Mletiko!

Icon

Percikan pikiran seorang ekonom.

PERTUMBUHAN PENDUDUK DAN KETAHANAN PANGAN

 

Aris  Ananta

Untuk INDONESIA  FINANCE  TODAY, 12 April 2011

Berdasarkan data sensus penduduk 2010, Indonesia memiliki 237 juta jiwa penduduk. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah dan dapat mencapai 280 juta pada 2030. Karena itu, beberapa pengamat dan penentu kebijakan mulai khawatir terhadap ledakan penduduk di Indonesia. Mereka mengira ledakan penduduk ini dapat menghalangi berbagai proyek-proyek pembangunan yang tengah dilakukan di Indonesia, termasuk ketahanan pangan.

        Masalah dinamika penduduk dan ketahanan pangan sudah banyak dibahas sejak lama. Bahkan pada abad ke-19, Thomas Robert Malthus menyebutkannya dalam tulisannya yang terkenal “An Essay on the Principles of Population.” Dia menuliskan bahwa jumlah populasi di Eropa terus tumbuh dengan rasio geometrik, sementara produksi pangan tumbuh dengan rasio aritmatik. Tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih cepat dibanding produksi pangan akan menyebabkan kelangkaan pangan. Kelangkaan ini akan memicu perang, kerusuhan, dan kematian.

        Malthus mengusulkan pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan untuk mencegah pecah perang, kerusuhan, bahkan kematian akibat kekurangan pangan. Ternyata Malthus salah. Dalam perkembangannya, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi di Eropa menghasilkan industrialisasi yang pesat dan kemakmuran masyarakat. Pasokan pangan bertambah meskipun jumlah penduduk tumbuh pesat.

         Ekonom kemudian tidak memakai lagi pandangan Malthus terkait ancaman dari pertumbuhan penduduk. Para ekonom bahkan percaya bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi adalah sesuatu yang baik bagi perekonomian, karena jumlah penduduk yang besar menyediakan potensi pasar dan basis produksi yang luas.

 

Asia Tenggara

Pada 1950-an, dengan tingkat kematian yang terus menurun di negara-negara berkembang, kekhawatiran Malthus hidup kembali. Penurunan pesat tingkat kematian tidak sebanding dengan penurunan kelahiran, sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai ledakan penduduk. Tingkat pertumbuhan penduduk sangat tinggi di nyaris seluruh negara berkembang.

        Kita juga menyaksikan kemunculan Neo-Malthusianisme yang mengusulkan pentingnya menekan laju pertumbuhan penduduk. Penganut paham ini menegaskan jumlah penduduk yang besar di negara berkembang akan menjadi tantangan terhadap kemakmuran. Salah satunya, negara berkembang akan kesulitan menyediakan pangan bagi penduduknya. Sebagai konsekuensinya, sejak 1960-an, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mulai meluncurkan program keluarga berencana secara intensif.

        Program keluarga berencana menunjukkan hasil yang positif. Singapura beralih ke replacement level fertility, tingkat kelahiran rendah yang biasanya digunakan di negara maju, dengan Total Fertility Rate 2,2 pada pertengahan 1970-an. Dengan prospek tingkat kelahiran yang terus turun, Singapura mengubah kebijakannya, dari kebijakan antikelahiran (meredam tingkat kelahiran) menjadi prokelahiran (menaikkan tingkat kelahiran) pada 1987.

        Meskipun demikian, tingkat kelahiran di Singapura terus turun. Tingkat kelahiran total Singapura kini hanya 1,1 atau sangat jauh di bawah replacement level. Jumlah penduduk Singapura akan terus menyusut jika tidak ada imigrasi. Singapura kini menghadapi masalah bertambahnya penduduk usia lanjut dan kekurangan tenaga kerja muda.

       Thailand juga mengalami tingkat kelahiran yang rendah, meskipun tidak laju penurunannya tidak secepat Singapura. Thailand mencapai replacement level fertility pada akhir 1980-an. Tingkat kelahiran di sana saat ini sekitar 1,6. Thailand juga bersiap-siap menghadapi masalah jumlah penduduk usia lanjut yang besar, namun tidak separah di Singapura. Thailand terbilang beruntung, karena penurunan tingkat kelahiran tidak secepat Singapura.

        Indonesia lebih beruntung karena mencapai replacement level fertility setelah Thailand. Indonesia baru mencapai replacement level dalam lima tahun belakangan. Namun, beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia sudah mencapai replacement fertility level sejak 1990-an. Melihat pengalaman Singapura dan Thailand, Indonesia cepat atau lambat, akan menghadapi masalah jumlah penduduk usia lanjut yang besar juga. Bahkan, beberapa provinsi dan kabupaten di Indonesia sudah mengalami tantangan tersebut.

 

Tak Ada Ledakan Penduduk
 

Indonesia mengalami ledakan penduduk pada 1960-an hingga 1970-an. Namun, dengan tingkat kelahiran yang rendah saat ini, ledakan penduduk tidak perlu dikhawatirkan. Memang benar bahwa jumlah penduduk Indonesia terus tumbuh, tapi peningkatannya tidak sebesar ledakan penduduk pada 1960-an dan 1970-an. Jika pertumbuhan penduduk Indonesia tiba-tiba berhenti, maka akan terjadi banyak masalah sosial, ekonomi, dan politik. Ini sama saja seperti mobil yang melaju sangat kencang dan tiba-tiba pengemudi menginjak rem mendadak.

        Memang, kita harus bersyukur dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia. Dengan ini, Indonesia akan terus didukung oleh struktur usia penduduk, yang sebagian besar adalah tenaga kerja muda, lebih besar dari penduduk usia lanjut usia. Perhitungan saya adalah Indonesia akan menikmati struktur usia yang mendukung ini hingga 2035, karena ditopang oleh penambahan jumlah penduduk yang terus menerus. Indonesia akan menghadapi tantangan kekurangan tenaga kerja muda setelah 2035.

         Terlebih dengan modernisasi dan kenaikan pendapatan, banyak penduduk yang tinggal di Brazil, Rusia, India, dan China (BRIC) yang berubah menjadi aset. Dengan jumlah penduduk besar dan kenaikan pendapatan, Indonesia bahkan disebut-sebut akan termasuk dalam BRIC dan menjadikan singkatan negara-negara berkembang pesat ini menjadi BRICI.  Memang benar, kekuatan ekonomi yang tumbuh dan besar telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara anggota G-20, kelompok negara maju dan berkembang yang mewakili perekonomian global.

 

Kebijakan Ekonomi
 

Masalah ketahanan pangan, terutama di Indonesia, bukan terkait jumlah penduduk yang bertambah, melainkan pengaruh dari kebijakan-kebijakan ekonomi. Bisakah Indonesia memanfaatkan keuntungan struktur usia penduduk untuk memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, termasuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia?

       Jika kebijakan-kebijakan ekonomi tidak mendorong pemuda-pemudi Indonesia untuk bekerja di sektor agrikultur dan cenderung memihak ke transformasi lahan menjadi bangunan, maka produksi pangan akan terhambat meskipun ditunjang oleh struktur usia penduduk. Kita memerlukan kebijakan-kebijakan yang mendorong masyarakat bekerja di sektor agrikultur dan produksi pangan.

       Masalah penting lainnya adalah pola konsumsi di Indonesia. Konsumsi pangan yang berlebihan membuat isu ketahanan pangan semakin sulit. Masyarakat sering membuang-buang makanan di rumah, kantor, restoran, dan tempat penjaja makanan. Mereka tidak menghabiskan makanan dan membuang sisanya. Kita mengusahakan konsumsi energi yang efisien, tetapi kita belum berupaya mengkonsumsi makanan dengan efisien.

        Ketidakefisienan pangan lainnya adalah konsumsi berlebihan terhadap produk-produk makanan olahan hewani. Konsumsi makanan jenis ini berkaitan secara tidak langsung terhadap produksi pangan untuk konsumsi manusia. Produksi sereal, buah, dan sayur mayur lebih berkaitan langsung dengan produksi makanan daripada lewat memberi makan ke hewan. Jika masyarakat bisa mengubah pola kebiasaan makan mereka dengan kembali ke kebiasaan lama, yaitu mengurangi konsumsi produk makanan olahan hewani, kita bisa memangkas proses produksi makanan dan maningkatkan total produksi makanan. Kebiasaan lama itu juga  bisa membuat masyarakat Indonesia lebih sehat.

       Kesimpulannya, masalah ketahanan pangan di Indonesia tidak disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk, tetapi lebih kepada kebijakan ekonomi yang keliru. Kebijakan ekonomi harus memprioritaskan dan menyediakan insentif untuk produksi pangan. Kebijakan ekonomi juga harus mempromosikan mengonsumsi makanan dengan efisien dengan anjuran mengurangi membuang-buang makanan dan mengurangi konsumsi produk makanan olahan hewani. (*)

Tulisan terkait:

* Pangan dan Air: Komoditas Strategis Masa Depan

* Ancaman Peledakan Penduduk pada Pembangunan Ekonomi?

* A Return of the Feared Population Explosion in Indonesia?

* Is Jakarta’s Population Growing too Fast?

About these ads

Filed under: Bahasa Indonesia, Demography, economy, poverty, , , , , , , , ,

12 Responses

  1. Neny Kusuma Wardani(F3611063)D3KP.B says:

    Menurut pendapat saya antara pertumbuhan penduduk dan Ketahanan pangan haruslah seimbang, sebab apa karena jika pertumbuhan penduduk di Indonesia meningkat, maka jumlah pangan yang diproduksi juga harus bertambah. Maka dari itu, kebijakan pemerintah dalam memproduksi harga pangan lebih murah, agar semua masyarakat dari kalangan ekonomi keatas maupun kebawah dapat mengkonsumsinya.
    Sekian pendapat dari saya. Terima Kasih :)

    • mletiko says:

      Bu Neny,

      Jumlah penduduk kita memang bertambah. Hal ini ini membuat kebijakan pangan menjadi lebih sulit. Namun, masalah utamanya bukan di jumlah penduduk. Angka kelahiran kita sudah rendah. Apakah kita akan mendorong agar angka kelahiran kita makin rendah, sehingga akhirnya banyak orang Indonesia yang tidak mempunyai anak? Atau, kita akan medorong orang Indonesia untuk berbodong bondong ke luar negeri? Masalah utama pada kebijakan pangan kita. Yang paling mendasar adalah pada paradigma pembangunan kita, yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

      Salam,

      Aris

  2. purwanti (F3611078) says:

    Menurut pendapat saya,pertambahan jumlah penduduk harus diimbangi dengan meningkatnya kualitas mutu dalam berbagai aspek,untuk aspek ketahanan pangan pemerintah hendaknya juga membuka lapangan pekerjaan yang berpotensi besar untuk merekrut banyak tenaga kerja.sehingga dengan pertambahan penduduk juga diimbangi dengan jumlah pangan yang secara lengsung bisa dibeli melalui upah hasil kerja masing-masing individu.Selain itu untuk katahanan pangan pemerintah juga harus lebih selektif soal perizinan agar kasus-kasus alih fungsi lahan yang sekarang ini sering terjadi di Jawa yaitu alih fungsi lahan sawah menjadi perumahan.terima kasih ^-^

    • mletiko says:

      Ibu Purwanti,

      Masalah utama adalah paradigma pembangunan kita yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Dengan orientasi ini, fungsi tanah dialihkan dari pertanian ke bukan pertanian. Selain tidak menguntungkan pada ketahanan pangan, orientasi ini juga membahayakan lingkungan, dan dapat menyebabkan banjir.

      Yang juga merisaukan adalah bahwa kalau pun tanah digunakan untuk produksi pangan, hasil pangan itu untuk ekspor, bukan untuk dalam negeri. Hal ini dapat berakibat seperti sumber daya alam kita, yang diekspor, dan bukan untuk kebutuhan dalam negeri.

      Indonesia merencanakan membuat food estate. Tujuannya untuk ekspor. Harga pangan akan mengikuti harga dunia, persis seperti bensin.

      Kita harus mengajak para akademisi, pebisnis, dan pembuat kebijakan untuk mengubah paradigma ini. Namun, memang, ini tidak mudah.

      Salam,

      Aris

  3. Theresia Dian Hapsari (F3611099) says:

    Theresia dian hapsari (F3611099) D3 KP B

    menurut saya, Pak Aris, penduduk di Indonesia bukannya berkurang jumlahnya, yang berkurang adalah jumlah pertambahannya dari tahun ketahun, jadi penduduk Indonesia tetap bertambah walaupun sedikit

    pertumbuhan penduduk di Indonesia dihitung dengan deret hitung
    tetapi pertumbuhan pangan di Indonesia di hitung dengan deret ukur

    dengan kata lain, sesedikit apapun pertumbuhan penduduk Indonesia, pertumbuhan pangan di Indonesia tetap tidak akan memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia

    jika ingin pertumbuhan pangan di Indonesia terpenuhi, maka pemerintah indonesia seharusnya memberdayakan petani di Indonesia. bibit seharusnya lebih di subsidi, BBM tidak perlu di subsidi juga tidak apa-apa, tetapi subsidinya itu untuk menyejahterakan rakyat dengan mensubsidi kebutuhan lain, seperti kebutuhan bibit, pupuk, dan kepentingan petani lainnya

    semester lalu, ada seorang dosen saya yang mengatakan bahwa ada petani jagung, yang menciptakan bibit, benih sedndiri, d gunakan di lahannya sendiri, tetapi malah di tangkap oleh polisi. kalau kita lihat, dimana kesalahan petani itu?

    jika petani makmur, pangan di indonesia pasti tercukupi, walaupun tidak mengimpor dari negara lain.

    bayangkan saja, kita (saking butuhnya pangan) sampai menimpor beras dari negara india, yang kita tahu, kualitas berasnya sangat buruk, dan kita membayarnya dengan memberi tambang di pulau kalimantan.
    itu menandakan kebobrokan Indonesia

    jangan sampai kebutuhan pangan sangat mengganggu pertumbuhan ekonomi, dan merusak sumber daya alam yang ada di Indonesia.

    sejahterakanlah petani indonesia!

    • mletiko says:

      Bu Dian,

      Betul sekali, jumlah penduduk Indonesia masih terus bertambah, walau angka pertumbuhanya telah menurun. Pertambahan jumlah penduduk ini disebut dengan demographic momentum, akibat angka kelahiran yang tinggi di masa lalu. Bayangkan kita naik sepeda motor dengan kencang. Kita turunkan kecepatan, dan sepeda motor masih turun berjalan. Kalau kecepatan kita turunkan mendadak, sepeda motor akan oleng, dan kita kehilangan keseimbangan.

      Kalau angka kelahiran kita turun terus, kita akhirnya mengalami kekurangan tenaga kerja muda. Jadi, kita jangan menyalahkan pertumbuhan penduduk. Justru berbahaya kalau kita mau menurunkan angka kelahiran kita lebih lanjut. Lihat yang terjadi di banyak negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Angka kelahiran sudah amat rendah, mereka kesulitan mendapatkan tenaga kerja muda dan menghadapi beban mengurusi penduduk tua yang jumlahnya meledak.

      Malthus, lebih dari 2 abad yang lalu, memang mengatakan bahwa jumlah penduduk naik dengan deret ukur (cepat sekali), sedang pangan naik dengan deret hitung (pelan). Maka, terjadi kekurangan pangan.

      Itu dulu, 2 abad yang lalu. Angka kelahiran kita sudah rendah, dan sangat berbahaya kalau dibuat lebih rendah lagi. Teknologi pangan juga sudah ada. Lahan juga sudah ada. Masalahnya adalah kebijakan perekonomian kita yang tidak mampu memafaatkan teknologi dan lahan pangan untuk penyediaan pangan. Selain itu, juga masalah distribusi pangan. Sebagian masyarakat mengkonsumsi pangan dengan berlebihan, yang lain kekurangan. Coba lihat, bagiamana kalau kita makan? Apakah banyak tersisa di piring dan kita buang?

      Saat ini, jumlah penduduk yang besar justru menjadi aset. Konsumsi dalam negeri tinggi. Waktu ada krisis global di tahun 2008-2009, Indonesia terhindar dari krisis global, antara lain karena konsumsi dalam negeri yang tinggi, karena jumlah penduduk yang besar.

      Paradigma pembangunan harus beralih dari paradigma yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Harus diganti dengan paradigma pembangunan menuju people centred development, environmentally friendly development, dan good governance.

      Salam,

      Aris

      • Theresia dian hapsari (F3611099) says:

        jepang dan korea selatan memiliki penduduk yang sedikit karena angka kematian usia mudanya sangat tinggi pak. kenapa? karena persaingan teknologi, persaingan pendidikan, mereka yang tidak bisa bersaing lebih memilih untuk gantung diri.
        sebaiknya kita seperti negara-negara yang memiliki pertumbuhan penduduk tinggi dan mampu menyeimbangkannya dengan produksi yang tinggi.
        atau seperti amerika, pertumbuhan penduduk disana sangat rendah, karena banyak yang memilih menjadi business man dan business women, bahkan jika ada ibu yang melahirkan, negara tersebut mensubsidinya. walaupun dengan pertumbuhan yang sedikit, Amerika tetap menjadi negara Adidaya yang perkataannya selalu dituruti dunia internasional.

        betul sekali pak, pada tahun 2008-2009 Indonesia terhindar dari krisis global karena konsumsi nya tinggi. tapi itu juga menjadikan bangsa indonesia sebagai konsumen saja. negara kita saat ini sedang di jajah secara tidak langsung, dari penjualan impor, dari perusahaan asing yang menanam modal di indonesia, dari ketidakberdayaan kita dalam mengolah bahan mentah sehingga memaksa kita untuk mengekspornya kenegara lain dan memaksa kita untuk membeli barang jadi dari negara tersebut. bangsa indonesia lebih senang mengonsumsi daripada memproduksi barang itu sendiri. lain halnya untuk pangan, seharusnya bangsa yang “subur” dn yang di kenal dengan “negara AGRARIS” ini dapat menghasilkan pangan sendiri, tidak bergantung pada produk negara lain.

        salam,
        dian

      • mletiko says:

        Ibu Dian,

        Jumlah penduduk di Korea dan Jepang tidak kecil. Yang kecil angka pertumbuhan jumlah penduduk mereka. Bahkan, suatu saat, kalau tidak ada migrasi masuk, jumlah penduduk mereka akan berkurang.

        Saya belum pernah melihat angka bunuh diri. Namun, dari data struktur usia penduduk, menurut saya angka kematian penduduk usia muda di Jepang tidak lah tinggi. Angka kematian di Jepang tinggi karena banyak penduduk tua. Jadi, bunuh diri itu tidak menyebabkan melonjaknya angka kematian penduduk muda.

        Mengenai “dijajah”. Ya, kita juga “dijajah” dalam banyak hal, termasuk pemakaian bahasa Inggris, dan berbagai bahasa asing lain, termasuk bahasa matematika. Komputer dan softwsare yang kita pakai juga buatan asing. Dijaman ini amat susah untuk tidak mau menggunakan produksi asing. Entahlah, itu dijajah atau tidak. Yang penting, apakah konsumen Indonesia diuntungkan atau tidak, bukan soal barang ityu diproduksi di mana.

        Semoga bermanfaat.

        Salam,

        Aris

  4. Theresia Dian Hapsari (F3611099) says:

    dan untuk menanggulangi lahan pertanian kita yang semakin lama semakin sedikit, sebaiknya untuk penduduk yang kurang mampu, pemerintah sebaiknya membangun rumah susun dengan sewa minimalis. dengan dibangunnya rumah susun, permukiman kumuh akan berkurang, jadi lahannya bisa kita manfaatkan untuk lahan pertanian. namun sebelumnya, pemerintah harus mengobservasi lahan yang akan dijadikan pertanian terlebih dahulu, apakah cocok untuk dijadikan lahan pertanian atau tidak.

    dan juga pemerintah harus menghimbau para petani, jangan menggunakan pestisida yang berlebihan pula, karena itu akan merusak tekstur tanah yang digunakan untuk lahan pertanian, jika terkontaminasi banyak zat kimia, maka lahan tersebut lama kelamaan akan hilang zat haranya, dan tidak akan bisa di tanami lagi. dan sebaiknya pula, penanaman tumbuhan mempraktekkan cara tumpang sari, terasering, agar zat hara tanah tidak cepat hilang. dan untuk menyuburkan tanah, sebaiknya dilakukan praktik mina padi, diberi cacing yang banyak, dan hewan pemakan hama. dengan begitu produksi pangan di Indonesia akan meningkat tajam.
    Jangan dikira beras impor lebih baik dan lebih murah di banding produk dalam negeri.

    salam,

    Dian.

    • mletiko says:

      Bu Dian,

      Terimakasih banyak.

      Ada satu hal yang perlu kita sadari.

      Para petani sering bukanlah pemilik sawah. Mereka sekedar pekerja, dengan upah rendah. Mereka bukanlah yang mendapatkan keuntungan dari harga beras yang mahal.

      Impor beras menyebabkan harga turun, menguntungkan konsumen yang jumlahnya amat banyak, walau menurut anda beras impor kurang enak. Harga beras yang rendah merugikan pebisnis beras, bukan petani. Para petani itu juga konsumen beras.

      Mengenai penggunaan pestisida, yang disalahkan janganlah petaninya, tetapi pebisnis yang mengelola pertanian itu. Para petani hanyalah pekerja, yang mengikuti maunya pemilik modal.

      Teruskan minat anda di bidang pangan, yang amat mungkin menjadi komoditi strategis di dunia.

      Ada beberapa bab yang membahas economics and politics of food di Asia Tenggara dalam buku Poverty and Global Recession in Southeast Asia

      Selamat membaca

      Salam,

      Aris

      • Theresia Dian Hapsari (F3611099) D3 KP B says:

        terimakasih Pak Aris, saya lupa bahwa petani hanya sebagai tenaga kerja.

        terimakasih atas rekomendasi bukunya juga :)

  5. Wilson Rajagukguk says:

    Pak Aris yth. pendapat pak Aris di Atas sudah saya modelkan dalam disertasi doktor saya di Fakultas ekonomi Indonesia tahun 2010 lalu. model yang saya gunakan adalah Pontriagyn maximum priciple. kesimpulan saya adalah pertumbuhan ekonomi proporsional terhadap pertumbuhan penduduk. dalam jangka panjang kita memerlukan pertumbuhan penduduk demi pertumbuhan ekonomi. pertumbuhan penduduk nol akan mengakibatkan pertumbuhan penduduk nol (dalam jangka panjang). Penduduk tidak boleh dipandang hanya sebagai monster pemakan sumber daya tetapi baik juga memandangnya sebagai ‘hand to work’. apalagi penduduknya mempunyai kemampuan bekerja yang baik dan semakin baik.

    Salam

    Wilson Rajagukguk
    belajar demografi dulu dari pak Aris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Books

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 71 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 71 other followers

%d bloggers like this: