Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

SUARA LANSIA (VOICE OF OLDER PEOPLE)

Aris Ananta

Mletiko, 18 Mei 2012

 

Ketika Deven, bayi yang  baru berumur beberapa hari, menangis, orang di sekililingnya tidak merasa terganggu. Bahkan,  mereka senang melihat Deven menangis. Lucu, penuh tenaga. Padahal, Deven tidak bisa apa-apa. Hanya tiduran, menggerak –gerakan tangan dan kaki,  membuka tutup mata. Deven harus diberi makan (ASI). Harus dibantu mengganti pakaian, harus dibantu ketika buang air. Dan sebagainya, dan sebagainya…. Pendeknya, Deven amat tergantung pada orang lain untuk mengerjakan semua kegiatan dia sehari hari.

Orang senang merawat Deven.  Orang juga berharap Deven tumbuh dan suatu ketika dapat melakukan sendiri semua kegiatannya.

Namun, lain halnya dengan Nenek Tita, berumur 80 tahun, yang sudah mengalami demensia, hanya duduk di kursi roda. Rumahnya sempit dan tidak banyak ruang gerak untuk kursi roda. Dia buang air besar dan kecil di popok, dan harus ada orang lain yang membantu membersihkan popoknya. Untung masih bisa makan sendiri. Suami sudah meninggal. Satu satunya anak harus bekerja mencari nafkah, dari pagi sampai malam. Ia hanya ditemani seorang perawat bayaran.

Nenek Tita sering marah marah. Minta makanan yang tidak menyehatkan walau ketika muda ia amat menekankan pada makanan sehat. Ditambah dengan dimensia-nya, mengurus Nenek Tita sangat meletihkan. Tak ada “kelucuan” seperti ketika orang merawat Deven.  Tak ada harapan bahwa Nenek akan segera “normal” kembali, dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Marah marah Nenek ini juga membuat jengkel, sangat berbeda dengan marah Deven.

Memang, merawat (care) lansia  dan merawat bayi sangat berbeda.  Dua duanya bisa sama sama tidak bisa apa-apa. Dua duanya bisa sama sama membutuhkan bantuan kita. Tetapi, bayi sering memberikan rasa “lucu” dan menarik. Tetapi, lansia? Sering sudah tidak “lucu” lagi. Bahkan, lansia  juga sering memarahi orang yang merawat mereka. Marahnya lansia  sudah tidak “lucu”, tidak seperti marahnya bayi.

Oleh sebab itu, care-givers atau carers untuk para orang tua sering merasa letih, bosan. (Saya belum mendapatkan terjemahan care-giver atau carer. Perawat sering diartikan sebagai nurse, tetapi care giver atu carer bisa saja anggota keluarga, seperti suami/ istri, anak/ menantu, cucu, adik, keponakan, atau teman. Oleh sebab itu, di sini saya masih menggunakan istilah care-giver.)  Keletihan dan kebosanan  akan makin terjadi kalau care-giver tidak memahami keadaan para lansia  yang sakit.

Belum lama, pada tanggal 7 hingga 11 May 2012.  di Yangon, Myanmar, telah diselenggarkan Konferensi Regional se Asia Pasifik berjudul “Rapid Ageing: A Caring Future”. Diselenggarakan oleh HelpAge dan pemerintah Myanmar. Dalam konferensi ini para peserta berusaha memahami “Suara Para Lansia – Voice of Older People). Menarik sekali, dalam konferensi ini disampaikan perlunya komunikasi dua arah, perlunya memahami keadaan pasien, para lansia yang sakit. Para lansia sering dalam keadaan sunyi, terasing, tak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga sering menjengkelkan para care-giver.

Dalam hal begini, rasa sayang (compassion) menjadi penting sekali. Tanpa rasa sayang, pekerjaan sebagai care giver untuk para lansia  menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Para suami/ istri dan anggota keluarga lainnya, tanpa persaan sayang, akan merasa sangat terganggu dengan sakitnya para lansia. Sakitnya para lansia menyebabkan peningkatan biaya, habisnya waktu untuk terus menerus mengurusi mereka. Apalagi, kalau sakit para lansia ini tidak dapat disembuhkan dan para lansia  ini akan masih hidup lebih lama.

Dengan angka kelahiran yang rendah, dan penduduk Indonesia hidup lebih lama,  kita akan makin sering menjumpai lansia  yang sakit untuk waktu yang lama, yang selalu membutuhkan perawatan kita, yang membutuhkan care dari anggota keluarga. Mampukah para anggota keluarga memberikan perawatan pada lansia? Atau kah, pemerintah harus turun tangan memberikan profesional care giver untuk para lansia yang sakit sakitan?

Di sini lah perdebatannya. Dulu penduduk Indonesia didorong untuk ber-Keluarga Berencana. Sekarang angka kelahiran sudah rendah dan muncul isu baru, penuaan penduduk—makin banyak lansia yang hidup makin lama. Kalau mereka sakit sakitan, mereka jadi beban keluarga dan masyarakat.  Siapkah keluarga merawat anggota keluarga yang sudah lansia  dan sakit sakitan dalam waktu yang lama?  Apalagi, tidak jarang kita dengar bahwa hubungan antara lansia  yang sakit sakitan dan anggota keluarga yang lain  belum tentu harmonis. Ketidak-harmonisan ini dapat memperparah perawatan lansia oleh anggota keluarga.  Hal ini amat berbeda dengan bayi, yang tidak mempunyai perselisihan dengan orang di sekitarnya.

Bagaimana menciptakan rasa sayang (compasion) dalam perawatan terhadap  lansia? Perlu ada pendidikan khusus? Dalam konferensi ini dibahas berbagai cara untuk meningkatkan jumlah dan mutu care-giver bagi  lansia dan meningkatkan kesadaran dan keahlian tiap anggota rumah tangga untuk dapat merawat lansia di rumah tangga mereka.  Bagaimana menumbuhkan perawatan untuk para lansia dengan rasa sayang, yang mungkin mirip ketika merawat bayi. Ini tantangan untuk semua penduduk, termasuk yang muda, karena mereka juga akan menjadi lansia.

Semua pertanyaan  belum terjawab. Namun,  semua hal ini akan kita alami. Salah satu cara mengelak dari menjadi beban untuk orang lain adalah dengan melakukan program penuaan aktif (active ageing). Kalau kita tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mengganggu orang lain. Kita tidak membutuhkan care giver.

Pola active ageing memang dimulai sejak bayi dalam kandungan.(*)

 

Tulisan terkait:

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Three Pillars of Active Ageing in Indonesia

Financing Indonesia’s Ageing Population

 

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , ,

Three Pillars of Active Ageing in Indonesia

Evi Nurvidya Arifin

The following is an abstract  of my article “Three Pillars of Active Ageing in Indonesia”,  written with two co-authors (Kathryn L. Braun and Eef Hogervorst), appearing in Asian Population Studies, available online since 18 April 2012.

Abstract

This paper aims to contribute to the knowledge of ageing in Indonesia—the fourth most populous country in the world—within the framework of active ageing. Data are from the 2005 Intercensus Population Survey, the first to gather information from older persons aged 60 and above. Findings are organised according to the three pillars of the World Health Organization’s Active Ageing framework including health, participation and security. Findings suggest that: (1) good self-rated health status and functional ability are common among older persons; (2) Indonesian elders participate predominantly in home-centred leisure activities, but not in physical exercise; and (3) economic security, measured by main source of funding, varies by sex. There is great variation across Indonesia’s provinces in the status of the three pillars of active ageing. Policymaking on active ageing should pay attention to the local situation, and expect differences in health, participation and security by gender and province.

You can also open here. *

Filed under: ageing, Demography, English, statistics, , ,

SINDROM PENDUDUK LOKAL

Aris  Ananta

 

Mletiko, 16 April 2012

 

Judul aslinya “Awas Sindrom Warga Singapura”, ditulis oleh A. Rahman Basrun, di Berita Harian, koran berbahasa Melayu di Singapura, tanggal 9 April 2012.   Tulisan ini menanggapi komentar Perdana Menteri Singapura pada tanggal 5 April 2012,  mengenai “.. two worrying trends in Singapore”.

 

Salah satu sindrom itu  mengenai pengelompokan antara “kami” dan “mereka”, antara “penduduk lokal” dan “pendatang”, seperti juga ditulis di Sentimen Anti Orang Asing, di Mletiko, tanggal 6 April 2012. Ketidak-sukaan warga negara Singapura kepada semua para pendatang, yang termasuk warga negara “baru”, yang dulunya warga negara asing, karena telah terjadi peningkatan jumlah pendatang yang cepat dalam waktu yang singkat.

 

Tulisan A. Rahman Basrun ini menarik karena menceriterakan bahwa dulu (mungkin sekitar tahun 60-an dan 70-an) orang Melayu Singapura berteriak, tidak suka dengan yang bukan Melayu, yaitu Cina dan  India. Orang Melayu merasa kurang diperhatikan di bidang pendidikan dan bisnis. Kemudian, dengan usaha integrasi, demikian menurut Rahman, warga negara Singapura telah tersatukan, entah mereka Cina, Melayu, atau India, bahkan yang “lainnya” (termasuk yang Orang Barat).  Dan kini, mereka (Cina, Melayu, dan India) bersama-sama berteriak terhadap arus pendatang, entah dari mana pun mereka, termasuk pendatang dari RRC dan India.

Judul catatan  singkat   ini bukan “Sindrom Warga Singapura”, tapi saya ganti dengan “Sindrom Penduduk Lokal”. Kasus ini dapat dan telah terjadi di mana saja, bukan hanya di Singapura. Yang namanya penduduk lokal juga amat relatif. Orang yang telah lama berdiam di suatu daerah akan merasa sebagai penduduk lokal, karena telah hafal dengan sekelilingnya. Walau mereka juga “pendatang”, tetapi karena mereka sudah lama, adanya “pendatang” yang baru dan dalam jumlah yang banyak dan cepat dapat membuat pendatang lama—yang telah menjadi “penduduk lokal”—merasa gerah, dan tidak nyaman.

 

Yang namanya penduduk lokal dan pendatang dapat pula berasal dari kelompok dengan “darah” yang sama. Orang Cina warga negara Singapura belum tentu senang dengan kehadiran orang Cina dari  RRC, yang jumlahnya meningkat dengan cepat. Bahasa mereka berbeda, budaya mereka berbeda. Orang India warga negara Singapura belum tentu nyaman dengan para pekerja kasar  dari India atau expatriat dari India.

 

Masalah suku dan migrasi memang amat kompleks! Perlu studi yang lebih serius mengenai hal ini. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, migration, , , , , , , ,

A ROMANTIC AND PERSEVERING ELDERLY COUPLE

Aris  Ananta

 

Mletiko, 8 April 2012

 

Briskly walking while holding a bicycle from the back, an elderly man seemed to be enjoying that Saturday morning with his elderly wife in a coastal park. Both were about 70 years old. With the sea to their left, the elderly woman seriously but leisurely rode on her bicycle–the husband to her side, keeping up to prevent  the bicycle from falling.  They looked very romantic.

 

But, wait! The elderly woman was learning how to ride a bicycle. The elderly man tried several times to help the woman.

 

I could not stop watching this couple, while pretending to do my own exercise in West Coast Park, Singapore, on 7 April 2012.

 

I was so impressed with the perseverance of the  elderly couple. And, they enjoyed this learning process too.

 

Finally, I was so happy to see the elderly woman being able to ride the bicycle without the help from her husband—though  for only a short distance.

 

It is so nice that people are still determined to learn a new thing even at advanced ages. They learn a new thing with passion and happiness. More importantly, this elderly couple seems to remain romantic.

 

Active ageing should also mean remaining active to learn new things and be romantic. Keeping and nurturing romantic life should be part of active, and therefore healthy, ageing programs.

Filed under: ageing, Demography, English, , , , ,

Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Beberapa kawan ingin sekali mengetahui pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo Nitisastro. Berikut ini usaha saya untuk sedikit bercerita mengenai pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo, yang saya kumpulkaan dari beberapa tulisan saya sebelumnya, ditambah dengan beberapa informasi yang belum sempat saya catat.

Silakan membaca tulisan singkat saya mengenai Pak Widjojo di Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Semoga berguna.

Salam,

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 15 Maret 2012


Makin Panjang Umur

Setiap hari kita semua bertambah tua. Setiap tahun banyak diantara kita merayakan hari kelahirannya dengan gembira bahkan terkadang dihiasi dengan pesta yang gegap gempita. Tingkat kematian penduduk semakin baik sehingga rata-rata harapan hidup penduduk dibanyak negara semakin lama.  Pembangunan nasional telah berhasil memperbaiki kesehatan penduduk Indonesia, kematian bayi bisa dicegah, kematian dewasa bisa diperlambat, angka harapan hidup semakin lama. Sebagai gambaran, pada awal tahun 1970an rata-rata angka harapan hidup saat lahir penduduk Indonesia 45.7 tahun saja. Angka harapan hidup perempuan lebih lama daripada laki-laki, 47,2 tahun untuk perempuan dan 44,2 tahun untuk laki-laki. Memasuki awal Milenium penduduk Indonesia telah makin panjang umur. Data Sensus 2000 menghasilkan estimasi rata-rata angka harapan hidup saat lahir sebesar 65,4 tahun, atau 20 tahun lebih lama hidupnya dibanding 30 tahun lalu. Harapan hidup saat lahir penduduk perempuan sebesar 67,3 tahun dan laki-laki 63,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2030, angka harapan hidup tersebut akan terus meningkat mencapai 84 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk laki-laki (Ananta, Arifin dan Bakhtiar, 2006). Lebih lanjut, studi tersebut, yg diberi judul Ethnicity and Ageing in Indonesia: 2000-2050,  mengungkapkan bahwa angka harapan hidup untuk tiap kelompok suku di Indonesia berbeda-beda.

Keluarga Kecil

Sementara makin banyak orang berumur panjang, pasangan-pasangan suami istri di Indonesia tidak lagi memiliki jumlah anak yang banyak. Keluarga besar tidak lagi menjadi norma umum masyarakat Indonesia. Berbeda dengan jaman dulu, dekade 1970an saat keluraga berencana diperkenalkan di bumi Garuda, tiap perempuan usia reproduksi di Indonesia rata-rata memiliki jumlah anak sekitar 5 dan 6 anak. Di jaman kini, di era Milenium, rata-rata sekitar 2 anak saja. Diperkirakan dimasa depan, makin banyak yang pasangan yang hanya memiliki anak sedikit bahkan sangat mungkin tidak mau memiliki anak di perkawinan mereka.

Lansia: Jumlah dan Persentasenya Melaju

Lantas, apa akibat angka harapan hidup yang terus meningkat yang disertai dengan rata-rata jumlah anak yang makin sedikit. Struktur penduduk Indonesia berubah, proporsi penduduk muda semakin berkurang, sedangkan proporsi penduduk lansia semakin meningkat. Siapakah penduduk lansia ini? Undang-undang Republik Indonesia no 13/1998 mendefinisikan penduduk usia lanjut atau lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Jumlah penduduk lansia usia 60 tahun ke atas di Indonesia terus bertambah dengan pesat dari 5,3 juta di tahun 1971, menjadi 18,0 juta di tahun 2010. Persentasenya terhadap total penduduk Indonesia juga terus meningkat dari 4,5 persen tahun sensus 1971 ke 7,6 persen di tahun sensus 2010. Di tahun 2030, jumlahnya akan melebihi 36 juta, atau lebih dari 13 persen. Lansia sebanyak 36 juta itu kira-kira saat ini sama dengan seluruh jumlah penduduk di bagian Timur Indonesia yang terbentang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Jumlah ini menjadi beban tanggungan penduduk usia kerja. Apabila lansia ini hidup lama dan sakit-sakitan maka tidak hanya menjadi beban penduduk usia produktif saja melainkan juga jadi beban negara. Oleh karena itu, untuk mencegah peningkatan beban ekonomi-sosial pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia, menua dengan aktif harus dipromosikan.

Menua dengan Aktif

 

Apakah itu menua dengan aktif? Menua dengan aktif menurut definisi WHO (2002) dalam bukunya Active Ageing : A Policy Framework yaitu upaya pengoptimalisasi peluang kesehatan, partisipasi dan keaman untuk meningkatkan kualitas hidup sampai masa tua. Dengan definisi WHO ini, menua dengan aktif tidak terbatas pada lansia saja. Menua dengan aktif mencakup semua umur. Agar bisa menua dnegan aktif banyak faktor yang harus diperhatikan, dan faktor-faktor tersebut satu sama lain saling terkait. Diagram dibawah ini menggambarkan kerangka analysis menua dengan aktif.

Untuk menjadikan lansia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup sehat dan mempersiapkan masa lansia secara lebih baik sejak dini. Dengan demikian ketika kita membicarakan permasalahaan yang berkaitan dengan lansia, sesungguhnya tidak hanya membicarakan lansia saja, melainkan juga penduduk muda. Pola hidup sehat,  pola makan yang baik dan bergizi, bahkan sejak di dalam kandungan. Pengembangan bakat dan keahlian juga harus dimulai sejak dini. Mengingat kerangka diatas, menua dengan aktif merupakan tantangan masa depan pembangunan di Indonesia. (*)

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, , , , ,

IN MEMORIAM: WIDJOJO NITISASTRO

11  Maret 2012

Pengunjung Mletiko,

Pak Widjojo Nitisastro, seorang ekonom-demografer yang telah mengubah paradigma pembangunan Indonesia di tahun 60-an, telah mendahului kita. Wafat pada tanggal 9 Maret 2011 yang lalu, pada usia 84 tahun.

Terlampir sedikit tulisan saya mengenai beliau dan pemikiran beliau di  InMemorianWidjojoNitisastro

Semoga bermanfaat.

Salam,

Aris Ananta

Tulisan terkait:

Widjojo Nitisastro: Perombak Paradigma Pembangunan

Widjojo Nitisastro and Changes to Development Paradigm

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, Uncategorized, , , , , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about our publications.

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 44,882

Authors

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 37 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers