Aris Ananta
23 Desember 2011
Di Jakarta Post tanggal 23 Desember tertulis
“President Susilo Bambang Yudhoyono has warned international green
groups not to meddle in the country’s domestic affairs, saying that
their campaigns against forest destruction could hamper his
government’s efforts to lift people out of poverty.”
Kampanye melawan perusakan hutan akan merugikan usaha mengurangi kemiskinan? Benarkah Presiden RI percaya hal itu? Kemiskinan siapa? Kemiskinan pembabat hutan?
Presiden juga mengatakan “…..it was impossible for the government to meet the
demands by international NGOs to stop all palm oil companies from
operating in Indonesia, as it would destroy both the economy and the
livelihoods of many people”
Kalau kita memakai paradigma pertumbuhan ekonomi, apa yang dikatakan oleh Presiden memang tepat sekali. Mungkin Presiden belum merasakan dampak langsung dari kerusakan hutan, dan kerugian yang diakibatkan dari perkebunan kelapa sawit.
Revolusi paradigma pembangunan memang harus segera dilakukan, kalau generasi ini tidak mau dicatat sebagai generasi yang ikut memusnahkan lingkungan hidup semata demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.
Mari kita renungkan kembali paradigma pembangunan kita. (*)
Filed under: economy, Bahasa Indonesia, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, paradigma, paradgima, perusakan hutan, kelapa sawit, presiden














Begitulah kalo hanya mengikuti paradigma ekonomi mainstream Pak Aris..
Sepakat bahwa perlu ada revolusi paradigma pembangunan untuk Indonesia