Hasbullah, and Agus Pramono. “Chinese Indonesians: How Many and Where”, Asian Ethnicity, 2016, on-line.

This paper provides new statistics to the debate on percentage of Chinese Indonesians, using the latest 100% data set of the 2010 population census. It reveals that the statistics is closer to the low side of the debate, less than 2.0%, rather than the high side of 3.0% and more. Ethnicity is here self-defined by the respondents. With 1.2%, the Chinese Indonesians ranked as the 15th largest group of more than 600 ethnic groups. This paper also produces statistics at the district level, the first ever statistics on Chinese Indonesians. It finds that some provinces and districts have large percentages of Chinese Indonesians, but the respective total population are relatively small to the total Indonesia’s population. Majority of provinces and districts (25 out of 33 provinces and 415 out of 497 districts) have lower percentage of Chinese than the national figure.

Filed under: Demography, English, Ethnic Diversity, Indonesia, Statistics, Ethnicity, Uncategorized,

Merokok, Sakit Sakitan, dan Pertumbuhan Ekonomi!

Aris Ananta

28 Agustus 2016

Tidak sehat tak apa apa, karena ekonomi justru terus tumbuh dengan baik. Merokoklah. Jangan kuatir bahwa anda, pasangan anda, keluarga anda, teman anda dan orang lain akan sakit dan sakit sakitan. Ini adalah pengorbanan anda semua demi pertumbuhan ekonomi. Tetapi, siapkah anda menjadi sakit dan sakitan sambil nonton pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan? Itu kah yang anda inginkan dari pembangunan ekonomi? Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, Uncategorized, , ,

Merokoklah, Demi Pertumbuhan Ekonomi

Pembaca yang budiman,

Merokoklah terus. Sakit dan sakitan tidak apa apa. Anda akan membantu pertumbuhan ekonomi. Demi kesejahteraan industri rokok kita diminta terus merokok. Jangan risaukan sakit dan sakit sakitan, anda pahlawan ekonomi.

Lucu ya? Semoga anda tidak mau menjadi pahlawan ekonomi seperti ini. Kasihanilah diri anda sendiri, pasangan anda, keluarga anda, dan masyarakat Indonesia.

Yuk, kita semua mengikuti gaya hidup sehat. Demi kesejahteraan kita semua. Selain itu, ada bonusnya. Kalau kita sehat, ekonomi akan tumbuh dengan berkelanjutan. Kalau kita sakit sakitan,  kita akan mengalami bencana demografi. Produktifitas turun drastis dan ekonomi juga akan berantakan.

Salam hidup sehat.

Aris

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , ,

Hak Pejalan Kaki

 

13 Juli 2016

Pembaca yang budiman,

Barusan saya membaca berita, pemerintah DKI hendak mengembalikan hak pejalan kaki dan penyandang disabilitas. Selama ini, pejalan kaki tidak mempunyai hak berjalan sama sekali. Bukan hanya di Jakarta, di kota kecil pun demikian. Bahkan di lorong lorong kecil, sepeda motor telah merampas hak orang untuk berjalan kaki.

Semoga rencana pemerintah DKI berjalan dengan lancar. Orang dapat berjalan kaki. Jalan kaki  murah, menyehatkan, tidak mengotori lingkungan dengan hemat energi. Silakan baca berita berikut ini. Click di sini.

 

Mari kita dukung program ini.

Salam,

Aris

 

 

 

 

Filed under: Uncategorized

Statistics on Ethnicity in the Land of Papua, Indonesia

11 July 2016

Dear readers,

This is a just published paper on ethnicity in Indonesia, Asia & the Pacific Policy Studies, 27 June 2016.  doi: 10.1002/app5.143.

Regards,

Aris

Abstract

This paper aims to quantitatively uncover ethnic diversity in multi-ethnic Land of Papua, an Indonesian region with a large inflow of migration and rising ethno-based movement, consisting of the Provinces of Papua and West Papua. It produces statistics on ethnic diversity in the Land of Papua, utilizing the tabulation provided by Statistics-Indonesia based on the raw, 100 per cent, data set of the 2010 population census. It uses three measurements of ethnic diversity. First is ethnic fractionalization index, showing the degree of ethnic heterogeneity. Second is ethnic polarization index, examining the existence of few relatively large ethnic groups of almost the samesizes.Third is a comparison of percentages between migrant and Papuan groups. It finds that the Land of Papua is ethnically very heterogeneous, but not polarized. West Papua is more heterogeneous, but Papua is more polarized. However, seen from a dichotomy between migrants and Papuans, West Papua is very polarized. In-migration may have increased the probability of having ethnic conflicts in the region but does not change the probability of the intensity of the conflicts. Therefore, ethnic conflicts should be anticipated whenever making programmes that involve in-migrants or entice people to migrate into the Land of Papua.

 

Dowload here for the full paper of Statistics on Ethnicity in the Land of Papua.

Filed under: Demography, English, Ethnic Diversity, Indonesia, Statistics, , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about OUR PUBLICATION .<br

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 109,908

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 91 other followers