Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

Dampak Pasar dan Politik Dunia pada Pasar Pembantu Rumah Tangga di Singapura

Mletiko, 21 Juni 2011

Pengunjung Mletiko yang baik,

Perubahan kondisi pasar tenaga kerja (tepatnya Pembantu Rumah Tangga atau sering pula disebut dengan PLRT–Penata Laksana Rumah Tangga) dan politik dunia tampaknya akan  mempengaruhi kesejahteraan para PLRT Indonesia di Singapura. Usul untuk memberikan satu hari libur per minggu makin sering disampaikan, bahkan dimuat di koran utama, the Straits Times, yang sering dilihat sebagai pembawa suara pemerintah Singapura. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, international migration, migration, poverty, , , , , ,

KEBUTUHAN PLRT (PEMBANTU RUMAH TANGGA) DI SINGAPURA

Aris  Ananta

Untuk MLETIKO, 4 April 2010

 

Dengan angka kelahiran yang sudah jauh dibawah replacement level, yaitu suatu angka yang dapat menghasilkan jumlah penduduk yang konstan, Singapura menghadapi prospek penurunan jumlah penduduk, bila tidak mendapatkan migran dari negara lain. Replacement level   biasanya dicapai pada saat angka kelahiran total (TFR) sekitar 2,3. Padahal, angka kelahiran total di Singapura telah mencapai 1,1 di tahun 2010.

            Tidak mengherankan, Singapura telah memasukkan banyak migran, untuk membantu berbagai kegiatan perekonomian mereka. Bukan hanya migran yang berpenghasilan tinggi, tetapi juga migran yang berpendidikan –rendah dan berpenghasilan rendah. Mereka juga membutuhkan PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga – pembantu rumah tangga), untuk mengurus anak anak, orang tua, dan mengurus rumah tangga. PLRT, khususnya dari negeri lain,  merupakan tenaga kerja murah, agar orangtua anak anak dapat bekerja keras mencari nafkah. Mereka juga sering mengerjakan pekerjaan, seperti membersihkan wc dan mencuci piring serta membersihkan meja makan di tempat makan umum,  yang tidak diinginkan oleh warga setempat.

            Jumlah migran ini mencapai kira kira 26 persen dari keseluruhan penduduk di Singapura tahun 2010. Jumlah ini tidak termasuk permanent residents. Pertumbuhan cepat terjadi selama 2000-2010. Tidak mengherankan, penduduk lokal kaget dengan perubahan ini. Sekarang, suasana “asing”, termasuk suasana “Indonesia” makin mudah terlihat di Singapura.

            Salah satu cara mereka untuk mengatasi “banjir” orang asing adalah mengurangi kebutuhan untuk PLRT. Mereka ingin agar orang Singapura dapat hidup tanpa PLRT, seperti yang terjadi di banyak negara maju seperti Amerika dan Australia. Read the rest of this entry »

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, English, international migration, migration, , , , , , , ,

Perdebatan Gaji PLRT Indonesia di Singapura

Aris  Ananta

 

Untuk MLETIKO , 26 Februari 2011

 

Saat ini masalah PLRT (Penata Laksana  Rumah Tangga –pembantu rumah tangga) asing, khususnya dari Indonesia memang sedang makin ramai dibicarakan di Singapura, apalagi tidak lama lagi Singapura akan menyelenggarakan pemilihan umum. Seperti dimuat dalam  Meningkatkan Kesejahteraan PLRT di luar negeri” dan “Ketergantungan pada PLRT (Pembantu Rumah Tangga), 17 agen penempatan PLRT di Singapura telah mengusulkan kenaikan gaji PLRT dari Indonesia. Usulan ini mendapat banyak tantangan, termasuk tuduhan bahwa para agen melakukan tindakan yang tidak kompetitif, karena mereka telah menggunakan kekuatan oligopolistik untuk menentukan harga.

Hari ini, The Straits Times, koran berbahasa Inggris di Singapura, edisi 26 Februari 2011, melaporkan bahwa Ketua   Associaton of Employment Agencies memberikan jawaban terbuka atas berbagai kritik pada usulan mereka untuk menaikkan gaji PLRT dari Indonesia. Ia mengatakan bahwa Singapura bukanlah negara tujuan yang menarik untuk PLRT dari Indonesia, karena adanya batasan usia yang diberikan oleh pemerintah Singapura, persyaratan harus dapat berbahasa Inggris, dan makin banyaknya ijin untuk membuka agen penempatan di Singapura.

Maka, Ketua perkumpulan agen penempatan PLRT  tersebut mengatakan bahwa hukum penawaran dan permintaan telah berlaku.  Kesejahteran PLRT dari Indonesia harus dinaikkan karena perubahan pasar dan kecenderungan gaji (di pasar internasional). Untuk dapat menarik lebih banyak PLRT dari Indonesia, ia  berpendapat bahwa para PLRT harus diberi gaji yang lebih tinggi. Ketua itu juga  mengatakan bahwa mereka telah mengusulkan undang undang agar PLRT tidak menanggung semua beban  pengiriman mereka dari Indonesia hingga ke Singapura.  Para majikan harus menanggung sebagian biaya ini. Tetapi, mereka mengatakan bahwa mereka telah gagal dalam memperjuangkan hal ini.

Pengalaman saya bertemu PLRT dari Indonesia memang memperlihatkan bahwa mereka yang relatif bahagia bekerja di Singapura adalah mereka yang sudah matang, pandai, dan tahu hak hak mereka. Mereka juga dapat mengurangi risiko “pemerasan” ketika mereka berangkat dari atau pulang ke Indonesia. Oleh sebab itu, situasi di negara penerima seperti Singapura ini merupakan kesempatan baik bagai pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk hanya mengirimkan PLRT yang berkualitas—yang matang, pandai, bertanggung-jawab, tahu dan berani mempertahankan hak hak mereka. Tentu saja mereka harus mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.  Pemerintah Filipina juga terus berusaha meningkatkan kualitas PLRT yang mereka kirimkan, seperti antara lain tertulis di Perbenturan Kepentingan Ekonomi Antar Negara

Para majikan tentu tidak akan keberatan membayar lebih mahal, karena mereka juga mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Pemerintah Indonesia dan negara penerima (dalam hal ini Singapura) juga akan bergembira karena jumlah dan kualitas perselisihan antara PLRT Indonesia dan majikan di Singapura akan makin sedikit.  (*)

 

 

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, international migration, migration, , , , , ,

ANGKA KELAHIRAN DI SINGAPURA MAKIN RENDAH

Evi Nurvidya Arifin

Untuk  Mletiko, 19 Januari 2011

Di Indonesia beberapa kawan merisaukan “besarnya”  jumlah bayi lahir  di Indonesia,  sebanyak 4,5 juta tiap tahun. Untuk memperlihatkan betapa besarnya jumlah itu, mereka  mengatakan bahwa  jumlah tersebut  hampir sama dengan jumlah keseluruhan penduduk Singapura. The Strait Times, harian terbesar di Singapura, edisi Selasa, 18Januari 2011, menampilkan berita utama  “Fertility figures hit all-time low”.

Seperti dikatakan di harian ini, Singapura di tahun 2010 menghadapi masalah karena banyaknya  pasangan suami istri yang tidak mau mempunyai anak. Hal ini ditunjukkan dengan angka kelahiran di tahun 2010 yang amat rendah. Angka fertilitas total (TFR- total fertility rate) yang sudah rendah terus menurun, mencapai 1,16 di tahun 2010. Di tahun 2009, angka ini masih sebesar 1,22. Angka ini jauh di bawah replacement level fertility, yaitu dengan TFR sekitar 2,2. Dengan replacement level, bila tidak ada migrasi neto yang positif, jumlah penduduk Singapura akan berhenti bertumbuh setelah berada di era replacement level kira kira 40-50 tahun. Singapura telah mencapai replacement level pada tahun 1975, setelah 10 tahun melakukan pengendalian kelahiran yang ketat. Sejak saat itu, angka kelahiran terus menurun, dan selalu berada di bawah replacement level.

Ketika suatu negara, atau suatu daerah, mengalami angka kelahiran yang terus menurun dan selalu berada dibawah 2,2, jumlah penduduk di daerah tersebut akan dapat berkurang jumlahnya, kalau tidak mendapatkan tambahan penduduk dari luar daerah. Kalau jumlah penduduk berkurang, jumlah tenaga kerja pun berkurang. Bila daerah tersebut membolehkan orang-orang dari daerah lain untuk bekerja dan bertempattinggal di daerah tersebut, maka penurunan jumlah penduduk tersebut dapat dihindari. Dan, itulah yang terjadi dengan Singapura, negara yang membuka diri pada para pendatang dari berbagai negara.

Mengomentari fenomena angka kelahiran yang rendah tersebut, seorang remaja yang bersekolah di Singapura berkata.

”Guruku menikah tapi dia tidak suka anak. Dia suka anjing. Dia sangat sayang sekali dengan anjingnya.”

Di negara ini, banyak diantara perempuan menikah merasa enggan mempunyai anak karena biaya membesarkan seorang anak mahal sekali. Biaya bukan sekedar biaya saat hamil dan  melahirkan. Yang terbesar justru untuk merawat dan membesarkan anak itu. Juga biaya yang berujud kerepotan kedua orangtuanya. Bagi sebagian orang, mahalnya dan sulitnya mendidik dan mengurus anak agar menjadi anak idaman  telah sama sekali menghilangkan keinginan untuk melanjutkan keturunan bagi generasi mendatang.

Beberapa pakar mencoba menjelaskan rendahnya angka kelahiran di tahun 2010 tersebut. Salah satu penjelasan adalah bahwa tahun 2010 adalah tahun Harimau, yang menurut sebagian orang Cina bukan tahun yang baik untuk mempunyai anak. Penjelasan lain adalah  persoalan ekonomi keluarga: tahun 2008/2009 merupakan tahun krisis sekonomi global. Banyak penduduk Singapura yang terkena dampak krisis.

Beberapa pakar optimis bahwa di dua tahunmendatang, jumlah kelahiran akan stabil atau bahkan akan meningkat. Mengapa demikian? Tahun 2012 adalah tahun Kelinci dan berikutnya tahun Naga, tahun-tahun yang disukai untuk mempunyai anak. Apakah hal ini akan terjadi? Kalau tidak, apakah Singapura akan terus mengandalkan pada migrasi internasional untuk mengimbangi kekurangan tenaga kerja?

Bagaimana di Indonesia, terutama di beberapa propinsi dan kabupaten yang telah berada di bawah replacement level, dengan TFR di bawah 2,2? (*)

Tulisan terkait

* Berapa Banyak Orang Indonesia di Singapura?

 

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, international migration, , , , , , , ,

BERAPA BANYAK ORANG INDONESIA DI SINGAPURA?

Aris  Ananta

Untuk  MLETIKO, 29 Desember 2010

Berapa banyak orang Indonesia di Singapura? 80 ribu? 120 ribu? Atau lebih?  Ternyata jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan.  Hanya sekitar 50 ribu. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, international migration, migration, statistics, , , , , , ,

Peningkatan Proteksionisme di Negara Maju

Aris Ananta

SEPUTAR INDONESIA, 3 Agustus 2010

Keberhasilan empat “macan” Asia (Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan) pada era 1970-an dalam meningkatkan perekonomiannya dengan cepat menimbulkan decak kagum dunia. Orang pun bertanya-tanya, strategi apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana menerapkan strategi itu pada negara yang belum maju.

Saat itu, akhir 1970-an, jawabannya adalah ekonomi terbuka (open economy). Dorong ekspor, undang investasi asing (foreign direct investment). Negara seperti China dan India pada 1970-an belum maju karena menutup diri pada perekonomian internasional. Mereka membatasi atau bahkan menolak investasi asing dan mengandalkan sepenuhnya pada ekonomi dalam negeri.

Diawali dengan munculnya Margaret Thatcher sebagai Perdana Menteri Inggris, kemudian disusul Ronald Reagan sebagai Presiden Amerika Serikat membuat 1980-an sebagai permulaan era “keterbukaan” ekonomi dunia. Pasar mendapat tempat yang makin penting dalam perekonomian dunia. Berbagai usaha dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan proteksionisme. Individu atau negara yang “mengganggu” mekanisme pasar dinilai antisosial di dunia internasional. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, international migration, , , , ,

Business Must Learn From Batam Unrest

Evi  Nurvidya  Arifin

Jakarta Globe, 1  May 2010

The labor rampage in Batam on April 22 indicated a last-ditch, desperate attempt by enraged Indonesian workers to fight wage discrimination, wage inequality and a feeling of injustice inside their company. The incident was isolated but the feelings are not. In the globalized economy, our citizens pay globalized prices for many goods and services, yet their income is decidedly local.

The Drydocks World Graha incident was just the tip of the iceberg. The firm is managed by Singapore-based Drydocks World SE Asia, a Dubai-owned firm, and employs tens of thousands of Indonesians and foreign workers.

The riot was sparked after a non-Indonesian supervisor allegedly made a racist statement, berating one of the Indonesian workers for making a mistake. Reading various news reports, it seems that the supervisor frequently uttered such racist statements to his subordinates. This insensitivity combined with pent-up unrest about issues of wage disparity to set off the workers .

There is one crucial feature about Batam: Its development rests largely on the backs of migrants, either those who come from throughout the archipelago or from other countries. Read the rest of this entry »

Filed under: Demography, economy, English, internal migration, international migration, , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about our publications.

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 44,882

Authors

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 37 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers