Aris Ananta
Mletiko, 16 April 2012
Judul aslinya “Awas Sindrom Warga Singapura”, ditulis oleh A. Rahman Basrun, di Berita Harian, koran berbahasa Melayu di Singapura, tanggal 9 April 2012. Tulisan ini menanggapi komentar Perdana Menteri Singapura pada tanggal 5 April 2012, mengenai “.. two worrying trends in Singapore”.
Salah satu sindrom itu mengenai pengelompokan antara “kami” dan “mereka”, antara “penduduk lokal” dan “pendatang”, seperti juga ditulis di Sentimen Anti Orang Asing, di Mletiko, tanggal 6 April 2012. Ketidak-sukaan warga negara Singapura kepada semua para pendatang, yang termasuk warga negara “baru”, yang dulunya warga negara asing, karena telah terjadi peningkatan jumlah pendatang yang cepat dalam waktu yang singkat.
Tulisan A. Rahman Basrun ini menarik karena menceriterakan bahwa dulu (mungkin sekitar tahun 60-an dan 70-an) orang Melayu Singapura berteriak, tidak suka dengan yang bukan Melayu, yaitu Cina dan India. Orang Melayu merasa kurang diperhatikan di bidang pendidikan dan bisnis. Kemudian, dengan usaha integrasi, demikian menurut Rahman, warga negara Singapura telah tersatukan, entah mereka Cina, Melayu, atau India, bahkan yang “lainnya” (termasuk yang Orang Barat). Dan kini, mereka (Cina, Melayu, dan India) bersama-sama berteriak terhadap arus pendatang, entah dari mana pun mereka, termasuk pendatang dari RRC dan India.
Judul catatan singkat ini bukan “Sindrom Warga Singapura”, tapi saya ganti dengan “Sindrom Penduduk Lokal”. Kasus ini dapat dan telah terjadi di mana saja, bukan hanya di Singapura. Yang namanya penduduk lokal juga amat relatif. Orang yang telah lama berdiam di suatu daerah akan merasa sebagai penduduk lokal, karena telah hafal dengan sekelilingnya. Walau mereka juga “pendatang”, tetapi karena mereka sudah lama, adanya “pendatang” yang baru dan dalam jumlah yang banyak dan cepat dapat membuat pendatang lama—yang telah menjadi “penduduk lokal”—merasa gerah, dan tidak nyaman.
Yang namanya penduduk lokal dan pendatang dapat pula berasal dari kelompok dengan “darah” yang sama. Orang Cina warga negara Singapura belum tentu senang dengan kehadiran orang Cina dari RRC, yang jumlahnya meningkat dengan cepat. Bahasa mereka berbeda, budaya mereka berbeda. Orang India warga negara Singapura belum tentu nyaman dengan para pekerja kasar dari India atau expatriat dari India.
Masalah suku dan migrasi memang amat kompleks! Perlu studi yang lebih serius mengenai hal ini. (*)
Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, migration, Cina, India, lokal, Melayu, Pendatang, Singapura, suku, warga negara














Recent Comments