Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

UKURAN KEKAYAAN NASIONAL

Aris Ananta

Seputar Indonesia, 24 Mei 2012

 

Pasar keuangan dunia, termasuk Asia Tenggara, guncang lagi. Akankah pasar keuangan dunia jatuh drastis lagi seperti pada 2009? Kita ingat bahwa krisis global pada 2009 segera secara cepat menjalar ke seluruh dunia garagara bangkrutnya Lehman Brothers di Amerika Serikat.
Kini ada kemungkinan pemerintah Yunani akan bangkrut, dan diikuti dengan kebangkrutan negara lain seperti Spanyol, Italia, dan Portugal. Kebangkrutan empat negara ini dapat mengguncang perekonomian Eropa yang kemudian berdampak pada perekonomian dunia. Kalau pada 2009 Indonesia dapat menghindar dari dampak yang luar biasa dari krisis global, akankah Indonesia mampu mengulangi prestasi ini?

Pada 2009, ketika banyak negara mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang dahsyat, bahkan banyak yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya menurun sedikit,masih mencapai 4,5%.Kalau krisis global (yang kedua, setelah yang pertama pada 2009) benar-benar terjadi tahun ini, bisakah pertumbuhan ekonomi dipertahankan pada 4,5% atau bahkan lebih?

Namun, tulisan ini tidak akan membahas berapa persen pertumbuhan ekonomi Indonesia kalau krisis global kedua benar-benar terjadi. Ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dalam memahami perekonomian Indonesia: benarkah pertumbuhan ekonomi pengukur utama pembangunan ekonomi kita? Saat ini sudah makin banyak ekonom di dunia yang merasakan kekecewaan pada pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur utama pembangunan ekonomi.

Para ekonom dunia seperti Joseph Stiglitz,Amartya Sen, dan Jean-Paui Fitoussi pada 2009 telah menghasilkan laporan yang menyarankan alternatif pengukuran pembangunan ekonomi—bukan dengan pertumbuhan ekonomi. OECD (organisasi ekonomi negara kaya),yang dibentuk pada 1961 dengan tujuan melanggengkan pertumbuhan ekonomi di negara anggota mereka,pun sejak 2010 telah menggunakan 11 indikator,bukan hanya pertumbuhan ekonomi, untuk mengukur kemajuan perekonomian mereka.

Bulan depan,Juni 2012,Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menyelenggarakan konferensi mengenai Pembangunan yang Berkelanjutan (Sustainable Development) di Rio de Janeiro, Brasilia. Pada konferensi yang juga disebut dengan Rio+20 Conference pada 2012 akan disampaikan hasil penelitian mengenai kekayaan nasional yang inklusif (inclusive wealth).

Dalam laporan ini diperlihatkan ketidakpuasan para penulis terhadap indikator konvensional seperti produksi domestik bruto (gross domestic product) yang hanya melihat sisi produksi. Produk domestik bruto merupakan pengukuran jangka pendek. Mungkin saja suatu saat pendapatan tinggi, tetapi tidak berkelanjutan. Karena itu,mereka menyatakan perlunya mengukur kekayaan suatu negara, bukan sekadar pendapatan.

Mereka memberi contoh, ada negara yang pertumbuhan ekonominya tinggi, tetapi sumber daya alamnya habis dengan cepat.Kalau kita mengukur keberhasilan pembangunan ekonomi dengan kekayaan, negara itu tidak perlu berbangga dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi karena kekayaan mereka (dalam hal ini sumber daya alam) habis dengan cepat. Banyak negara, termasuk Indonesia,yang bangga dengan sumber daya alam mereka.

Mereka “pasarkan” sumber daya alam itu ke pasar dunia agar menarik investasi di sumber daya alam. Akibatnya, investasi asing meningkat luar biasa. Ekspor sumber daya alam meningkat dengan amat cepat.Pertumbuhan ekonomi melaju. Sialnya, suatu saat, sumber daya alam itu habis,dan masyarakat di negara itu tidak dapat lagi menikmati sumber daya alam yang berlimpah karena telah habis diekspor.

Di pihak lain, pengukuran kekayaan memperhatikan apa yang terjadi sekarang dan masa mendatang.Pembangunan ekonomi bukan mempercepat pertumbuhan ekonomi masa kini tanpa memperhatikan apa yang terjadi di masa depan, untuk generasi anakcucu- cicit. Dalam laporan yang sedang disiapkanuntukkonferensiPBB pada Juni itu terdapat empat macam modal untuk mengukur kekayaan.

Pertama,modal alam, yang mencakup semua sumber daya alam,tanah,dan lingkungan. Kedua, modal konvensional, yaitu modal yang diproduksi seperti bangunan dan mesin. Ketiga, modal manusia, yang terdiri atas berbagai hal seperti pendidikan dan kesehatan.Keempat, modal sosial yang mencakup berbagai hal seperti kelembagaan dan jaringan kerja.

Empat modal tersebut harus diukur untuk mengetahui kekayaan suatu daerah/negara. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan, statistik kekayaan per kapita harus digunakan untuk mengganti statistik pendapatan per kapita; dan kenaikan kekayaan menjadi pengganti pertumbuhan ekonomi. Laporantersebutakanmenggambarkan jumlah dan perubahan kekayaan 20 negara di dunia,yang mencakup 72% dari seluruh pendapatan nasional di dunia dan 56% penduduk dunia selama19 tahun.

Brasil dan India, sebagai contoh,mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi dengan biaya yang besar pula selama 1990–2008. Pada masa itu modal alam menurun dengan 25% di Brasil dan 31% di India. Indonesia belum termasuk negara yang dibahas dalam laporan tersebut.Ada baiknya, Indonesia mengambil inisiatif untuk segera menghitung kekayaan Indonesia pada tingkat nasional, provinsi, dan kota/ kabupaten. Statistik ini dapat digunakan untuk pengganti pendapatan nasional.

Dengan kata lain,kemajuan pembangunan Indonesia diukur dengan peningkatan kekayaan dan kekayaan per kapita, bukan pertumbuhan pendapatan dan pendapatan per kapita. Selanjutnya, dalam usaha mengurangi dampak negatif krisis global kedua yang mungkin terjadi, Indonesia tidak perlu berfokus pada pertumbuhan pendapatan nasional. Sebaliknya, Indonesia sebaiknya menitikberatkan pada peningkatan kekayaan (yang diukur dengan empat modal tadi).

Krisis keuangan dan ekonomi dunia ini justru dapat digunakan sebagai momentum yang tepat untuk mengganti pengukuran pembangunan ekonomi di Indonesia. Pergantian pengukuran ini juga berarti pergantian kebijakan pembangunan ke arah pembangunan yang berkelanjutan. Kita tidak perlu kaget dan marah kalau dengan statistik kekayaan ini ternyata pembangunan Indonesia tidak sehebat yang dibayangkan dengan statistik pendapatan nasional.

Kita memang sedih, tetapi statistik ini akan lebih mampu memperlihatkan apa yang telah terjadi sehingga perekonomian Indonesia dapat maju secara berkelanjutan. (*)

 

Tulisan terkait:

Orang Indonesia Makin Kaya?

UN’s Revolution on Measuring Development

Perusakan Hutan dan Pembangunan Ekonomi

Your Better Life Index

Indonesian Economy: entering a new era

Pembangunan Tanpa Pendapatan Nasional

The Statistical Revolution is Finally Here

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, poverty, statistics, , , , , , , , , , ,

Apa Kata Investor, Pebisnis, Asing?

Aris Ananta

Mletiko, 22 Mei 2012

 

Kemarin  saya berjumpa dengan sejumlah  peneliti  Eropa yang mempelajari ekonomi dan bisnis di Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka antara lain mengatakan bahwa investor asing, dari luar Asia, lebih suka melakukan investasi di Vietnam dan China daripada di Indonesia.  Menurut para peneliti ini, investor asing lebih suka masyarakat yang dapat diatur. Vietnam dan China negara otoriter. Asal pemerintah pusat sudah setuju, semua menjadi mudah. Rakyat  harus mengikuti apa mau pemerintah pusat.

Lain dengan di Indonesia, kata peneliti itu menirukan pandangan para investor asing. “Indonesia negara demokrasi  (maaf, sedang belajar demokrasi)” . Benar, peneliti itu mengatakan “ Indonesia is a democratic country….. “, lalu buru buru diralat “Indonesia is a democratizing  country”. Maksudnya, Indonesia belum menjadi negara demokratis, tetapi masih pada tahap belajar menjadi neara demokrasi.  (Memang, menurut saya, Indonesia masih dalam tahap menjadi negara demokrasi.)

“Jadi, para investor lebih suka negara otoriter?” tanya saya.

Teman peneliti dari Eropa itu bilang, betul sekali. Para investor asing memang lebih suka negara otoriter seperti China dan Vietnam, daripada Indonesia yang sedang belajar demokrasi.

Cerrita ini memperkuat kesan selama ini bahwa pebisnis asing, investor asing, tidak peduli keadaan di masyarakat negara yang mereka tuju. Yang penting mereka mendapatkan keuntungan besar dari bisnisnya. Walau mereka tahu suatu negara melakukan pemerintahan otoriter,  tanpa kebebasan berpendapatan di kalangan masyarakatnya,  mereka tetap ke negara itu.  Mereka tidak senang kalau suatu negara belajar menjadi negara demokrasi. Justru di negara otoriter, bisnis mereka tinggi.  Karena mereka berbondong masuk ke negara itu, maka pertumbuhan ekonomi di negara itu pun akan cepat maju.

Apakah Indonesia akan mengikuti jalur ini, mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan kembali ke sistem  pemerintahan yang otoriter?

Sudah saatnya kita tidak menggunakan pertumbuhan ekonomi sebagai pengukur kemajuan perekonomian Indonesia. Indonesia memang sedang belajar demokrasi, dan semoga Indonesia segera menjadi negara demokratis.   Janganlah, gara gara ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Indonesia kembali menjadi negara otoriter, seperti yang diinginkan beberapa pebisnis dan investor asing tersebut.  (*)

 

Tulisan terkait:

Paradigma Ekonomi Cenderung Untungkan  Pemodal

Bagaimana Investor Asing Melihat Indonesia?

Filed under: economy, Bahasa Indonesia, , , , , ,

SUARA LANSIA (VOICE OF OLDER PEOPLE)

Aris Ananta

Mletiko, 18 Mei 2012

 

Ketika Deven, bayi yang  baru berumur beberapa hari, menangis, orang di sekililingnya tidak merasa terganggu. Bahkan,  mereka senang melihat Deven menangis. Lucu, penuh tenaga. Padahal, Deven tidak bisa apa-apa. Hanya tiduran, menggerak –gerakan tangan dan kaki,  membuka tutup mata. Deven harus diberi makan (ASI). Harus dibantu mengganti pakaian, harus dibantu ketika buang air. Dan sebagainya, dan sebagainya…. Pendeknya, Deven amat tergantung pada orang lain untuk mengerjakan semua kegiatan dia sehari hari.

Orang senang merawat Deven.  Orang juga berharap Deven tumbuh dan suatu ketika dapat melakukan sendiri semua kegiatannya.

Namun, lain halnya dengan Nenek Tita, berumur 80 tahun, yang sudah mengalami demensia, hanya duduk di kursi roda. Rumahnya sempit dan tidak banyak ruang gerak untuk kursi roda. Dia buang air besar dan kecil di popok, dan harus ada orang lain yang membantu membersihkan popoknya. Untung masih bisa makan sendiri. Suami sudah meninggal. Satu satunya anak harus bekerja mencari nafkah, dari pagi sampai malam. Ia hanya ditemani seorang perawat bayaran.

Nenek Tita sering marah marah. Minta makanan yang tidak menyehatkan walau ketika muda ia amat menekankan pada makanan sehat. Ditambah dengan dimensia-nya, mengurus Nenek Tita sangat meletihkan. Tak ada “kelucuan” seperti ketika orang merawat Deven.  Tak ada harapan bahwa Nenek akan segera “normal” kembali, dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Marah marah Nenek ini juga membuat jengkel, sangat berbeda dengan marah Deven.

Memang, merawat (care) lansia  dan merawat bayi sangat berbeda.  Dua duanya bisa sama sama tidak bisa apa-apa. Dua duanya bisa sama sama membutuhkan bantuan kita. Tetapi, bayi sering memberikan rasa “lucu” dan menarik. Tetapi, lansia? Sering sudah tidak “lucu” lagi. Bahkan, lansia  juga sering memarahi orang yang merawat mereka. Marahnya lansia  sudah tidak “lucu”, tidak seperti marahnya bayi.

Oleh sebab itu, care-givers atau carers untuk para orang tua sering merasa letih, bosan. (Saya belum mendapatkan terjemahan care-giver atau carer. Perawat sering diartikan sebagai nurse, tetapi care giver atu carer bisa saja anggota keluarga, seperti suami/ istri, anak/ menantu, cucu, adik, keponakan, atau teman. Oleh sebab itu, di sini saya masih menggunakan istilah care-giver.)  Keletihan dan kebosanan  akan makin terjadi kalau care-giver tidak memahami keadaan para lansia  yang sakit.

Belum lama, pada tanggal 7 hingga 11 May 2012.  di Yangon, Myanmar, telah diselenggarkan Konferensi Regional se Asia Pasifik berjudul “Rapid Ageing: A Caring Future”. Diselenggarakan oleh HelpAge dan pemerintah Myanmar. Dalam konferensi ini para peserta berusaha memahami “Suara Para Lansia – Voice of Older People). Menarik sekali, dalam konferensi ini disampaikan perlunya komunikasi dua arah, perlunya memahami keadaan pasien, para lansia yang sakit. Para lansia sering dalam keadaan sunyi, terasing, tak dapat berbuat apa-apa. Mereka juga sering menjengkelkan para care-giver.

Dalam hal begini, rasa sayang (compassion) menjadi penting sekali. Tanpa rasa sayang, pekerjaan sebagai care giver untuk para lansia  menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan. Para suami/ istri dan anggota keluarga lainnya, tanpa persaan sayang, akan merasa sangat terganggu dengan sakitnya para lansia. Sakitnya para lansia menyebabkan peningkatan biaya, habisnya waktu untuk terus menerus mengurusi mereka. Apalagi, kalau sakit para lansia ini tidak dapat disembuhkan dan para lansia  ini akan masih hidup lebih lama.

Dengan angka kelahiran yang rendah, dan penduduk Indonesia hidup lebih lama,  kita akan makin sering menjumpai lansia  yang sakit untuk waktu yang lama, yang selalu membutuhkan perawatan kita, yang membutuhkan care dari anggota keluarga. Mampukah para anggota keluarga memberikan perawatan pada lansia? Atau kah, pemerintah harus turun tangan memberikan profesional care giver untuk para lansia yang sakit sakitan?

Di sini lah perdebatannya. Dulu penduduk Indonesia didorong untuk ber-Keluarga Berencana. Sekarang angka kelahiran sudah rendah dan muncul isu baru, penuaan penduduk—makin banyak lansia yang hidup makin lama. Kalau mereka sakit sakitan, mereka jadi beban keluarga dan masyarakat.  Siapkah keluarga merawat anggota keluarga yang sudah lansia  dan sakit sakitan dalam waktu yang lama?  Apalagi, tidak jarang kita dengar bahwa hubungan antara lansia  yang sakit sakitan dan anggota keluarga yang lain  belum tentu harmonis. Ketidak-harmonisan ini dapat memperparah perawatan lansia oleh anggota keluarga.  Hal ini amat berbeda dengan bayi, yang tidak mempunyai perselisihan dengan orang di sekitarnya.

Bagaimana menciptakan rasa sayang (compasion) dalam perawatan terhadap  lansia? Perlu ada pendidikan khusus? Dalam konferensi ini dibahas berbagai cara untuk meningkatkan jumlah dan mutu care-giver bagi  lansia dan meningkatkan kesadaran dan keahlian tiap anggota rumah tangga untuk dapat merawat lansia di rumah tangga mereka.  Bagaimana menumbuhkan perawatan untuk para lansia dengan rasa sayang, yang mungkin mirip ketika merawat bayi. Ini tantangan untuk semua penduduk, termasuk yang muda, karena mereka juga akan menjadi lansia.

Semua pertanyaan  belum terjawab. Namun,  semua hal ini akan kita alami. Salah satu cara mengelak dari menjadi beban untuk orang lain adalah dengan melakukan program penuaan aktif (active ageing). Kalau kita tetap sehat dan dapat melakukan kegiatan sehari hari tanpa bantuan orang lain, kita tidak akan mengganggu orang lain. Kita tidak membutuhkan care giver.

Pola active ageing memang dimulai sejak bayi dalam kandungan.(*)

 

Tulisan terkait:

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Three Pillars of Active Ageing in Indonesia

Financing Indonesia’s Ageing Population

 

 

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , ,

SINDROM PENDUDUK LOKAL

Aris  Ananta

 

Mletiko, 16 April 2012

 

Judul aslinya “Awas Sindrom Warga Singapura”, ditulis oleh A. Rahman Basrun, di Berita Harian, koran berbahasa Melayu di Singapura, tanggal 9 April 2012.   Tulisan ini menanggapi komentar Perdana Menteri Singapura pada tanggal 5 April 2012,  mengenai “.. two worrying trends in Singapore”.

 

Salah satu sindrom itu  mengenai pengelompokan antara “kami” dan “mereka”, antara “penduduk lokal” dan “pendatang”, seperti juga ditulis di Sentimen Anti Orang Asing, di Mletiko, tanggal 6 April 2012. Ketidak-sukaan warga negara Singapura kepada semua para pendatang, yang termasuk warga negara “baru”, yang dulunya warga negara asing, karena telah terjadi peningkatan jumlah pendatang yang cepat dalam waktu yang singkat.

 

Tulisan A. Rahman Basrun ini menarik karena menceriterakan bahwa dulu (mungkin sekitar tahun 60-an dan 70-an) orang Melayu Singapura berteriak, tidak suka dengan yang bukan Melayu, yaitu Cina dan  India. Orang Melayu merasa kurang diperhatikan di bidang pendidikan dan bisnis. Kemudian, dengan usaha integrasi, demikian menurut Rahman, warga negara Singapura telah tersatukan, entah mereka Cina, Melayu, atau India, bahkan yang “lainnya” (termasuk yang Orang Barat).  Dan kini, mereka (Cina, Melayu, dan India) bersama-sama berteriak terhadap arus pendatang, entah dari mana pun mereka, termasuk pendatang dari RRC dan India.

Judul catatan  singkat   ini bukan “Sindrom Warga Singapura”, tapi saya ganti dengan “Sindrom Penduduk Lokal”. Kasus ini dapat dan telah terjadi di mana saja, bukan hanya di Singapura. Yang namanya penduduk lokal juga amat relatif. Orang yang telah lama berdiam di suatu daerah akan merasa sebagai penduduk lokal, karena telah hafal dengan sekelilingnya. Walau mereka juga “pendatang”, tetapi karena mereka sudah lama, adanya “pendatang” yang baru dan dalam jumlah yang banyak dan cepat dapat membuat pendatang lama—yang telah menjadi “penduduk lokal”—merasa gerah, dan tidak nyaman.

 

Yang namanya penduduk lokal dan pendatang dapat pula berasal dari kelompok dengan “darah” yang sama. Orang Cina warga negara Singapura belum tentu senang dengan kehadiran orang Cina dari  RRC, yang jumlahnya meningkat dengan cepat. Bahasa mereka berbeda, budaya mereka berbeda. Orang India warga negara Singapura belum tentu nyaman dengan para pekerja kasar  dari India atau expatriat dari India.

 

Masalah suku dan migrasi memang amat kompleks! Perlu studi yang lebih serius mengenai hal ini. (*)

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, migration, , , , , , , ,

SENTIMEN ANTI ORANG-ASING

Aris  Ananta

Mletiko, 6 April 2012

Seperti dilaporkan di The Straits Times, 5 April 2012, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Long, merisaukan adanya peningkatan sentimen anti orang-asing di Singapura. Terjadi peningkatan ketidak-sukaan “orang Singapura” terhadap yang bukan “orang Singapura”.  Yang “bukan orang Singapura” termasuk orang orang dari negara lain yang memilih menjadi warga negara Singapura, penduduk tetap (permanent resident),  warga negara asing yang memegang employment pass dan working permit. Read the rest of this entry »

Filed under: Bahasa Indonesia, economy, migration, statistics, , , , , , ,

Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Pengunjung Mletiko yang budiman,

Beberapa kawan ingin sekali mengetahui pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo Nitisastro. Berikut ini usaha saya untuk sedikit bercerita mengenai pribadi  dan pemikiran Pak Widjojo, yang saya kumpulkaan dari beberapa tulisan saya sebelumnya, ditambah dengan beberapa informasi yang belum sempat saya catat.

Silakan membaca tulisan singkat saya mengenai Pak Widjojo di Mengenang Pribadi dan Pemikiran Widjojo Nitisastro

Semoga berguna.

Salam,

Aris

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, , , , , ,

Menua dengan Aktif: Tantangan Masa Depan

Evi Nurvidya Arifin

Mletiko, 15 Maret 2012


Makin Panjang Umur

Setiap hari kita semua bertambah tua. Setiap tahun banyak diantara kita merayakan hari kelahirannya dengan gembira bahkan terkadang dihiasi dengan pesta yang gegap gempita. Tingkat kematian penduduk semakin baik sehingga rata-rata harapan hidup penduduk dibanyak negara semakin lama.  Pembangunan nasional telah berhasil memperbaiki kesehatan penduduk Indonesia, kematian bayi bisa dicegah, kematian dewasa bisa diperlambat, angka harapan hidup semakin lama. Sebagai gambaran, pada awal tahun 1970an rata-rata angka harapan hidup saat lahir penduduk Indonesia 45.7 tahun saja. Angka harapan hidup perempuan lebih lama daripada laki-laki, 47,2 tahun untuk perempuan dan 44,2 tahun untuk laki-laki. Memasuki awal Milenium penduduk Indonesia telah makin panjang umur. Data Sensus 2000 menghasilkan estimasi rata-rata angka harapan hidup saat lahir sebesar 65,4 tahun, atau 20 tahun lebih lama hidupnya dibanding 30 tahun lalu. Harapan hidup saat lahir penduduk perempuan sebesar 67,3 tahun dan laki-laki 63,5 tahun. Diperkirakan pada tahun 2030, angka harapan hidup tersebut akan terus meningkat mencapai 84 tahun untuk perempuan dan 81 tahun untuk laki-laki (Ananta, Arifin dan Bakhtiar, 2006). Lebih lanjut, studi tersebut, yg diberi judul Ethnicity and Ageing in Indonesia: 2000-2050,  mengungkapkan bahwa angka harapan hidup untuk tiap kelompok suku di Indonesia berbeda-beda.

Keluarga Kecil

Sementara makin banyak orang berumur panjang, pasangan-pasangan suami istri di Indonesia tidak lagi memiliki jumlah anak yang banyak. Keluarga besar tidak lagi menjadi norma umum masyarakat Indonesia. Berbeda dengan jaman dulu, dekade 1970an saat keluraga berencana diperkenalkan di bumi Garuda, tiap perempuan usia reproduksi di Indonesia rata-rata memiliki jumlah anak sekitar 5 dan 6 anak. Di jaman kini, di era Milenium, rata-rata sekitar 2 anak saja. Diperkirakan dimasa depan, makin banyak yang pasangan yang hanya memiliki anak sedikit bahkan sangat mungkin tidak mau memiliki anak di perkawinan mereka.

Lansia: Jumlah dan Persentasenya Melaju

Lantas, apa akibat angka harapan hidup yang terus meningkat yang disertai dengan rata-rata jumlah anak yang makin sedikit. Struktur penduduk Indonesia berubah, proporsi penduduk muda semakin berkurang, sedangkan proporsi penduduk lansia semakin meningkat. Siapakah penduduk lansia ini? Undang-undang Republik Indonesia no 13/1998 mendefinisikan penduduk usia lanjut atau lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Jumlah penduduk lansia usia 60 tahun ke atas di Indonesia terus bertambah dengan pesat dari 5,3 juta di tahun 1971, menjadi 18,0 juta di tahun 2010. Persentasenya terhadap total penduduk Indonesia juga terus meningkat dari 4,5 persen tahun sensus 1971 ke 7,6 persen di tahun sensus 2010. Di tahun 2030, jumlahnya akan melebihi 36 juta, atau lebih dari 13 persen. Lansia sebanyak 36 juta itu kira-kira saat ini sama dengan seluruh jumlah penduduk di bagian Timur Indonesia yang terbentang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Jumlah ini menjadi beban tanggungan penduduk usia kerja. Apabila lansia ini hidup lama dan sakit-sakitan maka tidak hanya menjadi beban penduduk usia produktif saja melainkan juga jadi beban negara. Oleh karena itu, untuk mencegah peningkatan beban ekonomi-sosial pertumbuhan penduduk lansia di Indonesia, menua dengan aktif harus dipromosikan.

Menua dengan Aktif

 

Apakah itu menua dengan aktif? Menua dengan aktif menurut definisi WHO (2002) dalam bukunya Active Ageing : A Policy Framework yaitu upaya pengoptimalisasi peluang kesehatan, partisipasi dan keaman untuk meningkatkan kualitas hidup sampai masa tua. Dengan definisi WHO ini, menua dengan aktif tidak terbatas pada lansia saja. Menua dengan aktif mencakup semua umur. Agar bisa menua dnegan aktif banyak faktor yang harus diperhatikan, dan faktor-faktor tersebut satu sama lain saling terkait. Diagram dibawah ini menggambarkan kerangka analysis menua dengan aktif.

Untuk menjadikan lansia yang sehat, produktif dan mandiri, kita harus mulai dengan pola hidup sehat dan mempersiapkan masa lansia secara lebih baik sejak dini. Dengan demikian ketika kita membicarakan permasalahaan yang berkaitan dengan lansia, sesungguhnya tidak hanya membicarakan lansia saja, melainkan juga penduduk muda. Pola hidup sehat,  pola makan yang baik dan bergizi, bahkan sejak di dalam kandungan. Pengembangan bakat dan keahlian juga harus dimulai sejak dini. Mengingat kerangka diatas, menua dengan aktif merupakan tantangan masa depan pembangunan di Indonesia. (*)

Filed under: ageing, Bahasa Indonesia, Demography, , , , ,



This site contains the writings of Aris Ananta & Evi Nurvidya Arifin. Click here to find out more about them.

We are researchers in the field of demography, social and economic statistics, and economics, focusing on Indonesia and Southeast Asia. Click here to find out more about our publications.

Our research interest is the intersection of:

Categories

Archives

Visitors

  • 44,882

Authors

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 37 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers