Aris Ananta
Depok, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 13 Desember 2011
Selama ini setiap laporan perekomian selalu dimulai dengan statistik yang berkaitan dengan pendapatan nasional (GDP). Contohnya, berapa persen pertumbuhan ekonomi, berapa pendapatan per kapita? Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor dan investasi asing agar pertumbuhan ekonomi meningkat dengan cepat?
Selain itu, sering muncul perdebatan apakah perbaikan lingkungan hidup mengganggu pertumbuhan ekonomi, apakah pelaksanaan good governance, termasuk pelaksanaan demokrasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi. Apakah usaha meningkatkan status kesehatan masyarakat bertentangan dengan usaha mempercepat pertumbuham ekonomi?
Dalam paradigma baru, yang saya tawarkan, kita membalik cara berpikir ini. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan perkapita bukan tujuan pembangunan ekonomi. Pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan per kapita sekedar salah satu alat untuk mencapai tujuan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi merupakan alat yang penting, namun bukan satu satunya alat. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi bukan pengukur tujuan pembangunan.
Apa tujuan pembangunan? Ada tiga tujuan yang sama pentingnya. People centred development, environmentally friendly development, dan good governance. Pembangunan diarahkan pada manusia dan lingkungannya. Good governance merupakan proses pembangunan, tetapi sekaligus tujuan pembangunan. Tanpa good governance, rasa ketidak adilan akan muncul.
Dengan paradigma baru, pertumbuhan ekonomi adalah salah satu alat untuk mencapai people centred development, envirornmentally friendly development, dan good governance.
Jadi, misalnya, tak perlu lagi ada pertentangan antara perbaikan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi harus mendukung perbaikan lingkungan. Tak perlu ada pertentangan antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi harus mendukung demokrasi. Tak ada lagi pertentangan antara menyediakan makanan sehat dan pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi harus mendukung tersedianya makanan yang sehat. Tak perlu ada pertentangan antara mengurangi konsumsi rokok dan pertumbuhan ekonomi, karena pengurangan konsumsi rokok dan peningkatan kesehatan masyarakat lebih penting dari pertumbuhan ekonomi.
Berikut ini serangkaian statistik yang perlu segera dikumpulkan dan dilaporkan dalam awal tiap laporan perkembangan ekonomi dan prospek perekonomian. Statistik ini disarankan dengan memperhatikan kemampuan BPS (Badan Pusat Statistik) untuk mengumpulkan data, yang segera dapat dilakukan, minimal mulai tahun 2013.
Sektor Produksi
Setiap 3 bulan:
Statistik kemiskinan dan distribusi pendapatan
Statistik status kesehatan
Statistik status pendidikan
Statistik mobilitas penduduk
Statistik rasa aman
Setiap 6 bulan:
Statistik kualitas lingkungan
Statistik sumber daya alam
Statistik bencana alam dan bencana buatan manusia
Statistik emisi gas rumah kaca
Statistik konsumsi barang dan jasa yang dihasilkan dengan input dan proses yang banyak menghasilkan gas rumah kaca
Statistik korupsi
Statistik demokrasi
Setiap tahun
Statistik kemiskinan menurut lapangan pekerjaan, status pekerjaan, dan lapangan pekerjaan
Statistik kemiskinan menurut pendidikan dan status kesehatan
Kebijakan di Sektor Moneter
Bank harus kembali ke fungsi asli, yaitu sebagai jembatan antara tabungan dan investasi. Bank tidak usah ikut dalam kegiatan spekulasi.
Sektor keuangan harus tumbuh untuk membantu tercapainya tiga tujuan utama pembangunan, dan bukan untuk pertumbuhan ekonomi. Sektor keuangan harus membantu tercapainya people centred development, environmentally friendly development, dan good governance.
Indonesia harus mengurangi ketergantungan pada credit led growth. Expansi kredit yang kini terjadi harus dikurangi, karena tidak mendorong orang untuk menabung.
Kegiatan menabung harus didorong. Harus diberi perangsang yang bagus, dengan bunga yang menarik. Penurunan bunga mengurangi daya tarik untuk menabung.
Perlu dihitung inflasi asset, untuk mengukur kegiatan spekulasi
Perlu dihitung statistik inflasi untuk kelompok berpendapatan rendah. Biasanya, mereka mengalami inflasi yang lebih tinggi daripada masyarakat pada umumnya.
Penutup
Ini sekedar pemikiran awal. Perlu kerjasama dari banyak kelompok, dari berbagai kalangan akademi dan bukan akademi, untuk dapat menjabarkan paradigma ini dengan lebih rinci, mencari serangkaian statistik yang diperlukan.
Catatan:
*Tulisan ini merupakan ringkasan dari keynote speech yang disampaikan dalam research day yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tanggal 13 Desember 2011 di Kampus Depok. Tulisan ini merupakan revisi kecil dari tulisan yang dibagikan kepada wartawan pada saat jumpa press setelah penyampaian key note tersebut. Key-note ini merupakan kelanjutan dari tulisan penulis “A Search for a World Development Paradigm: with specific recommendations for Indonesia”, dalam buku The Indonesian Economy: entering a new era, disunting oleh Aris Ananta, Muljana Soekarni, dan Sjamsul Arifin. Diterbitkan oleh Institute of Southeast Asian Studies, Singapura, 2011. (*)
Filed under: economy, Bahasa Indonesia, poverty, statistics, Ekonomi, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, korupsi, pendapatan per kapita, statistik, lingkungan, paradigma, pembangunan, demokrasi













