Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SENTIMEN ANTI ORANG-ASING

Aris  Ananta

Mletiko, 6 April 2012

Seperti dilaporkan di The Straits Times, 5 April 2012, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Long, merisaukan adanya peningkatan sentimen anti orang-asing di Singapura. Terjadi peningkatan ketidak-sukaan “orang Singapura” terhadap yang bukan “orang Singapura”.  Yang “bukan orang Singapura” termasuk orang orang dari negara lain yang memilih menjadi warga negara Singapura, penduduk tetap (permanent resident),  warga negara asing yang memegang employment pass dan working permit. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, statistics, , , , , , ,

KRISIS GLOBAL: APA YANG HARUS KITA PERBUAT?

Aris Ananta

4 April 2012

Dunia dalam kondisi yang tidak menentu. Dalam waktu yang sama, kita semua akan menghadapi empat macam krisis global, yang bermuara dari masalah dan lokasi geografis yang berbeda-beda. Kesemuanya bersumber dari “keserakahan” manusia, yang dapat disebut sebagai krisis kemanusiaan. Manusia yang serakah tak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Untuk memperoleh apa yang mereka ingingkan, mereka tak peduli dengan dampak negatif pada lingkungan, pada masyarakat, bahkan pada keluarga dan dirinya sendiri. Keinginan mereka  terus meningkat dan makin sulit dipuaskan, walau telah melampaui kemampuan mereka  untuk membiayai konsumsi tersebut. Mereka berani berhutang dan mereka ini sasaran empuk para pemberi hutang.

Selanjutnya, silakan baca Krisis Global: Apa yang Harus Kita Perbuat?

Filed under: economy, , , , , , , , , , , ,

Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Beberapa kawan ingin sekali mengetahui pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo Nitisastro. Berikut ini usaha saya untuk sedikit bercerita mengenai pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo, yang saya kumpulkaan dari beberapa tulisan saya sebelumnya, ditambah dengan beberapa informasi yang belum sempat saya catat.

Silakan membaca tulisan singkat saya mengenai Pak Widjojo di Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Semoga berguna.

Salam,

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 15 Maret 2012


Makin Panjang Umur

Setiap hari kita semua bertambah tua. Setiap tahun banyak diantara kita merayakan hari kelahirannya dengan gembira bahkan terkadang dihiasi dengan pesta yang gegap gempita. Tingkat kematian penduduk semakin baik sehingga rata-rata harapan hidup penduduk dibanyak negara semakin lama.  Pembangunan nasional telah berhasil memperbaiki kesehatan penduduk Indonesia, kematian bayi bisa dicegah, kematian dewasa bisa diperlambat, angka harapan hidup semakin lama. Sebagai gambaran, pada awal tahun 1970an rata-rata angka harapan hidup saat lahir penduduk Indonesia 45.7 tahun saja. Angka harapan hidup perempuan lebih lama daripada laki-laki, 47,2 tahun untuk perempuan dan 44,2 tahun untuk laki-laki. Memasuki awal Milenium penduduk Indonesia telah makin panjang umur. Data Sensus 2000 menghasilkan estimasi rata-rata angka harapan hidup saat lahir sebesar 65,4 tahun, atau 20 tahun lebih lama hidupnya dibanding 30 tahun lalu. Harapan hidup saat lahir penduduk perempuan sebesar 67,3 tahun dan laki-laki 63,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2030, angka harapan hidup tersebut akan terus meningkat mencapai 84 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk laki-laki (Ananta, Arifin dan Bakhtiar, 2006). Lebih lanjut, studi tersebut, yg diberi judul Ethnicity and Ageing in Indonesia: 2000-2050,  mengungkapkan bahwa angka harapan hidup untuk tiap kelompok suku di Indonesia berbeda-beda.

Keluarga Kecil

Sementara makin banyak orang berumur panjang, pasangan-pasangan suami istri di Indonesia tidak lagi memiliki jumlah anak yang banyak. Keluarga besar tidak lagi menjadi norma umum masyarakat Indonesia. Berbeda dengan jaman dulu, dekade 1970an saat keluraga berencana diperkenalkan di bumi Garuda, tiap perempuan usia reproduksi di Indonesia rata-rata memiliki jumlah anak sekitar 5 dan 6 anak. Di jaman kini, di era Milenium, rata-rata sekitar 2 anak saja. Diperkirakan dimasa depan, makin banyak yang pasangan yang hanya memiliki anak sedikit bahkan sangat mungkin tidak mau memiliki anak di perkawinan mereka.

Lansia: Jumlah dan Persentasenya Melaju

Lantas, apa akibat angka harapan hidup yang terus meningkat yang disertai dengan rata-rata jumlah anak yang makin sedikit. Struktur penduduk Indonesia berubah, proporsi penduduk muda semakin berkurang, sedangkan proporsi penduduk lansia semakin meningkat. Siapakah penduduk lansia ini? Undang-undang Republik Indonesia no 13/1998 mendefinisikan penduduk usia lanjut atau lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Jumlah penduduk lansia usia 60 tahun ke atas di Indonesia terus bertambah dengan pesat dari 5,3 juta di tahun 1971, menjadi 18,0 juta di tahun 2010. Persentasenya terhadap total penduduk Indonesia juga terus meningkat dari 4,5 persen tahun sensus 1971 ke 7,6 persen di tahun sensus 2010. Di tahun 2030, jumlahnya akan melebihi 36 juta, atau lebih dari 13 persen. Lansia sebanyak 36 juta itu kira-kira saat ini sama dengan seluruh jumlah penduduk di bagian Timur Indonesia yang terbentang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Jumlah ini menjadi beban tanggungan penduduk usia kerja. Apabila lansia ini hidup lama dan sakit-sakitan maka tidak hanya menjadi beban penduduk usia produktif saja melainkan juga jadi beban negara. Oleh karena itu, untuk mencegah peningkatan beban ekonomi-sosial pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia, menua dengan aktif harus dipromosikan.

Menua dengan Aktif

 

Apakah itu menua dengan aktif? Menua dengan aktif menurut definisi WHO (2002) dalam bukunya Active Ageing : A Policy Framework yaitu upaya pengoptimalisasi peluang kesehatan, partisipasi dan keaman untuk meningkatkan kualitas hidup sampai masa tua. Dengan definisi WHO ini, menua dengan aktif tidak terbatas pada lansia saja. Menua dengan aktif mencakup semua umur. Agar bisa menua dnegan aktif banyak faktor yang harus diperhatikan, dan faktor-faktor tersebut satu sama lain saling terkait. Diagram dibawah ini menggambarkan kerangka analysis menua dengan aktif.

Untuk menjadikan lansia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup sehat dan mempersiapkan masa lansia secara lebih baik sejak dini. Dengan demikian ketika kita membicarakan permasalahaan yang berkaitan dengan lansia, sesungguhnya tidak hanya membicarakan lansia saja, melainkan juga penduduk muda. Pola hidup sehat,  pola makan yang baik dan bergizi, bahkan sejak di dalam kandungan. Pengembangan bakat dan keahlian juga harus dimulai sejak dini. Mengingat kerangka diatas, menua dengan aktif merupakan tantangan masa depan pembangunan di Indonesia. (*)

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, , , , ,

IN MEMORIAM: WIDJOJO NITISASTRO

11  Maret 2012

Pengunjung Mletiko,

Pak Widjojo Nitisastro, seorang ekonom-demografer yang telah mengubah paradigma pembangunan Indonesia di tahun 60-an, telah mendahului kita. Wafat pada tanggal 9 Maret 2011 yang lalu, pada usia 84 tahun.

Terlampir sedikit tulisan saya mengenai beliau dan pemikiran beliau di  InMemorianWidjojoNitisastro

Semoga bermanfaat.

Salam,

Aris Ananta

Tulisan terkait:

Widjojo Nitisastro: Perombak Paradigma Pembangunan

Widjojo Nitisastro and Changes to Development Paradigm

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , , , , , ,

Population Dynamics and Climate Change: Indonesia as an Illustration

Aris  Ananta

6 March 2012

Dear readers,

Some friends asked me “What are the contribution of demographic analysis on mitigating and adapting to climate change?’

Not many people write on this topic. Attached is my initial response to the question.

Read Population Dynamics and Climate Change. Revised, 4 April 2012. Comments are warmly welcome to improve the ideas and paper.

Though this is an  unedited paper, please feel free to cite it you are interested.

Thank you very much.

Best regards,

Aris

Filed under: Demography, English, Uncategorized, , , , , , , , , ,

Kurangi Konsumsi Beras untuk Mengekspor Beras?

29 Februari 2012

Pengunjung Mletiko yang budiman,

 

Pemerintah mencanangkan target pencapaian surplus 10 juta ton beras di tahun 2014. Salah satu kebijakan untuk mencapai target ini adalah dengan diversifikasi konsumsi pangan. Khususnya, orang Indonesia harus  dapat mengurangi konsumsi beras.

 

Pagi ini saya mendengar pemerintah berpendapat bahwa pengurangan  konsumsi beras akan menurunkan harga beras. Pemerintah kemudian berargumentasi bahwa akan terjadi surplus beras dengan harga murah. Kemudian, beras dapat diekspor.

 

Saya bingung,  ketahanan pangan dalam hal beras bertujuan untuk ekspor beras?

 

Mungkin ada sumbangan pemikiran dari pengunjung Mletiko.

 

Salam,

 

Aris

Filed under: Uncategorized



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about our publications.

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 44,882

Authors

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 37 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers